Dengan adanya T-Cash ini, Telkomsel menjadi integrator sekaligus service provider yang didukung oleh Bank Indonesia (regulator), para merchant penjual barang dan jasa (antara lain : Indomaret, Fuji Image Plaza, dan Departemen Pendidikan Nasional sebagai penyedia konten akademis yang bisa dibeli dari berbagai perguruan tinggi [silabus dan jurnal ITB, ITS, UGM, UI, dan lain-lain]), kalangan bank sebagai tempat penyimpanan dana (BNI, BRI, Mandiri, dan sebagainya), dan Finnet sebagai switching provider untuk proses settlement dan rekonsiliasi.
Diklaim Bambang, jumlah pengguna T-Cash yang terdaftar sudah mencapai 87 ribu per Oktober 2008. Layanan ini sudah bisa dilakukan di sekira 3.000 lokasi outlet di Jawa, Bali, dan Sumatera (Lampung dan Medan). Sebanyak 50 perusahaan sudah tergabung dalam layanan T-Cash ini. Dari jumlah pengguna itu, sekira 14 ribu pelanggan tercatat telah melakukan pembelanjaan dan sekitar delapan ribu melakukan pengisian (transaksi). “Sebenarnya, trafiknya sangat fluktuatif, tergantung promosi. Karena itu, kami akan terus melakukan edukasi layanan mobile wallet ini,” ujar Bambang.
Selain Telkomsel, operator seluler yang sudah mengantungi izin BI untuk menawarkan layanan e-money ini adalah Indosat (Dompetku) dan Telkom (FlexiCash). Menurut Guntur Siboro, direktur pemasaran Indosat, diperkenalkannya layanan Dompetku ini karena potensi bisnis dari layanan e-money bergerak ini sangat besar. Pelanggan selular di Indonesia yang jumlahnya sudah mencapai lebih dari 110 juta merupakan pangsa pasar potensial untuk menjadi pelanggan m-wallet. Bahkan, potensi mobile wallet ini sangat besar jika semua jenis transaksi (P-2-P; P-2-M; M-2-P; M-2-M) sudah dapat dilakukan oleh para penyelenggara mobile digital payment (operator).
Menurut Guntur, untuk mengembangkan layanan m-wallet ini aplikasi khusus hanya diperlukan di sisi operator telekomunikasi, yang umumnya disebut aplikasi Mobile Wallet/U-Market. Layanan Dompetku sendiri secara komersial baru diluncurkan pada 21 November 2008 dan sifatnya masih terbatas. Jumlah merchant yang bergabung baru dua, yakni Alfamart dan Kopindosat. Namun, para pengguna sudah bisa melakukan transaksi menggunakan Dompetku di 100 toko 24 jam Alfamart di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya, serta di Koperasi Indosat.
Diakui Guntur, untuk memperkenalkan layanan Dompetku ini, perlu dilakukan sosialisasi dan pengembangan layanan yang membutuhkan waktu hingga dua tahun. “Setelah waktu sosialisasi dan pengembangan selesai, Dompetku akan menjadi salah satu penyumbang kontribusi pendapatan Indosat di kemudian hari,” ucapnya, yakin.
Di sisi lain, lanjut Guntur, suksesnya e-money/m-wallet ini akan sangat tergantung pada kerjasama yang baik antara bank dengan penyelenggara m-wallet. Juga, antara penyelenggara m-wallet itu sendiri (interoperability), dan standarisasi yang dilakukan antara penyelenggara m-wallet di Indonesia.
Ke depan, beberapa fitur layanan akan dikembangkan dalam layanan Dompetku. Antara lain: pembayaran Bill Payment, pengembangan jaringan H2H (host to host) antara server m-wallet Indosat dengan merchant, pengembangan Remittance in-World system, dan lain-lain.
Di luar industri telekomunikasi (non-perbankan), beberapa bank juga telah menggaet izin BI untuk menerbitkan kartu pra-bayar e-money. Antara lain BCA (kartu Flazz), Bank DKI (JackCard untuk pembayaran TransJakarta), Bank Lippo, Bank Mandiri (kartu Touch and Go), dan Bank BNI.
