Saturday, July 18, 2009

El Nino Makin Menguat

Berdasarkan pemantauan cuaca sejak Mei lalu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprediksi El Nino akan menguat pada November hingga Januari 2010. Dampak anomali cuaca adalah berupa kurangnya hujan di timur, tengah, dan sebagian barat wilayah Indonesia.

Sebagian besar Sumatera tidak terpengaruh El Nino, kecuali Lampung, tutur Kepala BMKG Sri Woro B Harijono di Jakarta, Jumat (17/7). El Nino dalam kategori kuat ditandai dengan meluasnya ”kolam panas” atau perairan di barat Pasifik yang mengalami kenaikan suhu muka laut di atas rata-ratanya.

”Namun, Juli hingga Agustus mendatang El Nino masih dalam kategori lemah,” ujarnya. Ini ditunjukkan dengan suhu perairan dan tekanan udara di Indonesia yang masih sama dengan suhu perairan Pasifik Tengah. Oleh karena itu, tidak terjadi aliran massa uap air ke Pasifik Tengah.

Demikian pula perairan di kawasan barat dan selatan Indonesia pada Juli ini juga masih hangat. Hal ini memengaruhi suplai air bagi kawasan barat, terutama Sumatera dan Jawa.

El Nino akan masuk ke tingkat moderat pada September dan berlangsung hingga Oktober 2009. Anomali ini akan memberi pengaruh yang kuat November mendatang,” kata Sri Woro.

Pengaruh El Nino terhadap curah hujan selama Oktober 2009 hingga Januari 2010, lanjutnya, dapat diketahui berdasarkan kondisi suhu perairan Indonesia yang baru akan terprediksi awal Agustus 2009.

Kepala Bidang Informasi Perubahan Iklim BMKG Soetamto mengatakan, peluang menguatnya El Nino ini baru dapat dipastikan sebulan lagi, pada akhir Agustus 2009. ”Dasar penentuannya adalah selama tiga bulan berturut-turut terjadi anomali suhu 0,5 derajat celsius di atas rata-rata normal. Kini sudah berlangsung dua bulan,” ujarnya.

Sri Woro menjelaskan, peluang terjadinya El Nino dalam kategori kuat mulai November mendatang juga diprediksi oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA). Adapun Jamstec Jepang dan BOM Australia telah memprediksikan El Nino hanya mengarah ke tingkat moderat.

Suplai air

El Nino berdampak secara signifikan terhadap minimnya suplai air bagi pertanian dan ancaman bahaya kebakaran lahan dan hutan.

Sekarang ini minimnya uap air di udara mulai dirasakan ketika malam hari terasa lebih dingin daripada masa sebelumnya.

El Nino yang menyebabkan musim kemarau panjang pernah terjadi paling parah pada tahun 1997.

Saat itu hingga November belum masuk musim hujan sehingga berdampak pada pergeseran musim tanam.

Menurut Soetamto, BMKG memperkirakan El Nino tahun 2009 ini tidak separah yang terjadi pada tahun 1997. Namun, tetap perlu diantisipasi dengan menghemat sumber daya air dan waspada terhadap ancaman bahaya kebakaran.

Kepala Pusat Kajian Pengelolaan Risiko dan Peluang Iklim Institut Pertanian Bogor Rizaldi Boer mengatakan, pemerintah perlu mewaspadai ancaman puso pada masa tanam padi kedua tahun 2010.

”Kita belum tahu peluang pertumbuhan El Nino. Tetapi, perlu antisipasi menghadapi kemungkinan mundurnya awal musim tanam,” katanya.

Sri Woro juga menambahkan, musim hujan tahun 2009 hingga 2010 akan dimulai September di Lampung, Musi Banyuasin, Bengkulu, dan Bengkalis.

