Wednesday, September 16, 2009

Melestarikan Ekosistem Danau Toba

Selain terkesan eksotis, bukit batu yang mengelilingi Danau Toba sebenarnya membuat miris. Memang aura mistis Danau Toba juga datang dari bukit-bukit berbatu tersebut. Terlebih satu di antara bukit-bukit tersebut, Pusuk Buhit, dipercaya sebagai tempat orang Batak, suku terbesar yang mendiami kawasan ekologis Danau Toba, pertama kali turun ke bumi. Ket.Foto: Sebuah bangunan sekolah yang terletak di lembah Pusuk Buhit, salah satu bukit berbatu yang mengelilingi Danau Toba, tak jauh dari Sianjur Mula-mula. Di Pusuk Buhit inilah dalam budaya Batak dipercaya sebagai tempat orang Batak pertama kali turun ke bumi.

Rasa miris tersebut timbul karena melihat tingkat vegetasi pepohonan di bukit-bukit tersebut sangat kurang. Hanya terlihat beberapa pucuk pinus, yang jika musim kemarau sebagian di antaranya meranggas, warnanya berubah menjadi coklat kemerahan. Selain pinus, bukit-bukit tersebut hanya tertutup ilalang. Padahal, itulah daerah tangkapan air utama Danau Toba, terutama di sisi selatan hingga barat daya danau.

Bukit-bukit yang mengelilingi Danau Toba tersebut, terutama di wilayah Kabupaten Samosir, dianggap ahli geologi terbentuk akibat proses vulkanis letusan Gunung Toba ribuan tahun silam. Menurut Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia Sumatera Utara Jonathan Tarigan, bukit-bukit batu itu tertutup lapisan silika sebagai akibat letusan Gunung Toba.

”Seperti kaca, lapisan silika dengan mineral diatomit yang melapisinya membuat bukit-bukit tersebut memang sulit ditanami pepohonan keras. Akan tetapi, masih tetap banyak lapisan tanah di bukit tersebut. Kami pernah mengadakan riset geologis untuk kepentingan konservasi lingkungan di kawasan tersebut dan sangat mungkin bukit-bukit itu bisa ditutup dengan pepohonan keras, selain pinus,” ujar Jonathan.

Jonathan prihatin karena upaya konservasi untuk menyelamatkan kawasan tangkapan air Danau Toba tak jua dilakukan. Kawasan Danau Toba yang secara administratif ”dikuasai” tujuh kabupaten membuat upaya penghijauan selalu kandas ketika dibicarakan di antara ketujuh penguasa kabupaten tersebut.

Sekarang keprihatinan itu tampaknya coba ditanggapi Pemerintah Kabupaten Samosir. Sabtu (5/9), secara resmi Pemkab Samosir mencanangkan strategi pembangunan wilayah secara kolaboratif dengan menggabungkan pendekatan budaya dan konservasi lingkungan hidup. ”Kami sadar, membangun Samosir harus memerhatikan konservasi sumber daya alam. Hutan, tanah, dan air harus kami lindungi karena kami berada di daerah hulu dari sekian banyak daerah aliran sungai yang bermata air di Danau Toba,” ujar Bupati Samosir Mangindar Simbolon seusai pencanangan kegiatan di situs Batu Hobon.

Menginjak bumi

Sejak hari Jumat hingga Sabtu menjelang petang, di situs Batu Hobon ribuan warga Samosir berkumpul. Batu Hobon terletak di lingkar Pusuk Buhit. Di Batu Hobon inilah konon orang Batak pertama kali menginjakkan kaki ke bumi. Raja Bius (gabungan/konfederasi antarkampung) dari 12 kecamatan yang ada di Samosir juga hadir di Batu Hobon hari itu. Dalam budaya Batak, Raja Bius adalah sosok pemimpin yang mengatur penggunaan tanah (golat) dalam satu bius. Dia juga menjadi protokol dalam sebuah upacara adat.

Kehadiran Raja Bius dan ribuan warga Samosir di Batu Hobon tak hanya mengikuti acara pencanangan strategi pembangunan wilayah secara kolaboratif, menggabungkan pendekatan budaya dan konservasi lingkungan hidup. Mereka juga hadir karena dalam acara tersebut Pemkab Samosir bersama Lembaga Konservasi Situs dan Budaya Kabupaten Samosir menggelar Mangase Taon atau pesta mengawali tahun baru dalam kalender Batak Toba.

