Sunday, December 6, 2009

Teknologi Mengurangi Emisi CO

Upaya menekan emisi karbon dioksida (CO) yang dihasilkan dari peralatan dan aktivitas rumah tangga dinilai sama pentingnya dengan upaya mengantisipasi berlipatnya jumlah penduduk, mengefektifkan pemakaian energi dari sumber daya alam, dan menanggulangi ancaman bahaya kelaparan atau bahaya kekeringan.

Demikian diungkapkan Ketua Asosiasi Industri Elektronik dan Teknologi Informasi Jepang (JEITA) Fumio Ohtsubo, yang juga Presiden Panasonic Corporation, dalam pidatonya mengenai nilai-nilai baru untuk kehidupan yang lebih baik, pada hari pertama penyelenggaraan ekshibisi multiproduk elektronik dan teknologi, CEATEC 2009, di Makahuri Messe, Chiba, Tokyo, 6 Oktober.

CEATEC Japan 2009, yang berlangsung sampai 10 Oktober, juga mengangkat tema ”Challenge! Aiming to Better People’s Live and Create Low-Carbon Society”, sebuah tantangan menuju kehidupan yang lebih baik dan menciptakan peradaban rendah emisi karbon.

Dalam pameran CEATEC Japan 2009, sejumlah perusahaan elektronik dan peralatan rumah tangga, di antaranya Panasonic dan Sharp, memperlihatkan konsep dan teknologi yang akan diterapkan untuk bangunan modern, termasuk rumah, tetapi ramah lingkungan.

Sharp menampilkannya dalam bentuk miniatur gedung perkantoran. Mereka memamerkan konsep gedung perkantoran yang dibangun dengan konsep ramah lingkungan dan menggunakan teknologi pengolahan energi bersumber tenaga surya. Untuk itu, Sharp memasang lembaran film sel surya pada kaca gedung perkantoran, termasuk pada atap selasar perkantoran.

Panasonic menampilkan Eco Ideas House, rumah konsep untuk gaya hidup modern, namun minim emisi CO. Pengurangan emisi CO dimulai dari efisiensi penggunaan energi listrik, upaya membuat energi listrik alternatif, dan penyimpanan energi listrik. Pengurangan emisi CO juga dilakukan dengan pemakaian U Vacua, insulator terbaru yang akan dipasang pada produk elektronik dan peralatan rumah tangga produksi Panasonic.

Ketika mengunjungi Panasonic Center Tokyo di Ariake, kami, yang difasilitasi PT Panasonic Gobel Indonesia, berkesempatan merasakan gaya hidup rendah emisi CO di fasilitas Eco Ideas House Panasonic. Eco Ideas House Panasonic di kompleks Panasonic Center Tokyo merupakan bentuk dari konsep serupa yang dipamerkan dalam CEATEC 2009.

Yang menarik, meskipun disebut rumah modern, rumah konsep Panasonic itu masih memakai arsitektur rumah tradisional Jepang. Alasannya, arsitektur rumah tradisional Jepang dinilai cocok untuk negara dengan empat musim.

Di dalam rumah dilengkapi peralatan elektronik, yang tentu saja produk Panasonic. Semua peralatan elektronik di rumah tersebut diintegrasikan dalam jaringan Viera Link. Melalui jaringan Viera Link tersebut, jumlah energi listrik yang digunakan maupun emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari di dalam rumah dan perkakas elektronik dapat dipantau dan diketahui dengan terukur.

Sistem tersebut juga mengontrol penggunaan energi listrik, termasuk peralatan pengatur suhu atau AC sehingga kondisi di dalam rumah tetap terasa nyaman meskipun cuaca di luar rumah berganti. Dengan rumah modern dan sistem manajemen energi tersebut, emisi CO dapat direduksi hingga 47 persen dibandingkan dengan rumah ”normal”.

Semangat Panasonic untuk menekan emisi CO seperti yang disampaikan Presiden Panasonic Corporation Fumio Ohtsubo dalam pidatonya di CEATEC 2009 benar-benar diaplikasikan dalam produk terbaru Panasonic. Fumio menegaskan, Panasonic terus mengembangkan teknologi sehingga dapat menghasilkan produk elektronik yang ramah lingkungan, efisien dalam pemakaian energi, serta perkakas rumah tangga irit listrik dan air. (COK)

Sabtu, 5 Desember 2009 | 04:25 WIB

China Lahap Pasar Telekomunikasi

China tidak hanya unggul menghasilkan produk-produk manufaktur, seperti barang-barang konsumsi rumah tangga, tetapi juga unggul dalam memproduksi teknologi telekomunikasi dan sudah menjadi ”pemain” dunia.

