Jakarta - Apakah green economy atau ekonomi hijau itu? Menurut UNEP (Badan PBB untuk Program Lingkungan Hidup) ekonomi hijau adalah suatu model pembangunan untuk mencegah meningkatnya emisi gas rumah kaca dan mengatasi perubahan iklim. Model ekonomi hijau berperan untuk menggantikan model ekonomi 'hitam' yang boros konsumsi bahan bakar fosil, batu-bara, serta gas alam.
Ekonomi hijau dibangun atas dasar pengetahuan akan pentingnya ekosistem yang menyeimbangkan aktivitas manusia sebagai pelaku ekonomi dengan ketersediaan sumber daya alam yang terbatas. Inilah esensi ekonomi hijau. Merevitalisasi ketergantungan antara human-economy dengan natural ecosystem yang pada akhirnya mengurangi dampak perubahan iklim.
Ekonomi hijau memiliki mesin penggerak di lapangan yang berbasis pada energi hijau yakni energi yang terbarukan (renewable energy). Energi terbaharukan ini merupakan pengganti daripada energi berbasis fosil yang dalam APBN 2010 sebanyak 20% anggaran malah tersedot untuk subsidi minyak bumi.
Model pembangunan ekonomi hijau diyakini akan dapat menciptakan green jobs dan mengedepankan konsep pembangunan lestari (sustainable development). Selain itu ekonomi hijau menjadi jalan keluar bagi terciptanya lingkungan yang bersih dan bebas polusi, mengatasi sumber daya ekstraktif melalui mekanisme efisiensi energi dan produk ramah lingkungan, serta menghindari terjadinya degradasi lingkungan.
Saatnya negeri ini bangkit! Bangsa ini kaya akan sumber daya alam hayati (biodiversity) terbaik di dunia. Faktanya adalah bahwa bahwa negara-negara di jalur khatulistiwa yang berhujan lebat dan matahari bersinar sepanjang tahun sangat kaya dengan keanekaragaman hayati dibandingkan dengan negara-negara bermusim empat.
Tiga negara yang tergolong paling kaya keanekaragaman hayatinya adalah Brasil (Amerika Selatan), Indonesia (Asia), dan Zaire-Congo (Afrika). Indonesia dengan 17.000 pulau lebih adalah archipelagic-nation terbesar di dunia melalui keanekaragaman hayati maritim yang menakjubkan. Melalui biodiversitas yang hebat seharusnya Indonesia bisa mengelola kekayaan sumber daya alam terbarukan secara dasyhat.
Pro Poor, Pro Jobs, Pro GrowthSekjen PBB Ban Ki Moon dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, "we are now in the threshold of a global transformation which is the age of green economics". Pernyataan ini dia katakan ketika membahas konsep "A Green New Deal" bersama pemimpin negara-negara besar tahun 2009. Konsep "Perjanjian Baru Hijau" ini merupakan konsep ekonomi hijau.
Ekonomi hijau tidak lagi menempatkan investasi pada surat-surat berharga yang spekulatif seperti seperti hot paper, saham, obligasi dan produk derifatifnya namun lebih mengarah kepada investasi bersih (clean and green investment) yang bertumpu pada teknologi bersih untuk mengurangi emisi karbon.
Pendekatan ekonomi hijau sudah mulai menjadi tren kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara maju. Khususnya Eropa yang tidak banyak memiliki sumber daya alam terbaharukan dan apalagi biodiversitas.
Ironisnya, Indonesia, belum memiliki konsep ekonomi hijau yang jelas melalui kebijakan yang terpadu antara seluruh sektor dan sub-sektor Pemerintahan. Padahal konsep ekonomi hijau menjadi benefit negara ini dengan kapasaitas sumber daya alam terbaharukan yang luar biasa besar potensinya. Selain biodiversitas kita juga memiliki garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada yang dapat menjadi sumber energi listrik sel surya maupun tenaga ombak.
Dengan berbagai potensi yang besar ini ekonomi hijau dapat menjadi jaminan terciptanya lapangan pekerjaan (pro jobs) dan menjadi motor perekonomian bangsa yang senantiasa tumbuh secara berkelanjutan (pro growth). Sebagai contoh: Indonesia punya lahan kritis sebesar 19,5 juta hektare (dalam kawasan hutan) dan 10,6 juta hektare (luar kawasan hutan).
Lahan kritis ini bisa dimanfaatkan untuk membuat kebun kelapa sawit yang ramah lingkungan, bahan bakar etanol, dan lahan pertanian organik. Bahkan kualitas bioetanol yang diperoleh dari lahan kritis diprediksi dapat memenuhi kebutuhan BBM di Indonesia setiap hari. Bioetanol yang dihasilkan diperoleh dari sumber tanaman jagung, ketela, gandum, dan tebu. Betapa banyak masyarakat lokal di sekitar lahan kritis ini yang akan terserap apabila pembangunan ekonomi hijau dikelola dengan sungguh-sungguh.
Brazil sebagai contohnya sudah mempraktekkan industrialisasi biotenanol sepuluh tahun lalu dan bahkan kini di Brazil, terdapat sekitar 10 juta kendaraan yang menggunakan bioetanol sebagai bahan bakarnya. Luar biasa!
Tetapi, apa lacur di negeri ini! Konsep pembangunan kita masih mengandalkan ekspor sumber daya alam yang dijual secara mentah ke negara-negara kaya. Kita tidak memiliki ciri khas industri yang bernilai tambah tinggi sehingga negara ini bagai terkena "the curse of the plenty". Hal ini mengakibatkan Indonesia tidak memiliki daya saing produk manufaktur yang tinggi.
Kita lebih senang menjual barang mentah ketimbang mengelolanya dengan benar di dalam negeri sebagai barang jadi yang unggul. Bahkan, ekonomi hijau bisa langsung dilakukan di depan mata. Indonesia adalah negara kaya sampah. Lebih-lebih sampah basah karena setiap hari rakyat makan nasi.
Di Jakarta bahkan rata-rata sampah individu yang dihasilkan adalah 1 kg. Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta orang maka setiap hari dihasilkan sekitar 220 juta kg sampah. Setelah dipilah sebagian besar sampah-sampah tersebut dapat diproses sampah organik dan menjadi kompos alias pupuk sampah.
