Sunday, July 26, 2009

4.000 Batang Mangrove Untuk Pantai Teluk Awur

Kelompok studi ekosistem mangrove Teluk Awur (Kesemat) jurusan ilmu kelautan fakultas perikanan dan ilmu kelautan Universitas Diponegoro (Undip) setiap tahun menanam bibit mangrove rata-rata 4.000 batang di seputar lokasi kampus di Desa Teluk Awur, sekitar 5 kilometer selatan pusat pemerintahan Kabupaten Jepara.

Penanamannya menurut koordinator Kesemat Undip, Arief Marsudi Harjo, Minggu (26/7), dilakukan sejak 2003, dengan tingkat kematian di bawah 10 persen, sehingga, luas tanaman sampai saat ini mencapai 2 hektar. "Memang kami masih konsentrasi di seputar kampus, setelah itu baru melebar ke seputar desa pantai. Pemkab Jepara setiap tahun juga membantu kegiatan kami Rp 4 juta," tuturnya.

Selain itu Kesemat pada akhir Februari 2009, juga menggulirkan program atau gerakan Penyelamatan Mangrove dengan jargon Ingatlah setiap satu ekor udang yang kita makan, bisa satu batang pohon mangrove lebih dikorbankan .

Menurut Arief, salah satu penyebab kegagalan penanaman hingga penyelamatan mangrove, akibat dari meledaknya budidaya udang di era 1980 an hingga menjelang akhir 1990, sehingga terjadi pembabatan hutan mangrove hingga pengusaan secara ilegal kawasan pantai

Sedang pemkab Jepara, menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jepara, Akid, sudah sejak lebih dari 7 tahun terakhir selalu memperoleh bantuan dana dari APBD dan APBN untuk penanaman mangrove. "Namun demikian terkendala banyak hal sehingga belum semua wilayah pantai sepanjang 72 kilometer tertanami mangrove. Lagi pula kondisi tanaman ini lebih dari 90 persen rusak berat," tuturnya.

Kendala itu antara lain, lahan seputar pantai sudah bersertifikat, sehingga tidak memungkinkan untuk menciptakan jalur hijau hutan mangrove selebar 200 meter sesuai surat keputusan bersama Menteri pertanian dan Menteri Kehutanan.

Bahkan menurut Akid, juga terkait dengan kerusakan terumbu karang pada sebagian besar wilayah pesisir di Jepara dengan katagori sangat buruk. Lalu rusaknya padang lamun, terjadi abrasi di banyak titik hingga penurunan kualitas lingkungan perairan. "Selain menanam mangrove, kami juga pernah menggunakan beton bertulang, ban-ban bekas, hingga batang-batang pohon kelapa untuk menahan laju gelombang, tetapi untuk sementara ini tingkat keberhasilan samasekali tidak siginifikan," tuturnya.

Abrasi terparah di Jepara, menimpa Desa Bulak Kecamatan Kedung yang terjadi secara bertahap dan puncaknya pada 11-13 Januari 1981. Akibatnya 25 rumah roboh, 100 rumah lainnya rusak, sehingga penduduk harus bedhol desa setelah ombak Laut Jawa memundurkan rumah mereka lebih dari satu kilometer.

Sedang di Kabupaten Pati menurut catatan Badan perencanaan pembangunan daerah (Bappda) sampai dengan akhir 2007 belum memiliki tata ruang pantai, namun sudah mempunyai perangkat pengatur pantai sepanjang 60 kilometer, yaitu peraturan daerah (perda) nomor 4 /2003 tentang pengelolaan wilayah pesisi dan laut dan perda 19/1997 tentang garis sempadan dan perda nomor 4/2004 (khus usnya pasal 26 ayat I, tentang tanah timbul yang dikuasai negara

Dengan demikian apabila kedua perda tersebut diterapkan secara konsisten , permasalahan pelestarian mangrove sudah bisa diatasi dan dilestarikan.Bahkan pihak Polres Pati telah membentuk foru m kemitraan polisi masyarakat, sebagai sarana membantu polisi dalam menyelesaikan kasus-kasus berskala ringan- seperti halnya menyangkut kasus di kawasan pesisir.