Saat ini China ibarat ”naga” dengan lidah api yang siap melalap dan melahap pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi. Salah satu perusahaan penyedia solusi jaringan teknologi telekomunikasi di China yang menguasai sebagian pasar dunia adalah Huawei Technologies Co Ltd.

Huawei Technologies—didirikan tahun 1988—bermarkas di kota Shenzhen, China. Sejak didirikan, Huawei Technologies mampu mengembangkan teknologi telekomunikasi dari jaringan infrastruktur telekomunikasi, perangkat lunak, sampai produk-produk telekomunikasi seluler, seperti modem atau telepon genggam.

Setelah 20 tahun berkiprah di sektor industri telekomunikasi di China, Huawei Technologies telah melayani 36 operator telekomunikasi dari 50 operator telekomunikasi di dunia. Hampir semua produk telekomunikasi Huawei sudah memasuki pasar negara-negara di Eropa, Asia, Afrika, Australia, dan Amerika.

Misalnya Belgia, Perancis, Brasil, Arab Saudi, Ghana, Thailand, dan Rusia. Bahkan, di Eropa, Huawei Technologies telah dipilih oleh operator telekomunikasi di Skandinavia, Teliasonera, untuk memasok jaringan teknologi seluler generasi keempat (long term evolution/LTE).

Sebagai perusahaan telekomunikasi yang terus merambah pasar dunia, menurut Kepala Komunikasi Perusahaan Huawei Technologies Ross Gan, nilai kontrak penjualan produk Huawei terus meningkat.

Sebagai gambaran, nilai kontrak penjualan produk Huawei Technologies tahun 2007 sebesar 16 miliar dollar AS. Tahun 2008, nilai kontrak penjualan Huawei Technologies mencapai 23,3 miliar dollar AS atau naik 46 persen. Tahun 2009, nilai kontrak ditargetkan mencapai 30 miliar dollar AS.

Dari nilai kontrak sebesar 23,3 miliar dollar AS tahun 2008 itu, sebanyak 75 persen merupakan kontrak dengan operator-operator telekomunikasi dunia. Sisanya, sebesar 25 persen, merupakan kontrak dengan operator di pasar China sendiri.

Dari nilai kontrak sebesar 23,3 miliar dollar AS itu, Huawei Technologies mampu menggaet nilai penjualan atau pendapatan 18,3 miliar dollar AS. Pendapatan bersih mencapai 1,15 miliar dollar AS pada tahun 2008.

Dengan nilai kontrak dan nilai penjualan yang besar, peran Huawei Technologies dalam perkembangan teknologi telekomunikasi dunia memang patut diperhitungkan, selain Ericsson dan Nokia Siemens Networks (NSN).

Menurut Ross Gan, Huawei Technologies ditargetkan mampu menempati peringkat ke-2 di dunia pada masa mendatang sebagai perusahaan penyedia solusi jaringan telekomunikasi seluler.

Mengapa produk dan teknologi telekomunikasi yang dikembangkan Huawei Technologies mampu menembus pasar dunia? Salah satu strategi industri adalah terus mengikuti evolusi perkembangan layanan teknologi telekomunikasi.

”Huawei Technologies memiliki komitmen untuk menghasilkan teknologi dan produk telekomunikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” kata Ros Gan. Untuk itu, Huawei menghabiskan biaya 2 miliar dollar AS untuk riset dan pengembangan pada 2008.

Bahkan, Huawei Technologies juga membangun universitas sebagai tempat belajar dan latihan di kawasan industri Huawei Technologies di Bantian Longgang, Shenzhen, China. Di tempat itu, tenaga-tenaga profesional Huawei dari sejumlah negara dididik dan dilatih.

Dengan riset yang dikembangkan, produk yang dihasilkan Huawei Technologies tidak hanya terbatas pada produk telepon genggam atau perangkat teknologi telekomunikasi seluler, seperti code division multiple access (CDMA), global system for mobile communications (GSM), dan worldwide interoperability for microwave access (WiMax).