Bisnis sampah dalam ekonomi hijau di akar rumput dapat dijalankan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang biasanya hampir tiap kecamatan punya TPA. Berdasarkan data per 2004 Indonesia punya 5.263 kecamatan. Sekali lagi, luar biasa!
Success Story Ekonomi Hijau di Negara BerkembangDunia saat ini dihuni oleh sekitar 6,8 miliar populasi. Masalah energi, pangan, dan air adalah masalah yang paling rawan dan mengancam eksistensi manusia karena keterbatasan alam dalam memproduksi segala macam kebutuhan manusia yang semakin konsumtif dan rakus energi. Oleh karena itu beberapa negara berkembang, berdasarkan laporan UNEP di situsnya tahun 2010, telah melakukan pratek ekonomi hijau yang konsisten sehingga menjadi benchmark buat negara kita (sayang sekali Indonesia tidak masuk.
Negara berkembang di sini adalah: China, Kenya, Uganda, Brazil, India, Nepal, Ekuador, dan Tunisia). Sebagai berikut: sampel diambil empat negara saja.
1. China.
Negara komunis ini serus sekali dalam menerapkan pembangunan ekonomi yang rendah karbondioksida. Dalam "repelita"-nya yang ke-11 (2006-2011), China mengalokasikan secara signifikan jumlah investasi di sektor hijau dengan menekankan pada pemanfaatan energi yang terbaharukan serta melakukan efisiensi energi.
Bahkan, China merencanakan secara hitungan per unit GDP bahwa konsumsi energinya tahun 2010 akan menurun sebesar 20% dibandingkan tahun 2005. Selain itu, Pemerintah RRC berkomitmen akan memproduksi 16% dari kebutuhan energi utamanya akan berasal dari sumber-sumber terbaharukan sebelum tahun 2020.
2. Kenya
Negara di Afrika ini adalah negara yang kaya akan energi biomassa. Namun, selama beberapa tahun terakhir kebutuhan energinya sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil. Namun, sejak Maret 2008, Kementerian Energi Kenya mengadopsi kebijakan yang disebut "feed-in tariff" (FIT). Kebijakan ini mirip di Indonesia. FIT mewajibkan perusahaan energi dan utilitis memenuhi kebutuhan jaringan listrik nasional dengan membeli listrik yang berasal dari energi terbaharukan.
Penetapan harga diberlakukan dengan tarif yang menarik untuk menstimulasi investasi baru di sektor terbaharukan. Penerapan kebijakan RES (Renewable Energy Sources) termasuk matahari, angin, mini hydro, biogas, dan pemanfaatan energi sampah perkotaan terbukti meningkatkan pendapatan masyarakat. Kebijakan ini juga membuka banyak lapangan pekerjaan di sana. Selain itu kebijakan RES terbukti dapat memenuhi kebutuhan energi listrik dari berbagai sumber bukan hanya pembangkit listrik berbasis fosil.
3. Uganda
Uganda mengambil inisiatif untuk mentransformasikan produksi pertanian yang konvensional ke dalam sistem pertanian organik. Hasilnya adalah benefit yang signifikan bagi ekonomi, masyarakan dan lingkungan hidup di sana.
Organic Agriculture (OA) berdasarkan definisi Codex Alimentarius Commission adalah sistem pengelolaan pertanian holistik yang bertujuan meningkatkan dan memperbaiki kehidupan ekosistem agrikultur, termasuk keanekaragaman hayati, siklus biologis dan aktivitas lahan. Pendekatan OA ini juga mencegah pemakaian bahan-bahan sintetik dan kimiawi untuk mempercepat produksi lahan pertanian.
4. Brazil
Melalui pendekatan sustainable urban planning (SUP) Brazil sukses dalam mengendalikan kepadatan penduduk di perkotaan. Sebagaimana kita ketahui Brazil adalah negara keempat di dunia setelah China, India, dan AS, yang memiliki pertumbuhan penduduk urban per tahun sebesar 1,8% antara tahun 2005 dan 2010.
Proyek ini sukses dilaksanakan di Kota Curitiba Ibu Kota Negara Bagian Parana. Pendekatan yang dipakai adalah inovasi dalam urban planning, pengelolaan kota, dan transportasi umum. Curitiba berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk dari 361.000 (1960) menjadi hanya 1,828 juta (2008) tanpa timbulnya kegagalan akibat padatnya penduduk, tanpa timbulnya polusi, dan tanpa mengurangi ruang-ruang publik.
Kepadatan populasi di kota memang meningkat tiga kali lipat dari tahun 1970 sampai 2008. Namun, pada saat yang bersamaan, area-area hijau malah meningkat dari 1 km persegi menjadi 50 km persegi. Pendekatan SUP ini juga dipakai di kota-kota Brazil lainnya. What a remarkable policy!
So, dengan contoh-contoh green economy dari negara berkembang di atas, bisakah Indonesia mendapatkan pelajaran? Seharusnya negara kita bisa lebih hebat dari Uganda, Kenya, bahkan Nepal sekali pun. Apa yang kurang di negeri ini adalah kita terlalu banyak berpolitik ria, korupsi, dan tidak fokus pada apa yang sebenarnya kita mampu lakukan.
Indonesia harus "do what we know" secara optimal. Maksudnya, secara kodrati, kita negara agraria, negara kehutanan, negara keanekaragaman hayati! Manfaatkanlah itu untuk menciptakan produk kebanggaan bangsa. Yang bernilai kompetitif tinggi untuk kemakmuran rakyat secara berkelanjutan (sustainable).
Leonard Tiopan Panjaitan
Jl Durian 2 No 39 Depok
leonardpanjaitan@gmail.com
081510008779
Penulis: Anggota Corporate Sustainability Team (CST) Bank BNI, juga LEAD Cohort-15. Tulisan adalah pendapat pribadi.