Sedang Dinas Kehutanan dan Perkebunan, maupun Dinas Kelautan dan Perikanan juga ikut aktif me mbantu pembibitan, pelatihan dan sebagainya yang menyangkut mangrove. Namun tetap saja hingga menjelang akhir Juli 2009, tingkat kerusakan (ketidak berhasilan) tanaman mangrove yang tersebar di Kecamatan Dukuhseti, Tayu, Margoyoso, Trangkil, Wedarijaksa, Juwana hingga Batangan masih cukup parah.

Di Kabupaten Demak yang memiliki garis pantai sepanjang 34,1 kilometer, yaitu dari wilayah Kecamatan Sayung, Karangtengah, Bonang hingga Wedung, kondisi tanaman mangrove maupun tingkat abrasi justru semakin parah. Terutama di Kecamatan Sayung.

Sedang menurut Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Pemali Jragung Tuntang (Jratun), Jajat Jatniko Holil , dalam semiloka lingkungan hidup di Pati (21 November 2007), penyebaran ekosistem mangrove mencapai 50.690 hek tar dan hutan pantai 26.638 hektar. Tersebar sepanjang 484 kilometer di 13 kabupaten kota, yaitu sejak dari Brebes, Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Batang, Kendal, Kota Semarang, Demak, Jepara (termasuk Karimunjawa), Pati dan Rembang.

Tanaman mangrove yang rusak berat mencapai 249,8 hektar dan terluas di Kendal (668 hektar) dan luas abrasi tercatat 2.910 hektar, dengan daerah terparah di Demak (145 hektar).

MINGGU, 26 JULI 2009 | 18:27 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Natanael Suprapto

JEPARA, KOMPAS.com - http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/26/18270089/4.000.batang.mangrove.untuk.pantai.teluk.awur.

Hutan Bekutuk dan Lumpur Kesongo Jadi Kawasan Konservasi

Hutan Bekutuk dan Lumpur Kesongo di kawasan Kesatuan Pemangku Hutan atau KPH Randublatung Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah merupakan kawasan bernilai konservasi tinggi atau KBKT. Kawasan itu menyimpan aneka satwa, fauna, sumber-sumber air, dan penopang daerah aliran sungai.

Administratur KPH Randublatung Ahmad Ibrahim, Minggu (26/7), di Blora, mengatakan Perhutani mengkaji dan mengidentifikasi kawasan hutan KPH Randublatung sebagai KBKT bersama lembaga Tropical Forest Trust, masyarakat desa hutan, Dinas kehutanan, dan Bagian Lingkungan Hidup Kabupaten Blora. Metode yang digunakan adalah Proforest Tollkit .

Proforest Tollkit berbentuk konsultasi m asyarakat desa hutan berdasarkan pola perencanaan konservasi secara partisipatif . Konsultasi itu dilakukan untuk mengidentifikasi masalah lingkungan hidup melalui sistim perencanaan konservasi situs- situs yang ada dalam kawasan hutan. "Perhutani melakukan identifikasi tersebut untuk menyusun strategi dan monitoring peng elolaan kawasan bernilai tinggi," kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, kawasan hutan KPH Randublatung yang menjadi KBKT adalah Hutan Bekutuk dan Lumpur Kesongo. Hutan Bekutuk merupakan kawasan cagar alam jati. Sela in jati, hutan seluas 25,4 hektar itu merupakan tempat hidup Elang Bido (Spilornis cheela), Merak Hijau (Pavo muticus), dan Biawak (Varanus salvator).

Adapun sumber lumpur Kesongo merupakan kawasan hutan seluas 105,9 hektar. Hutan tersebut merupakan perpaduan hamparan rawa seluas 16 hektar, savana 79,9 h ektar, dan sumber lumpur 10 hektar .

Kawasan itu juga merupakan sarang 19 jenis burung migran. "Burung-burung itu antara lain Kuntul Putih (Bulbucus ibis), Bangau Tongtong (Leptotilos javanicus), Belibis Batu (Dendrocygna javanica), Bambangan Merah (Ixopbrychus cinnamomeus ) dan Cangak Merah (Ardea purpurea)," ujar Ibrahim.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Blora Suhadi meminta masyarakat Blora, khususnya ya ng tinggal di sekitar hutan, turut menjaga kelestarian kawasan konservasi itu. Kalau tidak dijaga, kawasan itu akan rusak.