Huawei Technologies juga mengembangkan jaringan infrastruktur telekomunikasi dari modem sampai stasiun penghubung telekomunikasi seluler (base transceiver station/BTS) untuk operator telekomunikasi. Bahkan, Huawei juga telah mengembangkan perangkat jaringan telekomunikasi BTS generasi keempat, yaitu SingleRan.

Di Indonesia, Huawei Technologies, melalui PT Huawei Tech Investment, juga menyediakan produk telepon genggam, modem, dan BTS untuk operator telekomunikasi.

Sebagai contoh, Huawei Tech Investment telah mendukung operator telekomunikasi seperti PT Telkom, Indosat, Telkomsel, Exelcomindo Pratama, Bakrie Telkom, dalam sejumlah layanan telekomunikasi seluler, seperti CDMA, GSM, transmisi, datacom, dan terminal.

Ledakan pasar

Pangsa pasar telekomunikasi seluler pada tahun-tahun mendatang akan semakin besar. Produk-produk teknologi telekomunikasi yang inovatif, berkecepatan tinggi, dan layanan yang variatif semakin menjadi kebutuhan pasar.

Bagaimanapun komunikasi sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Produk-produk teknologi telekomunikasi pada akhirnya terintegrasi dengan kebutuhan manusia sehari-hari dengan populasi di dunia mencapai miliaran jiwa.

Itu berarti pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi semakin menggiurkan. Kompetisi perusahaan penyedia solusi jaringan telekomunikasi, termasuk operator telekomunikasi, pun semakin ketat untuk meraih konsumen dan memberikan layanan yang prima.

Pihak manajemen Huawei Technologies memprediksi besarnya pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi. Diperkirakan, lebih dari satu miliar pengguna jaringan seluler dalam beberapa tahun mendatang. Lembaga-lembaga riset di bidang telekomunikasi, seperti Ovum dan Yankee Group, juga memprediksi hal yang sama.

Seberapa besar pangsa pasar produk teknologi telekomunikasi di dunia? Memang tidak mudah mendapatkan angka pangsa pasar produk telekomunikasi di dunia karena banyaknya produk teknologi telekomunikasi.

Akan tetapi, statistik dari Internet World Stats dapat memberikan sedikit gambaran. Dari data Internet World Stats yang diperbarui per Juni 2009, jumlah pengguna internet di dunia diperkirakan 1,66 miliar orang (24,7 persen) dengan perkiraan populasi 6,76 miliar orang.

Dari data Internet World Stats itu juga dicantumkan 20 negara dengan jumlah pengguna internet yang terbesar. Dari 20 negara itu—dengan perkiraan populasi penduduk 4,31 miliar orang—jumlah pengguna internet diperkirakan 1,27 miliar orang (29,5 persen).

Dari 20 negara itu, Indonesia menempati urutan ke-15. Dari jumlah populasi sekitar 240 juta orang, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta orang.

Dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet yang besar pada masa-masa mendatang, kebutuhan produk teknologi telekomunikasi, dari telepon genggam, laptop, komputer, modem, sampai jaringan infrastruktur telekomunikasi pun akan semakin besar.

Perusahaan atau industri penyedia solusi jaringan telekomunikasi, seperti Huawei Technologies, semakin gencar menawarkan produk-produk teknologi telekomunikasi yang inovatif, efisien, dan canggih. Perusahaan-perusahaan sekelas Huawei Technologies akan berkompetisi dalam memberikan layanan
teknologi komunikasi di dunia.

Di Indonesia, pengembangan jaringan infrastruktur telekomunikasi, termasuk di daerah-daerah terpencil, semakin menjadi tuntutan.

Apalagi Indonesia termasuk daerah yang rawan bencana sehingga peran telekomunikasi dan layanan informasi yang cepat sangat penting.

Operator-operator telekomunikasi, termasuk di Indonesia, diharapkan mampu mengembangkan infrastruktur telekomunikasi yang andal dan efisien.

Operator telekomunikasi diharapkan tidak hanya menawarkan produk-produk seluler yang murah untuk merebut pangsa pasar yang gemuk.

