Friday, August 14, 2009

PERLINDUNGAN SATWA: Jangan Hanya Semata Polemik

Satwa langka komodo (Varanus komodoensis) diyakini telah menghuni tanah kering Nusa Tenggara mungkin jutaan tahun silam. Munculnya isu relokasi lima pasang komodo dari Pulau Flores menyebabkan komodo menjadi satwa yang mengundang komentar banyak kalangan.



Perkiraan Populasi dan Kepadatan Komodo

Pulau

Populasi

Kepadatan

Komodo

628

17,60

Rinca

615

17,99

Gili Motang

115

12,21

Nusa Kode

75

10,36

Total

1.435

58,1

Hasil survey populasi komodo oleh Ciofi dan de Boer (tahun 1997, 1998, dan 2000) : Cagar Alam Wae Wuul (300 ekor), CA Riung (100 ekor), CA Wolo Tadho (200 ekor) dan TWA 17 pulau (50 ekor)



Selama dua pekan pemberitaan gencar di berbagai media. Sebagian besar menolak rencana pemindahan komodo ke Taman Safari Indonesia III Gianyar, Bali.

”Saya benar-benar shock,” kata Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Nuramaliati Prijono di kantornya, akhir pekan lalu. Bukan saja karena pemberitaan menolak pemindahan yang santer setiap hari itu, melainkan juga karena data populasi yang diterimanya.

Pihak LIPI, selaku otoritas keilmuan yang wajib diminta rekomendasinya—termasuk rencana konservasi di luar habitat alam (ex situ)—meletakkan dasar rekomendasi berdasarkan laporan jumlah populasi 650 ekor di Pulau Flores. Surat resmi Departemen Kehutanan (Dephut) menyebutkan, 300 ekor komodo dilaporkan hidup di Cagar Alam Wae Wuul, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Setelah muncul penolakan dari banyak kalangan, Dephut merevisi populasi komodo di Cagar Alam Wae Wuul menjadi 17 ekor saja, bandingkan dengan data awal 300 ekor! ”Bagaimana mungkin kami tidak percaya dengan data yang diberikan dulu?” kata Siti, terheran.

Sebuah laporan riset ”Dugaan Kelimpahan, Kepadatan, Laju Survival Tahunan, dan Laju Pertumbuhan Populasi Biawak Komodo di Balai Taman Nasional Komodo” memberikan gambaran kritisnya populasi komodo.

Riset oleh lembaga Komodo Survival Program yang didesain Jeri Imansyah tahun 2002 hingga 2006 menuliskan jumlah 1.435 ekor komodo dari 10 lembah di Pulau Komodo, Gili Motang, Rinca, dan Nusa Kode.

”Studi kami mengindikasikan populasi di Gili Motang dan Nusa Kode perlu perhatian intensif untuk cegah kepunahan,” kata Jeri. Adapun pihak Dephut menyebut total populasi komodo masih lebih dari 2.500 ekor.

Menurut Jeri, Komodo Survival Program juga turun mengidentifikasikan komodo di Flores, khususnya di Cagar Alam Wae Wuul. Pada survei 22 hari, Juni-Juli 2009, mereka mengidentifikasi 17 ekor komodo berbobot di bawah 20 kilogram.

Salah satu kesimpulan penelitian adalah populasi komodo di Wae Wuul rentan punah karena minimnya mangsa utama: rusa timor. Satu-satunya jalan adalah pengelolaan habitat alami untuk meningkatkan lagi populasi komodo di Flores. Di samping itu, kebakaran hutan harus dicegah.

Populasi komodo di dua pulau tersebut berada di bawah ambang batas teoretis—menunjukkan gejala kepunahan—yakni di bawah 100 ekor dalam satu populasi. ”Jumlah 17 ekor di satu populasi, seperti di Wae Wuul, bisa dibilang tinggal menunggu waktu punah,” kata Siti.

Tanpa mangsa mencukupi akan terjadi kanibalisme. Perkembangbiakan alami terganggu karena akan terjadi kawin keluarga (inbreeding)—keturunannya berdaya tahan rendah.

