Thursday, October 29, 2009

TEKNOLOGI INFORMASI IBM: Informasi Tak Terolah Membuat Keputusan Lamban

Perkembangan teknologi semakin membuat masyarakat terjebak dalam kejenuhan informasi yang sedemikian banyak. Hal ini sering membuat proses pembuatan keputusan menjadi lamban. Bahkan, tujuan untuk mengurangi biaya produksi dengan pemakaian teknologi menjadi tidak tercapai.

”Pencarian data kini sangat mudah dengan teknologi internet. Masyarakat dibanjiri dengan informasi, tetapi belum tentu semua itu berguna bagi masyarakat. Sekarang ini yang menjadi permasalahan adalah bagaimana membuat informasi menjadi bernilai dan tepercaya sehingga memudahkan kita untuk mengambil keputusan,” kata Dr Ambuj Goyal, General Manager Business Analytics and Process Optimization Customer Panel IBM, di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat, Selasa (27/10). Pernyataan Goyal disampaikan dalam pembukaan forum IBM Information On Demand 2009 yang dihadiri sekitar 7.000 peserta dari 60 negara.

Menurut Goyal, saat ini ada begitu banyak peluang pemanfaatan informasi sebagai pengendali strategis dalam melakukan inovasi, optimisasi bisnis, dan diferensiasi cara bersaing. ”Dengan mengolah informasi menjadi wawasan, perusahaan bisa bertahan dan berkembang serta menciptakan perusahaan yang lebih cerdas, industri dan infrastruktur yang lebih cerdas, dan pada akhirnya planet yang akan lebih cerdas,” ungkap Goyal yang bergabung dengan IBM sejak 1982.

Planet yang lebih cerdas

Gagasan planet yang lebih cerdas (smarter planet) beberapa tahun terakhir digaungkan IBM. ”Dengan perkembangan instrumentasi teknologi yang sangat pesat, antara lain ditandai dengan jumlah telepon seluler yang kini mencapai 4 miliar, pengguna internet yang sudah berada di angka 2 miliar, seharusnya manusia yang hidup di bumi ini bisa lebih cerdas,” kata Goyal.

Acara tahunan IBM yang berlangsung 25-29 Oktober itu juga diisi berbagai pameran yang menampilkan jasa dan produk baru perusahaan teknologi informasi dari seluruh dunia. Yang menarik, konferensi juga menampilkan motivator internasional Malcolm Gladwel. Ia mempunyai keunggulan mampu memunculkan gagasan baru dari ilmu-ilmu sosial dan menjadikan hal itu sesuatu yang gampang dipahami secara praktis dalam dunia bisnis. Malcolm juga menulis buku inspiratif yang semuanya merupakan best seller internasional.

Awal tahun ini IBM mengumumkan telah berhasil memecahkan rekor paten di Amerika Serikat. Sepanjang tahun 2008 perusahaan yang didirikan pada tahun 1896 di New York itu mampu menghasilkan 4.186 penemuan. Saat ini IBM tak hanya bergerak dalam bidang pembuatan perangkat keras, tetapi juga pengembangan peranti lunak, riset teknologi, dan yang terakhir serta justru menjadi pemasok pendapatan terbesar adalah konsultan penerapan teknologi informasi.

(Bambang Sigap Sumantri, dari Las Vegas, AS)

Rabu, 28 Oktober 2009 | 03:34 WIB

TEKNOLOGI NAVIGASI: Cara Mencari Arah Kiblat

Arah kiblat menjadi prasyarat menjalankan ibadah shalat. Di mana pun umat Islam menjalankan ritual keagamaan itu, mereka harus berkiblat ke Kabah di Mekkah. Penentuan arah kiblat tentu tak masalah bagi mereka yang berada di dekat Kabah. Bagaimana memastikannya jika berada jauh dari tempat suci itu?

Beberapa waktu lalu di internet muncul tulisan Usep Fathudin, mantan Staf Khusus Menteri Agama, yang mengungkap beragam arah kiblat masjid-masjid di Jakarta. Kesahihan kiblat suatu masjid, menurutnya, perlu dicapai sebelum masjid dibangun. Hal itu karena pergeseran 1 sentimeter saja bisa berarti 100 kilometer penyimpangan jaraknya.

