Monday, October 5, 2009

Sentra Penyimpanan Multimedia

Ketika digitalisasi berbagai ragam isi mulai dari teks, musik, hingga video, dan lainnya, terasa ada kebutuhan mendesak untuk mengumpulkan semua isi multimedia ini menjadi kesatuan yang mudah diakses, dicari, dan digunakan. Kebutuhan ini juga menjadi mendesak ketika akses untuk memperoleh berbagai isi multimedia ini menjadi semakin mudah dan cepat.

Pilihan yang tersedia di pasaran juga semakin banyak dengan beragam harga ataupun merek yang menjamin, sesuai dengan kebutuhan konsumen. Produk yang bisa menampung isi multimedia yang ingin disimpan ini pun beragam, mulai dari NAS (network area storage) sampai Media Tank yang mencerminkan sebagai tangki media yang bisa menyimpan berbagai hal.

Salah satu produk yang sekarang tersedia adalah HD Media Tank buatan Shenzhen Egreat Technology Co Ltd yang tidak hanya berfungsi sebagai NAS untuk mengakses isi multimedia melalui komputer, tapi juga mampu menayangkannya di kaca layar televisi. Egreat sendiri didirikan pada tahun 2006 dan terfokus memanufaktur dan mengembangkan produk-produk yang berkaitan dengan penyimpanan digital.

Salah satu produknya adalah EG-M34A, media penyimpan digital yang memiliki beragam macam format penyimpanan audio dan video, sebagai sebuah solusi multimedia yang kaya. Bentuknya sederhana, sebuah kotak hitam dengan menempatkan penyimpan hard disk pada bagian luar sehingga memudahkan untuk memilih kapasitas penyimpanan yang dibutuhkan.

Sebagai medium penyimpanan multimedia, EG-M34A termasuk memiliki fitur kompresi codec paling lengkap, termasuk H.264, VC-1, dan MKV Matroska untuk menayangkan film atau video dalam definisi tinggi yang disimpan dar format HD ataupun Bluray. Demikian juga dengan codec untuk audio mulai dari AAC, Flac, maupun Vorbis yang menghasilkan kualitas suara yang sangat jernih.

Kualitas tayangan yang dihasilkan EG-M34A pada layar kaca televisi definisi tinggi 1080p dengan ukuran 42 inci (diagonal 106,6 cm) sangat impresif. Selain memiliki koneksi Composite, optikal, dan Component (Y/Pb/Pr), produk Egreat ini juga menyediakan koneksi HDMI 1.3 yang menyediakan bandwith yang sangat lebar untuk menayangkan video dan audio dalam format tinggi.

Mereka yang gemar dengan teknologi peer-to-peer memanfaatkan torrent untuk berbagai data (sharing file), EG-M34A menyediakan rongga LAN serta aplikasi yang secara otomatis bisa mencari dan tukar-menukar data digital. Harganya yang terjangkau serta desainnya yang menempatkan hard disk terpisah dari perangkat utama menjadikan produk Egreat ini menarik untuk dijadikan sentra multimedia. (rlp)

Senin, 5 Oktober 2009 | 02:42 WIB 
Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/05/02423955/sentra.penyimpanan.multimedia

PANGGILAN VIDEO: Menerobos Teknologi 3G

Ketika akses kecepatan tinggi nirkabel seluler dalam teknologi 3G (baca triji) berkembang dengan pesat, memang masih menjadi pertanyaan bagi kita apakah momentum untuk mulai percakapan teleponi video jarak jauh akan berkembang pesat setara penggunaan akses kecepatan tinggi untuk keperluan teks dan jelajah internet.

Salah satu daya pikat yang ditawarkan teknologi 3G dan berbagai turunannya, termasuk high-speed downlink packet access (HSDPA), adalah kemampuan untuk melakukan panggilan teleponi video yang akan mengubah lanskap teleponi menuju masa depan digitalisasi yang lebih luas.

Daya pikat ini tidak menjadi kenyataan, dan meninggalkan kesan teleponi video sebagai sesuatu yang terlalu muluk. Teknologi 3G masih menyisakan banyak persoalan, terutama berkaitan dengan kapasitas jaringan yang tidak hanya melulu persoalan sambungan turun, tetapi juga sambungan naik.

