Saturday, August 22, 2009

Ditemukan Sumber Gempa yang Belum Terdeteksi Dalam Peta Zonasi

Dari hasil kajian Pusat Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung secara mendalam terhadap sumber-sumber gempa, baik subduksi (pertemuan lempeng), maupun shallow crusal (patahan dangkal) ditemukan patahan-patahan baru yang belum terdeteksi secara spesifik dalam peta zonasi gempa pada SNI-03-1726-2002.

"Ditemukan sumber-sumber gempa di zona Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara," ungkap Kepala Pusat Mitigasi Bencana ITB I Wayan Sengara saat diskusi di Kantor BPPT Jakarta, Selasa (21/7).

I Wayan menjelaskan, sumber-sumber gempa subduksi Sumatera yang ditemukan yaitu di daerah Andaman, Aceh-Siemelue, Nias, Kepulauan Batu, Mentawai, Bengkulu, dan Sunda. Adapun untuk sumber gempa shallow crusal di wilayah Jawa dan Nusa Tenggara, yaitu patahan Lembang, patahan Cimandiri, Baribis, Opak, Doang, Sepanjang, Kangean, Flores, serta patahan-patahan lainnya di sekitar zona Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara.

"Tiga patahan daerah Jawa, yaitu Cimandiri, Lembang, Opak, Baribis diperkirakan 10 persen kemungkinan terjadi gempa dalam waktu 50 tahun ke depan dengan kekuatan gempa relatif medium," ucapnya.

Pusat Mitigasi Bencana ITB juga memberikan rekomendasi jangka pendek untuk penyempurnaan peta zonasi gempa, yaitu menyelesaikan dan menyempurnakan keseluruhan hasil analisis dari berbagai sumber gempa untuk wilayah Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara serta melakukan analisis sejenis untuk wilayah Indonesia Timur yang meliputi blok Irian dan blok Sulawesi-Kalimantan.

"Untuk jangka menengah, melakukan penelitian terhadap patahan-patahan yang dicurigai aktif," ujarnya.

Adapun jangka panjang, tambah I Wayan, memasang lebih banyak GPS monitoring pada patahan-patahan aktif sepanjang pulau di Indonesia untuk mendapatkan informasi data kecepatan pergerakan lempeng dan patahan.

"Langkah lain, mempercepat pelaksanaan pemasangan jaringan strong-motion accelerometer untuk menangkap getaran gempa kuat dari berbagai sumber gempa," ungkapnya.

Semua rekomendasi tersebut, kata dia, untuk masukan dalam perbaikan peta zonasi gempa yang masih mengacu pada peta SNI tahun 2002 agar seluruh infrastruktur yang akan dibangun dipersiapkan tahan gempa. "Kita berharap akhir tahun ini peta baru selesai dan diharapkan dilakukan penyempurnaan peta gempa secara berkala setiap 5 tahun sekali," tambah I Wayan.

SELASA, 21 JULI 2009 | 20:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/21/20594246/ditemukan.sumber.gempa.yang.belum.terdeteksi.dalam.peta.zonasi.

Cacing Laut "Pengebom" Bercahaya


Ini bukan cacing biasa, tetapi cacing istimewa yang mengeluarkan cahaya warna-warni pada kedalaman laut lebih dari 3.500 meter.

Para peneliti dari Scripps Institution of Oceanography di Universitas California, San Diego, AS, menemukan keberadaannya ribuan kaki di bawah permukaan laut sisi barat dan timur laut Samudra Pasifik. Mereka menyebut kelompok cacing spesies baru Swima bombiviridis itu sebagai ”pengebom hijau”.

Ket Foto 1: Panah menunjukkan bom-bom hijau yang dilepaskan cacing untuk menghindari pemangsa. Ket Foto 2: Seekor pengebom hijau, Swima bombiviridis, yang diambil dari Monterey Bay, California. Beberapa bom hijaunya terlihat di tubuh cacing itu.

Bukan hanya tubuh yang bercahaya, tetapi bagian tubuh yang dilepaskannya pun hijau kemilau. Cacing berukuran 3/4 hingga 4 inci itu melepaskan bagian tubuhnya yang berwarna satu atau dua kali. Diameter bagian tubuh yang terlepas atau ”bom” itu antara 1-2 milimeter.