Di kawasan hutan KPH Randublatung terdapat pula tujuh mata air yang menjadi sumber air masyarakat. "Untuk itu, masyarakat turut menghijaukan kawasan-kawasan gundul, cukup dengan satu orang satu pohon," kata dia.

Laporan wartawan KOMPAS Alb. Hendriyo Widi Ismanto

MINGGU, 26 JULI 2009 | 18:12 WIB BLORA, KOMPAS.com -

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/26/18124297/hutan.bekutuk.dan.lumpur.kesongo.jadi.kawasan.konservasi..

42 Persen Lapisan Es Kutub Utara Juga Hilang

Es di laut Kutub Utara telah menipis secara dramatis sejak 2004, dan es yang lebih tua serta lebih tebal pecah dan membuka jalan bagi es yang lebih muda dan lebih tipis, yang mencair pada musim panas di Bumi belahan utara, demikian laporan beberapa ilmuwan di lembaga antariksa AS, NASA (Sumber Foto: Ralph Lee Hopkins/National Geographic/Getty Images
Ilustrasi lapisan es kutub utara).


Para peneliti selama bertahun-tahun telah mengetahui, es yang menutupi Laut Kutub Utara telah menyusut di satu daerah, tapi data baru satelit yang mengukur ketebalan es memperlihatkan volume es laut juga menyusut.

Itu penting karena es yang lebih tebal dan lebih ulet dapat bertahan dari musim panas ke musim panas berikutnya.

Tanpa lapisan es, perairan gelap Laut Kutub Utara lebih mudah menyerap panas sinar Matahari dan bukan memantulkannya sebagaimana terjadi pada es yang berwarna cerah, sehingga menambah kecepatan dampak pemanasan.

Melalui laporan yang dikirimkan pesawat antariksa ICESat, yang digunakan NASA, para ilmuwan menggambarkan, secara keseluruhan es Laut Kutub Utara menipis sebanyak 7 inci (17,78 centimeter) per tahun sejak 2004, sebanyak 2,2 kaki (0,67 meter) selama empat musim dingin. Temuan mereka dilaporkan di "Journal of Geophysical Research-Oceans".

Seluruh daerah yang tertutup es yang lebih tua dan lebih tebal yang sintas setidaknya selama satu musim panas kini menyusut sebanyak 42 persen.

Di luar itu, data baru satelit memperlihatkan, bagian es tua yang keras menipis secara bersamaan dengan meningkatnya jumlah es muda yang rapuh, keterangan yang sulit dilihat dengan jelas dari data sebelumnya.

Pada 2003, sebesar 62 persen dari seluruh volume es di Kutub Utara tersimpan di dalam lapisan es selama bertahun-tahun dan 38 persen es musiman pada tahun pertama. Sampai tahun lalu, 68 persen adalah es tahun pertama dan 32 persen es tahun-tahun berikutnya yang lebih keras.

Tim peneliti itu mengatakan, kelainan dan pemanasan global belakangan ini diduga di dalam sirkulasi es laut sebagai penyebabnya.

"Kita kehilangan lebih banyak es tua, dan itu penting," kata Ron Kwok dari Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California, sebagaimana dilaporkan kantor berita Inggris, Reuters.

"Pada dasarnya kami mengetahui berapa banyak daerah tersebut menyusut, tapi kami tidak mengetahui seberapa tebal."

Untuk mengetahui volume es itu, pesawat antariksa NASA, ICESat, mengukur seberapa tinggi es tersebut mencuat di atas permukaan laut di Kutub Utara, kata Kwok dalam satu wawancara telefon.

"Jika kami mengetahui seberapa banyak es mengambang di atas, kami dapat menggunakan itu untuk menghitung sisa ketebalan es tersebut. Sekitar sebilan per sepuluh es itu berada di bawah air," kata Kwok.