Komodo memiliki sifat partenogenesis, yaitu komodo betina membuahi telurnya sendiri apabila tidak bertemu jantan. ”Keturunannya jantan semua,” kata Siti. Seiring waktu jantan anakan itu kemungkinan akan kawin dengan induknya sendiri.

Reptil purba dengan endemisitas di Indonesia ini jauh dari perhatian pemerintah. Komodo layak disebut sebagai harta karun terbengkalai. Deputi Bidang Ilmu Hayati LIPI Endang Sukara menyebutkan hal itu, Selasa (4/8) di Jakarta.

”Tidak ada dana riset pemerintah untuk terus menelusuri perkembangan komodo. Data sangat minim, itu pun dari riset orang asing,” ujar Endang.

Intervensi segera

Mempertimbangkan populasi belasan ekor komodo di Wae Wuul atau di bawah 100 ekor di kawasan lain, dibutuhkan campur tangan segera untuk mengurangi risiko kepunahan.

”Konservasi di luar habitat atau di dalam habitat alami harus cukup pakan, cukup tutupan lahan yang memberi perlindungan, dan populasi jantan-betina dengan kekerabatan jauh yang cukup,” kata Siti.

Dalam jangka pendek, pendataan komodo di Wae Wuul perlu dilakukan untuk memastikan jumlah, tingkat kekerabatan, ketersediaan pakan, dan tingkat keterancamannya.

Sementara itu, peneliti Komodo Survival Program berharap Menteri Kehutanan membatalkan rencana pemindahan lima pasang komodo dari Wae Wuul. Sebaliknya, pemerintah memberi perlindungan khusus untuk populasi yang tersisa dengan bantuan dari Asosiasi Kebun Binatang Asia Tenggara (EAZA), yang memiliki buku silsilah sejumlah komodo yang ditangkarkan di sejumlah kebun binatang.

Koordinator Program Komodo Survival Program Deni Purwandana menyatakan, koleksi komodo di penangkaran dapat dicukupkan dari penangkaran-penangkaran lain yang sukses.

Polemik diharapkan tidak berakhir menang-kalah para pihak yang berkepentingan, tetapi berujung pada penyelamatan komodo dari kepunahan yang sudah di depan mata.

Jeri dan Endang Sukara sepakat, konservasi komodo butuh keseriusan pemerintah. ”Butuh keputusan presiden untuk menetapkan lembaga koordinator riset dan pengembangan komodo,” ujar Endang Sukara.

Menurut Jeri, belum terlambat menangani ancaman kepunahan komodo. Selama masih tersisa, seperti 17 ekor di Wae Wuul, peluang mempertahankannya dari ancaman kepunahan masih tetap ada. (NAW)

Oleh: Gesit Ariyanto

Senin, 10 Agustus 2009 | 03:31 WIB, Source: http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/10/03311192/jangan.hanya.semata.polemik

Sulit Buat Jurnal Internasional

Publikasi Hasil Riset Belum Menjadi Tradisi

Jurnal-jurnal ilmiah yang dikelola perguruan tinggi masih sulit untuk ditingkatkan menjadi jurnal internasional. Peningkatan kualitas dan pembiayaan menjadi persoalan utama.

Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor (IPB), Rabu (12/8), Arif Satria menyatakan, ada 28 jurnal di IPB. Empat jurnal berakreditasi nasional dan 11 jurnal dalam proses untuk akreditasi nasional. Sebuah jurnal yang sudah terbit sejak tahun 1994, Jurnal Hayati, sedang diupayakan menjadi jurnal internasional.

Arif mengatakan, tidak mudah membuat sebuah jurnal menjadi jurnal internasional. Umumnya, adalah dengan memasukkan jurnal ke dalam situs Spocus, yang merupakan situs web database abstrak dan citation terbesar dengan data bersumber dari literatur-literatur yang dievaluasi oleh peer.