Sebagai bank yang cukup inovatif dalam hal fitur layanan, BCA pada awal tahun lalu memperkenalkan Kartu Flazz. Dijelaskan Stephen Liestyo, GM BCA, Kartu Flazz dikembangkan menggunakan teknologi chip dan RFID (Radio Frequency Identification), sehingga transaksi menjadi cepat dan nyaman. Otorisasi transaksi langsung dilakukan oleh chip di kartu. Pada akhir hari merchant akan melakukan settlement atas transaksi yang terjadi ke bank (proses settlement ini mirip dengan transaksi kartu debit dan kartu kredit). “Potensi pasar Kartu Flazz ini sangat besar. Sebab, transaksi pembayaran yang bersifat ritel dan membutuhkan kecepatan transaksi seperti fast food, food court, parkir, minimarket atau SPBU serta bisnis ritel lain, masih sangat dominan,” ujar Stephen.
Sejauh ini, Kartu Flazz baru berlaku di Jabodetabek. Meski begitu Kartu Flazz ini sudah dapat dipergunakan di ribuan tempat berbelanja, seperti restoran cepat saji (Mc Donald's, KFC, Texas Chicken), kawasan parkir (SecureParking dan Sun Parking), dan merchant ritel (Carrefour, Hypermart, Indomaret, Alfa Retailindo, Alfa Mart, Alfa Midi, Circle K), serta merchant lain di Jabodetabek yang berlogo Flazz. Bahkan, SPBU Pertamina dan Petronas, sudah dapat menerima Kartu Flazz sebagai alat pembayaran. “Tren transaksi pembayaran dengan menggunakan kartu prabayar, seperti Kartu Flazz ini, terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan nasabah. Perkembangan transaksi, jumlah merchant dan jumlah kartu Flazz saat ini meningkat cukup pesat dari bulan ke bulan,” Stephen mengklaim.
Ke depan, BCA menargetkan penggunaan Flazz sebagai pilihan utama transaksi pembayaran nasabah untuk transaksi pembayaran ritel yang membutuhkan kecepatan transaksi. “Flazz dikembangkan untuk meningkatkan layanan nasabah dengan memberikan kemudahan, kenyamanan, keamanan, dan kecepatan dalam bertransaksi,” tegas Stephen.
Selain para penyelenggara e-payment, beberapa perusahaan lain pun terlibat dalam penyediaan infrastruktur untuk mendukung layanan tersebut. Antara lain: PT Excelcomindo Pratama yang memperkenalkan tiga solusi untuk mendukung layanan nontunai ini, yakni EDC Mobile (electronics data capture), Wimax ATM, dan Mobile Banking. Lalu ada PT Finnet Indonesia yang menyediakan proses switching yang akan memfasilitasi terjadinya interoperabilitas antarpenyelenggara layanan. Kemudian PT Sigma Citra Caraka, yang menyediakan self service terminal, semacam perangkat yang dilengkapi fitur pembayaran seperti tagihan telefon, listrik, dan kartu kredit, termasuk berbagai pembelian seperti tiket konser, voucher isi ulang, dan barang yang tersedia di toko online. Juga, ada beberapa pendukung lain seperti PT Artajasa, PT Abhimata Citra Abadi, WIN, PVSTAR, dan PT eMobile Indonesia. Pendeknya, sukses menuju masyarakat tanpa uang tunai memang butuh dukungan banyak pihak. (*)
Penulis: A Mohammad B.S
(Catatan: ada bagan mengenai konfigurasi m-wallet -- e-money berikut tabel penyedia dan jenis e-money/digital payment.)
18 Desember 2008
Source:http://202.59.162.82/swamajalah/portofolio/details.php?cid=1&id=8468&pageNum=3
Membantu Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank Dalam Penerapan Sustainable Finance (Keuangan Berkelanjutan) - Environmental & Social Risk Analysis (ESRA) for Loan/Investment Approval - Training for Sustainability Reporting (SR) Based on OJK/GRI - Training for Green Productivity Specialist (GPS) by APO Methodology. Hubungi Sdr. Leonard Tiopan Panjaitan, S.sos, MT, CSRA, GPS di: leonardpanjaitan@gmail.com atau Hp: 081286791540 (WA Only)
Monday, November 22, 2010
E-Money, Transaksi Gaya Baru
KINI, membawa uang jutaan rupiah dalam dompet makin langka. Banyak orang memilih menyimpan uang dalam kartu plastik, seperti ATM, kartu debit, kartu voucher, kartu kredit, atau kartu pembayaran lain. Cara itu lebih praktis dan aman. Pemakaian uang menjadi lebih terkontrol dan optimal sampai ke rupiah terkecil.