Mangase Taon menjadi upacara yang sangat simbolis bagi komitmen Pemkab Samosir mengedepankan pendekatan budaya dan lingkungan hidup dalam membangun wilayah di tengah Danau Toba tersebut. Di hadapan ribuan warga dan semua Raja Bius di Samosir, Mangindar atas nama Pemkab Samosir berjanji akan menggunakan kearifan lokal dalam membangun wilayahnya. ”Ini sebagai wujud agar masyarakat lebih bisa mengambil peran,” katanya.

Batu Hobon dipilih karena kesakralan dan nilainya dalam budaya Batak. Komitmen atau janji yang terucap di Batu Hobon, apalagi disertai ritual Mangalahat Horbo Bius atau memberi persembahan kerbau untuk Mulajadi Nabolon (Sang Kuasa), harus ditepati. ”Salah-salah, orang yang main-main dengan ritual ini bisa kehilangan nyawanya,” ujar Alimantua Limbong, penabuh gondang dalam ritual tersebut.

Alimantua menuturkan, budaya dan tradisi lokal Batak sangat dekat dengan alam. Dia pun menghargai jika memang pemerintah daerahnya berniat menjadikan budaya sebagai pegangan membangun wilayah. ”Dari acara yang digelar di Batu Hobon saja sudah menggambarkan penghormatan terhadap situs budaya,” katanya.

Bentuk nyata strategi kolaboratif pengelolaan lingkungan di Samosir adalah upaya merevitalisasi budaya Batak dan kearifan lokal. Mangindar mengakui, kearifan lokal dalam budaya Batak sempat terkikis sejak abad ke-18, bersamaan dengan masuknya pengaruh agama Kristen ke pedalaman Tapanuli.

Menurut Mangindar, sempat ada persepsi yang salah terhadap kepercayaan lokal. Dia mencontohkan, dahulu di Samosir banyak terdapat situs budaya yang dikelilingi pepohonan rimbun. ”Kepercayaan dulu mengatakan, pohon-pohon tersebut ada penunggunya sehingga orang tak mau mengganggu. Padahal, kalau direnungkan, itu kearifan lokal agar kita tak menebang pohon-pohon tersebut. Namun, karena ada persepsi yang salah dari agama baru yang masuk, kearifan tersebut dianggap sebagai penyembahan selain Tuhan sehingga pepohonan itu harus ditebang,” ujar Mangindar.

Persepsi salah

Persepsi yang salah terhadap kearifan lokal tersebut, menurut Mangindar, harus dibayar mahal. ”Sekarang pohon-pohon endemis di Samosir yang dipercaya sebagai pepohonan khas bagi orang Batak sudah tak banyak lagi,” katanya.

Jauh sebelum pemerintah mencanangkan program ”satu orang satu pohon”, makna penting menanam pohon bagi masyarakat Batak tertanam sangat dalam di kehidupan mereka. ”Setiap kali orang Batak membuka kampung untuk pertama kali, bambu dan pohon beringin harus ikut ditanam. Pohon beringin bahkan harus ditanam di setiap sudut kampung. Itulah pohon yang menjaga kehidupan kampung kami dulu,” tutur Mangindar.

Hal itulah yang ingin kembali dihidupkan Pemkab Samosir. Menjaga kelestarian ekosistem Danau Toba, terlebih di daerah tangkapan air seperti di sebagian besar wilayah Kabupaten Samosir, dengan pendekatan budaya. Demi menggunakan kearifan lokal untuk melakukan konservasi kawasan ekosistem Danau Toba, Pemkab Samosir berani menolak investasi industri besar-besaran di kabupaten tersebut.

Padahal, tak jauh dari Samosir, di kabupaten tetangga seperti Humbang Hasundutan atau Simalungun, ribuan hektar hutan yang dulu menjadi gantungan hidup masyarakat kini berubah menjadi hutan produksi dengan jenis tanaman homogen eucalyptus untuk kepentingan pabrik bubur kertas. Pabrik ini berdiri megah di hulu Sungai Asahan yang bermuara langsung ke Danau Toba di kawasan Kabupaten Toba Samosir.

