TAK cuma pemukiman yang mengusung konsep kawasan berwawasan lingkungan hijau alias green property. Mal atau pusat perbelanjaan pun mulai menerapkan konsep serupa. Sebab, mereka yakin, cara ini merupakan salah satu strategi pemasaran untuk memikat calon konsumen.
Manajer Divisi Pelayanan Riset Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan, pengembang memang harus bisa menawarkan konsep mal yang berbeda. Misalnya, dengan mengusung konsep hijau. “Green mall bisa juga menarik perhatian pasar,” katanya.
Contoh pusat perbelanjaan yang menerapkan konsep tersebut adalah Orchard Walk Mall yang berada di Bogor Nirwana Residence. Kenapa? “Sebab, letak mal di bawah kaki Gunung Salak yang memang daerahnya masih hijau,” ujar Manajer Pemasaran Bogor Nirwana Residence, Atang Wiharna.
Mengaku bulan lantaran latah memakai konsep green mall, Atang bilang, pihaknya menggunakan konsep hijau pada Orchard Walk Mall yang berdiri di atas lahan seluas 2,3 hektare untuk menyesuaikan dengan lokasi sekitar.
Karena itu, Orchard Walk Mall merupakan pusat perbelanjaan yang punya bangunan terbuka atau beken dengan sebutan eco mall. Sebab, tidak menggunakan penyejuk udara atau air conditioner (AC) seperti mal pada umumnya. “Kami menyediakan banyak ruang terbuka untuk sirkulasi udara,” kata Atang.
Di timur Jakarta, siap berdiri Indonesia Green Mall yang juga mengusung konsep berwawasan lingkungan. Pusat perbelanjaan ini akan hadir di Sentra Niaga TMII. Rencananya, mal tersebut akan dibangun di atas lahan dengan luas 6,7 hektare.
Hanya 20% dari area itu yang akan berupa bangunan, sisanya merupakan kawasan hijau yang ditumbuhi aneka pohon dan tumbuhan. Indonesia Green Mall bakal memakai konsep terbuka. Tak semua fasilitas ada di dalam gedung.
PT Alam Sutera Realty Tbk juga berencana membangun pusat belanja dengan konsep green mall bernama Alam Sutera Mall. Lokasinya, di tengah-tengah perumahan Alam Sutera yang berada di Serpong, Tangerang. “Mal maupun perumahan kami punya konsep green property,” ujar Hendra Kurniawan, Sekretaris Perusahaan Alam Sutera.
Alam Sutera Mall terintegrasi dengan taman bertema (theme park). Mal tersebut digadang bakal menjadi mal pertama di daerah Tangerang yang memadukan kawasan perbelanjaan dengan hiburan sekaligus, dalam maupun luar ruangan. Luas bangunan mal dirancang sekitar 7 hektare. Sedangkan tamannya seluas 15,75 hektare. Pembangunannya bakal melahap biaya sebanyak Rp 450 miliar. (KONTAN/Hans Henricus Benedictus/Lamgiat Siringoringo)
Senin, 5 Oktober 2009 | 07:35 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - http://properti.kompas.com/read/xml/2009/10/05/07352269/rame-rame.bangun.mal.berwawasan.lingkungan
Membantu Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank Dalam Penerapan Sustainable Finance (Keuangan Berkelanjutan) - Environmental & Social Risk Analysis (ESRA) for Loan/Investment Approval - Training for Sustainability Reporting (SR) Based on OJK/GRI - Training for Green Productivity Specialist (GPS) by APO Methodology. Hubungi Sdr. Leonard Tiopan Panjaitan, S.sos, MT, CSRA, GPS di: leonardpanjaitan@gmail.com atau Hp: 081286791540 (WA Only)
Thursday, October 8, 2009
"Green Building", Mengejar Piala atau Untung?
Isyu green building terus bergulir kencang seiring dengan menghebatnya akibat-akibat dari pemanasan global. Kesadaran umat manusia untuk jauh lebih bersahabat dengan alam juga menjadi faktor menentukan. Ket.Foto: ilustrasi hutan atap.
Besarnya kesadaran merawat lingkungan di antaranya tampak dari gegap gempitanya upaya melahirkan gedung-gedung atau rumah ramah lingkungan. Dari sini lalu muncul industri yang berlomba menghasilkan material rumah atau gedung yang sangat ramah lingkungan, dengan harga "lebih baik".
Riuhnya pengembang berkomitmen tinggi pada lingkungan terutama tampak pada negara-negara yang secara ekonomi lebih maju. Di Amerika Serikat, sejumlah kota bahkan sudah memberi imbuhan wajib bagi pengembang untuk mengkonstruksikan bangunannya berdasarkan pendekatan ramah lingkungan. Datanglah ke beberapa kota, di antaranya di Washington, Chicago, dan Boston, kemudian lihatlah bagaimana gedung-gedung peraih langit bersahabat dengan lingkungan.
Di sejumlah teras bangunan tampak menyembul tanaman aneka jenis. Lalu di lantai tertentu dibuat lantai dengan konstruksi lebih kokoh agar di situ dapat dijadikan areal tanaman dengan pohon lima meter. Datanglah pula ke beberapa kota lain seperti Wellington, Melbourne, Tokyo, Yokohama, Kyoto, Kopenhagen, Wina, Singapura dan sebagainya.
Menariknya, ramah lingkungan tidak lagi diidentikkan dengan menanam sebanyak mungkin pohon dan rumput termasuk di atap dan teras-teras gedung. Tidak pula selalu dicirikan dengan membuat sumur resapan, dan kolam penampung air hujan.
Ramah lingkungan ditunjukkan dengan mereduksi penggunaan listrik hingga 40 persen. Caranya menggunakan bohlam yang lebih mahal tetapi tahan lama dan wattnya amat kecil. Atau mesin pendingin AC yang akan menurunkan kerakusan AC menyedot energi.
Handy, seorang konsultan green building menuturkan, lampu hemat energi, satu buah per satu titik rata-rata hanya 0.02 watt LED. Kalau satu rangkaian lampu mempunyai 48 buah titik, maka seluruhnya hanya terdiri atas 0,96 watt. Kalau dihitung dengan sederhana, maka satu rangkaian lampu senilai Rp 1,8 juta. Ini jelas sangat mahal, dibanding bohlam dengan pancaran sinar yang sama (50 watt), yang hanya senilai Rp 150.000.