Senin, 2 November 2009 | 02:37 WIB

Oleh Ferry Santoso

Renewable Energy: Sel Surya Dibangun

Pada Tahun 2010, pemerintah menyiapkan pembangunan pabrik sel surya yang mampu memasok listrik hingga 50 megawatt per tahun. Langkah ini akan mengalihkan ketergantungan Indonesia terhadap produk sel surya yang selama ini diimpor.

”Ada dua alternatif sel surya yang akan diproduksi, yakni yang mampu memproduksi listrik dengan cepat serta sel surya yang lambat. Untuk membangun pabrik sel surya yang lambat itu diperlukan Rp 40 miliar-Rp 50 miliar investasi. Sementara ini, saya sudah menerima rencana kerja pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dari Len (PT Len Industry Persero) yang, antara lain, berisi rencana pembangunan pabrik itu,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Jumat (4/12).

Menurut Hatta, pemerintah akan mendorong industri panel surya domestik karena sumber tenaga listrik ini akan diarahkan sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah yang tingkat elektrifikasinya rendah.

Produk sel surya Len akan dipasarkan ke semua wilayah, tetapi pemerintah akan mengutamakan penggunaannya di daerah terpencil atau pulau terluar yang belum tersentuh listrik. ”Sel surya ini bukan sekadar produk diversifikasi pembangkit listrik, melainkan sumber untuk meningkatkan elektrifikasi. Sel surya ini lebih murah pemeliharaannya dan mudah penggunaannya, tetapi investasinya memang butuh dana cukup besar,” ujarnya.

Dalam kaitan itu, pemerintah mencari potensi pendanaan dari luar APBN, antara lain dari BUMN. Hal ini memungkinkan karena peluang usaha dalam industri panel surya sangat menjanjikan dan menguntungkan untuk dikomersialkan.

”Jadi, kemungkinannya nanti akan ada dukungan BUMN dan Len pelaksananya. Sebab, di Len sendiri sudah dikembangkan pabrik sel surya mini dengan kapasitas sekitar 8.000 watt dengan sel surya,” ujar Hatta.

Dibangun di Bandung

Di pasar internasional dikenal dua jenis sel surya yang banyak diperdagangkan, yakni crystalline silicon dan thin film (kertas film tipis). Harga jual crystalline silicon juga berlainan. Untuk multi-crystalline silicon 1,98 dollar AS atau Rp 19.800 per watt, sedangkan untuk jenis mono-crystalline silicon 2,7 dollar AS atau Rp 27.000 per watt.

Adapun harga jenis thin film terendah mencapai 1,76 dollar AS per watt. Len adalah BUMN yang berencana mengoperasikan pabrik panel surya pada 2011. Pabrik akan dibangun di Bandung, di lingkungan Kantor PT Len Industri. Pada tahap awal, kapasitas produksi diperkirakan sekitar 25 MW.

Sebelumnya, Dirut PT Len Industri Wahyuddin Bagenda menyebutkan, produksi 50 MW kemungkinan baru tercapai tahun 2014. Produksi diupayakan menjadi 100 MW hingga menjadi 250 MW pada 2025 (Kompas, 8 Oktober 2009).

Panel surya adalah alat untuk menyerap sinar matahari yang kemudian diubah menjadi tenaga listrik. Panel itu berbentuk lempeng bersegi empat.

Len memperhitungkan, nilai investasi untuk pabrik sekitar Rp 1,25 triliun jika yang diproduksi adalah teknologi thin film. Kepastian proyek ini menunggu keputusan presiden. (OIN)

Sabtu, 5 Desember 2009 | 03:34 WIB

Jakarta, Kompas - http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/05/03344465/sel.surya.dibangun.

Friday, December 4, 2009

Areal Hutan di Papua Susut 8,5 Juta Hektar

Areal hutan di Papua menyusut dari 31,5 juta hektar pada awal tahun 2000 menjadi 23 juta hektar saat ini. Hal itu antara lain akibat penggunaan hutan untuk kebutuhan pembangunan permukiman dan jalan, pertanian, perkebunan, industri hak pengelolaan hutan, serta ruang wilayah pemekaran kabupaten.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Marthen Kayoi di Jayapura, Papua, Kamis (3/12), mengemukakan, pemekaran kabupaten/kota turut punya andil dalam penyusutan jumlah luas hutan tersebut, mengingat setiap daerah baru mengakomodasi kebutuhan aktivitas pembangunan wilayah. Contohnya, pemekaran beberapa kabupaten di kawasan Pegunungan Tengah Papua mengoyak kawasan Taman Nasional Lorentz.