Ini yang menjadikan panggilan teleponi video menjadi bayang-bayang film layar lebar dan sulit berpijak di tanah sebagai teknologi pilihan masa depan. Kenyataannya, teknologi 3G hanyalah pipa lebar yang tetap diperebutkan oleh pengguna pada saat kapasitas terbatas, dan persoalan jejaring yang digelar menjadi biaya yang tidak seimbang bagi penyelenggara operator seluler.

Teleponi video

Perusahaan telekomunikasi asal China, ZTE Corporation (di China disebut Zhong Xing), mungkin memiliki pandangan yang berbeda ketika memperkenalkan produk yang disebut MF68 Mobile Cam. Produk ini memiliki berat sekitar 263 gram dan resolusi kamera 300.000 piksel dengan kemampuan kamera yang bisa berotasi.

Produk MF68 Mobile Cam ini memang mungkin tidak dimaksudkan untuk menjadi terminal teleponi video walaupun bisa melakukan koneksi dua arah, tetapi condong menjadi teleponi kamera pengindra jarak jauh memanfaatkan teknologi 3G. Tergantung kondisi jaringan 3G yang tersedia, produk ini dimaksudkan memonitor situasi tempat MF68 diletakkan.

Pengguna tinggal mengendalikan kamera yang bisa bergerak ke kiri-kanan atas bawah serta mendengar suasana di mana Mobile Cam ini ditempatkan. MF68 Mobile Cam buatan ZTE ini bisa dijadikan solusi memadai yang terjangkau.

Kendala yang dihadapi oleh MF68 di Indonesia adalah tidak merata dan stabilnya jaringan 3G, apalagi kalau harus melakukan percakapan dengan orang yang ada di depan perangkat ini.

Untuk bisa mengakses MF68 melalui saluran 3G pada panggilan video di perangkat ponsel, ini sudah menjadi kendala tersendiri karena buruknya kualitas jaringan. Dan ini hanya menjadi satu-satunya kendala dan menjadi penghambat serius perkembangan teknologi 3G dalam mengejawantahkan panggilan teleponi video. (RLP)

Senin, 5 Oktober 2009 | 02:40 WIB 
Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/05/02403622/menerobos.teknologi.3g

Lompatan Momentum Mobilisasi Televisi Digital


Di tengah maraknya kemajuan teknologi komunikasi informasi, terjadi tarik-menarik yang seru di antara berbagai kemajuan teknologi yang diejawantahkan dalam berbagai macam komputer, gadget, ponsel, dan berbagai perangkat teknologi lainnya. Termasuk di antaranya adalah mengaburkan berbagai batasan-basatan antara mana yang teve menjadi komputer atau mana yang ponsel menjadi teve. Ket.Foto: Slingbox buatan Sling Media

Konvergensi teknologi yang terus-menerus, semakin dalam, dan semakin rumit, setidaknya mengisyaratkan kepada kita bahwa teknologi tayangan dalam format layar lebar dan kaca teve yang sudah tersedia selama 100 tahun terakhir ini masih tetap akan menjadi sentra penting keseluruhan kemajuan teknologi komunikasi informasi.

Persoalannya, tidak mudah untuk menjadikan teve dengan teknologi definisi tinggi sekarang ini untuk menjadi bagian dalam pergerakan konvergensi teknologi komunikasi informasi yang salah satu ciri alamiahnya adalah mobilitas yang memungkinkan penggunanya untuk bergerak tidak lagi dibatasi dimensi ruang dan waktu.

Banyak upaya dilakukan, termasuk mendigitalisasi kanal teve dengan memperkenalkan, misalnya, teknologi DVB (digital video broadcasting) yang memungkinkan penayangan siaran teve di ponsel (DVB-H). Persoalannya, investasi yang harus ditanam dan prospek bisnis yang tersedia menjadi tidak memadai, ketika harus berhadapan dengan regulasi, hak cipta, dan konsumen sendiri yang mempertimbangkan biaya yang harus mereka keluarkan.

Momentum untuk bisa menggelar mobilitas teve memang akan sangat bergantung pada lingkungan yang melibatkan banyak pihak dan akan menjadi model bisnis yang sangat rumit mencakup banyak hal, termasuk aspek legal, model bisnis, kesiapan teknologi, dan model pelayanan.