Namun, sebagian besar wilayah Zona Prakiraan Musim (ZPM), yaitu 128 zona atau 58 persen, akan memasuki musim hujan pada November mendatang. Dibandingkan dengan normalnya sebagian besar atau 55 persen ZPM awal musim hujan akan mundur. (YUN/NAW)

Jakarta, Kompas -Sabtu, 18 Juli 2009 | 04:21 WIB

Source:http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/18/05013922/pengelolaan.lingkungan.masih.terkotak-kotak.daerah

KONSERVASI SATWA 40 Ekor Kura-kura Berkepala Ular Dilepas

Sebanyak 40 kura-kura berkepala ular dilepas Menteri Kehutanan MS Kaban ke habitat semula di Danau Peto, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Kamis (16/7). Satwa langka endemik di Kabupaten Rote Ndao ini sudah terancam punah.

Penurunan populasi kura-kura leher ular ini karena pengambilan langsung dari alam guna memenuhi permintaan perdagangan internasional, terutama di pasar Eropa, Amerika, dan Jepang, pengurangan lahan basah, kebutuhan konsumsi, serta tak adanya perlindungan bagi habitat..

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT Luhut Sihombing di Kupang, Jumat (17/7), mengatakan, pelepasan kura-kura berkepala ular (Chelodina mccordi) ini merupakan upaya mempertahankan kura-kura langka ini di NTT.

”Kura-kura leher ular Pulau Rote awalnya dianggap satu spesies dengan kura-kura leher New Guinea (Chelodina novaguinea). Namun, nama mccordi diberikan oleh William P Mccordi, peneliti dari New York, 1994. Tahun 2004 kura-kura ini masuk kategori satwa terlindungi karena populasinya terus menurun,” kata Sihombing.

Kura-kura ini memiliki bentuk unik karena kecil, leher dan kepala menyerupai ular, serta sisi karapas melengkung ke atas. Panjang leher sama dengan karapas sehingga untuk menyembunyikan kepala, lehernya harus dilipat melingkari karapas.

Kura-kura yang dilepas Menteri Kehutanan di habitat semula adalah hasil penangkaran dari PT Alam Nusantara Jayatama—sebelumnya diambil dari Danau Peto. Lokasi pelepasan kura-kura ini adalah Danau Peto, Dusun Peto, Desa Maubesi, Kecamatan Rote Tengah, Rote Ndao.

Sampai tahun 1970-an masyarakat setempat meyakini kura-kura ini sebagai perwujudan arwah leluhur di Danau Peto dan tidak pernah diperdagangkan. Namun, memasuki 1980-an, kura-kura ini mulai diperdagangkan oleh para pedagang yang datang dari luar Rote.

Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Kehutanan NTT Hengki Manesi mengatakan, kura-kura ini dijual di luar negeri dengan harga sampai 15.000 dollar AS per ekor, sementara di Rote Ndao hanya Rp 30.000-Rp 50.000 per ekor.(KOR)

Kupang, Kompas -Sabtu, 18 Juli 2009 | 04:57 WIB
Source:http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/18/04573334/40.ekor.kura-kura.berkepala.ular.dilepas

KETENAGAKERJAAN RI Masuk Perangkap Produktivitas Rendah

Hingga kini Indonesia masih menghadapi masalah rendahnya produktivitas kerja nasional. Untuk itu, semua pemangku kepentingan harus bergerak memperbaiki kualitas sumber daya manusia agar Indonesia keluar dari perangkap produktivitas rendah.

Hal itu terungkap dalam diskusi ketenagakerjaan terkait dengan peluncuran buku pengamat ketenagakerjaan, Payaman Simanjuntak, yang bertajuk ”Manajemen Produktivitas” di Gedung Depnakertrans, Jakarta, Jumat (17/7).

Hadir sebagai pembicara mantan Menteri Tenaga Kerja Sudomo, mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman, serta Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Depnakertrans Masri Hasyar.

Menurut Sudomo, persoalan produktivitas bukan hanya tanggung jawab Depnakertrans. ”Departemen Perindustrian juga memegang peranan penting untuk mendorong produktivitas nasional,” ujar dia.

Sudomo menegaskan, pemerintah dapat mengefektifkan dewan produktivitas nasional untuk menggerakkan semua potensi dan meningkatkan posisi Indonesia di tingkat internasional.

Tingkat produktivitas Indonesia, kata Masri, di posisi ke-59 dari 60 negara. Adapun daya saing bisnis Indonesia pada 2009 di peringkat ke-54 dari 135 negara.