Meskipun begitu, menurutnya, akurasi arah kiblat 100 persen memang tidak diwajibkan dalam shalat, seperti tersebut dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 144, yang memerintahkan untuk shalat ke arah kiblat. ”Kata-kata ’ke arah’ ditafsirkan sebagai usaha maksimal mengarahkan shalat kita ke Kabah di Mekkah,” urainya.

Walaupun begitu, upaya untuk mendekati ketepatan arah ke kiblat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Usep menyebutkan, penentuan arah kiblat Masjid Al Mukhlishun di Griya Depok Asri, Depok Tengah, yang berdiri tahun 2001, menggunakan suatu kompas kecil berbahasa Inggris, dengan tulisan Latin dan Arab.

Pada alat penunjuk arah itu tertulis bahwa untuk Jakarta dan sebagian besar kota di Indonesia, arah utara jarum kompas harus menunjuk angka 9 sebagai arah kiblat.

Kenyataannya, survei arah kiblat yang dilakukannya di berbagai masjid besar di Jakarta memperlihatkan, kompas yang digunakannya menunjuk arah yang berbeda-beda di tiap tempat ibadah itu, berkisar dari 7,5, hingga 9.

Penentuan arah kiblat yang dipakai umumnya mengacu pada arah utara geografis sebenarnya, yang memakai arah kompas atau jarum magnetik yang disebut ”pencari arah Kabah”. Arah jarum magnetik di kompas mengarah berdasarkan kutub magnetik Bumi di kutub utara.

Ternyata arah utara magnetik Bumi itu berbeda di tiap kota dari waktu ke waktu. Hal ini dipengaruhi oleh rotasi Bumi. Penelitian menunjukkan arah utara magnetik terus bergeser sekitar 4,8 kilometer per tahun. Pada tahun 2005 pergeserannya mencapai 800 kilometer dari kutub utara sebenarnya. Pada 2050 diperkirakan utara magnetik Bumi mendekati Siberia.

Qibla Locator

Penggunaan kompas sebagai penunjuk arah kiblat belakangan memang dianggap kurang akurat. Belakangan diperkenalkan peranti lunak Qibla Locator yang termuat dalam situs web http://www.qiblalocator.com.

Qibla Locator atau penunjuk arah kiblat antara lain dirancang oleh Ibn Mas’ud dengan menggunakan peranti lunak aplikasi Google Maps API v2, sejak tahun 2006. Pengembangan tampilan dan aplikasinya kemudian melibatkan Hamed Zarrabi Zadeh dari Universitas Waterloo di Ontario, Kanada.

Pada Qibla Locator versi Beta seri 0.8.7 itu dilengkapi dengan geocoding dari Yahoo, pengontrol arah pada citra peta, dan indikator tingkat pembesaran. Hingga September 2007 dihasilkan empat versi Beta dengan beberapa aplikasi tambahan, Geocoder, dan tampilan jarak.

Dengan Qibla Locator yang berbasis Google Earth ini dapat diketahui arah kiblat dari mana pun kita berada. Untuk mengetahuinya, di bagian atas situs itu ada kotak untuk memasukkan lokasi, alamat atau nama jalan, kode pos, dan negara atau garis lintang dan garis bujur.

Maka di sisi kanan gambar peta akan muncul besaran arah kiblat atau kabah dan jaraknya dari posisi lokasi yang kita masukkan. Peranti lunak ini, menurut Thomas Djamaluddin, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sangat membantu guna mengecek arah kiblat secara akurat. ”Ini bisa untuk koreksi massal masjid-masjid di Indonesia,” katanya.

Bayangan matahari

Thomas, pakar astronomi dan astrofisika, mengemukakan bahwa ada penentuan arah kiblat yang menggunakan bayangan Matahari. Sekitar tanggal 26-30 Mei pukul 16.18 WIB dan 13-17 Juli pukul 16.27 WIB Matahari tepat berada di atas kota
Mekkah.