Source:http://suarapembaca.detik.com/read/2010/07/19/084450/1401687/471/saatnya-green-economy-indonesia
Membantu Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank Dalam Penerapan Sustainable Finance (Keuangan Berkelanjutan) - Environmental & Social Risk Analysis (ESRA) for Loan/Investment Approval - Training for Sustainability Reporting (SR) Based on OJK/GRI - Training for Green Productivity Specialist (GPS) by APO Methodology. Hubungi Sdr. Leonard Tiopan Panjaitan, S.sos, MT, CSRA, GPS di: leonardpanjaitan@gmail.com atau Hp: 081286791540 (WA Only)
Tuesday, August 24, 2010
Sustainable Development dan Piala Dunia
Sungguh. Piala Dunia 2010 Afrika Selatan merupakan pesta meriah manusia sejagad empat tahun sekali. Sepak bola menjadi magnet tersendiri yang menyihir miliaran manusia bumi ini untuk bermimpi. Ya. Bermimpi tim kesayangannya menjadi juara dunia. Setidak-tidaknya tidak kalah memalukan. Pesta ini selalu berkelanjutan empat tahun sekali.
Apa yang menyebabkan sepak bola menjadi olah raga nomor satu di jagad ini. Padahal yang dipermainkan adalah satu bola, satu lapangan, dua tim dengan dua puluh dua orang. Jawabannya adalah karena spirit permainan. Kreativitas, kerja sama tim, skill individu, strategi pelatih, dan mentalitas pemain menjadi atraksi yang menarik dari sepak bola. Tak lupa animo dan fanatisme fans menambah daya magis sepak bola menjadi olah raga yang tak akan pernah ada matinya.
Sepak bola yang indah. Bukan hanya sekedar mengejar kemenangan belaka sebagai tujuan akhir. Adalah permainan yang harmonis antar lini dalam satu tim. Nilai harmonisasi ditambah unsur sportivitas atau fair play akan menambah permainan sepak bola bukan hanya drama yang menegangkan di lapangan. Namun, juga pelajaran akan satu hakekat pembangunan yakni pembangunan fisik tanpa merusak lingkungan.
Lalu apakah hubungannya sepak bola Piala Dunia dengan pembangunan berkelanjutan? Dalam sepak bola ada tiga elemen yang menjadi roh permainan. Kerja sama dan mentalitas tim, leadership dan strategi pelatih, dan kedisiplinan pemain (dalam dan luar lapangan). Tiga unsur ini bersatu padu membentuk kesebelasan yang kompak, kreatif di lapangan, dan taat aturan. Inilah spirit sepakbola disertai asas fair play yang senantiasa dikampanyekan FIFA.
Sama halnya dengan pembangunan berkelanjutan, prinsip lawas tapi relevan - triple bottom line of development (TBL) - menjadi roh pembangunan yang lestari yang mengaitkan erat elemen people (manusia), profit (laba), dan planet (kelestarian lingkungan). Bumi itu satu, dihuni oleh lebih dari 6 miliar penduduk. Maka sustainable development (pembangunan berkelanjutan/ lestari) bukan lagi sekedar paradigma melainkan jalan keluar (a way out) untuk menjadi "permainan" yang berdisiplin dan punya aturan.
Singkatnya pembangunan lestari adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang. Intinya adalah pembangunan fisik tanpa merusak!
TBL (Triple Bottom Line)
Tidak seperti sepak bola yang digandrungi oleh seluruh golongan manusia maka perhatian pada "people" dalam pembangunan lestari masih jauh panggang dari api. Dunia bisnis yang menganut prinsip Triple Bottom Line (TBL) tidak akan menggunakan buruh super murah. Apalagi anak-anak sebagai modal untuk mengurangi fixed cost.
Jelas eksploitasi anak-anak dihindarkan. Upah buruh diperhatikan dan dibayar secara manusiawi. Lingkungan kerja memadai dengan jam kerja yang sehat. Bisnis yang berbasis TBL akan membayar kembali value kepada masyarakat sebagai kontribusinya dalam pembangunan komunitas lokal. Entah itu dalam bentuk CSR maupun program kemitraan yang bersifat empowering masyarakat.
Ibarat bumi itu bagaikan bola yang bundar, 24 jam berotasi, disertai aturan-aturan alam (kapasitas lingkungan atau carrying capacity). Tim sepak bola bermain 2 x 45 menit plus adu pinalti untuk pemenang akhir. Inilah siklus pertandingan bola. Pembangunan berkelanjutan dalam unsur "planet" memiliki siklus "cradle to grave" yakni sistem daur hidup produk dari mulai saat awal hingga akhir. Atau bahasa gaulnya adalah mekanisme end to end.
Singkatnya dalam sistem ini ada suatu ukuran biaya lingkungan dimulai dari tahap membuat dan mengumpulkan bahan baku, memproduksi di pabrik, distribusi ke pelanggan, hingga dibuang (tidak dipakai kembali) oleh pelanggan. Selain itu perusahaan atau organisasi yang menganut asas ini tidak akan membuat barang-barang berbahaya. Baik secara kesehatan mengandung material racun maupun bersifat merusak lingkungan. Intinya, mereka menerapkan asas ecological foot print dalam produk-produknya.
Selama ini profit selalu diukur dari uang yang merupakan nilai ekonomis suatu bisnis atau organisasi. Dalam prinsip TBL ini profit dihitung setelah mengkover biaya-biaya input termasuk biaya modalnya. Jadi sedikit berbeda dengan prinsip akuntansi tradisional. Di sini profit dilihat sebagai benefit ekonomis yang dapat dinikmati bukan hanya oleh perusahaan tersebut tetapi oleh masyarakat sekitar.
Intinya out put ekonomis yang menghasilkan profit harus selaras dengan daya dukung lingkungannya. Tidak bisa eksesif dan exploitatif terhadap alam. Jadi prinsip ini memperhatikan kualitas profit bukan sebanyak-banyaknya profit tetapi lingkungan rusak-tercemar.
Sustainability
Sustainability satu kata bermakna dalam. Diambil dari bahasa latin "sustinere" (artinya bertahan lama, berlangsung lama). Kalau sepak bola secara sustainable bermain dalam liga-liga profesional dan amatir yang bersifat reguler maka pembangunan lestari sudah sepantasnya menjadi arena bisnis yang seimbang, selaras, dan sejalan dengan lingkungan sekitar.
Inilah tujuan akhir dari prinsip TBL yakni mencapai keberlanjutan atau kelestarian pembangunan fisik yang beradab dan adil terhadap semuanya. Sustainability bukanlah utopia pembangunan tetapi suatu strategi "jogo bonito". Inilah permainan indah bukan hanya mengejar tujuan akhir laba sebesar-besarnya tetapi tujuan akhir yang mulia yakni pembangunan yang bertahan selama-lamanya hingga kiamat.