Langkah meningkatkan produktivitas, menurut Masri, dapat diawali dengan kesediaan mengukur tingkat produktivitas instansi pemerintah. Ini untuk mendapat gambaran yang jelas tentang kinerja setiap instansi.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Djimanto berpendapat, persoalan produktivitas bukan kesalahan pekerja atau pengusaha. Hubungan sosial dan rantai panjang birokrasi yang menekan produktivitas Indonesia. ”Kalau pemerintah memang memiliki keinginan meningkatkan produktivitas, perbaiki kedua hal ini,” kata Djimanto.

Menurut Payaman, jebakan produktivitas rendah membuat pertumbuhan ekonomi rendah, tingkat pengangguran dan kemiskinan tinggi, serta tingkat penghasilan rendah. Kondisi ini melemahkan daya saing Indonesia. (ham)

Jakarta, Kompas - Sabtu, 18 Juli 2009 | 03:56 WIB

Souce:http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/18/03563457/ri.masuk.perangkap.produktivitas.rendah

Elang Hitam dan Elang Bido Diduga Telah Punah

LEBAK, KOMPAS.com — Elang hitam (Ictinaetus malayensis) dan elang bido (Spilornis cheela) telah lama menghilang dari habitatnya di hutan di Kabupaten Lebak, Banten, diduga karena menyusutnya makanan dan perburuan manusia.

"Sampai saat ini, kami belum menemukan jejak kedua spesies burung elang itu," kata Kepala Seksi Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak Nurly Edlinar.

Nurly mengatakan, elang hitam dan elang ular bido selama ini berkembang di hutan di Kabupaten Lebak termasuk di kawasan hutan konservasi hutan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS).

Namun, keberadaan burung yang dilindungi itu sekarang sudah tidak tampak lagi di habitatnya. Tahun 1980-an, spesies elang hitam dan elang ular bido masih bisa ditemukan di hutan di Lebak.

Terkait menghilangnya elang hitam dan elang ular bido itu, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Lebak berencana memantau habitat dan keberadaan satwa langka tersebut.

Elang hitam dan elang ular bido kemungkinan juga bermigrasi ke daerah lain, seperti ke kawasan Gunung Salak, Kabupaten Bogor; dan Sukabumi, Jawa Barat.

"Kami akan berkoordinasi dengan Balai TNGHS Sukabumi," katanya.

Burung elang hitam memiliki warna bulu hitam dan mulutnya berwarna keemasan, sedangkan elang ular bido berwarna hitam dengan garis putih di ujung belakang sayap.

"Burung elang saat terbang sambil mengeluarkan suara seperti 'kiiiik...' panjang dan diakhiri dengan penekanan nada," katanya.

Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) pencinta fauna dan flora Provinsi Banten mengaku prihatin jika sampai elang hitam dan elang ular bido punah. Burung itu pada 1970-an masih banyak ditemukan di hutan-hutan di Kabupaten Lebak dan Pandeglang.

"Sejak saya kecil masih melihat elang hitam terbang di areal persawahan," ujar Uce Kelana, Sekretaris LSM Wahana Banten.

SELASA, 14 JULI 2009 | 15:23 WIB

Hati-hati, Penyu Makin Langka

BADUNG, KOMPAS.com - LSM Pro Fauna Indonesia (PFI) membentangkan spanduk sepanjang 100 meter di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Kamis (16/7), dalam rangka kampanye perlindungan dan pelestarian fauna penyu.

Ketua PFI, Rosek Nursahid mengungkapkan, pemasangan spanduk bertuliskan "Only 1 From 1.000 Will Survive", intinya mengingatkan bahwa dari sekitar seribu tukik atau anak penyu, yang bisa bertahan hidup sampai dewasa rata-rata hanya satu ekor.

"Selain memasang spanduk kami juga membagikan ribuan stiker kepada wisatawan di pantai Kuta yang berisi ajakan untuk melestarikan penyu yang kini makin langka," tandas Rosek.

Dia yang didampingi panitia kampanye juga melakukan pelepasan 150 ekor tukik ke laut melalui Pantai Kuta. Selama ini, konservasi telur penyu hingga menetas dilakukan Satgas Pantai Kuta yang dinilainya peduli terhadap pelestarian penyu di Bali.

