Wednesday, August 5, 2009

Mesin Kasir Canggih dari HP

Hewlett Packard merilis HP rp570a0 dan HP rp3000 di pasar Indonesia. Keduanya merupakan sistem komputer khusus yang dihadirkan sebagai solusi Point-of-Sale (POS) terlengkap, tangguh dan terjangkau untuk mendukung produktivitas bisnis ritel berbagai skala dari toko kecil hingga pusat perbelanjaan berskala besar.

"Ini merupakan solusi terbaru dari HP. Selain semakin menegaskan posisi HP sebagai vendor penyedia solusi TI terlengkap, juga merupakan wujud pemahamannya yang tinggi terhadap kebutuhan sistem komputasi untuk bisnis ritel," ujar Megawaty Khie, Managing Director Personal System Group, HP Indonesia, melalui keterangan resminya, Selasa (4/8/2009).

Sistem layar sentuh pada solusi POS untuk ritel dapat meningkatkan efisiensi checkout sedikitnya 15 persen. Ini bahkan berlaku untuk bisnis ritel besar seperti supermarket ataupun department store yang memiliki ribuan item produk yang berbeda-beda. Keberadaan layar sentuh juga menjadi pengganti efektif ketika barcode scanner mengalami gangguan fungsi.

Keunggulan lain adalah HP rp5700 dan rp3000 didesain untuk tahan di berbagai cuaca maupun kondisi lingkungan bisnis. Solusi ini tahan terhadap goncangan, getaran, debu, kotoran, air, ataupun perubahan temperatur udara, sehingga tingkat durabilitas dan keandalannya tinggi.

Chassis baja yang kuat dan internal heat monitoring menjadikan sistem POS dari HP ini tetap dapat dioperasikan secara optimal di saat temperatur mencapai 40 derajad Celsius - lebih baik dibandingkan sistem POS atau PC lainnya yang standar ketahanannya hanya mencapai suhu udara 35 derajad Celsius.

Hemat energi dan ramah lingkungan ditunjukkan dari penggunaan 80 persen daya listrik oleh HP rp5700. Keduanya mampu mewujudkan penghematan energi melalui manajemen prosesor yang didukung oleh HP BIOS (basic input/output system). Khusus HP rp5700, merupakan sistem POS pertama yang menerima GOLD Rating dari Electronics Products Assessment Tools (EPEAT) dari pemerintah Amerika Serikat. GOLD Rating dicapai apabila produk terbukti ramah lingkungan, baik dari penggunaan komponen maupun materialnya.

Sebagai perangkat komputasi untuk bisnis, sistem POS dari HP ini menawarkan keamanan yang terjamin, khususnya terhadap kemungkinan data hilang atau tercuri berkat sistem proteksi pengamanan terunggul yang meliputi HP Business PC Security Lock, HP Protect Tools Security Software Suite dan TPM 1.2 Embedded Security Chip. Sementara untuk mendukung kinerjanya, sistem POS dari HP ini diperkuat oleh prosesor INTEL. (srn)

Jakarta, 04 Agustus 2009
Source: http://techno.okezone.com/read/2009/08/04/57/245001/mesin-kasir-canggih-dari-hp

BUMI SERATUS TAHUN LAGI

Bumi bergejolak tak menentu. Bencana datang silih berganti tanpa satu kepastian apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Bila Anda harus berpikir dari akhir, kira-kira apa yang terbayang tentang kondisi Bumi, termasuk penghuninya, pada periode 100 tahun mendatang?

Ini bukan tentang penilaian orang, baik kerabat, teman, atau siapa pun, tentang diri Anda, seperti ditulis Stephen R Covey dalam The 7 Habbits of Highly Effective People, tetapi masa depan Bumi berpenghuni miliaran orang, dari Kutub Selatan hingga Kutub Utara, dari ujung barat hingga ujung timur (yang kembali ke ujung barat) lagi.