Pada saat itu Matahari yang tampak dari semua penjuru Bumi dapat dijadikan penunjuk lokasi Kabah. Begitu pula bayangan benda tegak pada waktu itu juga dapat menjadi menentu arah ke kiblat.

Selain itu untuk daerah yang tidak mengalami siang, sama dengan Mekkah, waktu yang digunakan adalah saat Matahari di atas titik yang diametral dengan Mekkah. Waktu yang dapat dijadikan patokan penunjuk kiblat untuk wilayah tersebut adalah Matahari pada tanggal 12 hingga 16 Januari pukul 04.30 WIB dan 27 November hingga 1 Desember pukul 04.09 WIB.

Cara ini menurutnya paling mudah untuk mengoreksi arah kiblat, termasuk untuk garis saf di dalam masjid. Begitu mudah sehingga orang awam pun dapat melakukannya.

Rabu, 28 Oktober 2009 | 03:34 WIB

Penulis: Yuni Ikawati

TAMAN LAUT: Terumbu Karang Takabonerate Telah Mati

Ekspedisi Takabonerate 2009 pada Sabtu-Minggu (25/10) malam menyimpulkan bahwa terumbu karang di sejumlah titik penyelaman Taman Nasional Laut Takabonerate, Sulawesi Selatan, umumnya telah mati akibat penggunaan bom ikan. Pendataan Balai Taman Nasional Laut Takabonerate pada tahun 2009 juga memperkirakan, luasan kondisi dan luasan terumbu karang lima tahun terakhir ini berkurang.

Survei tahun 2004 menunjukkan, tutupan terumbu karang di Takabonerate masih sekitar 78 persen. Namun, hasil sementara survei tahun 2009 menunjukkan, tutupan terumbu karang di kawasan itu tinggal 60-70 persen.

Ratusan penyelam peserta ekspedisi diberi waktu sekitar tiga jam untuk melakukan penyelaman di perairan Takabonerate. Waktu penyelaman tak sebanding dengan waktu tempuh pelayaran dari Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar, menuju Takabonerate, lebih dari enam jam.

Salah satu penyelam, Kapten Jhonny Silalahi (45), menuturkan, tutupan terumbu karang di lokasi penyelaman pertama sudah jarang.

”Masih ada terumbu karang yang hidup, tetapi kerapatannya jarang. Di lokasi penyelaman kedua banyak karang mati karena bom ikan. Itu terlihat dari banyak karang berukuran besar yang roboh dan pecah. Kerusakan itu membuat penyelam sulit mendapatkan pemandangan bawah laut yang indah,” kata Silalahi di KRI Makassar, Minggu malam.

Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Laut Takabonerate, Ahmadi, menjelaskan, terumbu karang rusak karena proses alam dan ulah manusia.

Takabonerate memiliki potensi besar dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata, mengingat daerah itu adalah kawasan konservasi dengan karang atol terbesar ketiga di dunia.

Data situs Departemen Kehutanan menunjukkan, sedikitnya ditemukan 261 jenis terumbu karang dari 17 famili. Sejumlah 15 pulau gosong karang di taman nasional itu dikitari titik penyelaman yang memikat. (row)

SAMPAH KOTA: Konsep Daur Ulang Segera Diterapkan

Tiga investor bersama lembaga Japan International Cooperation Agency menawarkan kerja sama pengelolaan sampah kepada Pemerintah Kota Palembang. Melalui kerja sama ini akan diterapkan sistem manajerial sampah perkotaan, mulai dari pembenahan perilaku masyarakat, pemilahan sampah organik-nonorganik, standardisasi tempat pembuangan, sampai penerapan sistem daur ulang sampah untuk mengurangi volume sampah.

Demikian disampaikan Asisten II Pemerintah Kota Palembang Apriadi S Busri, Senin (26/10), di Palembang. Dia mengatakan, mengacu pada data Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang, volume sampah yang dihasilkan penghuni kota ini rata-rata mencapai 2.500 ton setiap hari.

Akibat cukup tingginya volume sampah harian tersebut, kapasitas tempat pembuangan akhir saat ini sudah mencapai sekitar 60 persen.