Anda hendak memilih yang mana, lampu 0,96 watt tetapi harga per buahnya Rp 1,8 juta, atau 50 watt dengan harga Rp 150.000. Para pencinta lingkungan tentu akan memilih yang Rp 1,8 juta, sebab memang awalnya mahal, tetapi pada ujungnya menjadi hemat sebab energi listrik yang terpakai hanya 0,96 watt. Ini tidak genap satu watt, bandingkan dengan bohlam 50 watt. Aspek lain, tutur Handy, bohlam dengan total 0,96 watt itu biasanya tahan lama, bisa sampai tiga tahan. Nah, lebih suka yang mana?
Hemat energi, yang berarti ramah lingkungan, diwujudkan pula dengan menggunakan jenis kaca yang benar-benar low energy (LE). Sinar matahari yang masuk melalui kaca itu dihambat ruang yang ditutup kaca tidak terlampau panas. Jika pakai AC, cukup dengan watt kecil. Tetapi, nah ini logikanya, makin canggih kaca LE itu menolak panas, makin besar rupiah yang perlu dikeluarkan.
Selain kaca low energy, ada juga kaca jenis lain, yakni kaca dengan teknologi double glass. Tapi, itu tadi, harganya dua setengah kali harga kaca biasa. Kalau beli hanya selembar atau dua lembar kaca sih masih bisa ditoleransi. Tetapi kalau dalam satu gedung dibutuhkan 2.000 lembar kaca sejenis, lumayan juga anggaran yang mesti dikeluarkan. Inilah yang membuat para pengembang berpikir keras merealisasikannya.
Bersamaan dengan munculnya gerakan tersebut, muncul sejumlah lembaga yang mengamati siapa saja yang memberi perhatian pada masalah ramah lingkungan, siapa saja yang membangun gedung yang memberi award platinum, gold plus, gold dan sertifikat hijau.
Lembaga-lembaga nirlaba tersebut menariknya sangat berwibawa, dan karena itu suaranya sangat didengar. Di Indonesia, lembaga-lembaga seperti itu mulai muncul dan pada saatnya akan memberi sertifikasi dan penghargaan platinum, emas plus dan emas kepada pengembang, arsitek, konsultan dan media massa yang mengembangkan konsep green building.
Gede Widiade, eksekutif properti di Indonesia menyatakan, suka tidak suka, pada saatnya Indonesia harus masuk ke panggung hemat energi. Para pengembang diajak mengembangkan green building sebagai wujud tanggung jawab terhadap lingkungan.
Gede menjelaskan, memang ada, pertanyaan klasik seperti ini, pengembang berbisnis untuk meraih untung sebesar-besarnya, bukan mencari piala atau medali platinum. Kalau membangun gedung yang benar-benar ramah lingkungan, ongkos bangunnya bisa lebih mahal 20 persen - 30 persen dari gedung biasa. Persentase 20 - 30 persen itu tentu sangat signifikan. Pengembang bukannya untung, tetapi malah rugi.
"Repotnya begitu gedung selesai, clan dijual ke konsumen, yang akhirnya menikmati gedung serba ramah lingkungan itu adalah pembeli, bukan pengembang. Pikiran seperti inilah yang kerap hidup di kalangan pengembang Indonesia. Kita tidak bisa menyalahkan mereka," ujar Gede.
Ada baiknya, tutur Gede, pemerintah mencari solusi bijak untuk memberi insentif dan bonus kepada para pengembang agar mereka bersemangat membangun green building. Jika itu bisa dilakukan, pertanyaan apakah membangun untuk meraih laba atau dapat piala akan lenyap disapu angin. (Abun Sanda)
Kamis, 8 Oktober 2009 | 09:09 WIB
JAKARTA, KOMPAS.COM - http://properti.kompas.com/read/xml/2009/10/08/09090482/quotgreen.buildingquot.mengejar.piala.atau.untung
Besarnya kesadaran merawat lingkungan di antaranya tampak dari gegap gempitanya upaya melahirkan gedung-gedung atau rumah ramah lingkungan. Dari sini lalu muncul industri yang berlomba menghasilkan material rumah atau gedung yang sangat ramah lingkungan, dengan harga "lebih baik".
Riuhnya pengembang berkomitmen tinggi pada lingkungan terutama tampak pada negara-negara yang secara ekonomi lebih maju. Di Amerika Serikat, sejumlah kota bahkan sudah memberi imbuhan wajib bagi pengembang untuk mengkonstruksikan bangunannya berdasarkan pendekatan ramah lingkungan. Datanglah ke beberapa kota, di antaranya di Washington, Chicago, dan Boston, kemudian lihatlah bagaimana gedung-gedung peraih langit bersahabat dengan lingkungan.
Di sejumlah teras bangunan tampak menyembul tanaman aneka jenis. Lalu di lantai tertentu dibuat lantai dengan konstruksi lebih kokoh agar di situ dapat dijadikan areal tanaman dengan pohon lima meter. Datanglah pula ke beberapa kota lain seperti Wellington, Melbourne, Tokyo, Yokohama, Kyoto, Kopenhagen, Wina, Singapura dan sebagainya.
Menariknya, ramah lingkungan tidak lagi diidentikkan dengan menanam sebanyak mungkin pohon dan rumput termasuk di atap dan teras-teras gedung. Tidak pula selalu dicirikan dengan membuat sumur resapan, dan kolam penampung air hujan.
Ramah lingkungan ditunjukkan dengan mereduksi penggunaan listrik hingga 40 persen. Caranya menggunakan bohlam yang lebih mahal tetapi tahan lama dan wattnya amat kecil. Atau mesin pendingin AC yang akan menurunkan kerakusan AC menyedot energi.
Handy, seorang konsultan green building menuturkan, lampu hemat energi, satu buah per satu titik rata-rata hanya 0.02 watt LED. Kalau satu rangkaian lampu mempunyai 48 buah titik, maka seluruhnya hanya terdiri atas 0,96 watt. Kalau dihitung dengan sederhana, maka satu rangkaian lampu senilai Rp 1,8 juta. Ini jelas sangat mahal, dibanding bohlam dengan pancaran sinar yang sama (50 watt), yang hanya senilai Rp 150.000.
Anda hendak memilih yang mana, lampu 0,96 watt tetapi harga per buahnya Rp 1,8 juta, atau 50 watt dengan harga Rp 150.000. Para pencinta lingkungan tentu akan memilih yang Rp 1,8 juta, sebab memang awalnya mahal, tetapi pada ujungnya menjadi hemat sebab energi listrik yang terpakai hanya 0,96 watt. Ini tidak genap satu watt, bandingkan dengan bohlam 50 watt. Aspek lain, tutur Handy, bohlam dengan total 0,96 watt itu biasanya tahan lama, bisa sampai tiga tahan. Nah, lebih suka yang mana?