Para peneliti menginterpretasikannya sebagai mekanisme menghindari mangsa. Pasalnya, cacing-cacing itu langsung berenang menjauh seusai melepaskan ”bom”, yang bisa tergantikan lagi itu.

Ketua tim peneliti, Karen Osborn, menyatakan, cacing itu sebenarnya bukan binatang langka. Sering kali, melalui wahana bawah laut yang dikendalikan jarak jauh, mereka menemukan koloni serupa. Keunikannya, cara mengambil sampel di habitatnya itulah yang tidak mudah.

Kini tim peneliti memiliki sejumlah cacing di laboratorium. Salah satunya untuk mengetahui kandungan bahan kimia yang menghasilkan tubuh bercahaya.

Temuan itu, lanjut Osborn, menjelaskan seberapa banyak informasi yang dunia ketahui tentang organisme dan keanekaragaman laut dalam. (GSA)

SABTU, 22 AGUSTUS 2009 | 08:24 WIB

SAN DIEGO, KOMPAS.com - http://sains.kompas.com/read/xml/2009/08/22/0824318/cacing.laut.pengebom.bercahaya

Dari Timur ke Barat Berjajar Keong Mas

Tak hanya di Pulau Sumatera dan Jawa yang dikenal sebagai lumbung padi nasional, keong mas (Pomacea canaliculata) atau keong murbei pun bermasalah di Manokwari, Papua. Meskipun hidup leluasa di rawa dan danau, keong mas identik dengan hama yang menyerang hamparan padi muda.

Serangan keong memang tak secepat dan sedramatis serangga. Namun, hasilnya sama: penurunan produksi padi yang di beberapa tempat hampir mencapai 20 persen.

Menurut para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), keong mas keluarga Pomacea masuk di Asia, termasuk Indonesia, pada pertengahan tahun 1980-an. Keong-keong itu didatangkan dari Amerika Selatan, yang juga dikenal sebagai negara pemasok fauna dan flora ke sejumlah negara tropis.

Awalnya, keong mas itu dikenalkan sebagai binatang piaraan karena menggemaskan dan sebagai pangan sumber protein.

Namun, tak lama kemudian, kabar buruk datang dari petani. Keong-keong berwarna keemasan menyerang hamparan padi di kawasan Jawa Barat. Pangkal batang menjadi target serangan mematikan.

Tak hanya di Indonesia, keong mas jenis Pomacea canaliculata (setidaknya sejauh ini dari jenis itu yang terdeteksi secara ilmiah) ternyata juga menginvasi sejumlah negara, seperti Filipina, Vietnam, Kamboja, Thailand, Myanmar, Taiwan, China, Jepang, negara-negara di kawasan Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Hingga kini belum ada laporan yang menyebutkan pembasmian dapat dituntaskan.

Di Indonesia, penanganannya masih jauh dari tuntas. Tak sedikit petani yang mengatasinya secara manual: menangkap dan membuangnya atau menggunakan jebakan kayu berikut umpan. Kalau memakai musuh alami, umumnya dengan itik.

Pada situs web pustaka-deptan, Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Departemen Pertanian (Deptan) merekomendasikan, pelepasan itik sebagai pengendalian alami hama keong mas dapat dilakukan setiap pagi dan sore hari. Periode pelepasan adalah setelah padi ditanam hingga padi berumur 45 hari. Jumlah itik yang dilepaskan disarankan 25 ekor per hektar. Selain itu, dibarengi pemungutan keong mas secara berkala.

Di pasaran, ada juga obat kimia khusus hama keong (molluscicide), tetapi penggunaannya di kalangan petani masih terhambat harga. Harganya berkisar Rp 27.000 hingga Rp 50.000 per botol dengan penggunaan bisa sampai tiga botol per petak sawah—yang jelas hal ini menjadi ekstra ongkos produksi, menambah beban setelah kebutuhan mutlak, seperti pupuk dan pestisida.

”Tak banyak petani yang memakai. Setidaknya itu temuan kami di lapangan,” kata peneliti moluska Pusat Penelitian Biologi LIPI, Nova Mujiono, Jumat (21/8). Kunjungannya di sejumlah kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, antara bulan Juli dan Agustus 2009 menunjukkan, petani memilih cara manual.

Pengakuan petani, ada yang menangkap lalu memasukkannya ke dalam karung. Lalu, diletakkan di tengah jalan raya dan tergilas roda-roda kendaraan. Ada pula yang mengumpulkan untuk dimasak. Umumnya, setelah membuang bagian kepala dan perutnya.