Itu berbeda dari pemakaian uang kontan, yang hanya memiliki pecahan tertentu, yang menyebabkan kita sering menerima kembalian berupa permen jika tak ada pecahan kecil. Saat ini, pemakaian uang kontan biasanya tinggal untuk transaksi dengan nominal kecil atau di toko-toko yang belum mengadopsi teknologi pembayaran elektronik.
Menurut catatan Bank Indonesia, kartu ATM & kartu debit yang telah dikeluarkan hingga tahun 2009 sebanyak 41.151.850, sedangkan kartu kredit 12.259.295. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka itu menunjukkan peningkatan lebih dari 10%. Uang yang ditransaksikan pun triliunan rupiah (www.bi.go.id). Itu menunjukkan masyarakat makin familiar dan teredukasi perihal pemakaian kartu-kartu tersebut.
Tahap berikutnya dari kemajuan teknologi di bidang keuangan adalah alat pembayaran elektronik. Saat ini, kita sering melihat alat pembayaran model itu. Di toko-toko eceran modern, seperti Carrefour, sekarang sudah terpajang mesin pembaca dari BCA Flazz. Alfamart dan Indomaret pun sudah menjual voucher/kartu Flazz Prepaid. Kartu yang disediakan dari pecahan Rp 25.000 itu bisa digunakan sebagai kartu belanja selayaknya uang biasa.
Juga ada Kartu E-Toll dari Bank Mandiri yang bisa digunakan untuk transaksi bayar tol di Jakarta dan Bandung. Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini menuturkan saat ini pemegang Kartu E-Toll 150.000 dengan transaksi setiap bulan lebih dari 1 juta dengan nilai sekitar Rp 8,5 miliar. Angka itu diperkirakan meningkat pesat setelah penandatanganan kerja sama baru dari Mandiri dengan empat operator jalan tol baru.
PT Kereta Api tak mau kalah dalam mengadopsi teknologi itu. Kereta api Jabodetabek saat ini sedang dalam tahap persiapan penerapan pemakaian e-money berupa kartu mirip Kartu E-Toll. Bekerja sama dengan PT Telkom yang mengantongi izin penyelenggaran electronic money & remmitance dari Bank Indonesia, kemungkinan dalam waktu dekat PT Kereta Api menerapkan teknologi itu untuk pengguna setia Prambanan Express (Pramex). Para pekerja komuter (Solo-Jogja) bakal tak perlu ribet lagi dengan antre beli tiket. Dengan kartu yang sama, kelak akan diintegrasikan untuk pembayaran di Trans Jogja dan Solo Batik Trans.
Semua itu sangat memungkinkan. Layanan transportasi akan terintegrasi. Masyarakat mendapat kemudahan moda pembayaran, keamanan, dan kenyamanan.
Kini, negara seperti Kenya pun mulai akrab dengan e-money. Dengan sponsor Pemerintah Inggris (Department for International Development/DFID), mereka mengembangkan Mobile-Pesa (pesa dalam bahasa Swahili berarti uang). M-Pesa sangat sukses dikembangkan di negara yang bisa dikategorikan bukan negara maju itu. Mereka bisa melakukan transfer uang, tarik tunai, dan kegiatan keuangan sederhana lain dengan aplikasi sederhana yang dikembangkan Vodafone itu. Kesuksesan di Kenya mendorong pengembangan fitur serupa untuk Tanzania dan Afganistan. Sekarang, lazim seorang petani pergi ke sebuah toko kecil sambil membawa telepon seluler untuk mengambil uang yang dikirimkan sang anak.