Sementara Koordinator Pro Fauna Bali, I Wayan Wiradnyana menerangkan, ancaman utama penyu saat ini adalah tindakan penangkapan secara ilegal untuk diperdagangkan.

Hal tersebut menurutnya merupakan perbuatan kriminal karena penyu termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

"Perdagangan penyu secara ilegal diancam hukuman lima tahun penjara dan denda maksimal Rp 100juta. Kini penyu di Bali terancam punah akibat perburuan oleh manusia," tandasnya.

Dikatakan, pada sejumlah daerah ada penyu yang sudah benar-benar punah, karena terus diburu untuk diambil dagingnya lalu dijual.

Berdasarkan hasil berbagai penelitian, dari rata-rata 1.000 ekor anak penyu, umumnya hanya satu ekor yang bisa bertahan hidup hingga dewasa. Akibatnya penyu termasuk satwa yang sulit berkembang, dan perlu dilestarikan.

KAMIS, 16 JULI 2009 | 16:03 WIB

Pendaratan di Bulan: Akal Sehat Vs Teori Konspirasi

KOMPAS.com — Pendaratan di Bulan—yang pertama dilakukan oleh astronot Amerika Serikat, Neil Armstrong, 20 Juli 1969—telah dicatat dalam sejarah sebagai salah satu pencapaian paling besar dari umat manusia. Namun, kini, setiap kali orang ingin merayakannya, berseliweran artikel yang melecehkannya. Kini memang dikenal istilah ”kontroversi pendaratan di Bulan”, atau malah ”The Great Moon Hoax” atau ”Kebohongan Bulan yang Hebat”.

Menurut Dr Tony Phillips, seorang pendidik sains, di situs Science@NASA, semua bermula ketika stasiun televisi Fox menayangkan program TV berjudul Conspiracy Theory: Did We Land on the Moon?, 15 Juli 2001. Sosok yang tampil dalam tayangan itu menyatakan bahwa teknologi Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) pada tahun 1960-an belum mampu untuk mewujudkan misi pendaratan di Bulan yang sesungguhnya. Namun, karena tidak ingin kalah dalam lomba ruang angkasa dalam konteks Perang Dingin, NASA lalu menghidupkan Program Apollo di studio film.

Dalam skenario ini, langkah pertama Neil Armstrong yang bersejarah di dunia lain, juga pengembaraan dengan kendaraan Bulan, bahkan ayunan golf astronot Al Shepard di Fra Mauro (salah satu tempat di Bulan) semua palsu!

Ya, menurut acara TV Fox di atas, NASA menjadi produser film yang bloon 30 tahun sebelumnya (dari saat acara tersebut ditayangkan tahun 2001). Sebagai contoh, pakar dalam acara Conspiracy Theory menunjuk bahwa dalam foto astronot yang dikirim dari Bulan tidak menampakkan bintang-bintang di langit Bulan yang gelap. Apa yang terjadi? Apakah pembuat film NASA lupa menyalakan konstelasi bintang?

NASA menyebutkan, perkara itu sudah dijawab oleh fotografer bahwa memang sulit untuk memotret satu obyek yang sangat terang dan satu obyek lain yang sangat redup di lembar film yang sama karena memang emulsi film pada umumnya tidak punya cukup ”rentang dinamik” untuk mengakomodasi obyek yang sangat berbeda tingkat terangnya. Astronot dengan pakaian angkasanya jadi obyek yang terang, dan kamera yang diset untuk memotret mereka akan membuat bintang-bintang latar belakang terlalu lemah untuk dilihat.

Lainnya yang dipersoalkan adalah foto astronot yang menancapkan bendera di permukaan Bulan, mengapa benderanya seperti berkibar bergelombang? Mengapa bisa terjadi demikian, padahal tidak ada angin di Bulan? Dijelaskan, tidak semua bendera yang berkibar membutuhkan angin. Itu karena astronotketika menanam tiang benderamemutar-mutarnya agar menancap lebih baik. Itu membuat bendera berkibar.