”Kami tak mau ada industri besar-besaran di Samosir. Kerusakan lingkungan hidup kami jadi taruhannya. Kami justru akan berpihak kepada industri kecil dan mikro seperti kerajinan hasil budaya kami. Ini sejalan dengan pendekatan budaya yang kami pakai membangun Samosir,” ujar Mangindar.

Sebagai kabupaten seumur jagung, Samosir baru terbentuk sebagai kabupaten lima tahun silam, Mangindar tak mau siapa pun yang kelak memimpin daerah ini tak punya pegangan.

Pemkab Samosir sebenarnya menyiapkan desain besar strategi pengelolaan kawasan ekosistem Danau Toba dengan menggunakan pendekatan budaya, tak hanya untuk wilayahnya. Enam kabupaten lain, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Dairi, Karo, dan Simalungun, diajak ikut serta. Keenam daerah tersebut, seperti halnya Samosir, menjadi teritori alamiah bagi orang Batak. ”Kearifan lokal kami sama. Budaya Batak sesungguhnya teramat dekat dengan alam,” ujar Mangindar.

Upaya Pemkab Samosir juga mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Pejabat dari Departemen Dalam Negeri yang hadir dalam pencanangan tersebut mengaku sangat mengapresiasi niat Pemkab Samosir.

”Jangan mencontoh apa yang dilakukan pemerintah daerah terhadap pengelolaan kawasan Puncak. Kawasan yang mestinya menjadi daerah resapan air justru penuh dengan bangunan vila. Puncak tak menjadi daerah tangkapan air dan berakibat pada terjadinya banjir di wilayah- wilayah yang berada di bawahnya,” kata Staf Ahli Menteri Dalam Negeri Bidang Pembangunan Koesnan A Halim.

Sayang acara pencanangan strategi pengelolaan kawasan ekosistem Danau Toba di Pusuk Buhit tak dihadiri satu pun bupati tetangga. Namun, Pemkab Samosir tak patah arang. Menurut Mangindar, ketidakhadiran bupati tetangga, lebih karena acara pencanangan digelar pada bulan puasa sehingga banyak kesibukan yang harus dihadapi rekan-rekannya itu.

Budayawan Batak seperti Tomson HS mengaku sangat menghargai upaya Pemkab Samosir. Revitalisasi budaya Batak, menurut Tomson, tak hanya selesai di acara seminar, tetapi juga teraplikasikan sebagai pendekatan membangun wilayah.

Senin, 14 September 2009 | 08:07 WIB

Penulis: KHAERUDIN

KOMPAS.com -  http://sains.kompas.com/read/xml/2009/09/14/08074238/melestarikan.ekosistem.danau.toba.

Ikan Purba Coelacanth Ditemukan Lagi

Peneliti Indonesia dan peneliti dari Fukushima Aquamarine, Jepang, Senin siang tadi menemukan keberadaan ikan purba coelacanth di perairan Talise, Minahasa Utara, pada kedalaman 155 meter. Ikan ditemukan pada hari pertama tim yang bekerjasama beberapa kali itu memulai penelitiannya menggunakan wahana bawah laut tanpa awak (remotely operated vehicle/ROV). Ket.Foto: Tim peneliti dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan (BRKP-DKP) meneliti sampel ilmiah ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) di Sea World Indonesia, Ancol, Jakarta, Selasa (11/8).

Pada siarannya melalui surat elektronik Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi Prof Alex Masengi mengatakan, perjumpaan itu terjadi pada jam pertama penelitian di hari pertama. "Ikan dalam keadaan hidup dan tetap bebas di habitatnya," tulisnya.

Kelompok peneliti yang sama, 27 Juni 2007 lalu, juga menemukan ikan coelacanth di perairan Malalayang, Teluk Manado, Sulawesi Utara. Pada kedalaman 190 meter. Secara teori, habitat ikan coelacanth berada pada kedalamanan lebih dari 180 meter dengan suhu maksimal 18 derajat Celsius.

Ikan coelacanth hanya hidup di kawasan perairan barat Afrika Selatan dan kawasan timur Indonesia. Ikan coelacanth juga disebut sebagai ikan purba, karena diduga sudah ada sejak era Devonian sekitar 380 juta tahun silam. Dan, hingga kini bentuknya tidak berubah.

Para ahli sepakat, berbagai keunikan yang ada pada coelacanth yang belum terungkap merupakan kunci tabir evolusi makhluk bawah air. Karenanya, banyak ahli ikan dunia berlomba-lomba meneliti dan mengoleksi ikan tersebut, termasuk Jepang.