Laporan pertama Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menegaskan, pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim adalah akibat aktivitas manusia (antropogenik).

Abad ini peningkatan suhu global diperkirakan naik 1,4-5,8 derajat Celsius. Saat ini saja, dengan suhu Bumi yang naik sekitar 0,6 derajat Celsius sejak revolusi industri, berbagai spesies flora dan fauna musnah sebelum sempat dipelajari.

Fenomena cuaca dan iklim yang tak menentu disinyalir akibat pemanasan global.

Kejadian puting beliung meluas hingga kawasan yang dulunya tak pernah terjadi. Yang satu ini belum terbukti secara ilmiah apakah akibat faktor pemanasan global.

“Hujan dan panas tak menentu sekarang ini mengherankan. Menyeramkan buat saya,” kata Henny (33), ibu seorang anak usia delapan tahun, Aditya.

Hal senada diungkapkan Zulfa (33), ibu dua anak, Faqih (8) dan Nabila (5). Baginya, sangat perlu mengetahui kondisi lingkungan lokal dan global, yang dinilainya makin aneh. Bukan hanya memperkaya wawasan, tetapi juga memahami apa yang dapat dilakukan keluarga.

Generasi pewaris

Ini adalah cara melihat masa depan, Bumi dengan segala permasalahan yang ditimbulkan penghuninya, diprediksi mewariskan permasalahan besar.

Sejumlah prediksi tentang Indonesia di antaranya kenaikan permukaan air laut yang akan menggenangi daratan sejauh 50 meter dan garis pantai kepulauan Indonesia sepanjang 81.000 kilometer.

Lebih dari 405.000 hektar daratan Indonesia akan tenggelam. Artinya. ribuan pulau kecil terancam terhapus dari peta.

Belum lagi kerentanan ratusan ribu hektar tambak dan sawah di daerah pasang surut. Abrasi pantai dan intrusi air laut kian parah. Sumber-sumber air bersih tercemar (Kompas, 13/12/2006).

Di Lombok Nusa Tenggara Barat, misalnya, mata air di sejumlah lokasi tak lagi mengalir seperti dua tahun lalu. Di Bali, gelombang tinggi menerjang pesisir. Fenomena yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Meski secara ilmiah terbukti bahwa pohon berfungsi menyeimbangkan suhu Bumi dan menyimpan karbon, nafsu mengonversi hutan alam terus dilayani mengatasnamakan investasi atau melayani pasar yang atraktif.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk memperlambat pemanasan global, mulai dan hal-hal sepele. Misalnya, karena tisu berbahan dasar kayu, gantilah dengan lap kain. Mulailah menanam dan memelihara pohon di halaman rumah. Bongkar lahan yang telanjur dicor namun tak fungsional.

Prediksi ilmuwan (1PCC), bila cara hidup manusia tak berubah, lelehan kubah es di kutub akan menaikan permukaan laut sekitar 1meter. Suhu Bumi diperkirakan meningkat hingga 5,8 derajat Celcisius dari tahun 1990. Sekitar 80 persen spesies flora dan fauna punah di alam. Kekeringan dan banjir akan terjadi lebih hebat.

Seratus tahun mendatang, bergantung pada keputusan kita sekarang hari ini! Untuk generasi pewaris Bumi.

KOMPAS, SENIN, 21 APRIL 2008

Green Festival

Transfer Data Kartu Memori Toshiba Bisa 104MB/detik


Toshiba berencana untuk membuat kartu memori SD dengan kecepatan membaca dan menulis data tercepat di kelasnya pada pertengahan 2010 mendatang.

Perusahaan tersebut dikabarkan akan menjadi perusahaan pertama yang menciptakan kartu memori SD yang mempunyai format 3.0. Rencananya juga, Toshiba telah melakukan pengapalan pada November tahun ini, sehingga pada pertengahan 2010 sudah bisa dijual.