Pada buku penanganan hama keong mas di sejumlah negara yang beredar di kalangan peneliti moluska global, di antaranya dituliskan resep-resep masakan berbahan keong mas. Meskipun resep dari Indonesia tidak ada, sejumlah penduduk di daerah telah lama mengenalnya. Di Sumatera Barat, keong mas yang dikenal sebagai kalambuai biasa dimasak gulai atau digoreng.

Peta sebaran

Terhitung sejak Mei 2009, kelompok peneliti moluska meneliti status taksonomi keong Pomacea spp. dan keong telanjang (slug) sebagai hama. ”Keong-keong itu masuk kategori spesies invasif,” kata penanggung jawab penelitian, Ristiyanti M Marwoto. Sebanyak delapan orang terlibat penelitian yang akan selesai Oktober 2009 itu.

Hasilnya, di antaranya akan diberikan kepada Balai Karantina. Tujuannya, mengenal lebih baik keong sebagai satwa invasif.

Spesies invasif mengacu pada jenis-jenis fauna dan flora asing (dari luar negeri ataupun pulau lain) yang berkembang dan mengganggu keanekaragaman hayati endemik. Di Indonesia, jumlahnya ribuan jenis.

Salah satu target penelitian adalah keberadaan peta sebaran keong mas di Indonesia. Berpuluh tahun diserang keong, Indonesia belum memiliki peta sebaran terkini dan metode andal membasminya.

Selain itu, penelitian akan menghasilkan data dasar kebenaran identifikasi jenis-jenis invasif sehingga penanggulangannya dapat optimal. ”Meskipun bentuknya bervariasi di sejumlah daerah, keong mas banyak sebagai hama,” kata Ristiyanti.

Keong telanjang pun ditemukan turut merusak hasil kebun sayur, seperti kubis, selada air, wortel, labu siam, dan bawang daun. Meskipun mengakui keong sebagai hama, para pekebun sayur hanya bisa mengupas dan membuang bagian yang rusak.

Cara semacam itu tidak mengurangi populasi keong telanjang. Telur-telur yang amat kecil tetap terbawa bonggol sayur dan berpotensi berkembang di tempat lain. Melalui cara seperti itulah, keong mas dan keong telanjang dimungkinkan masuk ke Indonesia, selain melalui impor.

Temuan ”lymnea”

Salah satu temuan terbaru penelitian di lapangan, setidaknya sesuai dengan laporan para petani, adalah keong kecil (lymnea) di sawah-sawah. Selama ini para peneliti tidak menganggap lymnea sebagai hama.

”Faktanya, kami melihat sendiri keong-keong kecil itu memakan batang padi bersama keong mas. Cerita petani menguatkan itu,” kata Nova, yang memotret koloni keong mas dan keong lymnea di pangkal batang. Hasil pengambilan sampel keong mas pada 1 meter sawah, menemukan sekitar 40 keong mas dewasa dan anakan.

Keong-keong tersebut, umumnya memakan pangkal batang padi yang berumur kurang dari 30 hari. Serangan terhadap padi muda dapat menyebabkan kematian tanaman. Penelitian LIPI hanyalah bagian kecil dari upaya melindungi sumber pangan. Dibutuhkan kerja sama dengan Departemen Pertanian, Balai Karantina, dan pemerintah daerah. Petani telah berperang puluhan tahun, tanpa dukungan berarti.

SABTU, 22 AGUSTUS 2009 | 08:38 WIB

Gesit Ariyanto, KOMPAS.com - http://sains.kompas.com/read/xml/2009/08/22/08382691/dari.timur.ke.barat.berjajar.keong.mas

G-20:Sektor Keuangan Diatur Ketat

G-20 Mendengarkan Pengalaman Indonesia

Para pemimpin Kelompok 20 (G-20) tampak makin serius mengatur dan menegakkan aturan di sektor finansial. Ini adalah salah satu topik yang dibahas G-20, di samping berbagai isu lain, yang bertujuan mencegah makin dalamnya resesi global.

Pertemuan hari pertama para pemimpin G-20, kumpulan negara maju dan berkembang, di London, Kamis (2/4), memasukkan rincian mengenai reformasi pengaturan sektor keuangan. Ini adalah isu yang gencar diusulkan oleh Perancis dan Jerman.


Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengakui lemahnya peraturan sektor keuangan di AS memberi kontribusi pada krisis global. Kelemahan pengaturan itu membuat aksi spekulasi di sektor keuangan menjadi amat liar.

Sehari sebelumnya, Perancis dan Jerman mengancam tidak akan menandatangani komunike G-20 jika pengaturan sektor keuangan tidak dimasukkan. Kedua negara ini menilai bahwa krisis global dipicu liarnya sektor keuangan, bukan karena kurangnya stimulus ekonomi. Inggris dan AS, pusat dari pelaku aksi-aksi spekulasi, mendorong G-20 meningkatkan stimulus. Hal ini membuat Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel berang. Mereka menilai, biang keladi krisis adalah aksi-aksi spekulasi di sektor keuangan yang memunculkan fenomena kanibal dan ”saling makan”.

Harus dibantu

Isu pengaturan sektor keuangan juga menjadi keinginan negara berkembang yang ada di G-20, termasuk Indonesia. Hal itu juga menjadi imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang isinya meminta pencegahan kesalahan di sektor keuangan. Presiden mengatakan bahwa hal itu juga dia sampaikan di G-20, termasuk untuk mewakili kepentingan negara berkembang.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dalam pembahasan di pertemuan G-20 terjadi semacam ”rekonsiliasi” di antara para anggota soal pentingnya stimulus dan pengetatan regulasi keuangan.

Terkait dengan reformasi institusi keuangan global, Sri Mulyani mengatakan, suara Indonesia didengar karena memiliki pengalaman krisis 1997/1998. ”Pandangan Indonesia mengenai apa yang harus dikoreksi dari IMF dan Bank Dunia didengarkan dan telah ada perubahan fundamental operasi,” ujarnya.

Oleh banyak negara, IMF dan Bank Dunia dianggap sebagai beban, bukan solusi.

Menkeu juga mengatakan, pada pertemuan G-20, Indonesia memunculkan isu soal pentingnya dukungan dana bagi negara berkembang dan miskin yang terkena krisis. ”Pihak Eropa mengatakan, negara berkembang menjadi korban krisis yang bukan karena kesalahan sendiri. G-20 menilai, negara korban ini wajib dibantu,” ungkapnya.

Mekanisme bantuan sudah disepakati, yakni melalui Bank Dunia maupun bank pembangunan kawasan serta IMF. ”Bantuan ini pun diberi tanpa persyaratan, khususnya Meksiko yang dianggap memiliki reputasi dan kebijakan baik,” ujar Sri Mulyani.

Sehubungan dengan hal itu, G-20 sepakat menambah dana IMF lebih dari 500 miliar dollar AS menjadi 750 miliar dollar AS dari para anggota. Tujuannya, sebagaimana ditekankan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, agar IMF dapat membantu lebih banyak negara korban krisis.

Anggota G-20 sepakat pula mengenai paket penyediaan dana 250 miliar dollar AS bagi negara berkembang untuk membiayai perdagangan internasional.

FSF akan mengawasi

Soal isu peraturan dan pengawasan sektor keuangan, G-20 sepakat mengatur hedge fund (kumpulan dana investasi yang juga dipakai berspekulasi), yang selama ini terlepas dari pengawasan dan termasuk penyebab krisis global.

G-20 mengubah fungsi Forum Stabilitas Finansial (FSF), kelompok pemikir informal milik sejumlah bank sentral, menjadi lembaga pengawas sistem keuangan. FSF akan mempresentasikan proposal dan rekomendasi mengenai pengawasan perbankan serta pembatasan bonus para bankir. ”Perubahan status FSF ini akan meningkatkan cakupan kegiatan FSF,” ujar Ketua FSF yang juga Gubernur Bank Sentral Italia Mario Draghi.

G-20 juga akan menekankan pentingnya pengawasan terhadap tax haven (seperti Singapura). Tax haven akan dituntut kooperatif atau menghadapi sanksi dan dimasukkan ke dalam daftar hitam. Stephen Timms, pejabat sektor keuangan Inggris, mengatakan, kesepakatan mengenai tax haven sedang disusun.