Malaysia memiliki PosPay yang bisa digunakan untuk pembayaran tagihan, isi ulang pulsa, isi ulang internet, belanja online, dan lain-lain. Para pahlawan devisa kita di Hong Kong juga sangat familiar dengan Octopus Card. Kartu yang dijual mulai dari 20 dolar Hong Kong itu bisa digunakan untuk membayar parkir, naik trem, hingga belanja barang nyata. Kartu itu dikalim sudah tersebar lebih dari 14 juta.
Jepang adalah negara paling “digital” dalam urusan keuangan. Hampir semua lini transaksi sudah mengadopsi e-money. Keunggulan teknologi dan sumber daya manusia di negeri itu memang memungkinkan untuk melaju.
Penerapan e-money dan turunannya jelas akan menyebabkan efisiensi bagi pemilik, penjual, dan pemerintah. Negara-negara sudah menerapkan e-money, dan sejauh ini dampak negatifnya relatif sedikit. Negara kita pun semestinya mampu menerapkan teknologi itu demi tata kelola yang makin efisien, tanpa kebocoran, makin teratur, dan teradministrasikan dengan baik.
Penulis: Taryoko, Senior Instruktur Learning Center PT Telkom, peserta Program Magister Manajemen Universitas Diponegoro Semarang
18 Okt 2010
Source:http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=127049
Itu berbeda dari pemakaian uang kontan, yang hanya memiliki pecahan tertentu, yang menyebabkan kita sering menerima kembalian berupa permen jika tak ada pecahan kecil. Saat ini, pemakaian uang kontan biasanya tinggal untuk transaksi dengan nominal kecil atau di toko-toko yang belum mengadopsi teknologi pembayaran elektronik.
Terus Meningkat
Perkembangan teknologi yang kian maju memunculkan banyak inovasi yang mengarah ke penggunaan electonic money (e-money). Pemakaian kartu ATM (debit) untuk pembayaran sudah tak memerlukan edukasi. Hampir semua pemilik kartu itu tahu cara memanfaatkan dan mengoptimalkan kartunya untuk transfer uang, membayar belanjaan, atau membayar tagihan. Demikian pula dengan kartu kredit, rata-rata pemilik sudah tak perlu edukasi.Menurut catatan Bank Indonesia, kartu ATM & kartu debit yang telah dikeluarkan hingga tahun 2009 sebanyak 41.151.850, sedangkan kartu kredit 12.259.295. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka itu menunjukkan peningkatan lebih dari 10%. Uang yang ditransaksikan pun triliunan rupiah (www.bi.go.id). Itu menunjukkan masyarakat makin familiar dan teredukasi perihal pemakaian kartu-kartu tersebut.
Tahap berikutnya dari kemajuan teknologi di bidang keuangan adalah alat pembayaran elektronik. Saat ini, kita sering melihat alat pembayaran model itu. Di toko-toko eceran modern, seperti Carrefour, sekarang sudah terpajang mesin pembaca dari BCA Flazz. Alfamart dan Indomaret pun sudah menjual voucher/kartu Flazz Prepaid. Kartu yang disediakan dari pecahan Rp 25.000 itu bisa digunakan sebagai kartu belanja selayaknya uang biasa.
Juga ada Kartu E-Toll dari Bank Mandiri yang bisa digunakan untuk transaksi bayar tol di Jakarta dan Bandung. Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini menuturkan saat ini pemegang Kartu E-Toll 150.000 dengan transaksi setiap bulan lebih dari 1 juta dengan nilai sekitar Rp 8,5 miliar. Angka itu diperkirakan meningkat pesat setelah penandatanganan kerja sama baru dari Mandiri dengan empat operator jalan tol baru.
PT Kereta Api tak mau kalah dalam mengadopsi teknologi itu. Kereta api Jabodetabek saat ini sedang dalam tahap persiapan penerapan pemakaian e-money berupa kartu mirip Kartu E-Toll. Bekerja sama dengan PT Telkom yang mengantongi izin penyelenggaran electronic money & remmitance dari Bank Indonesia, kemungkinan dalam waktu dekat PT Kereta Api menerapkan teknologi itu untuk pengguna setia Prambanan Express (Pramex). Para pekerja komuter (Solo-Jogja) bakal tak perlu ribet lagi dengan antre beli tiket. Dengan kartu yang sama, kelak akan diintegrasikan untuk pembayaran di Trans Jogja dan Solo Batik Trans.