Kartu memori SD dengan versi 3.0 diumumkan pertama kali pada awal tahun lalu dan merupakan versi paling anyar yang mampu menjadikan kartu memori SD mentransfer data hingga 104MB per detik. Seperti yang dilansir PC World, Rabu (5/8/2009), dengan kecepatan besar tersebut, tentu sangat cocok untuk data yang lebih baik dan video dengan kapasitas high definition.

Rencananya, Toshiba akan menjual kartu super kencang ini dengan kapasitas 16GB dan 32GB dengan model SDHC. Sedangkan kartu dengan seri terbaru SDXC, akan dijual dengan ruang hingga 32GB.

Khusus untuk seri SDXC, Toshiba bukan tidak mungkin akan menambah kapasitas kartunya hingga 1TB. Pasalnya, Toshiba melihat makin bagus hasil penyimpanan yang disimpan, maka semakin besar pula memori yang dimilikinya. (srn)
New York, 05 Agustus 2008
Source: http://techno.okezone.com/read/2009/08/04/324/244996/transfer-data-kartu-memori-toshiba-bisa-104mb-detik

Transfer Data Kartu Memori Toshiba Bisa 104MB/detik

Toshiba berencana untuk membuat kartu memori SD dengan kecepatan membaca dan menulis data tercepat di kelasnya pada pertengahan 2010 mendatang.
Perusahaan tersebut dikabarkan akan menjadi perusahaan pertama yang menciptakan kartu memori SD yang mempunyai format 3.0. Rencananya juga, Toshiba telah melakukan pengapalan pada November tahun ini, sehingga pada pertengahan 2010 sudah bisa dijual.

Kartu memori SD dengan versi 3.0 diumumkan pertama kali pada awal tahun lalu dan merupakan versi paling anyar yang mampu menjadikan kartu memori SD mentransfer data hingga 104MB per detik. Seperti yang dilansir PC World, Rabu (5/8/2009), dengan kecepatan besar tersebut, tentu sangat cocok untuk data yang lebih baik dan video dengan kapasitas high definition.

Rencananya, Toshiba akan menjual kartu super kencang ini dengan kapasitas 16GB dan 32GB dengan model SDHC. Sedangkan kartu dengan seri terbaru SDXC, akan dijual dengan ruang hingga 32GB.

Khusus untuk seri SDXC, Toshiba bukan tidak mungkin akan menambah kapasitas kartunya hingga 1TB. Pasalnya, Toshiba melihat makin bagus hasil penyimpanan yang disimpan, maka semakin besar pula memori yang dimilikinya. (srn)
New York, 05 Agustus 2008
Source: http://techno.okezone.com/read/2009/08/04/324/244996/transfer-data-kartu-memori-toshiba-bisa-104mb-detik

Tuesday, August 4, 2009

PERANTI LUNAK: Raih Efisiensi 60 Persen dengan OSS

Sejak dicanangkan lima tahun lalu, program nasional Indonesia Go Open Source telah diterapkan berbagai kalangan. Penggunaan sumber sistem operasi terbuka ini terbukti dapat meningkatkan efisiensi hingga 60 persen.

Asisten Deputi Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi Kemal Prihatman, Jumat (31/7), menyatakan, penerapan open source software (OSS) pada umumnya dapat menekan anggaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) hingga 30 persen, bahkan beberapa perusahaan swasta dapat mencapai efisiensi lebih dari 50 persen.

Sistem Indonesia Go Open Source yang dicanangkan lima kementerian itu pada tahun 2004 bertujuan mengurangi penggunaan peranti lunak ilegal di Indonesia dan mendorong penggunaan peranti lunak sistem terbuka.

Program tersebut sejauh ini telah berhasil menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari akademisi, instansi pemerintah, swasta, hingga komunitas-komunitas.