Ada pula persyaratan terkait dengan kualitas jurnal, seperti terbit berkala dan editing yang bagus serta peer review yang melibatkan akademisi internasional atau dari luar negeri. Pemuatan dalam database Spocus terkait dengan citation (menjadi acuan bagi para peneliti).

”Setelah sebuah jurnal memenuhi persyaratan Spocus, setiap tahunnya harus membayar 2.500 dollar AS,” ujarnya.

Belum jadi tradisi

Selama ini pengembangan kualitas jurnal dan biaya penerbitan menjadi permasalahan. Apalagi di Indonesia, memublikasikan hasil riset belum menjadi tradisi.

Jurnal ilmiah hidup dengan pembiayaan para penulis atau sponsor (biasanya lembaga pemberi dana). Iklan tidak diperbolehkan. Penjualan jurnal ilmiah kepada masyarakat hanya cukup untuk menutupi biaya cetak. Untuk satu kali penerbitan jurnal, misalnya, dibutuhkan biaya Rp 15 juta.

Perguruan tinggi akan kesulitan kalau harus mendorong jurnal ilmiah menjadi berkelas internasional hanya dengan mengandalkan dana peneliti. Oleh karena itu, bantuan

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi berupa dana Rp 150 juta untuk mengembangkan jurnal internasional merupakan angin segar.

Institut Teknologi Bandung (ITB) juga tengah mengupayakan jurnal-jurnal ilmiahnya bertaraf internasional. Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan ITB Prof Indratmo Soekarno secara terpisah mengatakan, di ITB, dari

32 jurnal ilmiah, dua di antaranya sudah jurnal internasional. Saat ini dua jurnal lainnya tengah diupayakan menjadi berkelas internasional.

Tidak mudah menciptakan jurnal internasional. Editor harus betul-betul pilihan. Untuk jurnal internasional ITB Journal of Science, naskah yang masuk datang dari peneliti di berbagai negara dan diperiksa kelayakannya oleh para editor. Para editor tersebut tidak hanya dari Indonesia saja. Ada sekitar 20 editor yang tersebar di Indonesia dan berbagai negara.

Kepala Subdit Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia Yoki Yulizar, Ph.D. mengatakan, tahun ini enam jurnal di UI dalam persiapan untuk jurnal internasional. Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan jurnal ilmiah, UI melakukan koordinasi dengan pengelola teknis dan dewan editor secara berkala. (INE)

Kamis, 13 Agustus 2009 | 03:42 WIB

Jakarta, Kompas -http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/13/03423384/sulit.buat.jurnal.internasional

Akrilamida, Bahaya Kelezatan

Apakah Anda termasuk penggemar berat kentang goreng, keripik kentang, roti panggang, produk sereal, dan produk-produk tinggi karbohidrat lainnya yang diolah dengan digoreng, dibakar, atau dipanggang? Atau Anda tidak dapat melewatkan waktu santai pada sore hari ditemani kopi dan makanan kecil?

Jika jawabannya adalah ya, mulai sekarang Anda sebaiknya mengakrabkan diri dengan istilah akrilamida. Mengapa? Karena akrilamida (biasa disingkat akrilamid) adalah senyawa kimia berbahaya yang belakangan ini terbukti terkandung dalam berbagai makanan tersebut.

Umumnya, akrilamida digunakan di industri untuk membersihkan air minum, bahan baku perekat, tinta cetak, zat warna sintetik, zat penstabil emulsi, kertas, dan kosmetik. Selain itu, akrilamida sering digunakan sebagai kopolimer pada pembuatan lensa kontak. Sebenarnya, akrilamida tidak berbahaya dalam penggunaannya di industri, tetapi akan berbeda halnya apabila zat ini terkandung dalam makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari.

Pada tahun 2002 The Swedish National Food Authority mengumumkan hasil penelitian dari Stockholm University, yaitu ditemukannya peningkatan kadar akrilamida dalam beberapa jenis pangan, terutama yang mengandung banyak karbohidrat (zat tepung), seperti kentang dan produk sereal yang diproses dengan pemanasan tinggi (misalnya, dibakar, dipanggang, atau digoreng) pada temperatur di atas 120° celsius. Peneliti Swedia menemukan bahwa terdapat konsentrasi akrilamida yang sangat besar pada makanan yang digoreng (keripik kentang 1.200mg/kg dan kentang goreng 450 mg/kg) serta makanan yang dipanggang (sereal dan roti 100-200 mg/kg).