Semua itu sangat memungkinkan. Layanan transportasi akan terintegrasi. Masyarakat mendapat kemudahan moda pembayaran, keamanan, dan kenyamanan.
Negara Lain
Penggunaan e-money memang diawali dari negara maju, dari membayar tiket kereta, membayar tol, tiket bioskop, dan pembelian barang via web. Mereka telah teredukasi dengan baik dalam penggunaan. Wujud fisik e-money pun bisa bermacam-macam. Bisa berupa kartu, tetapi bisa pula perangkat lain seperti telepon seluler, gantungan kunci, atau benda-benda lain yang sudah disuntik dengan isian data keuangan. Benda itu juga bisa diisi ulang dengan nilai nominal tertentu.Kini, negara seperti Kenya pun mulai akrab dengan e-money. Dengan sponsor Pemerintah Inggris (Department for International Development/DFID), mereka mengembangkan Mobile-Pesa (pesa dalam bahasa Swahili berarti uang). M-Pesa sangat sukses dikembangkan di negara yang bisa dikategorikan bukan negara maju itu. Mereka bisa melakukan transfer uang, tarik tunai, dan kegiatan keuangan sederhana lain dengan aplikasi sederhana yang dikembangkan Vodafone itu. Kesuksesan di Kenya mendorong pengembangan fitur serupa untuk Tanzania dan Afganistan. Sekarang, lazim seorang petani pergi ke sebuah toko kecil sambil membawa telepon seluler untuk mengambil uang yang dikirimkan sang anak.
Malaysia memiliki PosPay yang bisa digunakan untuk pembayaran tagihan, isi ulang pulsa, isi ulang internet, belanja online, dan lain-lain. Para pahlawan devisa kita di Hong Kong juga sangat familiar dengan Octopus Card. Kartu yang dijual mulai dari 20 dolar Hong Kong itu bisa digunakan untuk membayar parkir, naik trem, hingga belanja barang nyata. Kartu itu dikalim sudah tersebar lebih dari 14 juta.
Jepang adalah negara paling “digital” dalam urusan keuangan. Hampir semua lini transaksi sudah mengadopsi e-money. Keunggulan teknologi dan sumber daya manusia di negeri itu memang memungkinkan untuk melaju.
Penerapan e-money dan turunannya jelas akan menyebabkan efisiensi bagi pemilik, penjual, dan pemerintah. Negara-negara sudah menerapkan e-money, dan sejauh ini dampak negatifnya relatif sedikit. Negara kita pun semestinya mampu menerapkan teknologi itu demi tata kelola yang makin efisien, tanpa kebocoran, makin teratur, dan teradministrasikan dengan baik.
Penulis: Taryoko, Senior Instruktur Learning Center PT Telkom, peserta Program Magister Manajemen Universitas Diponegoro Semarang
18 Okt 2010
Source:http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=127049
E-Money Makin Diburu BI Cetak 2,5 Juta Kartu
MINAT nasabah bertransaksi dengan uang elektronik (e-money) belum menggembirakan. Tapi menurut kacamata penerbit, ceruk e-money masih menjanjikan. Indikasi ini bisa dilihat dari pertumbuhan jumlah kartu yang diterbitkan.
Kepala Biro Pengembangan dan Kebijakan Sistem Pembayaran Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Aribowo mengatakan, jumlah e-money yang diterbitkan per akhir Oktober 2009 meningkat 300 ribu kartu atau 11 persen dibandingkan akhir September 2009.
"Cukup bagus. Dalam sebulan, meningkat dari 2,2 juta kartu menjadi 2,5 juta," ungkap Aribowo saat dihubungi, kemarin.
Dia menjelaskan, saat ini ada lima bank dan empat lembaga non-bank yang menerbitkan e-money. Menurut Aribowo, tiga penerbit yang paling besar menunjukkan peningkatan jumlah kartu, yaitu Bank Mega, Bank Mandiri dan Telkom.