Hemat energi, yang berarti ramah lingkungan, diwujudkan pula dengan menggunakan jenis kaca yang benar-benar low energy (LE). Sinar matahari yang masuk melalui kaca itu dihambat ruang yang ditutup kaca tidak terlampau panas. Jika pakai AC, cukup dengan watt kecil. Tetapi, nah ini logikanya, makin canggih kaca LE itu menolak panas, makin besar rupiah yang perlu dikeluarkan.
Selain kaca low energy, ada juga kaca jenis lain, yakni kaca dengan teknologi double glass. Tapi, itu tadi, harganya dua setengah kali harga kaca biasa. Kalau beli hanya selembar atau dua lembar kaca sih masih bisa ditoleransi. Tetapi kalau dalam satu gedung dibutuhkan 2.000 lembar kaca sejenis, lumayan juga anggaran yang mesti dikeluarkan. Inilah yang membuat para pengembang berpikir keras merealisasikannya.
Bersamaan dengan munculnya gerakan tersebut, muncul sejumlah lembaga yang mengamati siapa saja yang memberi perhatian pada masalah ramah lingkungan, siapa saja yang membangun gedung yang memberi award platinum, gold plus, gold dan sertifikat hijau.
Lembaga-lembaga nirlaba tersebut menariknya sangat berwibawa, dan karena itu suaranya sangat didengar. Di Indonesia, lembaga-lembaga seperti itu mulai muncul dan pada saatnya akan memberi sertifikasi dan penghargaan platinum, emas plus dan emas kepada pengembang, arsitek, konsultan dan media massa yang mengembangkan konsep green building.
Gede Widiade, eksekutif properti di Indonesia menyatakan, suka tidak suka, pada saatnya Indonesia harus masuk ke panggung hemat energi. Para pengembang diajak mengembangkan green building sebagai wujud tanggung jawab terhadap lingkungan.
Gede menjelaskan, memang ada, pertanyaan klasik seperti ini, pengembang berbisnis untuk meraih untung sebesar-besarnya, bukan mencari piala atau medali platinum. Kalau membangun gedung yang benar-benar ramah lingkungan, ongkos bangunnya bisa lebih mahal 20 persen - 30 persen dari gedung biasa. Persentase 20 - 30 persen itu tentu sangat signifikan. Pengembang bukannya untung, tetapi malah rugi.
"Repotnya begitu gedung selesai, clan dijual ke konsumen, yang akhirnya menikmati gedung serba ramah lingkungan itu adalah pembeli, bukan pengembang. Pikiran seperti inilah yang kerap hidup di kalangan pengembang Indonesia. Kita tidak bisa menyalahkan mereka," ujar Gede.
Ada baiknya, tutur Gede, pemerintah mencari solusi bijak untuk memberi insentif dan bonus kepada para pengembang agar mereka bersemangat membangun green building. Jika itu bisa dilakukan, pertanyaan apakah membangun untuk meraih laba atau dapat piala akan lenyap disapu angin. (Abun Sanda)
Kamis, 8 Oktober 2009 | 09:09 WIB
JAKARTA, KOMPAS.COM - http://properti.kompas.com/read/xml/2009/10/08/09090482/quotgreen.buildingquot.mengejar.piala.atau.untung
Nobel Fisika (Teknologi) 2009 Diraih 3 Ilmuwan AS
Seperti halnya Nobel Kedokteran 2009, penerima Nobel Fisika tahun ini juga dibagi tiga ilmuwan AS. Masing-masing Charles K Kao, Williard S Boyle, dan George E Smith (dari kiri ke kanan).
Charles K Kao dihargai atas terobosannya menemukan teknologi transmisi cahaya melalui serat optik. Ilmuwan kelahiran Shanghai yang juga memiliki kewarganegaraan Inggris tersebut mempublikasikan penemuan tersebut tahun 1966. Ketika itu Kao bekerja pada serat optik dan membentuk dasar untuk produksi pertama serat "ultrapure", empat tahun kemudian diperkenalkan untuk komunikasi antar masyarakat hingga dewasa ini. "Ini adalah serat kaca broadband yang memfasilitasi komunikasi global seperti Internet," kata komite Nobel. "Teks, musik, gambar dan video dapat ditransfer di seluruh di dunia dalam hitungan detik."
Lalu lintas informasi yang terdiri dari gambar digital, di mana Boyle dan Smith mangelutinya pada tahun 1969 dengan menemukan teknologi pencitraan pertama yang berhasil menggunakan sensor digital. Penemuan Kao inilah yang menjadi pondasi jaringan telekomunikasi modern saat ini dari telepon hingga internet kecepatan tinggi. Prestasi mereka telah memberikan sejumlah perubahan besar di bidang pengiriman informasi di seluruh dunia dalam waktu hampir seketika, triliunan sinyal dalam terkirim melalui serat optik dan sekarang mengelilingi bumi lebih dari 25.000 kali.
"Dengan serat kaca murni, cahaya dapat ditransmisikan hingga 100 kilometer, bandingkan dengan 20 meter di serat yang tersedia tahun 1960-an saat itu," demikian pernyataan panel juri dari The Royal Swedish Academy of Science, Selasa (6/10).
Sementara dua ilmuwan lainnya diganjar hadiah bergengsi tersebut karena sebagai penemu CCD (charged-couple device). Teknologi yang ditemukan Boyle dan Smith itu merupakan bagian penting kamera digital yang telah digunakan di berbagai lini produk dari yang mainstream hingga kamera canggih.
"Itu telah merevolusi fotografi, karena cahaya sekarang bisa ditangkap secara elektronik daripada di permukaan film," demikian penilaian panel juri Nobel. Dengan CCD, kamera digital dengan lensa raksasa seperti yang dibawa teleskop ruang angkasa Hubble bisa memotret objek antariksa yang sangat jauh dan indah.
Atas penemuan-penemuan tersebut, ketiga peraih Nobel Fisika 2009 berhak atas hadiah uang tunai senilai 10 juta kronor atau sekitar Rp 14 miliar. Kao akan mendapat bagian setengahnya sementara Boyle dan Smith masing-masing mendapat bagian seperempat. Hadiah tersebut akan diberikan dalam acara resmi yang akan digelar 10 Desember 2009 di Stockholm, Swedia.