Dalam seminar nasional IGOS Center yang diselenggarakan di Jakarta, belum lama ini, beberapa perusahaan mengungkapkan kisah keberhasilan dan kendala yang dihadapi saat ini. Salah satunya adalah PT Samudera Indonesia Tbk yang dapat menghemat anggaran TIK-nya bahkan hingga 60 persen.

Kepala Divisi Teknologi dan Sistem Informasi perusahaan pelayaran tersebut, Denny Ganjar Purnama, menegaskan, ”Bila membeli software berlisensi, perusahaan harus mengeluarkan dana hingga Rp 18 miliar.”

”Akan tetapi, dengan menggunakan open source software, dana yang dikeluarkan hanya sekitar Rp 6 miliar,” lanjut Denny.

Meski begitu, ia melihat kompatibilitas OSS dalam lingkup yang lebih besar atau nasional perlu dikembangkan dengan mengacu pada standar yang sama. Ini yang masih menjadi kendala dalam pengembangan OSS di Indonesia.

Sementara itu, menurut Kemal, di luar institusi pendidikan dan swasta, saat ini minat pemerintah daerah untuk menggunakan OSS sudah mulai tumbuh.

”Pada masa sekarang telah ada sekitar 60 pemerintah kabupaten/kota yang menyatakan keinginan untuk menerapkan OSS,” katanya.

Sejak tahun 2007 hingga tahun ini Kementerian Negara Riset dan Teknologi mendorong upaya rintisan membangun 19 Jaringan Pendayagunaan Open Source Software (POSS) dan 25 IGOS Center di berbagai wilayah di Indonesia.

Untuk itu, kementerian ini menyelenggarakan program insentif. ”Untuk tiap POSS dialokasikan dana hingga Rp 300 juta selama tiga tahun program,” ujar Agus Sediadi, dari Kepala Bidang Kemitraan Lembaga Teknologi Informasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

Sayangnya dari POSS yang dibangun itu, ungkap Agus, hanya beberapa yang berkembang lebih lanjut, yaitu di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Institusi pendidikan ini bahkan telah menghubungkan jejaringnya ke tingkat internasional.

Meski masih banyak POSS yang belum berkembang, Kementerian Negara Riset dan Teknologi mulai tahun depan tidak lagi mendukung pendanaannya. Diharapkan, POSS tersebut dapat mengupayakan sumber pembiayaannya sendiri. (YUN)

Jakarta, 04 Agustus 2009

Source:http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/04/03314181/raih.efisiensi.60.persen.dengan.oss

Geo-engineering sebagai Solusi

Dalam Simposium Nobel Laureate di London akhir Mei lalu, Menteri Energi Amerika Serikat Prof Steven Chu melontarkan ide kontroversial, yaitu mengusulkan atap-atap rumah dan jalanan dicat putih dalam upaya mengurangi dampak pemanasan global. Sumber Foto: www.nature.com

Apa betul mengecat putih atap rumah bisa melawan kecenderungan pemanasan global? ”Dengan mencerahkan warna seluruh atap dan jalan, ini setara dengan menghilangkan seluruh kendaraan di dunia dari jalanan selama 11 tahun,” ujar peraih Nobel Fisika tahun 1997 ini kepada The Times.

Permukaan atap atau jalanan yang berwarna lebih cerah akan meningkatkan kemampuan albedo, yaitu kemampuan Bumi memantulkan kembali radiasi sinar Matahari ke luar angkasa. Menurut Chu, atap berwarna pucat atau putih memiliki tingkat albedo hingga 0,8 (80 persen). Ini juga membuat rumah lebih dingin sehingga mengurangi pemakaian energi listrik, khususnya pendingin udara.

Bandingkan dengan permukaan atap biasa yang albedonya hanya 0,2. Semakin rendah albedo, semakin tinggi pula Bumi menyerap radiasi sinar Matahari. Suhu di Bumi pun semakin panas. Materi yang memiliki kemampuan tinggi merefleksi radiasi sinar matahari adalah es, sementara yang terendah di antaranya lautan dan hutan lebat.