Di saat jumlah e-money yang diterbitkan bertambah, volume dan nilai transaksi justru merosot. Per akhir Oktober 2009, volume transaksi e-money turun 13,9 persen dibandingkan September 2009. Yaitu, dari 1.933 juta transaksi menjadi 1.664 juta transaksi. "Nilai transaksi juga turun sebesar 19 persen, dari Rp 68,141 juta menjadi Rp 55,015 juta." kata Aribowo. Mlf
26 Des 2009
Source:http://bataviase.co.id/detailberita-10443538.html
Kepala Biro Pengembangan dan Kebijakan Sistem Pembayaran Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Aribowo mengatakan, jumlah e-money yang diterbitkan per akhir Oktober 2009 meningkat 300 ribu kartu atau 11 persen dibandingkan akhir September 2009.
"Cukup bagus. Dalam sebulan, meningkat dari 2,2 juta kartu menjadi 2,5 juta," ungkap Aribowo saat dihubungi, kemarin.
Dia menjelaskan, saat ini ada lima bank dan empat lembaga non-bank yang menerbitkan e-money. Menurut Aribowo, tiga penerbit yang paling besar menunjukkan peningkatan jumlah kartu, yaitu Bank Mega, Bank Mandiri dan Telkom.
Di saat jumlah e-money yang diterbitkan bertambah, volume dan nilai transaksi justru merosot. Per akhir Oktober 2009, volume transaksi e-money turun 13,9 persen dibandingkan September 2009. Yaitu, dari 1.933 juta transaksi menjadi 1.664 juta transaksi. "Nilai transaksi juga turun sebesar 19 persen, dari Rp 68,141 juta menjadi Rp 55,015 juta." kata Aribowo. Mlf
26 Des 2009
Source:http://bataviase.co.id/detailberita-10443538.html
Menanti Debut Dompet Digital
Bisnis Uang Elektronik | Model Bisnis Terbaik Perlu Dikonsolidasikan
Regulasi baru kembali mencuatkan harapan berkembangnya e-money. Apalagi melihat besarnya jumlah pelanggan telekomunikasi di Tanah Air.
Penerbitan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 11/12/PBI/2009 pada pertengahan April lalu menjadi angin segar bagi perkembangan e-money atau uang elektronik. Regulasi tersebut memperketat aturan sebelumnya yang tertuang pada PBI No 7/52/PBI/2005 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu.
Di Indonesia, ada dua industri yang getol mengembangkan e-money sejak dua tahun lalu, yakni perbankan dan operator seluler. Di perbankan, nama Flazz BCA dan e-Toll Bank Mandiri pantas dikedepankan. Sedangkan di jasa seluler yang muncul adalah T-Cash Telkomsel dan Dompetku Indosat.
Di jasa seluler, fitur dari e-money dikenalkan dengan nama dompet digital atau layanan yang memungkinkan ponsel berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang yang bisa digunakan bertransaksi dengan cara yang mudah, cepat, dan aman.
Dalam dompet digital, setiap transaksi yang dilakukan akan langsung mengurangi saldo yang tersimpan dalam rekening ponsel. Untuk proses kliringnya diselesaikan melalui back office bank rekanan operator. Sederhananya, cara kerja dari dompet digital ini mirip dengan kartu bermain di arena video game, pelanggan diwajibkan mengisi saldo di kartu terlebih dulu, baru bisa bermain.
Terbitnya regulasi baru itu, menurut Associate Operation officer International Finance Corporation, A Bido Budiman, menjadi angin segar bagi perkembangan e-money di Indonesia.
Berbagai hal yang dinilai menghambat oleh penerbit sudah diakomodasi Bank Indonesia, kata dia, akhir pekan lalu.
Diharapkannya, regulasi itu akan mendongkrak nilai dari transaksi menggunakan e-money karena di Indonesia penggunaan kartu debit hingga Maret lalu mencapai 7,9 juta transaksi dengan nilai 159 trilliun rupiah. Pengguna e-money itu adalah irisan dari kartu debit. Saya yakin pengguna e-money akan bertambah tahun ini, katanya tanpa berani memprediksi angka transaksi e-money.
Bido mengatakan banyak manfaat jika e-money diimplementasikan, mulai dari menjadikan masyarakat yang belum memiliki rekening bank menjadi bankable hingga mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Berdasarkan catatan, di Indonesia jumlah rekening adalah 45 persen dari total populasi. Diharapkan e-money akan mendongkrak jumlah pemilik rekening menjadi 73 persen dari total populasi.