”Setiap pembangunan dan kegiatan ekonomi, seperti pemekaran daerah, pasti membutuhkan ruang dan ruang yang tersedia luas di Papua adalah hutan,” kata Marthen.

Provinsi Papua saat ini terdiri dari 29 kabupaten/kota. Sebelum tahun 2007, jumlah kabupaten/ kota masih 20. Dari sembilan kabupaten hasil pemekaran, tiga tahun belakangan ini tujuh di antaranya terletak di kawasan Pegunungan Tengah Papua, yakni Puncak, Nduga, Yalimo, Mamberamo Tengah, Dogiyai, Lanny Jaya, dan Intan Jaya. Dari jumlah itu, lima kabupaten bersentuhan dengan Taman Nasional Lorentz, yakni Puncak, Nduga, Yalimo, Memberemo Tengah, dan Lanny Jaya.

Menurut Regional Manager Forest Governance Integrity Programme Wilayah Asia Pasifik pada Transparency International Indonesia, Agustinus Taufik, hutan Papua merupakan hutan tropis yang menjadi benteng hayati terakhir bagi paru-paru dunia.

Papua, lanjutnya, memiliki kawasan hutan konservasi seluas 4,8 juta hektar yang terdiri dari 5 kawasan suaka alam berstatus cagar alam (Pegunungan Waylan, Kumbe, Pegunungan Cycloops, Pombo, dan Enarotali), 4 kawasan suaka margasatwa (Mamberamo Foja, Pulau Dolok, Danau Bian, dan Pegunungan Jayawijaya), serta 4 kawasan pelestarian alam (Taman Nasional Lorenz, Taman Nasional Wasur, Teluk Youtefa, dan Taman Wista Alam Nabire).

”Namun, wilayah dan kawasan yang seharusnya dilindungi itu sejak beberapa tahun lalu justru mendapat tekanan berupa perambahan untuk pertanian, permukiman, pembangunan infrastruktur, dan tak jarang illegal logging,” ujar Agustinus. (ich)

Jumat, 4 Desember 2009 | 03:14 WIB

Jayapura, Kompas -  http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/04/0314432/areal.hutan.di.papua.susut.85.juta.hektar

Korupsi di Sektor Kehutanan Berakibat Rp 20 Triliun Pemasukan Hilang Setiap Tahun

Komisi Pemberantasan Korupsi diminta memprioritaskan penanganan kasus korupsi di sektor kehutanan. Itu karena potensi pemasukan tahunan yang hilang akibat korupsi dan salah kelola di sektor kehutanan mencapai Rp 20 triliun per tahun.

Hal itu disampaikan Wakil Direktur Program Human Rights Watch (HRW) Joe Saunders dan peneliti hukum Indonesia Corruption Watch (ICW), Febri Diansyah, dalam konferensi pers di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Kamis (3/12). Sebelumnya, mereka menyampaikan hasil penelitian tentang korupsi di sektor kehutanan itu kepada pimpinan KPK.

HRW menyampaikan penelitian berjudul Dana Liar: Konsekuensi Pembalakan Liar dan Korupsi di Sektor Kehutanan Indonesia pada Hak Asasi Manusia. ICW menyampaikan penelitian tentang korupsi dalam pemberantasan illegal logging.

”Setiap tahun, potensi kerugian negara akibat korupsi dan salah kelola di sektor kehutanan mencapai Rp 20 triliun. Bahkan, tahun 2006 angkanya lebih besar dari semua pengeluaran negara untuk sektor kesehatan nasional dan daerah,” kata Joe.

Nilai kehilangan tahunan ini, menurut Joe, juga setara dengan perhitungan Bank Dunia terhadap anggaran yang cukup untuk memberikan layanan dasar kepada 100 juta penduduk miskin selama dua tahun.