Lompatan momentum

Salah satu produk yang bisa menjadi perantara untuk memberikan teve nuansa mobilitas dalam pergerakan konvergensi, mungkin, dicerminkan dalam perangkat Slingbox buatan Sling Media yang memungkinkan keseluruhan tayangan teve, baik teresterial maupun kabel secara berlangganan, bisa ditampilkan dalam berbagai produk teknologi, mulai dari komputer sampai ponsel, termasuk iPhone ataupun Blackberry.

Slingbox adalah jembatan digital memanfaatkan teknologi kompresi video dan jejaringan LAN (local area network). Perangkat ini memungkinkan mereka yang memiliki akses ke dalam jaringan menyaksikan teve di rumah, mengikuti serial seru seperti 24 atau CSI dalam jaringan kabel berbayar.

Penggunaan Slingbox sangat sederhana dan mudah. Selain itu, penggunaan aplikasi akses Slingbox juga memungkinkan penayangan siaran teve di layar komputer serta mengendalikannya dari jarak jauh untuk mengubah saluran kanal siaran. Kehadiran teknologi pita lebar memungkinkan perluasan jangkauan Slingbox untuk menyaksikan teve berbayar di mana saja, di mobil, kendaraan umum, mal, kantor, dan lainnya.

Slingbox memungkinkan semua perangkat yang kita gunakan setiap hari, mulai dari ponsel hingga netbook untuk menjadi teve. Dan teknologi yang diterapkan Sling Media dalam produk Slingbox ini merupakan pengejawantahan serta lompatan yang menunggu momentum untuk menjadikan teve sebagai bagian dari keseluruhan kemajuan teknologi komunikasi informasi.

Oleh  RenĂ© L Pattiradjawane
Senin, 05 Oktober 2009
Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/05/02463195/lompatan.momentum.mobilisasi.teve.digital 

Kepunahan Massal Semakin Dekat

Para ahli biologi memperkirakan dunia tengah menghadapi ancaman kepunahan keanekaragaman hayati secara massal. Dugaan ini muncul dari krisis keanekaragaman hayati yang semakin parah. Diperkirakan, saat ini sebanyak 50-150 spesies bumi punah setiap harinya.

Perkiraan ini berdasarkan atas proyeksi laju kepunahan yang terjadi saat ini. Proyeksi tersebut menyebutkan, sekitar 50 persen dari sekitar 10 juta spesies yang ada saat ini diprediksi akan punah dalam kurun waktu 100 tahun ke depan. ”Laju kepunahan beragam spesies saat ini mencapai 40-400 kali lipat dari laju kepunahan 500 tahun yang lalu,” kata Ign Pramana Yuda, peneliti Teknobiologi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dalam pidato ilmiah Dies Natalis Ke-44 universitas tersebut di Yogyakarta, Jumat (2/10).

Laju kepunahan burung dan binatang menyusui antara tahun 1600 dan 1975, misalnya, telah diperkirakan mencapai 5-50 kali lipat dari laju kepunahan sebelumnya. Tidak hanya spesies, kepunahan juga mengancam gen dan ekosistem tempat spesies tersebut tinggal.

Menurut Pramana, Indonesia adalah salah satu kawasan yang memiliki ancaman kepunahan terbesar. Ekosistem hutan tropis berkurang 10 juta-20 juta hektar setiap tahunnya. Sebanyak 70 persen terumbu karang di Indonesia juga mengalami kerusakan sedang hingga berat. Kerusakan juga terjadi di sejumlah ekosistem khas di Indonesia lainnya, seperti hutan bakau, sungai, danau, dan kawasan pertanian.

Pramana mengatakan bahwa kepunahan massal kali ini terjadi dalam skala yang jauh lebih luas dan lebih cepat lajunya dibandingkan dengan lima kepunahan massal yang pernah terjadi di Bumi sebelumnya. Kepunahan massal terbaru terjadi sekitar 65 juta tahun lalu.

Luasnya skala kepunahan massal kali ini bisa dilihat dari banyaknya spesies yang punah dan makin pendeknya usia kelestarian satu spesies. Saat ini usia spesies kurang dari 35.000 tahun, padahal jutaan tahun yang lalu satu spesies bisa berusia 10 juta tahun.

Solidaritas lintas spesies

Besarnya skala kepunahan ini perlu diredam karena bisa berakibat berdampak buruk pada kelangsungan kehidupan di Bumi. Salah satu upaya peredaman itu adalah dengan menumbuhkan solidaritas lintas spesies yang saat ini masih sangat minim. Selama ini pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih berorientasi pada kesejahteraan umat manusia.