Setidaknya ada 35 tax haven di luar negeri yang terdiri dari negara maupun teritori. Tax haven terbentang mulai dari Pulau Channel hingga Pulau Cayman di Karibia. Tax haven sedang dalam tekanan untuk memberikan lebih banyak lagi informasi kepada otoritas internasional agar menghentikan warga dunia yang ingin menghindari pajak dan menyembunyikan pendapatan mereka dengan menempatkan dana ke tax haven. (AP/AFP/Reuters/joe)

Oleh Nur Hidayati
London, Kompas - Jumat, 3 April 2009 | 02:44 WIB

Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/03/02441173/sektor.keuangan.diatur.ketat

Warga Dunia Terancam Kelaparan

Dunia saat ini menghadapi ancaman kelaparan baru yang disebabkan oleh krisis finansial. Penyebabnya adalah banyaknya orang yang tidak lagi mendapatkan pekerjaan di negara miskin karena pelemahan perekonomian global. Demikian diungkapkan seorang pejabat PBB di Geneva, Jumat (17/4).

”Menurut perhitungan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) jumlah orang ’kelaparan baru’ karena terjadinya krisis finansial antara 50 dan 100 juta,” ujar David Nabarro, Koordinator Gugus Tugas Ketahanan Pangan PBB di Geneva. Tahun lalu, dunia juga mengalami krisis pangan karena tingginya harga bahan makanan pokok, perubahan iklim, serta pengalihan hasil pangan menjadi bahan bakar alternatif. Kerusuhan terjadi di berbagai tempat, bahkan mengguncangkan pemerintahan.


FAO menyatakan, dunia saat ini menghadapi ancaman kelaparan yang berbeda dengan tahun 2008. Perbedaan mendasar terletak pada alasan terjadinya ancaman tersebut, yaitu orang tidak dapat cukup makan karena tidak memiliki pekerjaan. ”Kami mengantisipasinya. Dengan menurunnya daya beli akibat tidak memiliki pekerjaan, mereka akan menghadapi masalah dalam memenuhi kebutuhan keluarga, yaitu kebutuhan pangan. Krisis ini akan membawa dampak kekurangan pangan dan nutrisi,” paparnya.

Gugus Tugas PBB soal pangan dibuat April tahun lalu dengan tujuan menyelaraskan semua sistem dan organisasi di PBB perihal pangan, nutrisi, dan pertanian agar dapat diselesaikan dengan koordinasi lebih baik.

Kriminal

Sementara itu, badan PBB lainnya memperingatkan bahwa kejahatan global, seperti perdagangan obat terlarang, perdagangan manusia, dan penyelundupan senjata, juga akan meningkat seiring dengan terjadinya krisis finansial kali ini.

”Situasi akan memburuk karena krisis finansial walaupun ada berita bagusnya bahwa krisis kali ini membuat berakhirnya kerahasiaan perbankan, tax haven, dan regulasi finansial yang lebih baik lagi,” ujar Antonio Maria Costa, Direktur Badan Narkotika dan Kriminal PBB di Vienna. Costa berbicara pada pembukaan pertemuan Komisi PBB untuk Mencegah Kejahatan yang akan berlangsung hingga 24 April mendatang dan diikuti 40 negara. (Xinhua/AFP/Reuters/joe)

Geneva, Jumat - Senin, 20 April 2009 | 03:37 WIB
Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/20/03373880/warga.dunia.terancam.kelaparan

Friday, August 21, 2009

Lily : Tanaman Cantik Penyerap Polutan

Berbunga putih dan harum. Kita biasa menyebut tanaman cantik ini dengan sebutan, Lily. Kecantikan bunga putihnya mempesona banyak orang. Tak sedikit pula yang memanfaatkannya sebagai bunga potong, untuk menghias ruang.

Lily merupakan tanaman berdaun lebar memanjang, mirip daun pisang. Di antara dedaunan inilah muncul bunga Lily bertangkai bunga panjang. Bunga Lily sendiri berbentuk seperti sekop berwarna putih dan berbau harum. Tanaman ini bisa diletakkan di dalam maupun luar ruangan.

Untuk menanam dan merawatnya, memang membutuhkan perhatian ekstra. Lily menyukai media tanam yang lembap. Bila media tanamnya kering, pertumbuhannya akan terganggu, biasanya ia enggan berbunga.

Di sisi lain, si cantik ini juga tidak suka kelembapan yang berlebihan. Genangan air atau media tanam yang terlalu basah, dapat membuat akarnya busuk. Jadi, siram media tanam hanya jika media tanamnya kering.