Masih Mencari
Penerbitan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 11/12/PBI/2009 pada pertengahan April lalu menjadi angin segar bagi perkembangan e-money atau uang elektronik. Regulasi tersebut memperketat aturan sebelumnya yang tertuang pada PBI No 7/52/PBI/2005 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu.
Di Indonesia, ada dua industri yang getol mengembangkan e-money sejak dua tahun lalu, yakni perbankan dan operator seluler. Di perbankan, nama Flazz BCA dan e-Toll Bank Mandiri pantas dikedepankan. Sedangkan di jasa seluler yang muncul adalah T-Cash Telkomsel dan Dompetku Indosat.
Di jasa seluler, fitur dari e-money dikenalkan dengan nama dompet digital atau layanan yang memungkinkan ponsel berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang yang bisa digunakan bertransaksi dengan cara yang mudah, cepat, dan aman.
Dalam dompet digital, setiap transaksi yang dilakukan akan langsung mengurangi saldo yang tersimpan dalam rekening ponsel. Untuk proses kliringnya diselesaikan melalui back office bank rekanan operator. Sederhananya, cara kerja dari dompet digital ini mirip dengan kartu bermain di arena video game, pelanggan diwajibkan mengisi saldo di kartu terlebih dulu, baru bisa bermain.
Terbitnya regulasi baru itu, menurut Associate Operation officer International Finance Corporation, A Bido Budiman, menjadi angin segar bagi perkembangan e-money di Indonesia.
Berbagai hal yang dinilai menghambat oleh penerbit sudah diakomodasi Bank Indonesia, kata dia, akhir pekan lalu.
Diharapkannya, regulasi itu akan mendongkrak nilai dari transaksi menggunakan e-money karena di Indonesia penggunaan kartu debit hingga Maret lalu mencapai 7,9 juta transaksi dengan nilai 159 trilliun rupiah. Pengguna e-money itu adalah irisan dari kartu debit. Saya yakin pengguna e-money akan bertambah tahun ini, katanya tanpa berani memprediksi angka transaksi e-money.
Bido mengatakan banyak manfaat jika e-money diimplementasikan, mulai dari menjadikan masyarakat yang belum memiliki rekening bank menjadi bankable hingga mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Berdasarkan catatan, di Indonesia jumlah rekening adalah 45 persen dari total populasi. Diharapkan e-money akan mendongkrak jumlah pemilik rekening menjadi 73 persen dari total populasi.
Masih Mencari
Sementara itu, Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengatakan jasa dompet digital masih mencari bentuknya di Indonesia. Kami sudah mengomersialkannya, tetapi untuk kelompok tertentu, katanya.
Guntur mengatakan tantangan yang dihadapi untuk mengembangkan dompet digital terletak pada cara mendorong pelanggan menggunakannya, memperluas mitra merchant, dan mempermudah pelanggan mengisi kembali uangnya di dompet digital.
Namun, operator mengakui tidak mudah mengembangkan dompet digital di Indonesia. Ternyata tidak semudah prediksi awal. Banyak tantangannya. Walaupun regulasi dari Bank Indonesia bisa mendorong jasa ini, saya rasa masih butuh waktu untuk diterima masyarakat, tutur VP Digital Business Telkomsel Bambang Suprayogo.
Untuk diketahui, Telkomsel membenamkan dana sebesar 50 juta dollar AS guna mengembangkan T-Cash. Sebelumnya, Telkomsel optimistis dalam waktu dua tahun dana itu akan kembali jika sepanjang tahun lalu ada 5 juta pelanggan yang menggunakan layanan tersebut.
Kenyataan berbicara lain. Hingga sekarang, T-Cash hanya mampu menggoda 120 ribu dari 71 juta pelanggan Telkomsel.
Melihat hal itu, Bido menyarankan para pemain secepatnya melakukan konsolidasi dengan menentukan model bisnis terbaik untuk mengembangkan e-money. Sekarang tinggal para pemain menanggalkan ego sektoral agar masing-masing infrastruktur bisa dioptimalkan.
Untuk diketahui, di luar negeri layanan ini memiliki tiga model bisnis, yakni operator telekomunikasi yang menjadi pemimpin, bank yang menjadi pemimpin, atau dijalankan oleh pihak ketiga.