”Jika Kota Palembang tidak dilengkapi dengan sistem manajerial yang baik dalam hal pengelolaan sampah perkotaan, maka beberapa tahun lagi sampah akan menjadi persoalan yang serius di Palembang,” kata Apriadi.

Menurut Apriadi S Busri, persoalan penanganan sampah perkotaan ini akan segera terjawab dalam waktu dekat. Hal ini mempertimbangkan bahwa beberapa waktu lalu ada tiga konsultan dari Jepang yang menawarkan sistem pengelolaan sampah perkotaan terpadu kepada Pemerintah Kota Palembang.

Ketiganya meliputi Yachiyo Engineering Co Ltd (bergerak di bidang teknik dan arsitektur kota), Negoro Otsuki Chief Engineering International Department, dan Noboru Seiki Environment Planning Section Environment System Department International Division.

”Ketiganya merupakan mitra sebuah lembaga internasional yang fokus pada kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat perkotaan bernama Japan International Cooperation Agency atau biasa disebut JICA,” katanya.

Nilai tambah

Keterlibatan tiga mitra JICA ini tidak hanya pada persoalan manajerial sampah kota saja, tetapi juga mencakup nilai tambah dari sampah. Salah satunya terkait memberdayakan masyarakat, terutama para pengelola sampah, agar bisa mengelola sampah organik hingga menjadi pupuk kompos.

”Kalau sistem ini terwujud, tidak hanya pemerintah saja yang untung, tetapi juga warga karena ada nilai tambah yang dihasilkan,” katanya. (ONI)

KELISTRIKAN: Pemanfaatan Energi Panas Bumi Ditingkatkan

Pemerintah tengah menyusun draf peraturan presiden tentang proyek 10.000 megawatt tahap II. Dalam aturan itu, komposisi pemakaian energi alternatif panas bumi untuk pembangkit listrik akan ditingkatkan.

”Perpresnya disiapkan untuk segera ditandatangani Presiden,” kata Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) J Purwono, Senin (26/10) di Jakarta.

Draf peraturan presiden itu sudah disampaikan ke Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian. Menko Perekonomian akan membahas finalisasi keppres itu untuk kemudian diserahkan ke Sekretariat Negara.

Dalam draf perpres itu, komposisi untuk energi panas bumi akan dimaksimalkan. Sejumlah pembangkit yang rencananya menggunakan batu bara akan beralih menjadi memakai energi panas bumi.

Untuk pembangunan proyek percepatan 10.000 megawatt tahap II, Perusahaan Listrik Negara sudah mengidentifikasi
proyek untuk PLN dan proyek untuk swasta. Jadi, PLN membeli listrik dan jaminan dari pemerintah jika swasta yang membangun.

”Porsi untuk PLN cukup banyak. Presiden juga tidak menyebut angka dan panas bumi yang menyerap cukup banyak,” tambah Purwono. Departemen ESDM juga mengusulkan harga panas bumi diatur perpres.

Menurut data sementara, proyek 10.000 MW tahap II sebagian besar memakai energi baru dan terbarukan, yaitu panas bumi 4.733 MW (48 persen), dan tenaga air 1.174 MW (12 persen). Adapun sisanya memakai batu bara dan gas.

Terkait pendanaan, Bank BNI siap mengucurkan kredit untuk infrastruktur listrik. Pada tahun 2009, dari alokasi dana Rp 10 triliun, dana yang terserap hanya Rp 4 triliun.

Menurut Direktur Utama Bank BNI Gatot Soewondo, sisa alokasi kredit akan dialihkan untuk mendanai proyek kelistrikan tahun depan.

Sementara itu, Manajer Komunikasi Perusahaan PLN Ario Subijoko dalam siaran pers menyatakan, interkoneksi sistem kelistrikan antara Sumatera dan Semenanjung Malaysia akan terwujud tahun 2015.

Interkoneksi itu mampu menyalurkan daya 600 MW dan bertujuan saling mendukung pemenuhan kebutuhan listrik saat beban puncak. (EVY)

Wednesday, October 21, 2009

Indonesia: Selamatkan Lingkungan dengan Utang

Kebijakan pemerintah Indonesia terhadap penyelamatan lingkungan atas perubahan iklim ternyata malah menambah beban hutang negara hingga ratusan juta dollar.