Lantas, apa bahaya dari akrilamid? Pada tahun 2005 Joint FAO/WHO Expert Committe on Food Additivies (JECFA) mengumumkan bahwa paparan akrilamid dalam jangka waktu lama pada hewan coba tikus menunjukkan gejala genotoksik (memengaruhi gen) dan karsinogenik (dapat memicu kanker). Akrilamida pada dosis tinggi terbukti dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan saraf dan mengganggu reproduksi. Namun, pengaruh karsinogenik pada manusia belum teruji kebenarannya. Meskipun demikian, penelitian lanjutan tentang bahaya akrilamida pada manusia masih terus dilakukan.

Lalu, bagaimana bisa sampai terbentuk akrilamida pada makanan? Mekanisme pembentukan utama akrilamid dalam makanan terjadi pada reaksi Maillard, yaitu reaksi ketika gula dalam makanan (contohnya glukosa, fruktosa, dan laktosa) bereaksi dengan asparagin bebas (sejenis asam amino dalam makanan yang terbentuk karena reaksi pencoklatan). Gula, asparagin, dan beberapa asam amino lainnya adalah senyawa yang secara alami terdapat dalam pangan nabati. Asparagin bereaksi dengan gula pada temperatur tinggi (di atas 120° celsius).

Biasanya peristiwa ini terjadi pada saat penggorengan, pemanggangan atau pembakaran. Ketiga proses inilah yang bertanggung jawab terhadap tinggi-rendahnya akrilamid dalam pangan. Semakin gelap warna produk akibat pemasakan, makin banyak kandungan akrilamida di dalamnya.

Jadi, apa yang harus dilakukan agar dapat terhindar dari bahaya akrilamid? Tentu saja, yang paling utama adalah mengurangi paparan akrilamid dalam makanan sehari-hari. Mulailah dengan mengurangi konsumsi makanan yang digoreng, dibakar, dan dipanggang (akrilamid tidak ditemukan pada makanan yang dikukus atau direbus karena suhu pengolahannya berkisar 100° celsius dan tidak menyebabkan pencoklatan) serta pangan yang kaya lemak trans dan lemak jenuh karena lebih berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Selain itu, tingkatkan konsumsi makanan yang kaya serat, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, sehingga racun dalam tubuh dapat dikurangi.

Selain dengan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung akrilamida, bahaya senyawa beracun ini juga dapat dihindari dengan mengurangi akrilamida dalam bahan pangan lewat cara memasak yang tepat.

Dengan memerhatikan beberapa teknik memasak di rumah, kandungan akrilamida yang terbentuk dari pemasakan dapat diminimalkan. Umumnya, lebih banyak akrilamida terakumulasi pada proses memasak yang lebih lama dan pada temperatur yang lebih tinggi. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah mencegah pemasakan yang berlebih saat memanggang, menggoreng, atau membakar pangan kaya karbohidrat, misalnya, memasak kentang goreng dan kentang bakar hingga berwarna kuning keemasan saja (bukan kuning kecoklatan) serta memanggang roti hingga berwarna coklat muda.

Selain itu, pada saat akan memasak kentang, kentang dapat direndam dahulu selama 15-30 menit sebelum pengolahan lanjutan agar dapat mengurangi akrilamid yang terbentuk selama pemasakan. Hal ini dapat terjadi karena jumlah gula yang terkandung dalam kentang telah berkurang dengan adanya perendaman. Penambahan antioksidan berupa daun bambu atau ekstrak teh hijau juga telah terbukti mengurangi level akrilamid pada pangan. Sebenarnya, akrilamid ditemukan paling banyak pada pangan yang digoreng (karena suhu yang digunakan paling tinggi).