Menurut Pramana, sektor pendidikan berperan sangat penting dalam hal ini. Komunitas akademis perlu mulai mengembangkan program dan kurikulum pendidikan serta pelestarian yang mengacu pada konservasi keanekaragaman hayati.

Peneliti Keanekaragaman Hayati dari Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, Djoko Raharjo, berpendapat, kepunahan yang terjadi saat ini tidak bisa disebut alami karena dipicu oleh berbagai sebab buatan, antara lain polusi, eksploitasi berlebihan pada sumber daya alam, dan industrialisasi.

”Meskipun sudah sangat parah, sebenarnya masih banyak yang bisa kita lakukan untuk meredamnya pada laju yang alami,” ujarnya.

Berbagai penemuan di bidang konservasi memberikan harapan baru di bidang pelestarian
alam. Masyarakat juga bisa berkontribusi dengan menekan penggunaan energi dari bahan tambang serta mengurangi konsumsi yang bisa menyebabkan polusi serta eksploitasi alam berlebihan. (IRE)

Senin, 5 Oktober 2009 | 04:08 WIB

Yogyakarta, Kompas -  http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/05/04084611/kepunahan.massal.semakin.dekat

Selamat Datang Televisi Digital Di Yogyakarta

Perkembangan siaran televisi di Indonesia menunjukkan bahwa televisi merupakan suatu media informasi yang sangat strategis dan efektif bagi masyarakat. Menyadari manfaat seperti tersebut di atas, minat masyarakat pengusaha juga begitu besar, seperti terlihat pada pemohon izin Lembaga Penyiaran Swasta lokal yang jumlahnya begitu banyak, sehingga tidak mungkin tertampung dalam alokasi frekuensi yang tersedia.

Saat ini di Direktorat Jenderal Sarana Komunikasi dan Desiminasi Informasi (SKDI) Departemen Komunikasi dan Informatika di Jakarta tercatat 10 Lembaga Penyiaran Swasta atau LPS (RCTI, SCTV, Indosiar, TPI, antv, Metro TV, TransTV, Trans7, Global TV, TV One), 1 Lembaga Penyiaran Publik atau LPP, yaitu TVRI, dan 115 LPS lokal yang mengantongi izin resmi, sementara masih terdapat 450-an LPS lokal yang tidak bisa mendapat izin resmi karena keterbatasan kanal, termasuk empat dari DIY dan tiga dari Jawa Tengah.

Oleh karena itu, sejak pertengahan 2008 Depkominfo bersama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Ditjen Pos dan Telekomunikasi telah sepakat untuk melakukan moratorium perizinan LPS analog di kota-kota besar di Indonesia (sebut saja Kota AC Nielsen: Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar, Palembang, dan Banjarmasin). Selanjutnya, LPS yang hendak melakukan permohonan izin siaran diarahkan ke sistem Televisi Digital Terestrial Penerimaan Tetap (TVD TT).

Pembagian kanal analog tersebut terdapat dalam Keputusan Menkominfo No 76 Tahun 2003 atau disebut KM 76. Dari 14 kanal yang terdapat di Yogyakarta, 11 kanal sudah digunakan oleh televisi nasional dan sisanya tiga kanal sudah digunakan tiga televisi lokal (RBTV, Jogja TV, dan ADTV), sementara masih terdapat empat LPS lokal (Nusa TV, MYTV, Malioboro TV, dan Kresna TV), satu yang belum kebagian kanal menunggu keputusan Menkominfo untuk memperoleh kanal non masterplan dengan mengambil kanal genap dari luar DIY. Persoalan di Yogyakarta, tidak jauh beda dengan Semarang dan kota-kota besar lainnya. Mungkin penyusunan KM 76 ini dulunya tidak memprediksikan akan munculnya pemohon televisi lokal yang jumlahnya mencapai ratusan dalam waktu lima tahun terakhir ini.

Persoalan inilah yang lalu menelurkan Peraturan Menteri Komunikasi Nomor 12/PER/M/Kominfo/02/09 yang berisi Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) Sekunder bagi LPS lokal yang tidak kebagian kanal masterplan di wilayahnya, dengan menggunakan kanal non masterplan, dengan catatan LPS lokal tersebut telah mengantongi Rekomendasi Kelayakan (RK) yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) setempat sebelum tanggal 22 Agustus 2008.