Charles K Kao dihargai atas terobosannya menemukan teknologi transmisi cahaya melalui serat optik. Ilmuwan kelahiran Shanghai yang juga memiliki kewarganegaraan Inggris tersebut mempublikasikan penemuan tersebut tahun 1966. Ketika itu Kao bekerja pada serat optik dan membentuk dasar untuk produksi pertama serat "ultrapure", empat tahun kemudian diperkenalkan untuk komunikasi antar masyarakat hingga dewasa ini. "Ini adalah serat kaca broadband yang memfasilitasi komunikasi global seperti Internet," kata komite Nobel. "Teks, musik, gambar dan video dapat ditransfer di seluruh di dunia dalam hitungan detik."
Lalu lintas informasi yang terdiri dari gambar digital, di mana Boyle dan Smith mangelutinya pada tahun 1969 dengan menemukan teknologi pencitraan pertama yang berhasil menggunakan sensor digital. Penemuan Kao inilah yang menjadi pondasi jaringan telekomunikasi modern saat ini dari telepon hingga internet kecepatan tinggi. Prestasi mereka telah memberikan sejumlah perubahan besar di bidang pengiriman informasi di seluruh dunia dalam waktu hampir seketika, triliunan sinyal dalam terkirim melalui serat optik dan sekarang mengelilingi bumi lebih dari 25.000 kali.
"Dengan serat kaca murni, cahaya dapat ditransmisikan hingga 100 kilometer, bandingkan dengan 20 meter di serat yang tersedia tahun 1960-an saat itu," demikian pernyataan panel juri dari The Royal Swedish Academy of Science, Selasa (6/10).
Sementara dua ilmuwan lainnya diganjar hadiah bergengsi tersebut karena sebagai penemu CCD (charged-couple device). Teknologi yang ditemukan Boyle dan Smith itu merupakan bagian penting kamera digital yang telah digunakan di berbagai lini produk dari yang mainstream hingga kamera canggih.
"Itu telah merevolusi fotografi, karena cahaya sekarang bisa ditangkap secara elektronik daripada di permukaan film," demikian penilaian panel juri Nobel. Dengan CCD, kamera digital dengan lensa raksasa seperti yang dibawa teleskop ruang angkasa Hubble bisa memotret objek antariksa yang sangat jauh dan indah.
Atas penemuan-penemuan tersebut, ketiga peraih Nobel Fisika 2009 berhak atas hadiah uang tunai senilai 10 juta kronor atau sekitar Rp 14 miliar. Kao akan mendapat bagian setengahnya sementara Boyle dan Smith masing-masing mendapat bagian seperempat. Hadiah tersebut akan diberikan dalam acara resmi yang akan digelar 10 Desember 2009 di Stockholm, Swedia.
Selasa, 6 Oktober 2009 | 19:20 WIB
STOCKHOLM, KOMPAS.com -http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/06/19201049/Nobel.Fisika.Diraih.3.Ilmuwan.AS dan http://www.kesimpulan.com/2009/10/charles-kao-willard-boyle-dan-george.html
Pertemuan Pemimpin Islam-Kristen
Sebanyak 300 tokoh Islam dan Kristen dari seluruh dunia menghadiri A Common Word Conferece di Georgetown University , yang berlangsung antara 6-8 Oktober. Konferensi yang mengambil tema A Global Agenda for Change ini, berupaya menemukan kata satu atau kalimatun sawa' di antara Muslim dan Kristiani.
Konferensi sudah berlangsung tiga kali di Yale dan Vatikan, dan di Washington DC. Konperensi ini merupakan forum dialog antara tokoh Islam dan tokoh Kristen yang sudah berlangsung tiga kali, ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin yang saat ini sedang berada di Washington DC, Amerika Serikat , kepada Kompas di Jakarta, Rabu (7/10) malam.
Din Syamsuddin, yang juga Presiden Kehormatan World Confrence on Religions for Peace atau Konferensi Dunia Agama dan Perdamaian, memimpin sidang konferensi tentang Teologi Praktis dalam Aksi Nyata dengan peserta antara lain Syeikh Ali Jom'a, Mufti Mesir Prof Mustofa Ceric, Prof Hossein Nasr dari Bosnia, Anwar Ibrahim dari Malaysia, sejumlah kardinal, Prof. Esposito, dan Tony Blair.
Menurut Din, konferensi yang sedang berlangsung ini lebih menekankan orientasi praktis yakni dengan menurunkan pembahasan ke realitas di bawah.
"Maka diperlukan teologi yang tidak abstrak tapi riil dan praktis tentang bagaimana mewujudkan harmoni dan kerja sama antara umat Islam dan Umat Kristiani di kemudian hari untuk membangun peradaban dunia," ujarnya.
Kamis, 8 Oktober 2009 | 05:25 WIB Laporan wartawan KOMPAS Imam Prihadiyoko,MAM
JAKARTA, KOMPAS - http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/08/05252666/pertemuan.pemimpin.islam-kristen
Konferensi sudah berlangsung tiga kali di Yale dan Vatikan, dan di Washington DC. Konperensi ini merupakan forum dialog antara tokoh Islam dan tokoh Kristen yang sudah berlangsung tiga kali, ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin yang saat ini sedang berada di Washington DC, Amerika Serikat , kepada Kompas di Jakarta, Rabu (7/10) malam.
Din Syamsuddin, yang juga Presiden Kehormatan World Confrence on Religions for Peace atau Konferensi Dunia Agama dan Perdamaian, memimpin sidang konferensi tentang Teologi Praktis dalam Aksi Nyata dengan peserta antara lain Syeikh Ali Jom'a, Mufti Mesir Prof Mustofa Ceric, Prof Hossein Nasr dari Bosnia, Anwar Ibrahim dari Malaysia, sejumlah kardinal, Prof. Esposito, dan Tony Blair.
Menurut Din, konferensi yang sedang berlangsung ini lebih menekankan orientasi praktis yakni dengan menurunkan pembahasan ke realitas di bawah.
"Maka diperlukan teologi yang tidak abstrak tapi riil dan praktis tentang bagaimana mewujudkan harmoni dan kerja sama antara umat Islam dan Umat Kristiani di kemudian hari untuk membangun peradaban dunia," ujarnya.
Kamis, 8 Oktober 2009 | 05:25 WIB Laporan wartawan KOMPAS Imam Prihadiyoko,MAM
JAKARTA, KOMPAS - http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/08/05252666/pertemuan.pemimpin.islam-kristen
Wednesday, October 7, 2009
Pil Wireless dan Ponsel Khusus Pasien Diabetes
San Diego - Teknologi wireless ketika ditautkan ke dalam dunia kesehatan rupanya bisa bersinergi dengan baik. Sejumlah alat canggih nan menarik besutan Qualcomm ini misalnya, Pil Wireless dan ponsel khusus pasien diabetes.