Perubahan iklim saat ini adalah akibat ulah manusia dalam praktek business as usual as it can be to make profits as much as possible. Apabila mengambil analogi sepak bola maka mirip-mirip fenomena efek negatif kapitalisme sepak bola, yang bisa membuat klub-klub bangkrut dan negara kehilangan identitas tim nasionalnya karena invasi pemain-pemain asingnya.
Pembangunan lestari tidak boleh mengesampingkan kearifan lokal. Illegal logging dan deforestasi bisa dicegah dengan mengajak masyarakat lokal untuk berpartisipasi di dalam value chain sektor kehutanan. Apa yang dibutuhkan oleh masyarakat lokal adalah pekerjaan yang layak. Kalau tidak mereka juga akan ikut-ikutan membabat hutan untuk dijual kepada cukong.
Pekerjaan yang layak di sini adalah berkaitan dengan kelestarian hutan. Peran serta masyarakat menjaga dan memanfaatkan hutan secara lestari dimasukkan dalam perhitungan cost-benefit buat mereka. Jadi mereka menjadi stake holder pertama dalam rantai nilai kehutanan.
Kedisiplinan dan Leadership
Dalam sepak bola peran pelatih sangatlah dominan. Kepemimpinan dan strategi pelatih menentukan arah permainan anak-anak asuhnya di lapangan. Di lapangan kepemimpinan seorang play maker dan atau sang kapten menjadi sesuatu yang vital untuk membentuk orkestra permainan tim yang variatif sesuai instruksi pelatih. Begitu juga halnya dalam pembangunan lestari. Sang Presiden di tingkat nasional dan sang Gubernur - Bupati harus memiliki visi yang jelas dan komitmen yang kuat.
Kerusakan lingkungan di negeri ini seperti di Bangka dan Kalimantan yang miris hati akibat strategi dan kepemimpinan Pemimpin kita yang lemah. Komitmen memang ada. Tetapi, mengejahwantakannya di lapangan ibarat berteriak di padang pasir. Aturan saling tumpang tindih dan bisa diubah-ubah. Rencana tata ruang dan tata wilayah propinsi bisa saja berubah-ubah demi meraup pendapat asli daerah secara instan. Konversi hutan alam dan lahan gambut menjadi perkebunan sawit serta pemberian izin kuasa kepada penambang-penambang lokal tanpa uji kelayakan lingkungan yang optimal menjadi contoh strategi pembangungan yang lemah.
Dalam sepak bola ada aturan, kartu kuning, kartu merah, pun ada sanksi buat individu pemain bahkan klub. Lihat contoh kasus calciopoli. Juventus terdegradasi tahun 2006 lalu karena menyuap wasit. Dalam soal pembangunan lestari di negeri ini pelaku kejahatan lingkungan tidak pernah diberikan efek jera. Kita juga tidak pernah bisa menyeret korporasi yang merusak hutan dan perairan ke meja hukum. Apalagi sang pembuat kebijakan. Tidak pernah ada hukum yang adil kepada mereka manakala mereka mengeluarkan izin yang bertabrakan dengan undang-undang.
Jadi mungkin ini naifnya saya. Bisa saja pembangunan lestari akan sulit terwujud di negeri ini apabila dibandingkan dengan kisruhnya PSSI dalam mengelola sepak bola di negeri ini. So, adakah harapan buat terciptanya lingkungan dan pembangunan yang selaras di republik ini? Jawabannya adalah lihatlah sepak bola yang profesional di negara lain. Mungkin terasa naif dan tidak relevan terhadap isu utama ini. Tetapi, sekali lagi apabila pembangunan lestari sama menariknya dengan sepak bola mungkin kita bisa bangga menjadi bangsa sendiri.
Negeri ini kaya akan keanekaragaman hayati dan dapat menjadi bangsa yang mandiri, terdifferensiasi, dan memiliki daya saing tinggi. Tirulah Brazil. Timnasnya superior di dunia negara berkembang dan pemimpinnya konsisten terhadap pembangunan lestari. Who knows!
Leonard Tiopan Panjaitan
Jl Durian 2 No 39 Depok
leonardpanjaitan@gmail.com
081510008779
Penulis adalah Anggota Corporate Sustainability Team (CST) Bank BNI. Tulisan ini pendapat pribadi.
Source:http://suarapembaca.detik.com/read/2010/07/13/094916/1398011/471/sustainable-development-dan-piala-dunia
Apa yang menyebabkan sepak bola menjadi olah raga nomor satu di jagad ini. Padahal yang dipermainkan adalah satu bola, satu lapangan, dua tim dengan dua puluh dua orang. Jawabannya adalah karena spirit permainan. Kreativitas, kerja sama tim, skill individu, strategi pelatih, dan mentalitas pemain menjadi atraksi yang menarik dari sepak bola. Tak lupa animo dan fanatisme fans menambah daya magis sepak bola menjadi olah raga yang tak akan pernah ada matinya.
Sepak bola yang indah. Bukan hanya sekedar mengejar kemenangan belaka sebagai tujuan akhir. Adalah permainan yang harmonis antar lini dalam satu tim. Nilai harmonisasi ditambah unsur sportivitas atau fair play akan menambah permainan sepak bola bukan hanya drama yang menegangkan di lapangan. Namun, juga pelajaran akan satu hakekat pembangunan yakni pembangunan fisik tanpa merusak lingkungan.
Lalu apakah hubungannya sepak bola Piala Dunia dengan pembangunan berkelanjutan? Dalam sepak bola ada tiga elemen yang menjadi roh permainan. Kerja sama dan mentalitas tim, leadership dan strategi pelatih, dan kedisiplinan pemain (dalam dan luar lapangan). Tiga unsur ini bersatu padu membentuk kesebelasan yang kompak, kreatif di lapangan, dan taat aturan. Inilah spirit sepakbola disertai asas fair play yang senantiasa dikampanyekan FIFA.
Sama halnya dengan pembangunan berkelanjutan, prinsip lawas tapi relevan - triple bottom line of development (TBL) - menjadi roh pembangunan yang lestari yang mengaitkan erat elemen people (manusia), profit (laba), dan planet (kelestarian lingkungan). Bumi itu satu, dihuni oleh lebih dari 6 miliar penduduk. Maka sustainable development (pembangunan berkelanjutan/ lestari) bukan lagi sekedar paradigma melainkan jalan keluar (a way out) untuk menjadi "permainan" yang berdisiplin dan punya aturan.