Jadi, usahakan untuk menggoreng pada temperatur yang lebih rendah (jangan melebihi 175° celsius) dan hindari produk yang terlalu garing atau gosong.

Setelah mengenal akrilamida lebih jauh, apakah kita perlu menghindari sepenuhnya makanan-makanan favorit kita? Tentu tidak. Karena belum ada bukti dari penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa akrilamida positif sebagai pemicu kanker pada manusia, belum perlu benar-benar menghindari produk pangan tertentu.

Sebenarnya, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan keberadaan akrilamid dalam makanan karena kandungan akrilamid dalam makanan bukanlah suatu hal yang baru. Akrilamid telah ada dalam pangan manusia sejak beribu-ribu tahun lalu sejak pertama kali manusia memasak makanan mereka. Hanya saja, keberadaannya dalam makanan baru diketahui akhir-akhir ini setelah dilakukan penelitian di Swedia pada tahun 2002. Jadi, tidak perlu panik saat menikmati makanan favorit Anda, yang terpenting adalah senantiasa memerhatikan pola makan sehari-hari dan menjaga pola hidup sehat.

Kamis, 13 Agustus 2009 | 03:33 WIB, Source: http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/13/03335325/akrilamida.bahaya.kelezatan

FELICIA THALIP Mahasiswi Institut Pertanian Bogor

Thursday, August 13, 2009

Facebook Lite Siap Hantam Twitter

Meski dominasinya kian memuncak, Facebook seakan tak mau lengah dan terus berinovasi. Situs milik Mark Zuckerberg itu kini tengah menguji coba 'Lite', layanan baru yang kemungkinan akan menantang langsung situs mikroblogging yang sedang naik daun, Twitter.

"Kami sedang menguji coba alternatif simpel dari Facebook.com yang dapat me-load
fitur-fitur spesifik secara cepat dan efisien," demikian pernyataan Facebook
yang dikutip detikINET dari AFP, Kamis (13/8/2009).

"Sama dengan pengalaman Facebook yang Anda dapat di ponsel, Facebook Lite adalah versi Facebook yang disederhanakan dengan loading cepat, Anda tetap dapat menulis komentar,menambah teman, menulis wall dan melihat status user lain, " tambah Facebook.

Versi yang lebih sederhana ini tampaknya ditujukan agar Facebook tetap lancar
digunakan di negara-negara dengan bandwidth terbatas. Gambar dalam situs diperkecil dan resolusi video juga ditekan dalam rangka mempercepat loading situs.

Saat ini, Facebook Lite sedang diuji coba di beberapa negara seperti India, di mana beberapa user setempat diundang untuk turut serta dalam tes. Sedangkan peluncuran pertama kali rencananya bakal dilakukan di India dan Rusia.

Beberapa screenshot Facebook Lite yang beredar di internet memang menunjukkan
gaya tampilan komentar yang mirip dengan Twitter. Tampaknya dengan kehadiran Facebook Lite, kompetisi di ranah jejaring sosial internet kian seru saja. ( fyk / faw )

Sembilan Menteri Tandatangani Deklarasi Pengelolaan Danau

Sembilan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu menandatangani sebuah deklarasi tentang pengelolaan danau secara berkelanjutan di Sanur, Bali, Kamis (13/8). Ket Foto: Sembilan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu menandatangani sebuah deklarasi tentang pengelolaan danau secara berkelanjutan di Sanur, Bali, Kamis (13/8).

Upaya mempertahankan, melestarikan, dan memulihkan fungsi danau berdasarkan prinsip keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan sekitar danau itu dilatarbelakangi oleh degradasi lingkungan danau yang semakin kentara sekaligus sebagai langkah antisipasi terhadap dampak perubahan iklim.

Acara penandatanganan yang dilaksanakan dalam Konferensi Nasional tentang Danau di Indonesia itu hanya dihadiri empat menteri, yakni Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmato, Menteri Kehutanan MS Kaban, dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.