"Umtuk mengatasi perubahan iklim, pemerintah Indonesia telah berhutang pinjaman pada pemerintah Perancis sebesar 500 juta dollar, 300 juta dollar dari pemerintah Jepang, ditambah 400 juta dollar yang segera menyusul di tahun 2010," kata Ketua Koalisi Anti Utang (KAU), Yuyun Harmono di Jakarta, Selasa (20/10) sore tadi.

Untuk itu, pemerintah diharapkan tidak lagi mencari untuk perubahan iklim dengan menambah beban utang negara.

Ditambahkan Yuyun, utang tersebut rencananya digunakan untuk mengembangkan kehidupan masyarakat di sektor pertanian dan kelautan, dengan membangun model irigasi pertanian guna menghindari pola bercocok tanam yang kerapkali berubah akibat daripada perubahan iklim.

"Perubahan iklim saja sudah jadi masalah bagi petani dan nelayan. Jadi jangan tambah beban masyarakat kecil dengan utang yang demikian besar" tutur Yuyun.

Langkah sesat pemerintah mengajukan utang bilateral untuk perubahan iklim yang demikian besar tersebut menunjukkan ketidakseriusan pemerintah. Hal ini terbukti dengan tidak adanya tindakan konkrit untuk keselamatan lingkungan, atas ekstrimnya perubahan iklim saat ini.

Perubahan iklim begitu dirasakan masyarakat pesisir pantai, karena mereka tidak lagi bisa melaut akibat naiknya gelombang. Untuk petani, musim kemarau yang panjang membuat musim panen gagal dan pola bercocok tanampun ikut berubah.

"Sayangnya, pinjaman luar negeri hingga ratusan juta dollar itu tidak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan." kata Berry Nahdian Furqan, Direktur Eksekutif Walhi, di Jakarta, Selasa (20/10) sore.

Selasa, 20 Oktober 2009 | 20:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com-  http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/20/20494575/selamatkan.lingkungan.kok.dengan.utang

Hutan Kita, Masa Depan Dunia


Pertemuan Para Pihak atau COP ke-15 di Kopenhagen, Denmark, membahas masa depan penanganan perubahan iklim di bawah protokol baru akan berlangsung dua bulan lagi. Sebagai negara dengan hutan terluas kedua setelah Brasil, Indonesia harus dapat menarik manfaat dari pertemuan ini. Ket.Foto:Anak-anak bermain di hutan yang masih tersisa di Gunung Pancar, Bogor, Jawa Barat. Sudah saatnya Indonesia membangun sektor kehutanan yang berorientasi lingkungan dan pro rakyat.

Setidaknya, Indonesia bisa menggalang dukungan internasional membangun sektor kehutanan yang pro kesejahteraan rakyat dan lingkungan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato pelantikan di Jakarta, Selasa (20/10), menegaskan keseriusan soal perubahan iklim. Presiden menyatakan, siap bekerja sama dengan negara lain, baik bilateral maupun multilateral, terkait isu perubahan iklim.

Pernyataan ini menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap pengurangan emisi karbon sampai 26 persen tahun 2020 yang disampaikan pada pertemuan G-20 di Pittsburg, AS, beberapa waktu lalu.

Perhatian internasional pada hutan kita memang tak terelakkan. Hutan Indonesia kini terluas kedua di dunia. Dari 126,8 juta hektar hutan, 23,2 juta ha adalah hutan konversi, 32,4 juta ha hutan lindung, 21,6 juta ha hutan produksi terbatas (HPT), 35,6 juta ha hutan produksi, dan 14 juta ha hutan produksi konversi (HPK).

Dunia khawatir melihat hutan kita yang rusak dengan cepat. Pemerintah mengklaim laju kerusakan hutan berkurang dari 2,3 juta ha per tahun periode 1997-2000 menjadi 1,08 juta ha per tahun periode 2000-2006.

Selama lima tahun terakhir, pemerintah berupaya menggenjot pembangunan hutan tanaman. Investor swasta dan masyarakat di sekitar hutan didorong membangun hutan tanaman. Mereka dapat menanam jati, sengon, dan mahoni yang diminati industri kayu olahan dan mebel atau kayu akasia yang pasti diserap industri pulp dan kertas berapa pun jumlahnya.