Chip yang berukuran mini rupanya tidak hanya bisa dimasukkan ke dalam perangkat elektronik semisal ponsel. Tapi juga bisa disusupkan ke dalam tubuh manusia. Caranya adalah dengan menempelkannya dengan sebuah pil (obat butir) yang akan ditelan oleh manusia.
Dijelaskan oleh Don Jones, Vice President Qualcomm Health & Life Science, chip tersebut ketika sudah ditelan nantinya bukan berfungsi sebagai obat yang menyembuhkan seseorang dari suatu penyakit. Namun lebih berfungsi sebagai perangkat wireless.
"Nantinya bisa dimanfaatkan untuk bermacam-macam, seperti untuk melacak orang yang telah menelannya, sensor atau keperluan medis lainnya," ujarnya kepada sejumlah wartawan di sela ajang Qualcomm Editor's Day, di San Diego, Amerika Serikat.
Lain lagi dengan perangkat yang dipamerkan satunya yakni ponsel yang khusus dibuat untuk pasien diabetes. Kenapa demikian? Sebab, di bagian bawah ponsel tersebut terdapat alat tambahan yang bisa dipakai pasien untuk memeriksa kadar gula darahnya. Sehingga dapat lebih lebih efektif dalam hal pengawasan.
Dilihat sekilas, ponsel ini sama seperti ponsel lain pada umumnya. Hanya saja bagian keypad ponsel ini dibuat lebih besar. "Hal itu memang sengaja dilakukan, karena ponsel ini lebih ditujukan untuk para orang tua," tukas Jones.
Meski bukan berasal dari industri kesehatan, Jones coba meyakinkan para pengguna bahwa alat ini dapat bekerja dengan baik dan sesuai prosedur kesehatan. Sebab untuk mengerjakannya, Qualcomm juga menggandeng sejumlah pelaku industri farmasi dan alat kesehatan untuk menjamin kualitas dari alat-alat tersebut.
Kedua produk di atas sendiri merupakan segelintir dari sederet alat kesehatan berbasis teknologi wireless yang digawangi Qualcomm. Selain itu ada Wireless Controlled Drug Delivery, Enviromental Sensors, Therapy management Systems, dan masih banyak lagi. ( ash / faw )
07 Oktober 2009
Source:http://www.detikinet.com/read/2009/10/07/173416/1217246/511/pil-wireless-dan-ponsel-khusus-pasien-diabetes
Chip yang berukuran mini rupanya tidak hanya bisa dimasukkan ke dalam perangkat elektronik semisal ponsel. Tapi juga bisa disusupkan ke dalam tubuh manusia. Caranya adalah dengan menempelkannya dengan sebuah pil (obat butir) yang akan ditelan oleh manusia.
Dijelaskan oleh Don Jones, Vice President Qualcomm Health & Life Science, chip tersebut ketika sudah ditelan nantinya bukan berfungsi sebagai obat yang menyembuhkan seseorang dari suatu penyakit. Namun lebih berfungsi sebagai perangkat wireless.
"Nantinya bisa dimanfaatkan untuk bermacam-macam, seperti untuk melacak orang yang telah menelannya, sensor atau keperluan medis lainnya," ujarnya kepada sejumlah wartawan di sela ajang Qualcomm Editor's Day, di San Diego, Amerika Serikat.
Lain lagi dengan perangkat yang dipamerkan satunya yakni ponsel yang khusus dibuat untuk pasien diabetes. Kenapa demikian? Sebab, di bagian bawah ponsel tersebut terdapat alat tambahan yang bisa dipakai pasien untuk memeriksa kadar gula darahnya. Sehingga dapat lebih lebih efektif dalam hal pengawasan.
Dilihat sekilas, ponsel ini sama seperti ponsel lain pada umumnya. Hanya saja bagian keypad ponsel ini dibuat lebih besar. "Hal itu memang sengaja dilakukan, karena ponsel ini lebih ditujukan untuk para orang tua," tukas Jones.
Meski bukan berasal dari industri kesehatan, Jones coba meyakinkan para pengguna bahwa alat ini dapat bekerja dengan baik dan sesuai prosedur kesehatan. Sebab untuk mengerjakannya, Qualcomm juga menggandeng sejumlah pelaku industri farmasi dan alat kesehatan untuk menjamin kualitas dari alat-alat tersebut.
Kedua produk di atas sendiri merupakan segelintir dari sederet alat kesehatan berbasis teknologi wireless yang digawangi Qualcomm. Selain itu ada Wireless Controlled Drug Delivery, Enviromental Sensors, Therapy management Systems, dan masih banyak lagi. ( ash / faw )
07 Oktober 2009
Source:http://www.detikinet.com/read/2009/10/07/173416/1217246/511/pil-wireless-dan-ponsel-khusus-pasien-diabetes
Yuk, Ikut Pesta di Danau Toba
Hajatan budaya dan pariwisata bertajuk “Pesta Danau Toba 2009” akan digelar di Danau Toba, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mulai Rabu (7/10) besok hingga Minggu (11/10). Acara ini diharapkan dapat mendongkrak citra pariwisata Sumatera Utara.
"Target utama kita adalah mendongkrak citra pariwisata Sumut di mata dunia bahwa daerah kita ini aman dan nyaman untuk dikunjungi," ujar Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumut Nurlisa Ginting, di Medan, Senin (5/10).
Pesta Danau Toba akan menampilkan berbagai atraksi budaya, di samping juga akan menggelar berbagai ajang olahraga tradisional. Dalam ajang ini akan tampil, antara lain, pagelaran tari dan kostum tradisional, pagelaran tari khas Batak yakni tari tor-tor serta sejumlah perlombaan, seperti lomba memancing dan berenang di Danau Toba.
"Juga akan ada lomba vokal grup dengan membawakan lagu-lagu daerah dan banyak kegiatan lain, termasuk penampilan atraksi budaya dari sejumlah daerah lain di luar Sumut, yang pada akhirnya diharapkan mampu menarik minat wisatawan menghadirinya," katanya.
Ia juga mengatakan, pihak penyelenggara juga sudah menggencarkan promosi melalui berbagai media massa, baik media cetak maupun elektronik, termasuk stasiun televisi nasional. Dinas Budaya dan Pariwisata sendiri juga telah membuat berbagai brosur yang kemudian dibagikan ke sejumlah negara. "Harapan kita pada tahun-tahun mendatang wisatawan mancanegara dapat memprogramkan liburan mereka ke Sumut," katanya.