Berdasarkan data rekaman Clouds and Earth Radiant Energy System (CERES)—salah satu instrumen satelit milik NASA—rata-rata tingkat albedo Bumi saat ini adalah 0,3. Penurunan 0,001 point saja bakal berdampak besar bagi iklim di Bumi.

Penurunan ini nyatanya betul-betul tengah terjadi. Seperti dilaporkan di dalam American Journal of Science, tingkat albedo Bumi terus melemah. Dalam kurun waktu empat tahun saja (2000-2004), CERES mencatat albedo Bumi turun 0,0027 poin. Ini setara dengan peningkatan energi tertahan di Bumi sebesar 0,9 watt per meter persegi. Suhu rata-rata di Bumi pun semakin meninggi.

Rekayasa kebumian

Ide Chu yang sederhana tetapi mengena tentang gerakan mengecat putih atap dan jalanan adalah bagian dari upaya yang kini tengah populer diperdebatkan, yaitu geoengineering (rekayasa kebumian).

Ini adalah suatu paradigma baru melawan gejala pemanasan global dengan menggunakan bantuan rekayasa teknik dan geologi guna membalikkan efek pemanasan.

Memanipulasi iklim Bumi, baik melalui unsur fisik, kimia, maupun biologis, khususnya komposisi atmosfer di Bumi secara drastis, demi membalikkan efek pemanasan global adalah tujuan dari paradigma ini.

Mereka yang pro paradigma ini berpandangan, penguasaan iptek mengizinkan manusia untuk bertindak, berbuat sesuatu, demi kelangsungan hidup mereka. Termasuk di antaranya adalah memanipulasi iklim.

American Meterorological Society telah memasukkan geoengineering sebagai salah satu dari tiga strategi proaktif untuk mengurangi risiko kehidupan akibat dampak pemanasan global. Geoengineering menjadi opsi yang terbilang paling ekstrem untuk mengatasi efek pemanasan global dibandingkan dengan dua strategi lainnya, yaitu mitigasi (mengurangi emisi gas CO) dan adaptasi.

Tiga kategori

Usulan geoengineering meliputi tiga kategori penting. Pertama, mengurangi level efek rumah kaca di atmosfer lewat manipulasi dalam skala global, misalnya, melalui penumbuhan spesies fitoplankton nonhabitat asli secara besar-besaran atau menabur bijih besi di lautan untuk meningkatkan skala penyerapan gas CO di udara.

Kedua, mendinginkan Bumi dengan cara memperbesar albedo Bumi melalui pembuatan kaca-kaca pemantul radiasi sinar matahari atau menginjeksikan sulfur dioksida (SO) ke dalam lapisan stratosfer ataupun ke permukaan laut.

Lalu, ketiga, manipulasi skala besar lainnya, misalnya, berupa pembuatan megaproyek pipa vertikal di lautan lepas yang didesain meningkatkan proses transfer absorb panas dari permukaan laut ke tanah.

Persoalannya, sebesar dampak perubahannya menurunkan efek pemanasan global, opsi-opsi geoengineering ini juga berisiko besar menghasilkan perubahan, ketidakseimbangan ekologis, ataupun ekosistem di Bumi. Injeksi sulfur dioksida (SO) ke lapisan stratosfer, misalnya, berisiko besar menciptakan fenomena hujan asam.

Alan Robock, Direktur Meteorologi di Pusat Prediksi Lingkungan Rutgers University, New Jersey, AS, mengatakan, setidaknya ada 20 alasan bahwa geoengineering bisa menjadi ancaman global baru.

Mulai dari kemungkinan mengubah iklim lokal, pengasaman air laut, penipisan ozon, pengerdilan tanaman, berkurangnya bahan baku energi alternatif surya, hingga kekhawatiran terhadap faktor human error di dalam melaksanakan proses rekayasa itu.