Potensi kerugian negara itu, kata Joe, terjadi karena tak transparannya sistem pendataan di sektor kehutanan dan perkebunan sehingga masyarakat tak bisa mengontrolnya. Faktor lain karena lemahnya penegakan hukum. ”Faktor kedua ini yang mendorong kami datang ke KPK. Apalagi, KPK memiliki kemampuan untuk mengejar pelaku sampai ke pemodal,” kata dia.

Febri mengatakan, dari penelitian ICW, sebagian besar kasus pembalakan liar yang ditangkap kejaksaan dan polisi adalah aktor kelas bawah (operator, sopir, atau petani), yaitu sebanyak 76,10 persen. Aktor kelas atas (penegak hukum, pejabat kehutanan, kontraktor, direktur, atau cukong) yang ditangkap hanya 23,9 persen. Itu pun sebagian besar aktor kelas atas, sekitar 71,43 persen, divonis bebas.

Febri berharap KPK menjerat aktor kelas atas dalam kasus pembalakan liar ini. (aik)

Jumat, 4 Desember 2009 | 03:18 WIB

Jakarta, kompas -  http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/04/03183253/rp.20.triliun.pemasukan.hilang.setiap.tahun

8.000 Rumah Biogas Dibangun

Pemerintah Kerajaan Belanda melalui kedutaan besarnya di Indonesia memberikan bantuan Rp 16 miliar untuk pembangunan 8.000 unit reaktor biogas rumah. Biogas rumah atau ”biru” tersebut memanfaatkan kotoran sapi.

Pembangunan biogas rumah yang ramah lingkungan tersebut untuk mendorong penggunaan energi terbarukan, sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.

Programme Manager Indonesia Domestic Biogas dari Hivos, lembaga swadaya masyarakat yang mengoordinasi pengembangan program ”Biru di Indonesia”, Robert de Groot, mengatakan, biogas rumah tersebut sasarannya adalah para peternak sapi perah di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

”Setiap peternak yang mau membangun biogas rumah akan mendapat subsidi Rp 2 juta,” kata Robert de Groot.

Kepala Divisi Ekonomi dan Perdagangan Kedutaan Besar Belanda Renate Th Pors menambahkan, peternak menjadi sasaran program karena bahan bakunya yang berupa kotoran sapi melimpah. Sebagian kotoran dimanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri.

”Pemberian subsidi diharapkan bisa mendorong minat peternak untuk membangun biogas rumah serta merawatnya dengan baik,” ujarnya.

Kubah beton


Robert mengatakan, program Biru dikembangkan menggunakan reaktor kubah beton karena lebih kokoh dan tahan dibandingkan plastik yang sudah banyak digunakan selama ini. Desain tersebut sudah diaplikasikan di Nepal dan mampu bertahan di iklim subtropis hingga 20 tahun.

Biaya pembuatan reaktor bervariasi tergantung dari jumlah kepemilikan sapi. Untuk peternak dengan kepemilikan sapi 3-4 ekor, misalnya, dapat membuat reaktor biogas berkapasitas 6 meter kubik dengan biaya Rp 6,3 juta.

”Karena telah disubsidi Rp 2 juta, peternak tinggal menambah Rp 4,3 juta saja dan dapat dimanfaatkan selamanya,” ujar Robert de Groot.

Untuk reaktor biogas berukuran 6 meter kubik, dibutuhkan kotoran sapi sebanyak 45 kilogram per hari. Ini dapat menghasilkan 1,5 meter kubik gas per hari atau setara dengan penggunaan kompor selama enam jam per hari tanpa henti. Dalam program ini, volume reaktor biogas terbesar yang ditawarkan berukuran 12 meter kubik dengan biaya konstruksi hingga sebesar Rp 8,8 juta.

Dalam kesempatan itu, Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Ratna Ariati mengatakan, pemerintah sangat mendukung program Biru tersebut. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006, pemerintah menargetkan penggunaan energi terbarukan pada tahun 2015 bisa mencapai 15 persen dari keseluruhan konsumsi energi nasional.

”Saat ini penggunaannya belum mencapai 1 persen. Kami berharap pemanfaatan energi terbarukan dapat dimulai dari skala masyarakat terkecil, yakni keluarga. Lembang merupakan salah satu potensi besar karena setidaknya terdapat 6.000 peternak sapi perah di daerah ini,” ujarnya.