Singkatnya pembangunan lestari adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang. Intinya adalah pembangunan fisik tanpa merusak!
TBL (Triple Bottom Line)
Tidak seperti sepak bola yang digandrungi oleh seluruh golongan manusia maka perhatian pada "people" dalam pembangunan lestari masih jauh panggang dari api. Dunia bisnis yang menganut prinsip Triple Bottom Line (TBL) tidak akan menggunakan buruh super murah. Apalagi anak-anak sebagai modal untuk mengurangi fixed cost.
Jelas eksploitasi anak-anak dihindarkan. Upah buruh diperhatikan dan dibayar secara manusiawi. Lingkungan kerja memadai dengan jam kerja yang sehat. Bisnis yang berbasis TBL akan membayar kembali value kepada masyarakat sebagai kontribusinya dalam pembangunan komunitas lokal. Entah itu dalam bentuk CSR maupun program kemitraan yang bersifat empowering masyarakat.
Ibarat bumi itu bagaikan bola yang bundar, 24 jam berotasi, disertai aturan-aturan alam (kapasitas lingkungan atau carrying capacity). Tim sepak bola bermain 2 x 45 menit plus adu pinalti untuk pemenang akhir. Inilah siklus pertandingan bola. Pembangunan berkelanjutan dalam unsur "planet" memiliki siklus "cradle to grave" yakni sistem daur hidup produk dari mulai saat awal hingga akhir. Atau bahasa gaulnya adalah mekanisme end to end.
Singkatnya dalam sistem ini ada suatu ukuran biaya lingkungan dimulai dari tahap membuat dan mengumpulkan bahan baku, memproduksi di pabrik, distribusi ke pelanggan, hingga dibuang (tidak dipakai kembali) oleh pelanggan. Selain itu perusahaan atau organisasi yang menganut asas ini tidak akan membuat barang-barang berbahaya. Baik secara kesehatan mengandung material racun maupun bersifat merusak lingkungan. Intinya, mereka menerapkan asas ecological foot print dalam produk-produknya.
Selama ini profit selalu diukur dari uang yang merupakan nilai ekonomis suatu bisnis atau organisasi. Dalam prinsip TBL ini profit dihitung setelah mengkover biaya-biaya input termasuk biaya modalnya. Jadi sedikit berbeda dengan prinsip akuntansi tradisional. Di sini profit dilihat sebagai benefit ekonomis yang dapat dinikmati bukan hanya oleh perusahaan tersebut tetapi oleh masyarakat sekitar.
Intinya out put ekonomis yang menghasilkan profit harus selaras dengan daya dukung lingkungannya. Tidak bisa eksesif dan exploitatif terhadap alam. Jadi prinsip ini memperhatikan kualitas profit bukan sebanyak-banyaknya profit tetapi lingkungan rusak-tercemar.
Sustainability
Sustainability satu kata bermakna dalam. Diambil dari bahasa latin "sustinere" (artinya bertahan lama, berlangsung lama). Kalau sepak bola secara sustainable bermain dalam liga-liga profesional dan amatir yang bersifat reguler maka pembangunan lestari sudah sepantasnya menjadi arena bisnis yang seimbang, selaras, dan sejalan dengan lingkungan sekitar.
Inilah tujuan akhir dari prinsip TBL yakni mencapai keberlanjutan atau kelestarian pembangunan fisik yang beradab dan adil terhadap semuanya. Sustainability bukanlah utopia pembangunan tetapi suatu strategi "jogo bonito". Inilah permainan indah bukan hanya mengejar tujuan akhir laba sebesar-besarnya tetapi tujuan akhir yang mulia yakni pembangunan yang bertahan selama-lamanya hingga kiamat.
Perubahan iklim saat ini adalah akibat ulah manusia dalam praktek business as usual as it can be to make profits as much as possible. Apabila mengambil analogi sepak bola maka mirip-mirip fenomena efek negatif kapitalisme sepak bola, yang bisa membuat klub-klub bangkrut dan negara kehilangan identitas tim nasionalnya karena invasi pemain-pemain asingnya.
Pembangunan lestari tidak boleh mengesampingkan kearifan lokal. Illegal logging dan deforestasi bisa dicegah dengan mengajak masyarakat lokal untuk berpartisipasi di dalam value chain sektor kehutanan. Apa yang dibutuhkan oleh masyarakat lokal adalah pekerjaan yang layak. Kalau tidak mereka juga akan ikut-ikutan membabat hutan untuk dijual kepada cukong.
Pekerjaan yang layak di sini adalah berkaitan dengan kelestarian hutan. Peran serta masyarakat menjaga dan memanfaatkan hutan secara lestari dimasukkan dalam perhitungan cost-benefit buat mereka. Jadi mereka menjadi stake holder pertama dalam rantai nilai kehutanan.
Kedisiplinan dan Leadership
Dalam sepak bola peran pelatih sangatlah dominan. Kepemimpinan dan strategi pelatih menentukan arah permainan anak-anak asuhnya di lapangan. Di lapangan kepemimpinan seorang play maker dan atau sang kapten menjadi sesuatu yang vital untuk membentuk orkestra permainan tim yang variatif sesuai instruksi pelatih. Begitu juga halnya dalam pembangunan lestari. Sang Presiden di tingkat nasional dan sang Gubernur - Bupati harus memiliki visi yang jelas dan komitmen yang kuat.
Kerusakan lingkungan di negeri ini seperti di Bangka dan Kalimantan yang miris hati akibat strategi dan kepemimpinan Pemimpin kita yang lemah. Komitmen memang ada. Tetapi, mengejahwantakannya di lapangan ibarat berteriak di padang pasir. Aturan saling tumpang tindih dan bisa diubah-ubah. Rencana tata ruang dan tata wilayah propinsi bisa saja berubah-ubah demi meraup pendapat asli daerah secara instan. Konversi hutan alam dan lahan gambut menjadi perkebunan sawit serta pemberian izin kuasa kepada penambang-penambang lokal tanpa uji kelayakan lingkungan yang optimal menjadi contoh strategi pembangungan yang lemah.