Senin, 14 September 2009 | 20:55 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Gesit Ariyanto
KOMPAS.com -http://sains.kompas.com/read/xml/2009/09/14/20554485/ikan.purba.coelacanth.ditemukan.lagi

Mikoriza, Penolong Tanaman di Daerah Kering

Jamur jenis Mikoriza yang bersimbiosis dengan tumbuhan ternyata bermanfaat meningkatkan daya tahan tanaman hingga tidak sampai mati, atau layu akibat menipisnya persediaan air didalam tanah selama kemarau panjang. Ket.Foto: Anggrek dengan Mikoriza

"Penggunaan jamur mikoriza cocok diterapkan didaerah-daerah yang minus air seperti di Gunung Kidul, Yogyakarta dan NTB," kata Yayat Rukiat, peneliti dari Balai Litbang Deptan, di Bekasi, Selasa.

Akar tumbuhan yang diselimuti muselium hasil simbiosis dengan mikoriza menjadikan tanaman tahan terhadap menipisnya persediaan air didalam tanah sementara unsur hara pada tanah tetap terpelihara.

Mikoriza sendiri bersimbiosis dengan dua kelompok jamur yaitu hektomikoriza yang biasa digunakan untuk farmasi, akasia dan tanaman perkebunan seperti Melinjo serta pinus. Ia mengatakan, sebanyak 93 persen tumbuhan di dunia berasosiasi dengan jamur mikoriza. Adanya mikoriza juga mempermudah penyerapan unsur hara oleh akar tanaman.

Dengan menggunakan mikoriza maka penggunaan pupuk untuk tanaman juga bisa dihemat seperti kelapa sawit yang membutuhkan banyak pupuk bisa dihemat setengahnya. Akar tanaman yang diselimuti mikoriza juga tahan terhadap serangan hama. "Penyakit akar tak bisa masuk, dan jamur itu juga membentuk unsur phospor pada tanaman," ujarnya.

Dalam memanfaatkan mikoriza, cara yang tepat dilakukan menurut Yayat adalah ketika pembenihan melalui inkolasi bibit dengan mikoriza. Cara itu telah dikembangkan di balai penelitian dan selanjutnya hasil benih itu akan dipasarkan secara luas.

Jamur mikoriza sudah diterapkan di Gorontalo pada tanaman jagung dengan hasil memuaskan, tahan terhadap penyakit dan penggunaan pupuk lebih hemat.

Selasa, 8 September 2009 | 10:03 WIB

BEKASI, KOMPAS.com -  http://sains.kompas.com/read/xml/2009/09/08/10031133/mikoriza.penolong.tanaman.di.daerah.kering

Misteri Terpecahkan: Cahaya Indah di Langit Ternyata Air Seni Astronot

Beberapa hari lalu, para pengamat langit terpesona oleh jejak cahaya indah di angkasa yang tampak seperti fenomena langit misterius. Mereka bertanya-tanya, apakah yang mereka lihat, sebelum akhirnya mengetahui cahaya indah itu berasal dari air seni para astronot. Ket.Foto: Foto yang diambil Abe Megahed dari Madison, Wisconsin, Rabu, yang memperlihatkan cahaya di langit saat pesawat ulang alik Discovery membuang air kotor.

Cahaya berkilau yang terlihat Rabu malam itu muncul saat astronot dalam pesawat ulang alik Discovery membuang tangki air kotor ke angkasa.

Pembuangan air itu dilakukan pilot misi penerbangan STS-128 Kevin Ford, yang membuang air seni dan air buangan lain dari atas pesawat ulang alik sebelum mendarat ke Bumi. Air yang dibuang sekitar 68 kilogram. Pantulan cahaya matahari membuat air buangan itu terlihat berkilau dari Bumi.

Discovery sebelumnya berkunjung ke stasiun antariksa internasional (ISS). Namun, dalam kunjungan 10 hari itu, pesawat tidak diperkenankan membuang sampahnya agar tidak mengkontaminasi modul Kibo.

Modul Kibo adalah laboratorium riset buatan Jepang yang dipasang di ISS guna melakukan berbagai percobaan dalam lingkungan antariksa. Air buangan dari pesawat dikhawatirkan membuat eksperimen terkontaminasi.