Pengembangan hutan tanaman mutlak menjadi kebutuhan karena tekanan kampanye negatif terhadap produk kehutanan Indonesia yang menguat. Berbagai produk kehutanan kita mulai kayu lapis, kayu gergajian, bubur kertas, sampai kertas, masih saja menghadapi tekanan pasar internasional.

Berbagai tekanan ini sempat menghancurkan industri kehutanan domestik. Tentu tidak sedikit perusahaan yang kolaps akibat harga produk kayu lapis atau kayu gergajian yang hancur dihantam kampanye negatif.

Data Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo), utilisasi industri kayu lapis nasional tahun 2009 diperkirakan tinggal 20 persen. Isu pembalakan liar, kayu ilegal, dan biaya ekonomi tinggi membuat daya saing produk Indonesia hancur di pasaran global. Kondisi ini kian parah dengan kampanye negatif produk kayu lapis Indonesia mengandung kayu ilegal.

Produksi kayu lapis tahun 2008 masih 3 juta meter kubik dengan tingkat utilisasi industri 30 persen. Tingkat utilisasi menggambarkan kapasitas produksi terpakai dari 100 persen yang ada. Ini berarti, tahun 2008, kapasitas produksi kayu lapis adalah 10 juta meter kubik. Volume produksi akan merosot menjadi 2 juta meter kubik akibat kolapsnya industri panel kayu di luar negeri.

Tantangan industri kehutanan nasional kini semakin berat. Dari 130 produsen kayu lapis hanya 40 pabrik yang masih beroperasi. Tahun 2009 diprediksi anjlok menjadi 20 unit.

Tantangan pasar

Walaupun industri kehutanan nasional mulai memakai bahan baku hutan alam dan hutan tanaman secara seimbang, banyak negara lain memberikan hambatan bukan tarif untuk produk kita. Seperti halnya di Amerika Serikat, muncul tuduhan dumping atas produk kertas berlapis asal Indonesia dan lain-lain.

Indonesia dituduh memproduksi kertas menggunakan bahan baku murah karena memanfaatkan kayu hasil pembersihan lahan dalam proses penyiapan areal hutan tanaman. Belum lagi tantangan lain yang lebih berat seiring pemberlakuan Lacey Act oleh AS. Lacey Act memberikan sanksi berat terhadap praktik perusakan hutan. Mereka yang terbukti melanggar dapat ditangkap dan diproses hukum di AS.

Untuk itu, pemerintah harus mampu meramu kebijakan ekonomi dan lingkungan kehutanan sehingga dapat memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang tersedia. Lobi pun harus diperkuat agar mereka tidak
hanya menentang pembangunan yang memanfaatkan kehutanan, tetapi juga harus berperan
aktif.

Sampai saat ini, baru Pangeran Charles dari Inggris yang berperan aktif membangun hutan Indonesia lewat proyek restorasi Hutan Harapan di Jambi. Pangeran Charles tengah menyusun formula untuk menghitung nilai hutan alam di Jambi untuk kemudian dijual dalam bentuk Prince Charles Bond.

Perusahaan atau negara-negara penghasil emisi yang masuk dalam Annex I, seperti Jepang dan AS diharapkan membeli surat berharga itu sebagai bentuk kontribusi mereka dalam mengurangi produksi emisinya. Hasil penjualan surat berharga itu kemudian akan dipakai untuk merestorasi hutan alam dengan tumbuhan alami sehingga kembali menjadi lestari.

Upaya Pangeran Charles mempromosikan agar dunia internasional mendukung restorasi hutan alam seluas 101.000 hektar di Jambi dan Sumatera Selatan bekas eksploitasi hutan alam oleh investor merupakan bukti nyata keberpihakan internasional. Setidaknya, mereka menyadari masa depan dunia kini ada di Indonesia.

Rabu, 21 Oktober 2009 | 03:53 WIB
Penulis: Hamzirwan
Source: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/21/03532015/hutan.kita.masa.depan.dunia

Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia

Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...