Pengukuran ICESat tampaknya mencakup seluruh Kutub Utara, dan semua itu digabungkan dengan pengukuran volume es yang dilakukan kapal selam, yang hanya mencakup beberapa kali perjalanan di seluruh daerah tersebut.

Es Laut Kutub Utara mencair sampai tingkat paling rendah keduanya tahun lalu, naik sedikit dari tingkat rendahnya sepanjang waktu pada 2007, demikian Pusat Data Es dan Salju AS

Es Kutub Utara adalah satu faktor dalam pola cuaca dan iklim global, karena perbedaan antara udara dingin di kedua kutub Bumi dan udara hangat di sekitar Khatulistiwa menggerakkan arus udara dan air, termasuk arus yang memancar.

SELASA, 21 JULI 2009 | 10:41 WIB

PASADENA, KOMPAS.com - http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/21/10410617/42.persen.lapisan.es.kutub.utara.juga.hilang

Hati-hati 75 Persen Es Kutub Selatan Sudah Hilang

Beberapa ilmuwan Selandia Baru telah memperingatkan bahwa Kutub Selatan mencair lebih cepat daripada perkiraan.


Profesor Peter Barrett dari Antarctic Research Center, Victoria University mengatakan, jumlah es yang hilang mencapai 75 persen sejak 1996, dan bertambah dengan cepat.

Hilangnya gletser di ujung Kutub Selatan mengakibatkan kenaikan permukaan air laut 0,4 Mm per tahun, tambahnya seperti dilaporkan kantor berita Xinhua.

"Hilangnya es global dari Greenland, Antartika dan gletser lain menunjukkan permukaan air laut akan naik antara 80 centimeter dan 2 meter sampai 2100," kata Barett.

Direktur pusat penelitian Profesor Tim Naish, yang memimpin satu tim peneliti yang membor jauh ke dalam batu di Kutub Selatan dan menemukan catatan kuno dari yang terakhir bahwa CO2 atmosfir mencapai tingkatnya sekarang.

Mereka mendapati, 3 juta sampai 5 juta tahun lalu, permukaan air laut cukup hangat untuk mencairkan banyak bagian es Kutub Selatan ketika CO2 atmosfir hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan kondisinya hari ini.

Naish mengatakan es di bagian barat Antartika akan mencair sebelum lapisan es yang lebih besar di bagian timur Kutub Selatan karena es itu berada di bawah permukaan air laut dan menghangat bersama dengan air samudra.

Namun, ia mengatakan penelitian tersebut mengangkat pertanyaan yang tak terjawab mengenai berapa banyak CO2 atmosfir perlu naik untuk mencapai temperatur sampai 2 derajat celsius atau lebih.

Kondisi CO2 di atmosfir sekarang berjumlah 387 bagian per juta, naik dari sebanyak 280 bagian per juta pada awal Revolusi Industri.

SELASA, 21 JULI 2009 | 10:10 WIB

WEELINGTON, KOMPAS.com -http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/21/10101588/hati-hati.75.persen.es.kutub.selatan.sudah.hilang

Dunia Makin Hangat, Ukuran Binatang Mengecil

Perubahan iklim ternyata berdampak pada sejumlah spesies di berbagai penjuru dunia, mulai dari beruang kutub di Arktik hingga terumbu karang di laut tropis.

Dua perubahan ekologis yang tercatat adalah beberapa spesies—hewan ataupun tumbuhan—berpindah ketinggian juga berpindah derajat lintang mencari suhu yang sesuai. Perubahan lain yaitu siklus hidup sejumlah spesies berubah serta musim bunga dan migrasi burung-burung telah bergeser waktunya.

Sekarang ada perubahan ketiga, yaitu meningkatnya suhu bumi diiringi dengan mengecilnya ukuran organisme—baik ukuran komunitas maupun ukuran individu.

Hal itu diungkapkan pemimpin tim peneliti Martin Daufresne dari Cemagref Aix-en-Provence, lembaga penelitian milik Pemerintah Perancis. Hasil studi ini akan dimuat di jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences.