Persiapan
Humas Panitia Pesta Danau Toba 2009 Erlin Hasibuan mengatakan, persiapan kegiatan itu kini sudah mencapai 80 persen, terlebih segala fasilitas dan infrastruktur lainnya telah dipersiapkan dengan baik.
"Berbagai fasilitas yang menunjang kegiatan telah kita persiapkan, mulai dari fasilitas perlombaan, keamanan, dan kesehatan serta tugas lainnya," katanya.
Untuk memeriahkan kegiatan itu, Disbudpar Sumut juga telah mengimbau Pemkab Simalungun, Toba Samosir, Simalungun, Humbang Hasundutan, Taput, Karo, dan Dairi untuk mengerahkan massa sebanyak-banyaknya.
Rangkaian kegiatan perlombaan juga telah dipersiapkan dengan baik, bahkan kontingen dari berbagai daerah di dalam dan luar Sumut, seperti Lampung, Jawa Timur, Aceh, Papua, dan Kalimantan, telah menyatakan kesediaannya untuk datang.
Kegiatan yang bertema "Menggairahkan Kepariwisataan Sumatera Utara dalam upaya meningkatkan perekonomian daerah" itu dirancang untuk menonjolkan kebudayaan lokal serta pemberdayaan potensi ekonomi daerah yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat setempat.
Kegiatan itu rencananya akan dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Utara dan Sekretaris Jenderal Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
"Target utama kita adalah mendongkrak citra pariwisata Sumut di mata dunia bahwa daerah kita ini aman dan nyaman untuk dikunjungi," ujar Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumut Nurlisa Ginting, di Medan, Senin (5/10).
Pesta Danau Toba akan menampilkan berbagai atraksi budaya, di samping juga akan menggelar berbagai ajang olahraga tradisional. Dalam ajang ini akan tampil, antara lain, pagelaran tari dan kostum tradisional, pagelaran tari khas Batak yakni tari tor-tor serta sejumlah perlombaan, seperti lomba memancing dan berenang di Danau Toba.
"Juga akan ada lomba vokal grup dengan membawakan lagu-lagu daerah dan banyak kegiatan lain, termasuk penampilan atraksi budaya dari sejumlah daerah lain di luar Sumut, yang pada akhirnya diharapkan mampu menarik minat wisatawan menghadirinya," katanya.
Ia juga mengatakan, pihak penyelenggara juga sudah menggencarkan promosi melalui berbagai media massa, baik media cetak maupun elektronik, termasuk stasiun televisi nasional. Dinas Budaya dan Pariwisata sendiri juga telah membuat berbagai brosur yang kemudian dibagikan ke sejumlah negara. "Harapan kita pada tahun-tahun mendatang wisatawan mancanegara dapat memprogramkan liburan mereka ke Sumut," katanya.
Persiapan
Humas Panitia Pesta Danau Toba 2009 Erlin Hasibuan mengatakan, persiapan kegiatan itu kini sudah mencapai 80 persen, terlebih segala fasilitas dan infrastruktur lainnya telah dipersiapkan dengan baik.
"Berbagai fasilitas yang menunjang kegiatan telah kita persiapkan, mulai dari fasilitas perlombaan, keamanan, dan kesehatan serta tugas lainnya," katanya.
Untuk memeriahkan kegiatan itu, Disbudpar Sumut juga telah mengimbau Pemkab Simalungun, Toba Samosir, Simalungun, Humbang Hasundutan, Taput, Karo, dan Dairi untuk mengerahkan massa sebanyak-banyaknya.
Rangkaian kegiatan perlombaan juga telah dipersiapkan dengan baik, bahkan kontingen dari berbagai daerah di dalam dan luar Sumut, seperti Lampung, Jawa Timur, Aceh, Papua, dan Kalimantan, telah menyatakan kesediaannya untuk datang.
Kegiatan yang bertema "Menggairahkan Kepariwisataan Sumatera Utara dalam upaya meningkatkan perekonomian daerah" itu dirancang untuk menonjolkan kebudayaan lokal serta pemberdayaan potensi ekonomi daerah yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat setempat.
Kegiatan itu rencananya akan dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Utara dan Sekretaris Jenderal Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Selasa, 6 Oktober 2009 | 10:20 WIB
MEDAN, KOMPAS.com —http://travel.kompas.com/read/xml/2009/10/06/10202014/yuk.ikut.pesta.di.danau.toba
Ayo Belajar Geologi dan Jadi Ahli Gempa
Gempa bumi, (letusan) gunung berapi, dan tsunami sejak lama menimbulkan ketakutan dan (sekaligus) kekaguman dalam pikiran manusia, melahirkan mitos, legenda, dan banyak film bencana Hollywood. Kini, teknologi maju memungkinkan kita berlatih, mengukur, memantau, mengambil sampel, dan mencitra Bumi dan gerakannya seperti belum pernah terjadi sebelumnya…. (Dr Ellen J Prager, ”Furious Earth”, 2000)
Gempa demi gempa terkesan semakin rajin menyambangi Tanah Air. Di tengah era informasi dan maraknya industri media, serba hal mengenai gempa pun hadir ke jantung rumah tangga. Orang tua, orang muda, dan anak-anak yang selama ini kurang (atau bahkan tidak) memerhatikan soal-soal gempa kini banyak yang terpaku lama menyaksikan reportase dari wilayah bencana melalui TV atau membacanya di media cetak dan online.
Mula-mula yang muncul adalah ketakutan, membayangkan bagaimana kalau gempa terjadi di kotanya sendiri. Tentu selain itu juga rasa prihatin dan peduli atas bencana yang terjadi. Berikutnya, dari rasa peduli dan takut tadi muncul pula rasa ingin tahu tentang berbagai segi, menyangkut penyebab-penyebab terjadinya gempa, mana saja daerah yang rawan gempa, apakah gempa dapat diramalkan, atau bagaimana cara mengurangi akibat mematikan gempa.
Barangkali itu awal yang menarik bagi tumbuhnya minat terhadap ilmu-ilmu yang terkait dengan kegempaan, yang sebagian ada di ilmu geologi, juga di cabang-cabangnya, seperti seismologi, dan juga di geofisika. Harus diakui, hingga belum lama ini, ilmu tersebut masih sering dilihat dengan sebelah mata, sebagai ilmu yang kering dan kurang banyak manfaatnya untuk dipelajari.
Kini, dengan sering terjadinya gempa dan semakin tumbuhnya kesadaran bahwa Tanah Air berada di jalur gempa dan gunung api yang dikenal sebagai Cincin Api, masyarakat semakin menyadari pentingnya ilmu-ilmu di atas.