Lily, seperti halnya tanaman lain, juga membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis. Tetapi Anda perlu melindunginya dari sinar matahari yang terlalu panas. Ada baiknya, letakkan Lily di area yang teduh, namun masih mendapat sinar matahari. Jika Anda meletakkannya di dalam ruangan, rajin-rajinlah mengeluarkannya, paling tidak tiga hari sekali.

Berfungsi Sebagai Penyerap Polutan

Tak bisa dipungkiri, semakin hari polusi udara semakin banyak terjadi. Tanpa disadari di dalam rumah pun kita tidak bebas dari gas beracun (polutan). Contohnya, formaldehyde yang biasa ada pada cairan pembersih, benzene yang berasal dari asap rokok dan bahan plastik, atau trichloroethylene yang biasa terkandung pada tinta dan cat.

Berbagai gas polutan tadi bisa dinetralisasi oleh tanaman. Tidak semua tanaman bisa menyerap gas polutan. Spathyphyllum atau Lily adalah salah satu yang mampu menyerap gas beracun tersebut. Berdasarkan penelitian, Lily efektif menyerap dan menetralisasi benzene. Idealnya, sebuah tanaman Lily dapat menyerap polusi pada ruang berukuran sekitar 9meter persegi. Jadi, selain indah, Lily patut ditempatkan di ruangan selain sebagai penghias ruang, juga sebagai penyerap polusi udara. (www.ideaonline.co.id/ Anissa)

Rabu, 24 Juni 2009 | 23:03 WIB

KOMPAS.com - http://properti.kompas.com/read/xml/2009/06/24/2303566/lily..tanaman.cantik.penyerap.polutan

Ini Dia Tanaman "Tahan Banting"

Inilah enam jenis tanaman yang dapat Anda pilih untuk mengawali hobi memelihara atau mengoleksi tanaman di rumah. Jenis tanaman ini kerap direkomendasikan karena mudah tumbuh dan dapat bertahan dalam kondisi pengairan yang tak pasti, pencahayaan yang kurang serta temperatur yang fluktuatif. Tanaman ini akan tumbuh subur di pekarangan, kantor dan bahkan terkadang di ruang yang sempit.


1. Sirih gading (Epipremnum pinnatum 'aureum')
Sirih gading dikenal dengan nama lolo munding/tali (Sunda), jalu mampang, sulang (Jawa) dan samblung (Bali) adalah tanaman merambat besar dengan batangnya yang bulat liats eperti terna, berbulu, bagian pangkalnya sebesar lengan anak mempunyai akar-akar gantung yang panjang meliliti pohon. Tanaman ini disebut devil's ivy atau photos, ditemukan di Asia Tenggara hingga Australia.

Bentuk daunnya seperti daun sirih menyerupai jantung hati. Warna daunnya unik, bercampur kuning membentuk motif seperti marmer. Sirih Gading tak perlu perawatan khusus. Tanah gembur dicampur pupuk kandang adalah media tanam yang cocok, Tanaman ini juga bisa hidup dengan akar yang tumbuh subur di media air.

Tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman pot gantugn karena batangnya yang langsing penuh daun. Bila ditanam di tanah batangnya cenderung tumbuh membesar demikian pula daun-daunnya.

2. Lili Paris (Chlorophytum)
Lili paris atau Chlorophytum termasuk tanaman hias yang populer karena relatif cepat tumbuh dengan daunnya yang menarik. Bunganya berwarna putih, bila tanaman sudah cukup dewasa akan tumbuh anakan-anakan kecil pada ujung-ujung batang di sekeliling tanaman.

Bila tanaman digunakan sebagai tanaman gantung kondisi ini akan membuat bentuk yang menarik. Anakan ini juga berfungsi sebagai alat perbanyakan. Tanaman ini cukup mudah beradaptasi dengan lingkungannya, bisa tumbuh di tempat yang panas, sejuk, terkena sinar matahari langsung ataupun tempat yang terlindung.

3. Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata)
Tanaman satu ini memang terbilang bandel. Mereka suka akan banyak cahaya, tetapi juga bisa mengatasi kondisi minim cahaya. Tanaman ini juga dapat bertahan hidup pada kisaran suhu 4 derajat Celcis hingga 37 derajat C, tapi akan tumbuh sehat dan bagus jika mendapatkan suhu pada siang hari antara 20 derajat Celcius hingga 23 derajat Celcius dan antara 15 derajat C hingga 18 derajat Celcius pada malam hari.