NASA dalam kaitan tuduhan rekayasa pendaratan Bulan ini mempersilakan siapa pun yang tetap meragukan pendaratan di Bulan untuk mengakses situs-situs BadAstronomy.com dan Moon Hoax, yang merupakan situs independen, tidak disponsori NASA. Astronom Martin Hendry dari Universitas Glasgow dalam edisi khusus ”40 Tahun Pendaratan di Bulan” Knowledge yang diterbitkan BBC juga menguraikan lagi tangkisan terhadap Teori Konspirasi.

Akal sehat

Namun, menurut Tony Phillips, bantahan paling baik atas tuduhan Kepalsuan Bulan ini adalah akal sehat. Ada selusin astronot yang berjalan di Bulan antara 1969 dan 1972. Di antara mereka masih ada yang hidup dan bisa memberikan kesaksian. Mereka juga kembali ke Bumi tidak dengan tangan kosong. Astronot Apollo membawa kembali 382 kg batu Bulan ke Bumi.

Kalau orang meragukan batu ini dari Bulan, Ilmuwan Kepala di Sains dan Eksplorasi Planet di Pusat Ruang Angkasa Johnson David McKay menegaskan bahwa batuan Bulan sangat unik, jauh berbeda dengan batuan Bumi. Pada sampel Bulan tadi, menurut Dr Marc Norman, ahli geologi Bulan di Universitas Tasmania, hampir tidak ada tangkapan air di struktur kristalnya. Selain itu, mineral lempung yang banyak dijumpai di Bumi sama sekali tidak ada di batuan Bulan. Sempat ditemukan partikel kaca segar di batuan Bulan yang dihasilkan dari aktivitas letusan gunung berapi dan tumbukan meteorit lebih dari 3 miliar tahun silam. Adanya air di Bumi dengan cepat memecahkan kaca vulkanik seperti itu hanya dalam tempo beberapa juta tahun.

Mereka yang pernah memegang batu Bulankalau di AS, seperti yang ada di Museum Smithsoniandipastikan akan melihat bahwa batu tersebut berasal dari dunia lain karena batu yang dibawa angkasawan Apollo dipenuhi kawah-kawah kecil dari tumbukan meteoroid, dan itu menurut McKay hanya bisa terjadi pada batuan dari planet (atau benda langit lain) dengan atmosfer tipis atau tanpa atmosfer sama sekali, seperti Bulan.

Dalam jurnal Knowledge, Martin Hendry masih mengemukakan sederet tangkisan terhadap argumen yang diajukan oleh penganut Teori Konspirasi, seperti tentang sudut bayangan dalam foto yang aneh. Lainnya lagi yang dijawab adalah mengapa tidak ada kawah ledakan di bawah modul Bulan (yang disebabkan oleh semburan roket modul pendarat); lalu juga mengapa sabuk radiasi Bumi tidak menyebabkan kematian pada astronot? Yang terakhir, mengapa tidak ada semburan bahan bakar yang tampak ketika modul pendarat lepas landas meninggalkan Bulan? Jawabannya karena modul Bulan menggunakan bahan bakar aerozine 50, campuran antara hidrazin dandimethylhydrazine tidak simetri yang menghasilkan asap tidak berwarna, meski kalau ada warna sekalipun kemungkinan besar juga tak terlihat dengan latar belakang permukaan Bulan yang disinari Matahari.

Masa depan

Kini, umat manusia kembali berada dalam satu lomba angkasa baru. Dalam lomba sekarang ini, Bulan tak hanya menjadi destinasi akhir, tetapi akan dijadikan sebagai batu lompatan untuk menuju destinasi lebih jauh, misalnya Planet Mars.

Tahun 2004, Presiden (waktu itu) George W Bush mencanangkan Kebijakan Eksplorasi Angkasa yang sasarannya adalah kembali ke Bulan tahun 2020 dan selanjutnya ke Mars. Jepang tahun 2005 juga mencanangkan tekad serupa, pada tahun 2025. Kekuatan antariksa lain yang harus disebut dan juga telah menyatakan tekad mendaratkan warganya di Bulan adalah Rusia, China, dan India, juga tahun 2020.