Dalam sepak bola ada aturan, kartu kuning, kartu merah, pun ada sanksi buat individu pemain bahkan klub. Lihat contoh kasus calciopoli. Juventus terdegradasi tahun 2006 lalu karena menyuap wasit. Dalam soal pembangunan lestari di negeri ini pelaku kejahatan lingkungan tidak pernah diberikan efek jera. Kita juga tidak pernah bisa menyeret korporasi yang merusak hutan dan perairan ke meja hukum. Apalagi sang pembuat kebijakan. Tidak pernah ada hukum yang adil kepada mereka manakala mereka mengeluarkan izin yang bertabrakan dengan undang-undang.
Jadi mungkin ini naifnya saya. Bisa saja pembangunan lestari akan sulit terwujud di negeri ini apabila dibandingkan dengan kisruhnya PSSI dalam mengelola sepak bola di negeri ini. So, adakah harapan buat terciptanya lingkungan dan pembangunan yang selaras di republik ini? Jawabannya adalah lihatlah sepak bola yang profesional di negara lain. Mungkin terasa naif dan tidak relevan terhadap isu utama ini. Tetapi, sekali lagi apabila pembangunan lestari sama menariknya dengan sepak bola mungkin kita bisa bangga menjadi bangsa sendiri.
Negeri ini kaya akan keanekaragaman hayati dan dapat menjadi bangsa yang mandiri, terdifferensiasi, dan memiliki daya saing tinggi. Tirulah Brazil. Timnasnya superior di dunia negara berkembang dan pemimpinnya konsisten terhadap pembangunan lestari. Who knows!
Leonard Tiopan Panjaitan
Jl Durian 2 No 39 Depok
leonardpanjaitan@gmail.com
081510008779
Penulis adalah Anggota Corporate Sustainability Team (CST) Bank BNI. Tulisan ini pendapat pribadi.
Source:http://suarapembaca.detik.com/read/2010/07/13/094916/1398011/471/sustainable-development-dan-piala-dunia
Laporan Keberlanjutan BNI 2009 - Sustainability Report BNI 2009
Growing towards Sustainability, The Creation of Value from Values. Laporan Keberlanjutan Bank BNI atau BNI Sustainability Report 2009. BNI adalah bank nasional dan bank BUMN pertama di Indonesia yang membuat laporan keberlanjutan (Sustainability Report). Please download at this URL:
Monday, August 16, 2010
Bobol Internet Banking, Dua Sarjana Diringkus
Dua orang sarjana asal Jerman terpaksa berurusan dengan polisi di Thailand. Keduanya diringkus karena diduga terlibat jaringan pembobol internet banking di negeri Gajah Putih tersebut.
"Mereka adalah Dominik Lacono dan Dave Ackrmann, keduanya masih berusia 22 dan 23 tahun. Mereka ditangkap di resor pantai Pattaya," tutur Kolonel Polisi Suphisarn Pakdinarunart.
Kedua pemuda lulusan Universitas Munich, Jerman tersebut diduga telah membobol sebuah akun rekening milik tentara wanita Thailand dan mengambil uang sebesar 700.000 Baht (sekitar Rp 195 juta). Uang itu kemudian dikirim ke nomor rekening tiga wanita Thailand kenalannya.
Suphisarn menyebutkan, kedua pemuda itu diyakini merupakan kelompok kecil dari jaringan pembobol internet banking internasional yang berbasis di Rusia.
Dikutip detikINET dari Earth Times, Selasa (10/8/2010), keduanya akhirnya mengakui perbuatannya setelah diperlihatkan foto yang menunjukkan mereka sedang menarik uang di mesin ATM dari rekening tempat mereka mengalihkan uang hasil curian.
"Kami memperkirakan kelompok itu telah mencuri hingga 100 juta Baht dari rekening bank di Thailand tahun ini," ungkap Suphisarn. Kasus ini akan terus diselidiki dan ke depannya mungkin akan ada tersangka lain yang diciduk.
10 Agustus 2010
Source:http://www.detikinet.com/read/2010/08/10/070058/1416932/399/bobol-internet-banking-dua-sarjana-diringkus/
"Mereka adalah Dominik Lacono dan Dave Ackrmann, keduanya masih berusia 22 dan 23 tahun. Mereka ditangkap di resor pantai Pattaya," tutur Kolonel Polisi Suphisarn Pakdinarunart.
Kedua pemuda lulusan Universitas Munich, Jerman tersebut diduga telah membobol sebuah akun rekening milik tentara wanita Thailand dan mengambil uang sebesar 700.000 Baht (sekitar Rp 195 juta). Uang itu kemudian dikirim ke nomor rekening tiga wanita Thailand kenalannya.
Suphisarn menyebutkan, kedua pemuda itu diyakini merupakan kelompok kecil dari jaringan pembobol internet banking internasional yang berbasis di Rusia.
Dikutip detikINET dari Earth Times, Selasa (10/8/2010), keduanya akhirnya mengakui perbuatannya setelah diperlihatkan foto yang menunjukkan mereka sedang menarik uang di mesin ATM dari rekening tempat mereka mengalihkan uang hasil curian.
"Kami memperkirakan kelompok itu telah mencuri hingga 100 juta Baht dari rekening bank di Thailand tahun ini," ungkap Suphisarn. Kasus ini akan terus diselidiki dan ke depannya mungkin akan ada tersangka lain yang diciduk.
10 Agustus 2010
Source:http://www.detikinet.com/read/2010/08/10/070058/1416932/399/bobol-internet-banking-dua-sarjana-diringkus/
Friday, August 13, 2010
Seluruh Penyelenggara Internet Wajib Blokir Porno
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) hanya mengundang enam operator saat demo teknis pemblokiran konten porno. Meski demikian, itu bukan berarti operator beserta penyedia jaringan internet (ISP) lainnya boleh diam saja. Semua tetap wajib memblokir pornografi tanpa kecuali.
"Kami tidak mungkin mengundang semua ISP yang jumlahnya 180-an sekaligus, kurang efisien. Meski begitu, yang lainnya tetap harus ikuti jejak enam operator ini tanpa terkecuali," ujar Kepala Pusat Informasi Kementerian Kominfo, Gatot S Dewa Broto, kepada detikINET, Jumat (13/8/2010).