Penelitian dilakukan jangka panjang pada komunitas di perairan, meliputi bakteri, fitoplankton serta ikan yang hidup di sungai, danau, dan lautan. Menurut Daufresne, kelompok ikan di sungai-sungai di Perancis berkurang jumlahnya lebih dari 60 persen dalam penelitian selama dua dekade. (ISW)

RABU, 22 JULI 2009 | 08:42 WIB

KOMPAS.comhttp://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/22/08425414/dunia.makin.hangat.ukuran.binatang.mengecil

Negara Pembuat Polusi Dunia Bertemu, Bisakah Bumi Diselamatkan?

Menteri-menteri lingkungan dari negara pembuat polusi terbesar dunia, termasuk AS dan China, Senin (22/6), bertemu di Meksiko dalam upaya AS untuk mempercepat kerja ke arah perjanjian iklim penting PBB.


Kelompok yang disebut Forum Ekonomi-ekonomi Besar (MEF) itu bermaksud membantu membuat perjanjian baru untuk menahan laju pembuangan gas rumah kaca, guna menggantikan Prokokol Kyoto saat perjanjian itu habis berlakunya pada 2012.

Pertemuan ketiga kelompok diputuskan ketika pembicaraan iklim di seluruh dunia macet, sebelum pertemuan puncak besar Kopenhagen Desember, yang ditujukan untuk menghasilkan perjanjian PBB yang baru.

Selama 12 hari pembicaraan perubahan iklim internasioal itu berakhir pekan lalu di Jerman tanpa hasil. Tidak ada solusi bagaimana membagi beban pengurangan emisi pada masa depan.

Negara-negara miskin meminta pengurangan yang signifikan dari negara-negara kaya, yang menurut sejarah, sebagian besar harus dipersalahkan karena masalah sekarang ini.

Mereka kebanyakan minta pengurangan sekitar 25-40 persen pada 1020 dibanding dengan tingkat pengurangan 1990. Beberapa negara, termasuk China, telah mengatakan 40 persen haruslah minimal.

Di negara-negara maju, Uni Eropa telah menawarkan pengurangan sedikitnya 20 persen pada 1990, tetapi Jepang dan AS sejauh ini menawarkan pengurangan sekitar delapan dan empat pesen berturut-turut.

MEF diluncurkan Presiden AS Barack Obama di belakang prakarsa pendahulunya, George W Bush. Anggota-anggotanya telah bertemu di Washington dan Paris pada April dan Mei.

Pesertanya termasuk Australia, Brasil, Inggris, Kanada, China, Republik Ceko, Denmark, Perancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Korea Selatan, Meksiko, Rusia, Afrika Selatan, Swedia dan AS, dan juga ke-27 negara Uni Eropa.

"Wakil-wakil dari Uni Emirat Arab, Norwegia, dan Spanyol akan mengambil bagian sebagai pengamat," demikian dikatakan beberapa pejabat Meksiko.

Pembicaraan itu tiba ketika dukungan internasional meningkat pada proposal Meksiko yang bertujuan mengumpulkan miliaran dollar untuk memerangi perubahan iklim melalui lembaga yang disebut Green Fund.

Rencana itu akan mewajibkan semua pemerintah untuk membayar uang kontan berdasar pada formula yang mencerminkan ukuran produk domestik bruto masing-masing negara.

SELASA, 23 JUNI 2009 | 10:56 WIB

MEKSIKO, KOMPAS.com — http://sains.kompas.com/read/xml/2009/06/23/10560595/negara.pembuat.polusi.dunia.bertemu.bisakah.bumi.diselamatkan

Saturday, July 25, 2009

Menjaga Lingkungan Melestarikan Kupu-kupu

Kupu-kupu yang lucu kemana engkau terbang hilir mudik mencari bunga-bunga yang kembang berayu-ayun pada tangkai yang lemah tidakkah sayapmu merasa lelah?

Generasi yang kini berusia di atas 30 tahun tentu akrab dan dibesarkan dengan lagu indah gubahan Ibu Soed itu. Mereka juga masih banyak yang mengenali binatang bersayap indah ini. Tapi bagaimana dengan anak-anak masa kini?