Dalam perspektif inilah terlihat bagaimana bangsa-bangsa besar dunia bekerja keras mewujudkan impian besar. Ruang angkasa sebagai Perbatasan Terakhir (The Final Frontier) tidak saja menjanjikan prestise, tetapi juga masa depan, dan keyakinan bahwa, dengan bisa hadir di sana, ada banyak perkara di Bumi yang akan bisa ikut dibantu penyelesaiannya.

Penulis: Oleh NINOK LEKSONO

RABU, 15 JULI 2009 | 04:43 WIB

Source:http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/15/04431940/pendaratan.di.bulan.akal.sehat.vs.teori.konspirasi


Friday, July 17, 2009

PONSEL BERTENAGA SURYA PERTAMA DI INDONESIA

Ponsel Bertenaga Surya Pertama di Indonesia

Indosat hadirkan Ponsel Gaya (TenaGa SurYa), sebuah ponsel bertenaga surya pertama di Indonesia, yang untuk tahap awal direncanakan akan digunakan untuk mendukung program Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok/RDKK Online Dekopin (Dewan Koperasi Indonesia) bagi petani Indonesia.

JAKARTA (16/7/2009) Ponsel Gaya ini akan menjadi salah satu sarana pendukung untuk mewujudkan RDKK Online bagi petani Indonesia, bekerjasama dengan INKOPTAN (Induk Koperasi Tani dan Nelayan). yang akan diresmikan dalam waktu dekat. “Ponsel Gaya persembahan Indosat ini nantinya akan menjadi sarana komunikasi untuk rakyat/petani dengan menggunakan tenaga surya yang ramah lingkungan. Dalam waktu dekat ponsel ini juga dapat dinikmati oleh masyarakat luas,” demikian disampaikan Johnny Swandi Sjam , Direktur Utama Indosat.
RDKK sendiri merupakan suatu aplikasi IT terintegrasi yang membantu petani untuk memenuhi kebutuhan informasi dan komunikasi dalam kegiatan bertani yang akan dilakukan secara online dengan menggunakan fasilitas jaringan telekomunikasi nirkabel (GSM) sehingga petani bisa terbantu dengan cepat dan efisien. Indosat yang selama ini juga dikenal sebagai perusahaan yang peduli lingkungan melalui program Indonesia Hijau, berupaya menghadirkan ponsel yang juga ramah lingkungan, dengan memanfaatkan tenaga surya yang sangat murah dan melimpah, sehingga tidak perlu menggunakan tenaga listrik yang sumber dayanya di alam semakin berkurang. Ponsel Gaya tidak kalah dengan ponsel umumnya yang bertenaga listrik biasa. Dengan desain yang cukup trendi, ponsel ini anti-shock, dust resistance untuk kegiatan luar ruang, dan memiliki power management berupa automatic charge jika terkena sinar matahari, apabila kapasitas baterai kurang dari 90%.

Dari sisi layanannya, ponsel Gaya hadir dengan harga yang sangat terjangkau yaitu Rp.480.000,- (termasuk PPN), dengan kartu Mentari yang menghadirkan banyak manfaat dan bonus antara lain bonus SMS sebanyak 50 SMS / setiap akumulasi isi ulang 20 ribu, bonus internetan 220 menit, bonus bicara 120 menit dan juga dapat digunakan untuk menikmati program Obral Obrol Mentari yaitu gratis bicara 60 menit ke sesama nomor Indosat dengan cara : ketik : obrol dan kirim ke 303. Ponsel Gaya akan dapat dinikmati oleh masyarakat umum pada akhir Juli mendatang. “Kami berharap apa yang akan kami hadirkan melalui ponsel Gaya ini menjadi wujud komitmen kami yang tidak saja terus memperluas cakupan layanan ke berbagai wilayah terpencil, namun juga memperluas segmen masyarakat yang dapat menikmati layanan telekomunikasi yang murah, terjangkau, ramah lingkungan sekaligus mendukung aktifitas ekonomi dan kegiatan mereka di berbagai aspek lainnya,” tandas Johnny. (dju)

Kamis , 16 Juli 2009 04:35 WIB, Harian Kompas

Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia

Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...