Air buangan biasanya membeku dan membentuk awan butiran es. Saat terkena sinar matahari, butiran itu berubah menjadi uap air dan tersebar ke angkasa. Nah, air buangan itulah yang terlihat sebagai cahaya indah dari Bumi.

Minggu, 13 September 2009 | 11:34 WIB

KOMPAS.com —  http://sains.kompas.com/read/xml/2009/09/13/1134171/misteri.terpecahkan.cahaya.indah.di.langit.ternyata.air.seni.astronot

Monday, September 14, 2009

Konferensi Perubahan Iklim: Negosiasi Terancam Buntu

Obama dan Yudhoyono Didesak untuk Memimpin

Sukses konferensi perubahan iklim yang akan berlangsung di Kopenhagen, Denmark, bulan Desember mendatang belum terjamin karena hingga sekarang negosiasi berjalan alot dan kompleks.

Hal itu dikatakan pemimpin Climate Group yang berbasis di London, Inggris, Steve Howard, di sela-sela acara World Economic Forum di Dalian, China, Sabtu (12/9).

Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim (UNCCC) untuk Pertemuan Para Pihak Ke-13 (COP-13) di Kopenhagen nanti akan membahas terakhir kalinya tentang kesepakatan baru yang lebih mendalam tentang bagaimana menahan perubahan iklim yang merupakan akibat perilaku manusia. ”Hal itu sudah merupakan kesepakatan ekonomi. Oleh karena itu, pertaruhannya amat besar,” tambahnya.

Banyak negara menginginkan segera menyelesaikan perbedaan pendapat soal teks kesepakatan yang tebalnya kini mencapai 280 halaman. Banyak isu masih diperdebatkan, termasuk masa depan mekanisme pembangunan bersih (CDM) yang tercantum dalam Protokol Kyoto—masa berlakunya berakhir tahun 2012.

Program CDM memungkinkan negara maju mendanai proyek pengurangan emisi CO di negara berkembang sebagai pengganti pengurangan emisi yang diwajibkan.

Pihak Uni Eropa menghendaki China dan sejumlah negara berkembang lainnya menerima mekanisme ”berbasis sektor”, dengan semua industri dalam sektor tertentu harus secara substansial mengurangi emisinya. Bentuk CDM yang diinginkan adalah yang lebih cepat, lebih terjamin kepastiannya, dan dalam skala besar.

Di sisi lain, China menganggap bahwa mekanisme berbasis
sektor merupakan suatu upaya menerapkan kewajiban pengurangan emisi CO secara
terselubung dan tidak memasukkan insentif seperti transfer teknologi dan dana investasi sebagai bagian dari kesepakatan Kopenhagen.

Juga ada usulan termasuk rencana untuk membuat negara berkembang berkomitmen pada ”jalur jalan” (pathways) untuk beralih dari sikap business as usual (seperti biasanya, tanpa ada perubahan) soal emisi CO.

Menurut Howard, sifatnya bukan pengurangan emisi absolut jangka pendek, melainkan perubahan dari emisi yang terproyeksikan jika semua dilakukan secara business as usual. Jika itu dilakukan dengan baik, mereka dapat memperdagangkan pengurangan karbonnya.

Obama didesak

Greenpeace dari Taman Nasional Khao Yai, Thailand,
tempat perlindungan gajah terakhir Asia, memulai perjalanan 15 hari dengan gajah sebagai simbol mendesak Barack Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengambil tonggak kepemimpinan dalam urusan perubahan iklim tersebut.

”Asia Tenggara adalah kawasan yang paling rentan, tetapi
paling tidak siap menghadapi perubahan iklim. Gajah Asia
bersama 20 persen keanekaragaman hayati dunia yang ada di kawasan Asia Tenggara saat ini sangat terancam laju cepat deforestasi yang berakibat memperbesar dampak perubahan iklim,” ujar Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara Von Hernandez. Indonesia merupakan negara dengan hutan terluas di Asia Tenggara.

”Ini saatnya Obama mengambil alih tanggung jawab dan mewujudkan perubahan yang telah ia janjikan. Ia punya kesempatan kedua untuk membuat sejarah lagi. Kesempatan itu bisa terjadi di ajang Sidang Umum PBB di New York, 22 September mendatang,” tambah Hernandez dalam siaran persnya.