Teja Harjaya, biogas engineer CV Khasanah Bahari, yang menjadi pelaksana konstruksi program Biru ini mengatakan, setelah diolah dalam reaktor, biogas yang dihasilkan dari kotoran hewan sama sekali tidak berbau seperti layaknya bahan gas pada umunnya. Pihaknya memberi garansi ketahanan konstruksi hingga tiga tahun pada para konsumen.

”Kami juga berharap, pembuatan konstruksi reaktor biogas rumah tangga mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Dengan demikian, masyarakat bisa lebih percaya dan tertarik,” katanya. (GRE)

Jumat, 4 Desember 2009 | 03:46 WIB

Bandung, Kompas -  http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/04/03465356/8.000.rumah.biogas.dibangun

Menata Lingkungan Hidup Harus Kembali Kepada Kearifan kepada Alam

Bencana gempa di berbagai daerah yang sudah dan masih mengintai, ancaman banjir, dan fenomena perubahan iklim global memberikan pemahaman bahwa alam tidak bisa dikuasai. Alam harus menjadi mitra dan sahabat dalam menjalankan perintah Tuhan di bumi ini.

Tentunya ini bertentangan dengan konsep kosmologi sains modern yang memahami alam hanya sebagai obyek. Obyek untuk diteliti, dieksploitasi, bahkan dihancurkan. Itulah paradigma Cartesianisme, yang menganut logika oposisi biner, subyek-obyek, hitam-putih.

Akibatnya, alam rusak oleh keserakahan manusia. Atas nama keuntungan ekonomi, sumber daya alam dieksploitasi. Iklim terus berubah, dan bencana alam terjadi di mana-mana. Bukan alamnya yang marah, melainkan manusia berada di posisi yang bertentangan dengan aturan alam yang sudah ada semenjak alam ini diciptakan (hukum alam). Jangan marah jika banjir karena hutan dirusak dan pembangunan perumahan tidak memerhatikan aspek keseimbangan lingkungan.

Lihatlah di Jawa Barat, betapa banyak hutan rusak. Bandung yang dulu dikenal sejuk kini mulai terasa panas. Padahal, dulu Bandung disebut Parijs van Java, kota tempat para inohong Belanda berwisata, menikmati keindahan alam Bandung yang sejuk, segar, sehat, dan tentunya membuat betah untuk tinggal.

Kini, kalau kita perhatikan wilayah utara Bandung, pembangunan perumahan yang serampangan membuat daerah resapan air itu pun rusak. Tangkubanparahu akan dimanfaatkan tanpa memerhatikan keseimbangan lingkungan. Lihat juga sungai yang mengalir di Jabar. Bisa dihitung dengan jari, sungai yang masih bersih. Limbah pabrik dan rumah tangga yang tidak dikelola telah merusak ekosistem alam. Maka, jangan marah jika bencana siap mengintai setiap saat.

Kearifan lokal

Manusia modern telah melupakan nilai hidup yang telah lama diajarkan nenek moyang. Nilai hidup itu bernama kearifan lokal. Pada level diskursus filsafat, kearifan lokal adalah salah satu model filsafat abadi (perenial). Disebut filsafat perenial karena konsep dasarnya sudah ada semenjak manusia berfilsafat.

Adapun saat ini karena dominasi filsafat modern yang melupakan nilai-nilai tradisional, keberadaannya menjadi kurang mendapatkan perhatian. Saatnya manusia menyadari bahwa paradigma sains modern yang materialistik sudah tidak bisa menjawab persoalan.

Dalam konsep filsafat perenial, alam dan manusia dipahami sebagai makro dan mikro kosmos. Keduanya memiliki akar sama, produk kreatif Tuhan. Karena berasal dari Tuhan, tak ada yang berhak merusak satu sama lain. Makro dan mikro hanya soal peran. Keduanya harus saling menjaga, melindungi, dan membangun harmonisasi. Merusaknya berarti mengingkari hakikat awal penciptaan. Makro dan mikro harus saling melengkapi. Namun, karena manusia diberi kewenangan untuk mengelola alam, yang dibolehkan adalah memanfaatkan dan tetap menjaga keberlangsungannya.

Wacana soal hubungan makro dan mikro kosmos menjadi perhatian para intelektual dunia dewasa ini. Agama dan nilai tradisional yang semula dipinggirkan oleh sains modern kini mulai mendapatkan tempat dan ikut mewarnai. Muncullah berbagai upaya mencari titik temu di antara sains, agama, dan nilai tradisional masyarakat.