Lima menteri yang berhalangan hadir adalah Menteri Pertanian, Menteri Dalam Negeri, Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Energi dan Sumber Daya Alam, serta Menteri Perikanan dan Kelautan. Seusai ditandatangani, nota deklarasi lang sung diserahkan kepada Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Ketua Bappenas, Paskah Suzetta.

"Komitmen bersama ini adalah sesuatu yang harus dihargai setinggi-tingginya, karena selama ini sering terdapat perbedaan persepsi dalam pengelolaan danau. Komitmen ini akan menjadi bagian dari rencana pembangunan jangka panjang nasional kita dengan porsi dana yang seimbang terhadap sektor-sektor lainnya," kata Paskah.

Deklarasi Bali terdiri dari tujuh butir komitmen. Yakni, komitmen terhadap pengelolaan ekosistem danau, pemanfaatan sumber daya air danau, pengemb angan sistem monitoring, evaluasi, dan informasi danau, penyiapan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim tehadap danau, pengembangan kapasitas, kelembagaan, dan koordinasi pengelolaan danau, peningkatan peran masyarakat, serta pendanaan yang berkelanjutan. Kesembilan menteri bersepakat untuk menjalin kerja sama secara sinkron dan sinergis untuk danau di Indonesia.

Kamis, 13 Agustus 2009 | 14:04 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Robertus Benny Dwi K.
SANUR, KOMPAS.com -http://sains.kompas.com/read/xml/2009/08/13/14044887/sembilan.menteri.tandatangani.deklarasi.pengelolaan.danau

Ini Lho Jatah Mbah Surip di Bisnis RBT

Pentingkah CD dan kaset album lagu laris manis? Atau lebih penting ring-back tone (RBT) laris? Kalau buat si artis mah dua-duanya tentu akan lebih baik. Tapi kini, barometer takaran finansial bisa saja dari RBT karena tren konsumen cenderung beralih ke RBT.

Kenapa? Selain simpel dan murah, layanan value added service (VAS) dari operator ini memiliki unsur hiburan bagi si penelpon tanpa harus mendengar nada tunggu (tuut...tuut...) yang menjemukan ketika menghubungi lawan bicara via ponsel.

Uniknya, lagu yang mendapat respons positif di masyarakat berupa lagu sederhana dan mudah dicerna bahkan bisa jadi jenaka. Salah satu lagu RBT yang menarik dan mengundang senyum yakni "Tak Gendong" dari Mbah Surip, yang sempat menjadi salah satu RBT terlaris di beberapa operator. Begitu pula band Wali dengan lagu "Cari Jodoh" yang membuat perbedaan dalam khasanah musik di Indonesia.

Urip Ariyanto, 60 tahun, pria renta ini berhasil memecahkan mitos, lagu sederhana pun bisa dihargai, bahkan bisa komersial dan dapat dijadikan ladang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Tak tanggung-tanggung angka fantastis bila ditilik dari popularitas Mbah Surip yang sebelumnya bukan siapa-siapa ketika tampil di muka publik.

Sekadar info, lagu "Tak Gendong" yang dilantunkan Mbah Surip hingga kini mampu menghasilkan hingga Rp 9 miliar. Imbasnya, pria dengan rambut gimbal dengan style Jamaika ala Bob Marley pun mendapatkan royalti Rp 4,5 miliar. "Rezeki Mbah banyak juga ya, ha-ha-ha...," celetuk Si Mbah sambil tertawa dengan gaya khasnya.

Sama halnya dengan band Wali saat RBT-nya laris manis di pasar. Secara spontan, sang eksekutif produser memberikan hadiah spesial umroh untuk keempat anggota personel band lokal ini. "ring-back tone Wali di-download sampai dengan 4 jutaan," ujar Faank, sang vokalis.

Operator serakah

Namun, apa yang diterima operator selaku penyedia layanan? Tentu saja untung yang diperoleh angkanya lebih gila. Untuk Telkomsel, seperti diutarakan Dharma Oratmangun selaku Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penataan Musik Rekaman Indonesia, dengan biaya pengunduhan Rp 9.000, sebesar Rp 5.750 (63,8 persen) dananya ditarik ke Telkomsel. Sisanya dibagi ke penerbit dan pencipta lagu Rp 406 (4,51 persen), label + CP (content provider) sebesar Rp 2.438 (27,08 persen), dan artis kebagian Rp 406 (4,51 persen).