Memang gempa tak akan memusnahkan bangsa Indonesia, kecuali mungkin yang disebabkan oleh gempa dan tsunami kosmik akibat wilayah Nusantara ditumbuk oleh asteroid atau komet besar. Namun, terus-menerus diguncang gempa—apalagi bila tanpa pembelajaran memadai untuk meminimalkan dampak—bisa menguras tenaga dan pikiran bangsa. Belum lagi harus diakui, ada kerugian materiil yang amat besar tiap kali terjadi gempa (atau letusan gunung berapi), plus biaya rehabilitasi dan rekonstruksi.
Melalui cinta ilmu geologi, pemahaman dan kearifan akan sifat dan perilaku Bumi meningkat. Berikutnya, risiko bencana dapat dikurangi, korban dapat diminimalkan, dan kerugian harta benda dapat ditekan.
Ilmu kebumian
Fokus bahasan kita kali ini pada ilmu geologi, yang mempelajari komposisi, struktur, proses, dan sejarah Bumi. Ilmuwan yang mendefinisikan geologi adalah Sir Charles Lyell pada tahun 1830. Semenjak saat itu, studi geologi diperluas sampai ke planet-planet lain dan satelitnya, yang lalu dikenal sebagai geologi keplanetan. Ada banyak cabang dalam geologi, antara lain geofisika, yang mempelajari fisika Bumi.
Melalui ilmu inilah orang mengenal lapisan-lapisan yang ada di Bumi, yakni kerak atau kulit, lalu mantel, dan inti. Kerak bumi yang berwujud lempeng-lempeng ini rupanya telah bergerak ke sana-sini di permukaan Bumi setidaknya sejak 600 juta tahun terakhir—dan bisa jadi sejak beberapa miliar tahun sebelumnya (New York Public Library Science Desk Ref, 1995). Sekarang ini, setiap lempeng bergerak dengan kecepatan berbeda-beda, di antaranya ada yang dengan kecepatan 2,5 sentimeter per tahun.
Para ilmuwan yakin, pada masa lalu, sekitar 250 juta tahun silam, ada benua besar atau superkontinen yang dinamai Pangaea (Nama Pangaea diusulkan oleh geolog besar Alfred Wegener tahun 1915). Sekitar 180 juta tahun lalu, superkontinen ini pecah, menjadi Gondwanaland, atau Gondwana, dan Laurasia. Gondwana adalah kontinen hipotetis yang dibentuk dari bersatunya Amerika Selatan, Afrika, Australia, India, dan Antartika. Sementara Laurasia tersusun dari Amerika Utara dan Eurasia. Sekitar 65 juta tahun silam—masa sekitar punahnya dinosaurus—kedua kontinen itu mulai berpisah, perlahan-lahan membentuk tatanan seperti yang kita lihat sekarang ini.
Ada prediksi menarik: dalam 50 juta tahun dari sekarang, pantai barat Amerika Utara akan robek dari daratan utama (mainland), dan—ini dia—Australia akan bergerak ke utara dan bertubrukan dengan Indonesia. Sementara Afrika dan Asia akan terpisah di Laut Merah.
Riwayat menarik
Kini, ketika kita semakin mengakui pentingnya ilmu-ilmu alam, kebumian, baik juga dipikirkan cara untuk mengembangkan minat. Jangan sampai ironi yang ada sekarang ini berkepanjangan, di mana negara di Cincin Api hanya memiliki sejumlah kecil ahli, seperti hari-hari ini kita baca profilnya di harian ini. Mereka bekerja di sejumlah lembaga pendidikan dan penelitian seperti ITB, UGM, LIPI, dan BPPT.
Dengan frekuensi berita gempa yang tinggi akhir-akhir ini, terungkap pula sejumlah istilah dan teori fundamental dalam geologi, seperti intensitas gempa dalam skala Richter dan tentang lempeng tektonik.
Demi masa depan
Sebagaimana studi tentang hutan, iklim, atau vulkanologi, ilmuwan ahli gempa Indonesia punya peluang besar untuk berkontribusi dalam sains yang hebat ini karena Indonesia sering disebut sebagai laboratorium alam yang unik. Sumbangan ilmiah ini maknanya tidak saja sebatas pemerkayaan ilmu pengetahuan, tetapi juga terkait dengan masa depan manusia.
Dalam jangka dekat, peminat dan ilmuwan ahli gempa mungkin masih merasa tertantang untuk menjawab pertanyaan fundamental seperti ”dapatkah kita meramal terjadinya gempa?”
Saat ini jawabannya adalah ”mustahil” bila yang dimaksud adalah meramal ”hari, tanggal, dan jam berapa gempa akan terjadi”. Karena yang bisa diketahui baru wilayah mana yang akan terancam gempa dalam kurun 20-30 tahun mendatang, sebenarnya pekerjaan sudah menanti untuk menyiapkan segala sesuatunya. Tujuannya tidak lain untuk meminimalkan potensi kerusakan akibat gempa.
Mari kita sambut tantangan ilmu geologi untuk semakin memahami Bumi dan segala aktivitasnya. Kita yakin, dengan semakin bertambahnya ahli gempa, akan semakin nyaring suara yang mengingatkan bangsa Indonesia untuk selalu siaga menghadapi pergerakan lempeng tektonik jauh di bawah sana.
KOMPAS.com —http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/07/05040146/ayo.belajar.geologi.dan.jadi.ahli.gempa
Gempa demi gempa terkesan semakin rajin menyambangi Tanah Air. Di tengah era informasi dan maraknya industri media, serba hal mengenai gempa pun hadir ke jantung rumah tangga. Orang tua, orang muda, dan anak-anak yang selama ini kurang (atau bahkan tidak) memerhatikan soal-soal gempa kini banyak yang terpaku lama menyaksikan reportase dari wilayah bencana melalui TV atau membacanya di media cetak dan online.
Mula-mula yang muncul adalah ketakutan, membayangkan bagaimana kalau gempa terjadi di kotanya sendiri. Tentu selain itu juga rasa prihatin dan peduli atas bencana yang terjadi. Berikutnya, dari rasa peduli dan takut tadi muncul pula rasa ingin tahu tentang berbagai segi, menyangkut penyebab-penyebab terjadinya gempa, mana saja daerah yang rawan gempa, apakah gempa dapat diramalkan, atau bagaimana cara mengurangi akibat mematikan gempa.
Barangkali itu awal yang menarik bagi tumbuhnya minat terhadap ilmu-ilmu yang terkait dengan kegempaan, yang sebagian ada di ilmu geologi, juga di cabang-cabangnya, seperti seismologi, dan juga di geofisika. Harus diakui, hingga belum lama ini, ilmu tersebut masih sering dilihat dengan sebelah mata, sebagai ilmu yang kering dan kurang banyak manfaatnya untuk dipelajari.