Dalam level praktis, mengakar dari semenjak nenek moyang, kearifan lokal jangan dipandang sebelah mata. Dalam konteks keseimbangan alam, kearifan lokal yang berkembang mengajarkan arti penting menjaga alam. Konsep hutan larangan dan berbagai adat istiadat di masyarakat banyak memberikan informasi kepada kita bahwa alam itu diyakini harus dijaga sepenuhnya.

Konsep huluwotan (sumber mata air), tempatnya jin atau makhluk gaib lainnya, adalah strategi pencegahan cerdas yang dilakukan nenek moyang kita. Namun, kini manusia lebih jahat daripada jin sehingga tidak takut dengan berbagai pemali (larangan dalam masyarakat Sunda). Akibatnya, alam pun dirusak.

Dalam tradisi Sunda, misalnya, ada pepatah yang menyatakan mipit kudu amit, ngala kudu bebeja (memetik yang seharusnya perlu dipetik saja, mengambil harus memberitahu). Pepatah ini bukan hanya soal jangan mencuri, melainkan juga harus memerhatikan alam, bukan hanya kepada pemiliknya, manusia, melainkan juga kepada pencipta awalnya, yaitu Tuhan. Jadi, ketika memanfaatkan alam, tanaman ataupun sumber daya alam harus diperhatikan keseimbangan ekologis, kelanjutannya (jangan mengambil yang masih kecil atau yang baru tumbuh), dan kelestariannya.

Secara global, soal ini menjadi isu perubahan iklim global (climate change), yaitu ketika dunia ini sudah mulai rusak akibat rusaknya lingkungan. Hutan rusak oleh industri kertas yang serakah, laut rusak oleh sampah dan limbah nuklir, sungai dan air semakin rusak karena dimanfaatkan tanpa memerhatikan keseimbangannya.

Pendosa besar

Sudah saatnya kembali memerhatikan nilai agama dan kearifan lokal sebagai prinsip kearifan kepada alam. Ada beberapa prinsip kearifan kepada alam yang bisa dirumuskan.

Pertama, dalam konsep pembangunan, bukan alam yang menyesuaikan dengan kehendak manusia, melainkan manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan alam. Alam diciptakan Tuhan dengan prinsip kausalitas, kada, dan kadar. Alam diciptakan Tuhan berikut potensinya.

Pembangunan tak boleh merusak alam. Jika memerhatikan prinsip awal kearifan kepada alam, tidak ada istilah pembangunan permukiman dan kota di wilayah rawan gempa. Demikian juga, desain bangunan yang dibuat tentunya akan menyesuaikan dengan potensi gempa. Bangsa Jepang terbukti mampu membuat model bangunan yang tahan gempa. Masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya terbukti memiliki kecerdasan lokal dalam memahami bencana gempa.

Prinsip berikutnya adalah alam tidak pernah menghancurkan manusia, tetapi manusialah yang merusak alam. Karena itu, sebaiknya dikembangkan sikap peduli terhadap alam di seluruh lapisan masyarakat. Perusak alam, dalam perspektif teologi kearifan kosmologis, adalah pendosa besar. Salah satu pembuktian iman kepada kada dan kadar adalah dengan tidak merusak alam.

Prinsip ketiga dalam konsep kearifan alam adalah bahwa makro dan mikro kosmos, yaitu lingkungan, tumbuhan, hewan, dan manusia, harus harmonis dalam satu kesatuan. Sebagai sebuah siklus kehidupan, semuanya, pada hakikatnya, tetap. Menggunakan teori efek kupu-kupu, alam ini adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Membunuh seekor ulat di belah bumi barat akan merusak ekosistem belahan bumi lain.

Alam kita telah rusak, jangan terus menambah kerusakan. Kini, bukan hanya soal kita, melainkan generasi anak cucu ke depan. Haruskah kita mewariskan kerusakan?

Penulis: IU RUSLIANA Dosen Teologi dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, UIN SGD Bandung

Jumat, 4 Desember 2009 | 16:41 WIB

Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/04/1641459/.kearifan.kepada.alam

Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia

Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...