Gerakan itu diikuti sejumlah kelompok aktivis lingkungan, antara lain Wild Animal Rescue Foundation Thailand, Agri-Nature Foundation, dan Ancient Siam. (REUTERS/ISW)

Senin, 14 September 2009 | 05:35 WIB

DALIAN, SABTU - http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/14/05354090/negosiasi.terancam.buntu

Ekspor CPO Terganjal Aturan Uni Eropa

Ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia ke negara-negara Uni Eropa terancam terhenti beberapa tahun ke depan. Hal ini merupakan dampak dari aturan Uni Eropa mengenai penggunaan energi terbarukan dari sumber yang terbarukan dan isu lingkungan seputar CPO.

Karena itu, menurut Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, Minggu (13/9) di Jakarta, Indonesia mulai melirik pasar baru CPO di Asia, Eropa Timur, dan Timur Tengah. Meskipun demikian, Uni Eropa tidak bisa ditinggalkan karena termasuk pasar potensial CPO Indonesia.

Dari data yang ada, total volume ekspor CPO Indonesia tahun 2008 mencapai 7.904.179 ton. Dari jumlah itu, sebanyak 968.205 ton di antaranya diekspor ke Uni Eropa melalui pelabuhan di Belanda.

Beberapa negara tujuan ekspor lain adalah India, China, dan Singapura. Pasar Eropa merupakan tujuan ekspor nomor dua terbesar untuk CPO Indonesia setelah India.

Untuk dapat menjual CPO ke Uni Eropa dan memperoleh insentif, menurut Ketua Komisi Sawit Indonesia Rosediana Suharto, para eksportir harus memenuhi kriteria direktif Uni Eropa tentang penggunaan energi terbarukan. Bila tidak memenuhi kriteria dalam direktif, tidak ada insentif dan tidak ada negara Uni Eropa yang mau membeli komoditas itu.

Direktif disetujui Parlemen Eropa pada 23 April 2009. Target energi terbarukan tahun 2020 adalah 20 persen dari keseluruhan negara di Uni Eropa, 20 persen perbaikan efisiensi energi, 20 persen penggunaan energi terbarukan, 10 persen penggunaan energi terbarukan dalam sektor transportasi.

Salah satu cara untuk mengantisipasi pemberlakuan aturan itu adalah memperluas pasar ekspor ke negara lain, seperti China, Pakistan, Banglades, dan negara-negara di Eropa Timur.

”Tentunya ekspansi pasar baru itu harus mendapat dukungan dari pemerintah. Pelaku usaha akan sulit berjalan sendiri,” ujarnya menambahkan. (EVY)

Komputasi dan Telekomunikasi: Komputer "Netbook"-"Notebook"

Hanya dalam waktu enam bulan tahun 2009, penjualan global komputer kategori netbook telah mencapai 13,5 juta unit. Sampai akhir tahun ini banyak komputer jinjing jenis baru akan diperkenalkan di pasaran dalam persaingan ketat memperebutkan konsumen.

Margin keuntungan yang semakin kecil akibat persaingan harga berbagai netbook juga ikut didorong keterlibatan operator telekomunikasi yang menjadi bagian supply chain managementbaru untuk mendistribusikan komputer netbook. Di kawasan Eropa, Samsung secara agresif menjadi pemain penting karena menjajakan komputernya melalui gerai operator; di Indonesia kita mulai melihat notebook dan netbook dijajakan sebagai paket untuk mengakses data 3G.

Sebuah era baru sedang berkembang mengantisipasi kemajuan teknologi komunikasi informasi, menggelar model bisnis baru meninggalkan pasaran tradisional melalui distributor dan toko-toko penyalur produk komputer. Di sisi operator, masuknya komputer ke dalam tata bisnis yang mereka kelola menjadi pembenaran investasi infrastruktur mereka dalam rangka menjajakan akses pita lebar kecepatan tinggi melalui UMTS maupun HSDPA.

Secara bersamaan, kehadiran netbook juga diperkirakan mempercepat pembenaran bisnis untuk menggelar teknologi LTE (long term evolution) yang melipatgandakan kecepatan kemampuan akses pita lebar seluler. Fenomena ini yang sebenarnya menjelaskan kenapa produsen raksasa ponsel, seperti Nokia, memperkenalkan produk netbook yang disebut sebagai Booklet 3G.