Kini, dengan sering terjadinya gempa dan semakin tumbuhnya kesadaran bahwa Tanah Air berada di jalur gempa dan gunung api yang dikenal sebagai Cincin Api, masyarakat semakin menyadari pentingnya ilmu-ilmu di atas.
Memang gempa tak akan memusnahkan bangsa Indonesia, kecuali mungkin yang disebabkan oleh gempa dan tsunami kosmik akibat wilayah Nusantara ditumbuk oleh asteroid atau komet besar. Namun, terus-menerus diguncang gempa—apalagi bila tanpa pembelajaran memadai untuk meminimalkan dampak—bisa menguras tenaga dan pikiran bangsa. Belum lagi harus diakui, ada kerugian materiil yang amat besar tiap kali terjadi gempa (atau letusan gunung berapi), plus biaya rehabilitasi dan rekonstruksi.
Melalui cinta ilmu geologi, pemahaman dan kearifan akan sifat dan perilaku Bumi meningkat. Berikutnya, risiko bencana dapat dikurangi, korban dapat diminimalkan, dan kerugian harta benda dapat ditekan.
Ilmu kebumian
Fokus bahasan kita kali ini pada ilmu geologi, yang mempelajari komposisi, struktur, proses, dan sejarah Bumi. Ilmuwan yang mendefinisikan geologi adalah Sir Charles Lyell pada tahun 1830. Semenjak saat itu, studi geologi diperluas sampai ke planet-planet lain dan satelitnya, yang lalu dikenal sebagai geologi keplanetan. Ada banyak cabang dalam geologi, antara lain geofisika, yang mempelajari fisika Bumi.
Melalui ilmu inilah orang mengenal lapisan-lapisan yang ada di Bumi, yakni kerak atau kulit, lalu mantel, dan inti. Kerak bumi yang berwujud lempeng-lempeng ini rupanya telah bergerak ke sana-sini di permukaan Bumi setidaknya sejak 600 juta tahun terakhir—dan bisa jadi sejak beberapa miliar tahun sebelumnya (New York Public Library Science Desk Ref, 1995). Sekarang ini, setiap lempeng bergerak dengan kecepatan berbeda-beda, di antaranya ada yang dengan kecepatan 2,5 sentimeter per tahun.
Para ilmuwan yakin, pada masa lalu, sekitar 250 juta tahun silam, ada benua besar atau superkontinen yang dinamai Pangaea (Nama Pangaea diusulkan oleh geolog besar Alfred Wegener tahun 1915). Sekitar 180 juta tahun lalu, superkontinen ini pecah, menjadi Gondwanaland, atau Gondwana, dan Laurasia. Gondwana adalah kontinen hipotetis yang dibentuk dari bersatunya Amerika Selatan, Afrika, Australia, India, dan Antartika. Sementara Laurasia tersusun dari Amerika Utara dan Eurasia. Sekitar 65 juta tahun silam—masa sekitar punahnya dinosaurus—kedua kontinen itu mulai berpisah, perlahan-lahan membentuk tatanan seperti yang kita lihat sekarang ini.
Ada prediksi menarik: dalam 50 juta tahun dari sekarang, pantai barat Amerika Utara akan robek dari daratan utama (mainland), dan—ini dia—Australia akan bergerak ke utara dan bertubrukan dengan Indonesia. Sementara Afrika dan Asia akan terpisah di Laut Merah.
Riwayat menarik
Kini, ketika kita semakin mengakui pentingnya ilmu-ilmu alam, kebumian, baik juga dipikirkan cara untuk mengembangkan minat. Jangan sampai ironi yang ada sekarang ini berkepanjangan, di mana negara di Cincin Api hanya memiliki sejumlah kecil ahli, seperti hari-hari ini kita baca profilnya di harian ini. Mereka bekerja di sejumlah lembaga pendidikan dan penelitian seperti ITB, UGM, LIPI, dan BPPT.
Dengan frekuensi berita gempa yang tinggi akhir-akhir ini, terungkap pula sejumlah istilah dan teori fundamental dalam geologi, seperti intensitas gempa dalam skala Richter dan tentang lempeng tektonik.
Demi masa depan
Sebagaimana studi tentang hutan, iklim, atau vulkanologi, ilmuwan ahli gempa Indonesia punya peluang besar untuk berkontribusi dalam sains yang hebat ini karena Indonesia sering disebut sebagai laboratorium alam yang unik. Sumbangan ilmiah ini maknanya tidak saja sebatas pemerkayaan ilmu pengetahuan, tetapi juga terkait dengan masa depan manusia.
Dalam jangka dekat, peminat dan ilmuwan ahli gempa mungkin masih merasa tertantang untuk menjawab pertanyaan fundamental seperti ”dapatkah kita meramal terjadinya gempa?”
Saat ini jawabannya adalah ”mustahil” bila yang dimaksud adalah meramal ”hari, tanggal, dan jam berapa gempa akan terjadi”. Karena yang bisa diketahui baru wilayah mana yang akan terancam gempa dalam kurun 20-30 tahun mendatang, sebenarnya pekerjaan sudah menanti untuk menyiapkan segala sesuatunya. Tujuannya tidak lain untuk meminimalkan potensi kerusakan akibat gempa.
Mari kita sambut tantangan ilmu geologi untuk semakin memahami Bumi dan segala aktivitasnya. Kita yakin, dengan semakin bertambahnya ahli gempa, akan semakin nyaring suara yang mengingatkan bangsa Indonesia untuk selalu siaga menghadapi pergerakan lempeng tektonik jauh di bawah sana.
Rabu, 7 Oktober 2009 | 05:04 WIB
Oleh NINOK LEKSONOKOMPAS.com —http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/07/05040146/ayo.belajar.geologi.dan.jadi.ahli.gempa
Subscribe to:
Posts (Atom)
Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia
Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...
-
Peta Jalan Interaktif: Peningkatan E-Learning Produktivitas BLK Dashboard ini merupakan elaborasi materi pelatihan Green...
-
Jurnal pendampingan masyarakat ini ditulis oleh: Leonard Tiopan Panjaitan, (Konsultan di Trisakti Sustainability Center - TSC) , Ajen Kur...
-
Jurnal pendampingan masyarakat ini ditulis oleh: Leonard Tiopan Panjaitan (Konsultan di Trisakti Sustainability Center - TSC) , Ajen Kurniaw...