Kominfo pada 10 Agustus lalu mengundang Telkom, Telkomsel, Indosat, Indosat Mega Media (IM2), XL Axiata, dan Bakrie Telecom, untuk mendemokan teknis pemblokiran pornografi versi masing-masing. Terhitung sejak tanggal itu, seluruh operator dan ISP dinyatakan wajib untuk memblokir konten porno tanpa alasan apapun. Sebab menurut Gatot, hal ini sudah tercantum dalam Undang-Undang No.36/1999 tentang Telekomunikasi.
Kementerian Kominfo juga telah mengirimkan Surat Edaran Plt Dirjen Postel atas nama Menkominfo No. 1598/SE/DJPT. 1/KOMINFO/ 7/2010 tertanggal 21 Juli 2010 tentang Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan yang terkait dengan Pornografi.
"Surat edaran itu fungsinya untuk mengingatkan hak dan kewajiban para ISP sesuai UU No.36/1999. Mereka punya kewajiban untuk memblokir segala hal berbau pornografi, kekerasan, dan SARA," tegas Gatot.
13 Agustus 2010
Source:http://www.detikinet.com/read/2010/08/13/072340/1419416/398/seluruh-penyelenggara-internet-wajib-blokir-porno/
"Kami tidak mungkin mengundang semua ISP yang jumlahnya 180-an sekaligus, kurang efisien. Meski begitu, yang lainnya tetap harus ikuti jejak enam operator ini tanpa terkecuali," ujar Kepala Pusat Informasi Kementerian Kominfo, Gatot S Dewa Broto, kepada detikINET, Jumat (13/8/2010).
Kominfo pada 10 Agustus lalu mengundang Telkom, Telkomsel, Indosat, Indosat Mega Media (IM2), XL Axiata, dan Bakrie Telecom, untuk mendemokan teknis pemblokiran pornografi versi masing-masing. Terhitung sejak tanggal itu, seluruh operator dan ISP dinyatakan wajib untuk memblokir konten porno tanpa alasan apapun. Sebab menurut Gatot, hal ini sudah tercantum dalam Undang-Undang No.36/1999 tentang Telekomunikasi.
Kementerian Kominfo juga telah mengirimkan Surat Edaran Plt Dirjen Postel atas nama Menkominfo No. 1598/SE/DJPT. 1/KOMINFO/ 7/2010 tertanggal 21 Juli 2010 tentang Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan yang terkait dengan Pornografi.
"Surat edaran itu fungsinya untuk mengingatkan hak dan kewajiban para ISP sesuai UU No.36/1999. Mereka punya kewajiban untuk memblokir segala hal berbau pornografi, kekerasan, dan SARA," tegas Gatot.
13 Agustus 2010
Source:http://www.detikinet.com/read/2010/08/13/072340/1419416/398/seluruh-penyelenggara-internet-wajib-blokir-porno/
Telkomsel Akhirnya Lulus Uji Blokir Konten Porno
Telkomsel akhirnya mengikuti jejak lima operator lainnya yang sudah lebih dulu dinyatakan lulus uji teknis saat mendemokan pemblokiran konten pornografi di hadapan Menkominfo Tifatul Sembiring.
"Telkomsel akhirnya lulus. Sebelumnya mereka gagal karena mungkin terlalu bersemangat," kata Kepala Pusat Informasi Kementerian Kominfo, Gatot S Dewa Broto, kepada detikINET di Jakarta, Kamis (12/8/2010).
Kementerian Kominfo dua hari yang lalu mengundang enam operator seperti Telkom, Telkomsel, Indosat, Indosat Mega Media (IM2), XL Axiata, dan Bakrie Telecom, untuk mendemokan teknis pemblokiran konten porno versi masing-masing.
"Bakrie, Indosat, Telkom, XL, IM2, semua sudah lolos. Yang masih agak masalah cuma Telkomsel. Kayaknya perlu ujian her untuk diulang. Sudah beberapa orang expert-nya Telkomsel coba, malah semua situs terblokir. Terlalu semangat kali ya karena ini masalah pornografi," kata Tifatul waktu itu.
Hari ini, Telkomsel kembali mendemokan pemblokiran situs-situs porno yang disaksikan langsung Plt. Dirjen Postel Muhammad Budi Setiawan di Kantor Ditjen Postel, Jakarta. Demo tersebut dilakukan dengan menggunakan ponsel dan laptop yang sudah terkoneksi dengan akses internet Telkomsel Flash.
"Upaya pemblokiran yang telah kami lakukan merupakan bentuk kepatuhan terhadap regulasi pemerintah yang menginstruksikan para penyelenggara jasa akses internet untuk menutup akses terhadap situs-situs porno," kata Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno.
"Secara bertahap pemblokiran ini kami lakukan untuk seluruh perangkat yang memanfaatkan akses internet Telkomsel. Dengan demikian seluruh pelanggan yang menggunakan layanan internet Telkomsel, baik melalui ponsel, komputer, ataupun laptop, tidak bisa mengakses situs-situs porno tersebut," paparnya lebih lanjut.
12 Agustus 2010
Source:http://www.detikinet.com/read/2010/08/12/181324/1419288/398/telkomsel-akhirnya-lulus-uji-blokir-konten-porno/?i991103105
"Telkomsel akhirnya lulus. Sebelumnya mereka gagal karena mungkin terlalu bersemangat," kata Kepala Pusat Informasi Kementerian Kominfo, Gatot S Dewa Broto, kepada detikINET di Jakarta, Kamis (12/8/2010).
Kementerian Kominfo dua hari yang lalu mengundang enam operator seperti Telkom, Telkomsel, Indosat, Indosat Mega Media (IM2), XL Axiata, dan Bakrie Telecom, untuk mendemokan teknis pemblokiran konten porno versi masing-masing.
"Bakrie, Indosat, Telkom, XL, IM2, semua sudah lolos. Yang masih agak masalah cuma Telkomsel. Kayaknya perlu ujian her untuk diulang. Sudah beberapa orang expert-nya Telkomsel coba, malah semua situs terblokir. Terlalu semangat kali ya karena ini masalah pornografi," kata Tifatul waktu itu.
Hari ini, Telkomsel kembali mendemokan pemblokiran situs-situs porno yang disaksikan langsung Plt. Dirjen Postel Muhammad Budi Setiawan di Kantor Ditjen Postel, Jakarta. Demo tersebut dilakukan dengan menggunakan ponsel dan laptop yang sudah terkoneksi dengan akses internet Telkomsel Flash.