Sementara itu, XL, dengan biaya bulanan Rp 5.000, membagi hasil keuntungan untuk XL sebesar Rp 4.000 (80 persen), kemudian Rp 1.000 sisanya dibagi penerbit dan pencipta Rp 125 (1,25 persen), label + CP sebesar Rp 750 (15 persen), serta artis mendapatkan Rp 125 (2,5 persen). Pencipta lagu dalam hal ini hanya mendapat Rp 63 (1,25 persen).

Adapun Mobile 8 dengan biaya Rp 8.000, pembagiannya Rp 5.130 (64,13 persen), dan untuk sisanya dibagi ke penerbit dan pencipta Rp 359 (4,48 persen), label + CP sebesar Rp 2.153 (26,9 persen), dan untuk artis mendapatkan Rp 359 (4,48 persen). Pencipta lagu dalam hal ini hanya mendapat Rp 179 (2,24 persen).

Bila dirunut secara gamblang, pihak pencipta lagu yang paling kecil mendapat jatah pembagian keuntungan. Hanya di bawah Rp 500! Bisa dibayangkan, betapa ironisnya nasib seorang pencipta lagu selaku konseptor awal dari sebuah hasil karya seni yang bisa dinikmati oleh banyak orang. (PRIYO/TABLOID SINYAL)

Selasa, 4 Agustus 2009 | 17:31 WIB KOMPAS.comhttp://tekno.kompas.com/read/xml/2009/08/04/17314598/aplikasi.oss.untuk.tunanetra

Kaspersky Masuk Top 100 Dunia, Satu-satunya Perusahaan Russia

Kaspersky Lab berhasil masuk dalam IDC Top 100 Penyedia Paket Piranti Lunak di seluruh dunia. Kaspersky Lab adalah satu-satunya perusahaan Rusia yang masuk dalam daftar tersebut.

Peringkat "Worldwide Packaged Software Revenue by Top 100 Vendors" telah diterbitkan oleh IDC dalam "Worldwide Software 2009–2013 Forecast Summary" setelah mempelajari pendapatan paket piranti lunak di tahun 2008 dan pangsa pasar proposional penyedia. Studi IDC menganalisa pendapatan yang diterima penyedia piranti lunak dari penjualan paket piranti lunak selama periode 2006-2008 dan meneliti bagaimana pendapatan di tahun 2008 berubah dibandingkan dengan tahun lalu.

Kaspersky Lab menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan terbaik yakni lebih dari 121 persen melebihi pesaing terdekat hampir 47 persen dan pertumbuhan 17 kali lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata penyedia lainnya.

Menurut terminologi IDC, paket piranti lunak sudah siap digunakan dan tersedia melalui ritel, penyewaan atau layanan lain, tanpa mempedulikan media fisiknya, serta unggul dalam customized dan perinstalled software.

Kaspersky Lab juga berhasil masuk dalam peringkat IDC top 50 untuk "Worldwide System Infrastructure Software Revenue". Pemeringkatan ini dilakukan terhadap produsen-produsen utama dari sistem infrastruktur piranti lunak menurut pendapatan mereka pada tahun 2008.

Kaspersky Lab menunjukkan pertumbuhan tahunan terbesar kedua dalam daftar tersebut dengan tingkat pertumbuhan pendapatan yang hampir 18 kali lebih besar dari rata-rata.
Studi IDC menganalisa informasi lebih dari 1.000 produsen piranti lunak global utama.

MOSKWA, KOMPAS.com - Moskwa, 13 Agustus 2009

Source:http://tekno.kompas.com/read/xml/2009/08/13/14474565/Kaspersky.Masuk.Top.100.Dunia..Satu-satunya.Perusahaan.Russia

Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia

Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...