Pulihkan diri sendiri

Terlepas dari mendesaknya penanganan akan pemanasan global mengingat laju peningkatan konsentrat CO di udara terus meningkat, hingga melampaui 80 ppm dari konsentrasi ideal, Alan menyarankan perlunya alternatif lain.

Menurut dia, upaya pengurangan dampak pemanasan global lebih berat pada nuansa politisnya ketimbang nuansa teknisnya. Misalnya, dengan mendorong masyarakat lebih menggunakan energi putih (energi alternatif). Serta, secara bersamaan membiarkan Bumi untuk memulihkan dirinya sendiri. Namun, pandangan ini ditentang mereka yang pro dengan paradigma geoengineering.

”Jika kita tidak melakukan apa pun, secara alamiah Bumi memang bisa memulihkan dirinya sendiri. Tetapi, itu membutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun dari sekarang, seperti terjadi 55 juta tahun lalu. Persoalannya, apakah kita bisa bertahan selama itu?” tutur James Lovelock, ilmuwan sekaligus pemerhati lingkungan yang bekerja untuk NASA.

Pengemuka Hipotesis Gaia ini berpendapat, upaya pemulihan diri Bumi terhadap pemanasan global harus dibantu percepatannya melalui tangan manusia. Ia pesimistis, tanpa suatu upaya revolusioner, pemanasan global ke depan akan kian parah.

”Saat itu kita akan melampaui suatu titik di mana efek (pemanasan global) tidak bisa lagi dibalikkan,” ujarnya kepada Livescience.

Di tengah segala pro-kontra yang terjadi mengenai geoengineering, Chu mencoba mengambil titik tengah. Menurut dia, usulan gerakan memutihkan atap dan jalan termasuk ke dalam geoengineering lunak. Karena, langkah itu relatif tidak menghasilkan risiko perubahan ekologi atau ekosistem Bumi.

Memutihkan atap dan jalanan adalah satu-satunya usulan geoengineering yang akan disikapi secara serius oleh Pemerintah AS saat ini. Jika diterapkan di 100 kota besar di dunia, dampak gerakan ini setara dengan menghilangkan 44 miliar ton CO di udara.

Kebijakan ini telah diimplementasikan secara bertahap di Negara Bagian California, AS. Usulan yang terdengar sederhana, tetapi tampaknya bakal sulit diterapkan jika tidak diikuti kesadaran tinggi dari manusia untuk sedikit berkorban demi masa depan Bumi.

Penulis:YULVIANUS HARJONO

Jakarta, 04 Agustus 2009

Source:http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/04/03225412/geoengineering.sebagai.solusi

Monday, August 3, 2009

Nokia Menggalakkan Daur Ulang

MASYARAKAT Indonesia cukup datang ke Nokia Care Center untuk mendaur ulang ponsel bekas. Greenpeace pun menilai, Nokia adalah produsen elektronik yang paling ramah lingkungan di dunia.

Produsen ponsel terbesar dunia Nokia Corp mengajak masyarakat di Indonesia meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dengan mendaur ulang ponsel, charger, dan aksesori yang tidak lagi terpakai. Guna memudahkan para pengguna ponsel di Indonesia melakukan daur ulang, Nokia menyediakan 91 buah drop-box daur ulang di 91 gerai Nokia Care Center yang ada di Indonesia.Pada drop-box tersebut, masyarakat boleh memasukkan ponsel merek apa pun untuk didaur ulang, tidak harus ponsel Nokia.

”Kampanye kepedulian lingkungan ini kami lakukan karena survei mengungkap bahwa tiga dari empat pengguna ponsel di dunia tidak pernah berpikir untuk mendaur ulang ponselnya. Sebagian dari mereka bahkan tidak tahu bahwa ponsel dapat didaur ulang,” ujar Regional Manager Market Environmental Affairs Nokia SEAP Francis Cheong. Lebih dari itu, sebanyak 70% pengguna ponsel di dunia, menurut Cheong, juga tidak tahu harus pergi ke mana jika ingin mendaur ulang ponsel mereka.