Media tumbuh bagi Sansevieria hanya berupa campuran dari tanah atau pasir, kompos, sekam bakar, atau bisa ditambah kapur sebagai penjaga kestabilan pH tanah. Jika tanaman ini ditempatkan di pot, sebaiknya dasar pot diberi pecahan genting supaya sirkulasi air bagus.

4. Beragam spesies Dracaena
Dracaena banyak ragamnya dan cukup beken sebagai tanaman lanskap, tanaman pot bahkan tanaman indoor. Beberapa nama yang populer adalah Pardon Bali (D. draco), song of India (D. reflexa), tricolor (D. marginata), dan D. sanderiana atau bambu hoki (bambu rezeki).

Dracaena mudah dibiakkan dengan stek batang. Ia termasuk tanaman bandel. Bisa ditanam di dalam maupun di luar ruangan. Banyak yang percaya, apabila disimpan di sudut ruangan rangkaian D. sanderiana atau bambu rezeki tak hanya elok dipandang, tapi juga bisa mengubah keberuntungan. Ia bahkan direkomendasikan oleh master fengsui dan praktisi yang ingin memodifikasi ruangan agar terasa nyaman dan berenergi.

Tanaman ini tahan terhadap cahaya, tetapi apabila disimpan di ruangan terbuka jangan sampai terkena langsung sinar matahari. Dracaena bisa bertahan pada temperatur minimal 16 derajat Celcius dengan pemberian air hanya 2 kali dalam sebulan.

5. Sukulen dan kaktus
Ada banyak lusinan varietas sukulen dan kaktus yang dijual di toko tanaman hias. Secara umum, sukulen adalah tanaman gurun dengan daun tebal yang menyimpan air. Istilah sukulen diberikan bagi sekelompok tanaman dengan karakteristik salah satu atau lebih bagian tubuhnya dapat menyimpan air. Karakteristik semacam ini dimiliki juga oleh kaktus. Oleh karena itu, semua jenis kaktus adalah juga sukulen, tapi tidak semua sukulen adalah kaktus.

Umumnya, sukulen dan kaktus hidup di daerah yang sangat kering dan jarang hujan. Dengan kemampuannya mengikat air tersebut maka tanaman-tanaman ini bisa hidup walaupun lama tidak turun hujan.

Baik succulent maupun kaktus tumbuh dengan lambat. Untuk perawatan terbaik, tempatkan jenis tanaman ini pada area yang tak terkena hujan tetapi cukup mendapat sinar matahari. Untuk tanaman dalam ruangan, bawa tanaman secara berkala 4 – 5 Hari sekali keluar untuk mendapatkan sinar matahari selama 1 hari.

6. Bromeliad
Bromeliad atau bromelia adalah salah satu kelompok tanaman hias tropis fenomenal dengan keragaman jenis yang mencapai sekitar 3.000 spesies. Penampilan bromeliad sangat memukau dan sangat menjanjikan. Daunnya roset dan kompak, ada juga yang pipih mirip kawat, corak dan pola daunnya memiliki lebih dari 200 kombinasi, sosoknya mulai yang mini hingga raksasa, jenis yang berbunga menghasilkan warna-warna cerah dan gampang dirawat.

Anggota keluarga bromeliad yang terkenal antara lain : guzmania, neoregelia, vriesea, tillandsia, cryptanthus, aechmea, dan nidularium. Merawat Bromelia terbilang gampang. Media tanamnya pun bisa apa saja, seperti sabut kelapa atau cacahan pakis. Ada jenis Bromelia yang tumbuh bagus di media pakis. Bahkan, pertumbuhanya lebih baik dibanding jika ditanam langsung di tanah. Kendati demikian, sebaiknya Bromelia tidak ditanam langung di tanah, karena tanaman ini aslinya merupakan tanaman epifit yang biasa hidup menumpang di batang-batang pohon di dalam hutan.

Selasa, 4 Agustus 2009 | 16:31 WIB

KOMPAS.com -http://properti.kompas.com/read/xml/2009/08/04/16315126/ini.dia.tanaman.tahan.banting

Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia

Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...