Namun, hal ini tidaklah semudah membalik telapak tangan. Persoalan alokasi kanal tetap menjadi bahan pertimbangan khusus selain kesiapan materi program siaran, finansial, manajemen, rencana bisnis, dan lain-lainnya dari LPS lokal tersebut. Namun, kebijaksanaan pemerintah memberikan IPP ini akan dilakukan dengan catatan apabila di wilayahnya tempat bersiaran sudah diterapkan sistem penyiaran dengan teknologi digital, maka LPS tersebut harus sesegera mungkin berpindah ke sistem digital atau TVD TT. Sementara itu, bagi LPS yang baru memperoleh RK setelah 22 Agustus 2008 akan diarahkan ke sistem siaran digital dengan menunggu payung regulasi dan infrastrukturnya yang rencananya akan selesai akhir bulan Oktober 2009 ini.

Satu pita kanal digital dapat digunakan oleh enam sampai delapan program siaran. Konsorsium Televisi Digital Indonesia (KTDI), yakni SCTV, MetroTV, TransTV, Trans7, antv, dan TV One saat ini sudah melakukan siaran percobaan di Jakarta dengan menggunakan satu pita kanal digital dan kualitas tampilan audiovisualnya pun sama persis dengan televisi berlangganan atau televisi kabel.

Di Yogyakarta, yang terdapat 14 kanal analog, dapat diterapkan model siaran dengan sistem digital, dengan cara mengambil tiga pita kanal yang dikelola oleh tiga konsorsium atau multiplexer, dengan perincian satu pita rencananya digunakan oleh KTDI (SCTV, Metro TV, ANTV, TV One, TransTV, dan Trans7) kemudian satu pita lagi rencananya akan digunakan oleh Konsorsium TVRI-Telkom (TVRI, RCTI, TPI, Global TV, dan Indosiar). Lalu, satu pita lagi digunakan oleh Konsorsium Televisi Lokal Yogyakarta (belum dibentuk), yakni Jogja TV, RBTV, ADTV, MYTV, Kresna TV, Nusa TV, dan Malioboro TV.

Selanjutnya LPS-LPS tersebut disebut sebagai Content Provider atau Penyedia Program, sedangkan pihak penyedia pita kanal digital disebut sebagai multiplexer. Apabila jaringan televisi komunitas akan membentuk dan memiliki multiplexer sendiri, maka hal ini bisa dikonsultasikan dengan pemerintah, dalam hal ini Depkominfo.

Dengan demikian, kekurangan kanal akan dapat segera teratasi dan sekitar 450 LPS lokal akan berizin dan bersiaran dengan sistem TVD TT, ditambah 115 LPS lokal yang sudah mendapatkan IPP analog dan 11 televisi nasional.

Untuk bisa menangkap siaran TVD TT ini, pesawat televisi yang belum ada perangkat digitalnya harus menggunakan satu perangkat yang disebut sebagai Set Top Box (STB). Harga STB saat ini mencapai Rp 250.000-Rp 400.000, tanpa mengubah antena televisi yang sudah ada.

Namun, pemerintah yang bekerja sama dengan perusahaan elektronik akan mengusahakan harga STB ini di bawah Rp 250.000. Apabila harga STB ini sudah mencapai titik temu dan perangkat regulasi serta infrastruktur sudah siap, maka Indonesia akan segera mengikuti negara-negara lainnya untuk bersiaran secara digital.

Dengan demikian, beralihnya sistem televisi analog atau terestrial ke sistem TVD TT ini Pemerintah dapat menyelesaikan persoalan keterbatasan kanal, persoalan perizinan LPS. Namun, yang paling penting adalah masyarakat akan mendapat tontonan, hiburan, dan informasi yang semakin beragam dengan kualitas audiovisual yang jauh lebih sempurna.

Jadi, pertanyaan televisi digital ini untuk kepentingan siapa sudah terjawab. Selamat datang Televisi Digital Terestrial Penerimaan Tetap.

Penulis: Yudah Prakoso Direktur Eksekutif Institute of Community and Media Development- inCODE Yogyakarta
Senin, 05 Oktober 2009

Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/05/14170041/selamat.datang.televisi.digital.di.yogyakarta

Understanding the Presidential Candidates’ Environmental Policies and Potential Stances for the Carbon Marke

  | Carbon Policy Lab Understanding the Presidential Candidates’ Environmental Policies and Potential Stances for the Carbon Market Indonesi...