Kini, pengguna ponsel di Indonesia tinggal pergi ke Nokia Care Center jika ingin mendaur ulang ponselnya. Cheong mengungkapkan,daur ulang ponsel dan berbagai jenis aksesorinya sangat penting untuk menyelamatkan lingkungan dari pencemaran. Sebagai contoh, ketika sebuah ponsel bekas sudah didaur ulang,maka Bumi akan terhindar dari 12.585 kg emisi karbon dioksida (CO2), yang memicu pemanasan global. Dengan daur ulang ponsel, Cheong menambahkan, industri juga bisa mengurangi penambangan bahan mentah untuk membuat produk.

Pada saat ini,jumlah pengguna ponsel diperkirakan mencapai tiga miliar orang. Jika masing-masing mereka mendaur ulang satu saja ponsel bekasnya, maka industri dapat menghemat penggunaan bahan mentah sebanyak 240.000 ton. Penggunaan bahan mentah dapat dihemat karena industri bisa membuat produk dari bahan-bahan yang berasal dari ponsel-ponsel bekas.Mulai plastik hingga logam-logamnya.

Karena penambangan bahan mentah dapat dikurangi, maka emisi CO2 di Bumi pun dapat dipangkas dengan volume setara emisi CO2 empat juta unit kendaraan bermotor yang berjalan bersamaan di jalan raya. Cheong menegaskan, kesadaran masyarakat Indonesia untuk mendaur ulang ponsel merupakan salah satu yang terendah di dunia. Karena itu, Nokia menggalakkan kampanye daur ulang di sini. Sebanyak 91 drop-box daur ulang yang disediakan Nokia di Indonesia merupakan bagian dari sekitar 5.000 drop-box daur ulang yang disediakan Nokia di 85 negara di dunia pada saat ini.

Untuk mendaur ulang ponselponsel bekas di Indonesia, Nokia bekerja sama dengan perusahaan spesialis daur ulang sampah elektronik (e-waste) bernama TESAMM. Namun, TES-AMM tidak mendaur ulang ponsel-ponsel bekas tersebut di Indonesia, melainkan di Singapura. Technical Advisor TES-AMM Bambang N Gyat menjelaskan, TES-AMM mengumpulkan produk- produk bekas dari drop-box Nokia pada setiap dua bulan.

Selanjutnya, produk-produk bekas itu dikirimkan ke Singapura untuk didaur ulang. ”Daur ulang ponsel sangat mahal.Kami harus melakukannya di Singapura agar volume menjadi lebih banyak dan biaya pun menjadi lebih murah,”tutur Bambang. Di Singapura, produk-produk bekas tersebut didaur ulang secara terkendali. Artinya, proses daur ulang itu dilakukan secara terisolasi sehingga tidak menimbulkan emisi atau limbah lanjutan. Material-material daur ulang ponsel tersebut kemudian disalurkan kembali kepada industri.

Cheong berharap, kehadiran 91 buah drop-box ponsel bekas Nokia di Indonesia akan mengubah cara para pengguna ponsel di Indonesia dalam memperlakukan ponsel bekas. Survei Nokia mengungkap, sebanyak 44% ponsel bekas pada saat ini masih disimpan di rumah. Sebanyak 25% ponsel bekas yang lain diberikan kepada keluarga atau teman.Adapun 16% ponsel bekas yang lain lagi dijual kembali dan 4% ponsel bekas dibuang ke tempat sampah. Sementara ponsel bekas yang didaur ulang di dunia pada saat ini baru mencapai 3%.

Paling Ramah Lingkungan

Kelompok pencinta lingkungan Greenpeace menilai, Nokia adalah produsen elektronik yang memiliki tingkat kepedulian lingkungan tertinggi. Alasannya,Nokia sangat aktif mengampanyekan daur ulang produk kepada konsumen. Termasuk di negara-negara yang belum memiliki undangundang sampah elektronik seperti Indonesia.