Mini 110

Perusahaan teknologi global seperti Hewlett-Packard (HP) di Indonesia pun mulai menjajakan beberapa produk komputernya pada salah satu operator sebagai bagian dari strategi untuk ikut menikmati besaran pelanggan operator yang mencapai puluhan juta. Dan, fenomena ini akan menjadi semakin luas karena beberapa alasan.

Pertama, kategori netbook memberikan margin yang sangat tipis yang harus dibagi pada mata rantai penjualan yang panjang dari distributor sampai ke front-end penjualan produk-produk komputer di toko-toko tradisional dan modern. Dan, kedua, kerja sama dengan operator memberi keuntungan selain menikmati besarnya pelanggan seluler, sekaligus berbagi biaya promosi dan pemasaran meraih pembeli baru.

Fenomena kerja sama ini menjadi mutlak dilakukan karena siklus produk yang dihasilkan oleh HP, misalnya, berlangsung dalam waktu yang sangat cepat dengan berbagai model notebook dan netbook yang diperkenalkan dalam waktu 1-2 bulan. Ketika konsentrasi dilakukan pada penjualan netbook dengan monitor sekitar 10 inci (diagonal 25,4 cm) dengan harga jual sekitar Rp 5 juta ke bawah, persaingan menjadi semakin ketat ketika pengapalan komputer jinjing untuk kuartal pertama tahun ini mencapai sekitar 530.000 unit atau dua kali lebih banyak dibanding komputer desktop.

Dari jumlah ini, diperkirakan jumlah netbook mencapai lebih dari 80 persen, termasuk produk HP yang terbaru HP Mini 110 (foto kiri), sebagai produk yang terus berevolusi dalam beberapa seri mengikuti sasaran penggunanya. Produk HP Mini 110 dengan harga yang bersaing memiliki berbagai fitur yang lebih ketimbang Mini 1000 dan memiliki pilihan warna yang bisa dipilih konsumen antara lain hitam, putih, dan pink.

Menggunakan prosesor Atom N280 buatan Intel Corp dengan kecepatan 1,66 GHz, memori 1 GB, dan kapasitas hard disk sebesar 160 GB, Mini 110 dengan monitor 10,1 inci, memiliki rancang desain menarik berbeda dengan netbook yang ada di pasaran. Ketika Mini 110 ini dipasang sistem operasi Windows 7 yang terbaru, terasa kalau netbook kecil ini menjadi lebih cepat dan menyenangkan untuk digunakan.

Rancangan baterai pada Mini 110 ini juga berbeda dengan netbook lain, memberikan tonjolan ke bawah untuk memuat baterai kapasitas besar agar bertahan lama. Dan, rancangan baterai ini pun menjadi penyangga menarik menjadikan Mini 110 berada pada posisi kemiringan sekitar 30 derajat, sehingga bagian touch panel lebih rendah, nyaman digunakan.

Untuk bisnis

Untuk kategori bisnis, HP memperkenalkan produk notebook yang terjangkau di bawah Rp 10 juta, seperti seri ProBook 4411s, memiliki rancangan keseluruhan yang menarik dikemas dalam warna merah maroon. Menggunakan prosesor Core2Duo T5870 dengan kecepatan komputasi 2 GHz, memori 1 GB, ukuran layar monitor 14 inci (diagonal 35,5 cm), serta menggunakan perangkat antarmuka ATI Mobile Radeon HD4330 dengan alokasi memori terpisah sebesar 512 MB.

Dilengkapi perangkat optik Blu-ray Combo DVD+/-RW DL Super Multi LightScribe Drive, produk ProBook 4411s ini menjadi notebook menyenangkan untuk digunakan bagi berbagai keperluan. Dengan berat mencapai 2,26 kg, termasuk baterai, ProBook buatan HP ini ideal untuk digunakan melakukan pekerjaan komputasi berat mengolah angka atau grafis.

Desainnya futuristik, memisahkan papan ketik QWERTY dalam struktur berbeda menghadirkan chiclet-style, dengan tombol-tombol yang terpisah satu sama lain. Bagian atas ditempatkan pengeras suara yang di tengahnya terpasang tombol on-off. ProBook 4411s berbeda dengan produk HP lain, membawa sebuah era baru komputer jinjing yang berkelas dan menunjukkan ciri penting Hewlett-Packard sebagai perusahaan teknologi ternama. (rlp)

Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia

Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...