“Lihat, kupu-kupu itu besar sekali, ada mata besar di sayap bawahnya!” seru seorang anak kala ia berakhir pekan di Bodogol, Lido, Jawa Barat, awal 2004. Padahal, yang ditunjuknya itu ngengat besar. Artinya, anak-anak masa kini masih ada (mungkin juga banyak) yang tidak mengenal kupu-kupu.

Atas situasi macam itulah, “Saya ingin anak-anak sekarang, terutama yang tinggal di perkotaan dan lahan sempit, yang kurang berkesempatan menikmati keindahan alam, kembali peka, bisa mengenal dan menikmati makhluk kecil ciptaan Tuhan yang merupakan bagian penting dari sistem saling ketergantungan hidup di alam,” papar Sumarto Kepala Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, maka dibuatkanlah rumah kupu-kupu hidup di Pulau Pramuka. Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Kupu-kupu itu didatangkan dan seluruh pelosok Nusantara.

Masih untuk mengenal kupu-kupu, Peggie Djunianti, M.SC., PHD., peneliti Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Bogor, penyusun buku Butterflies of Bogor Botanic Garden mengajak kita ke Kebun Raya Bogor. Di kebun yang berada di tengah Kota Hujan itu kita bisa menikmati keindahan sekitar 96 jenis kupu-kupu yang bebas berterbangan.

Sayangnya, hal yang sebaliknya terjadi di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan. Saat ini. Kawasan yang dulu dikenal sebagai surganya kupu-kupu sudah rusak oleh ulah manusia. Dulu, sebelum rusak, di kawasan ini ada sekitar 250 jenis kupu-kupu. Wajar kalau Alfred Russel Wallace (1823 - 1913) dalam The Malay Archipelago menjulukinya sebagai Kerajaan Kupu-kupu. Situasinya mirip dengan daerah singgah kupu-kupu raja di benua Amerika. Tapi kini hanya tersisa separo dari jumlah jenisnya. Penyebabnya mudah ditebak. Habitatnya rusak akibat kegiatan manusia memanfaatkan lahan dan kekayaan alam bukit kanrs tanpa kendalit.

Rupanya, banyak pula orang yang tidak memahami bahwa rusaknya alam akan mengganggu populasi kupu-kupu. Padahal kupu-kupu termasuk penting perannya dalam ekosistem. Bersama serangga lain dan kelelawar, kupu-kupu membantu penyerbukan tanaman. Kita bisa menyantap aneka buah lezat karena jasa mereka. Sebaliknya, kelangsungan hidup kupu-kupu di alam pun tergantung tumbuhan inangnya. Ada kupu-kupu yang bisa meletakkan telurnya di beberapa jenis tanaman. Ada pula yang sangat pemilih, hanya di pohon tertentu. Jadi, hilangnya suatu jenis kupu-kupu bisa menjadi penanda kesehatan lingkungan.

Ancaman lain juga datang dan perburuan liar terhadap kupu-kupu yang tak terkendali untuk dijadikan cendera mata.

Soal pelestarian kupu-kupu, ada kisah menarik dari Victor Mason, pria kelahiran Sussex, Inggris yang kini menetap di Ubud, Bali. Sejak kecil, ia telah berburu kupu-kupu hidup dan mengawetkannya. Kegemaran ini berlanjut kala menetap di Ubud sejak 1969. Sampai suatu hari di akhir 1970-an ia akhirnya berhenti mengorbankan kupu-kupu demi kesenangan sendiri. Itu terjadi karena ada seekor kupu-kupu belang jingga hitam (Dryadula phaetusa), yang hendak ia awetkan dan ia kira sudah mati, melepaskan diri dari tempat pengawetan dan terbang dengan jarum di tubuhnya! Sejak itu Victor menggantung jaring kupu-kupunya dan puas dengan mengamati mereka terbang bebas di alam.

Kalau saja banyak orang yang tidak mengganggu kehidupan kupu-kupu baik secara langsung maupun tidak, tentulah kupu-kupu aka tetap terbang di sekitan kita. Anak-anak pun tak akan asing dengan datwa bersayap yang indah ini.

(Christ)

Sumber: Intisari Januari 2007

Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia

Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...