Di samping itu,Nokia juga aktif memangkas penggunaan kimia berbahaya pada produk-produknya dan terus meningkatkan efisiensi konsumsi energi produkproduknya. Pada saat ini, sekitar 80% ponsel Nokia juga sudah dapat didaur ulang. Langkah-langkah nyata Nokia dalam membantu kelestarian lingkungan, antara lain dengan merilis charger ramah lingkungan pada awal 2007. Charger tersebut mampu memberikan peringatan kepada pengguna agar mencabut charger ketika baterai ponsel telah terisi penuh.

Ketika baterai sudah penuh namun charger tetap terhubung ke listrik, maka energi listrik terbuang sia-sia.Nokia mengungkapkan, strategi penghematan listrik ini bisa menghemat listrik untuk mencukupi kebutuhan listrik sekitar 85.000 rumah per tahun. Nokia juga bertekad akan terus memangkas konsumsi energi produk-produknya.Pada saat ini, charger Nokia sudah 94% lebih hemat energi daripada ketentuan minimum Energy Star.Namun, Nokia bertekad memangkas 50% konsumsi listrik charger-nya pada 2010.

Di samping itu, Nokia juga termasuk produsen ponsel yang menyepakati penyeragaman charger, yang rencananya dilakukan pada 2012. Produsen ponsel lain yang turut dalam kesepakatan itu adalah Samsung Electronics Co Ltd, LG Electronics Inc, Motorola Inc, dan Sony Ericsson Mobile Communications AB. Nokia,Samsung,LG,Motorola, dan Sony Ericsson adalah lima produsen ponsel terbesar dunia. Bersama-sama, mereka menjual hampir satu miliar unit ponsel pada 2008.

Mereka merencanakan, pada 2012 sebagian besar ponsel yang dipasarkan di dunia akan memiliki charger yang sama. Standar yang disepakati adalah charger USB mini. Selama ini, masing-masing produsen ponsel menggunakan desain charger berbeda untuk masingmasing ponsel mereka. Sejumlah produsen ponsel, bahkan menggunakan desain charger berbeda untuk beberapa jenis ponsel yang mereka produksi sendiri.

Organisasi produsen ponsel dan operator seluler global GSM Association (GSMA) menilai, penggunaan charger yang berbeda- beda itu menyumbangkan pencemaran lingkungan cukup signifikan. Sebab, ketika seorang pengguna ponsel membeli ponsel baru, maka dia harus membuang charger lama. GSMA mengalkulasi, para pengguna ponsel di dunia saat ini membuang charger bekas rata-rata 51.000 ton per tahun. Di samping itu,produksi dan distribusi charger baru juga menyumbangkan polusi CO2 antara 13,6 juta ton hingga 21,8 juta ton per tahun.

”Industri ponsel memiliki peran penting dalam menyelamatkan lingkungan dari kerusakan. Program standarisasi charger ini adalah langkah penting yang bisa menghemat banyak sekali sumber daya, sekaligus meningkatkan kenyamanan para pengguna ponsel,” ujar Chief Executive Officer GSMA Rob Conway. Ucapan Conway ada benarnya. Dengan standardisasi charger, pengguna yang memiliki lebih dari satu ponsel cukup memiliki satu charger saja.

Dengan begitu, pengguna tersebut bisa menghemat ruang di tempat tinggalnya. Conway pun menceritakan pengalaman pribadinya. ”Di rumah, laci saya penuh dengan charger, baik yang masih digunakan ataupun yang sudah tidak terpakai.

Saya berharap laci saya tidak akan lagi penuh dengan charger setelah rencana standardisasi ini terwujud,”tutur Conway. (ahmad fauzi)

Sunday, 02 August 2009

Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia

Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...