"Upaya pemblokiran yang telah kami lakukan merupakan bentuk kepatuhan terhadap regulasi pemerintah yang menginstruksikan para penyelenggara jasa akses internet untuk menutup akses terhadap situs-situs porno," kata Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno.
"Secara bertahap pemblokiran ini kami lakukan untuk seluruh perangkat yang memanfaatkan akses internet Telkomsel. Dengan demikian seluruh pelanggan yang menggunakan layanan internet Telkomsel, baik melalui ponsel, komputer, ataupun laptop, tidak bisa mengakses situs-situs porno tersebut," paparnya lebih lanjut.
12 Agustus 2010
Source:http://www.detikinet.com/read/2010/08/12/181324/1419288/398/telkomsel-akhirnya-lulus-uji-blokir-konten-porno/?i991103105
RIM Rahasiakan Server dan Kantor Perwakilan
Pengguna BlackBerry di Tanah Air saat ini mungkin tengah menunggu hasil desakan pemerintah yang meminta Research In Motion (RIM) untuk membuka kantor perwakilan dan membangun server BlackBerry di Indonesia.
Namun sepertinya, rasa penasaran tersebut masih harus ditahan lagi. Sebab, vendor asal Kanada itu masih bungkam soal dua isu 'panas' tersebut.
"Saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Namun yang pasti, kami terus menjaga komunikasi dengan regulasi dan pemerintah suatu negara, termasuk Indonesia," ujar Gregory Wade, Managing Director, RIM South Asia.
Seperti biasa, jawaban Greg terdengar normatif. Padahal di sela-sela peluncuran BlackBerry Curve 3G 9300 di Hotel Ritz Carlton, Kamis (12/8/2010) malam itu, banyak wartawan yang mencecarnya dengan pertanyaan sejenis.
Meski demikian, dalam komentar selanjutnya, Greg mengatakan bahwa Indonesia merupakan pasar yang penting bagi RIM. Dan mereka pun berjanji akan terus berusaha untuk membawa produk-produk terbaru BlackBerry sekaligus memperluas pasar di Indonesia.
"Setidaknya ini indikasi yang positif," kata Greg, yang mengaku tengah buru-buru mengejar pesawat.
Isu seputar pembangunan server dan kantor perwakilan RIM di Indonesia memang kembali kencang terdengar gaungnya setelah langkah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang mengancam memblokir layanan BlackBerry akibat dinilai menganggu keamanan nasional.
Pihak Kominfo pun mengaku telah mengirimkan surat ke kantor pusat RIM di Kanada untuk meminta mereka segera membangun server dan kantor perwakilannya di Indonesia.
Plt. Dirjen Postel Muhammad Budi Setiawan mengaku optimistis bahwa RIM akan menuruti keinginan pemerintah Indonesia. Bahkan menurutnya, RIM akan membuka kantor di Jakarta pada Agustus ini. Tempatnya pun sudah diketahui, yakni di wilayah Kuningan.
Namun lagi-lagi, ketika hal itu coba dikonfrontir dengan pihak RIM. Greg kembali menangkisnya. "Tunggu saja berita dari kami jika ada kabar lebih lanjut," pungkasnya.
13 Agustus 2010
Source:http://www.detikinet.com/read/2010/08/13/083816/1419446/328/rim-rahasiakan-server-dan-kantor-perwakilan/
Namun sepertinya, rasa penasaran tersebut masih harus ditahan lagi. Sebab, vendor asal Kanada itu masih bungkam soal dua isu 'panas' tersebut.
"Saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Namun yang pasti, kami terus menjaga komunikasi dengan regulasi dan pemerintah suatu negara, termasuk Indonesia," ujar Gregory Wade, Managing Director, RIM South Asia.
Seperti biasa, jawaban Greg terdengar normatif. Padahal di sela-sela peluncuran BlackBerry Curve 3G 9300 di Hotel Ritz Carlton, Kamis (12/8/2010) malam itu, banyak wartawan yang mencecarnya dengan pertanyaan sejenis.
Meski demikian, dalam komentar selanjutnya, Greg mengatakan bahwa Indonesia merupakan pasar yang penting bagi RIM. Dan mereka pun berjanji akan terus berusaha untuk membawa produk-produk terbaru BlackBerry sekaligus memperluas pasar di Indonesia.
"Setidaknya ini indikasi yang positif," kata Greg, yang mengaku tengah buru-buru mengejar pesawat.
Isu seputar pembangunan server dan kantor perwakilan RIM di Indonesia memang kembali kencang terdengar gaungnya setelah langkah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang mengancam memblokir layanan BlackBerry akibat dinilai menganggu keamanan nasional.
Pihak Kominfo pun mengaku telah mengirimkan surat ke kantor pusat RIM di Kanada untuk meminta mereka segera membangun server dan kantor perwakilannya di Indonesia.
Plt. Dirjen Postel Muhammad Budi Setiawan mengaku optimistis bahwa RIM akan menuruti keinginan pemerintah Indonesia. Bahkan menurutnya, RIM akan membuka kantor di Jakarta pada Agustus ini. Tempatnya pun sudah diketahui, yakni di wilayah Kuningan.
Namun lagi-lagi, ketika hal itu coba dikonfrontir dengan pihak RIM. Greg kembali menangkisnya. "Tunggu saja berita dari kami jika ada kabar lebih lanjut," pungkasnya.
13 Agustus 2010
Source:http://www.detikinet.com/read/2010/08/13/083816/1419446/328/rim-rahasiakan-server-dan-kantor-perwakilan/
Subscribe to:
Posts (Atom)
Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia
Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...
-
Peta Jalan Interaktif: Peningkatan E-Learning Produktivitas BLK Dashboard ini merupakan elaborasi materi pelatihan Green...
-
Jurnal pendampingan masyarakat ini ditulis oleh: Leonard Tiopan Panjaitan, (Konsultan di Trisakti Sustainability Center - TSC) , Ajen Kur...
-
Jurnal pendampingan masyarakat ini ditulis oleh: Leonard Tiopan Panjaitan (Konsultan di Trisakti Sustainability Center - TSC) , Ajen Kurniaw...