Direktur Teknologi Informasi & Operasional Bank Permata Georgino Godong mengatakan tidak tepat menggunakan model bisnis dengan saling menentukan industri mana yang menjadi pemimpin di jasa tersebut. Bagi saya, yang tepatnya adalah saling berbagi infrastruktur. Ini sudah kami mulai dengan menguji coba Ponsel Pay, katanya.
Ponsel Pay adalah sistem transaksi berbasis nomor ponsel di jaringan GSM dan CDMA yang digunakan sebagai basis rekening e-money. Model menggandeng semua operator seperti Bank Permata ini adalah yang pertama diperkenalkan di Indonesia.
Bagi praktisi telematika Mochammad James Falahuddin, kendala terbesar pada pengembangan dompet digital oleh operator seluler ialah belum adanya bandar atau payment exchange gateway alias clearing house yang menjadi jembatan transaksi antara operator dan bank.
Akibat tidak ada bandar, operator harus menyediakan semua infrastruktur pendukung sendiri, termasuk hubungan dengan bank. Parahnya bank hanya menjadikan ini semacam nilai tambah sehingga akhirnya disikapi dengan dengan meminta eksklusivitas kepada operator, jelasnya.
Dikatakannya, syarat eksklusivitas itu membuat operator membebankan biaya ke pelanggan sehingga ujung-ujungnya biaya transaksi menjadi mahal jika direlatifkan ke nilai barang yang akan ditransaksikan.
Posisi perbankan lebih kuat di jasa ini karena sudah memiliki infrastrukturnya. Dan bagi bank, mengembangkan sendiri akan lebih menguntungkan karena uang nasabah tidak keluar dari sistem dalam bentuk tunai, katanya.
James mengingatkan, pemerintah juga harus mulai melengkapi jasa ini dengan badan pengawas yang akan bertindak sebagai wasit jika ada masalah dalam rekonsiliasi dan settlement antarprovider. Dan tentunya menjadi hakim untuk keluhan pelanggan, tegasnya.
dni/E-2
19 Mei 2009
Source:http://www.koran-jakarta.com/print-berita.php?id=8398
Telkomsel Luncurkan Transfer e-Money Berbasis SMS Mobile
Telkomsel meluncurkan solusi transfer uang elektronik (e-money) berbasis layanan mobile wallet bernama T-Cash Kirim Uang. Pelanggan Telkomsel kini bisa melakukan pengiriman uang langsung dari ponsel secepat mengirim SMS dan langsung dapat melakukan penarikan tunai di seluruh outlet Indomaret. Kehadiran layanan T-Cash Kirim Uang menjadikan Telkomsel sebagai satu-satunya operator selular yang menyediakan layanan transfer e-money antarponsel di seluruh Indonesia.
Menurut VP T-Cash Management Telkomsel, Bambang Supriogo, dalam rilisnya kepada riaubisnis.com, Jumat (11/11/2010), dengan wilayah geografis Indonesia yang sangat luas, T-Cash Kirim Uang merupakan solusi yang sangat tepat yang membutuhkan layanan transfer uang dengan cara yang mudah, sekalipun tidak memiliki rekening di bank.
“Dengan menggunakan layanan T-Cash di ponselnya, pelanggan bisa mengirim uang secara cepat, aman, dan murah, kapan saja dan di mana saja. Inilah salah satu wujud komitmen kami dalam menyediakan solusi layanan mobile lifestyle terbaik dan terdepan,” katanya.
Pelanggan kartuHALO, simPATI, atau Kartu As yang ingin memanfaatkan layanan Kirim Uang harus terlebih dahulu mengaktifkan layanan T-Cash di ponselnya dengan menghubungi *828*1#. Selanjutnya pelanggan mengisi saldo T-Cash di GraPARI atau outlet Indomaret terdekat. Untuk melakukan pengiriman uang, hubungi *828#, kemudian pilih menu “Kirim Uang”.
Setelah memasukkan nomor ponsel penerima uang dan jumlah nominal uang yang dikirim, pelanggan akan memperoleh SMS berisi notifikasi pengiriman uang. Selanjutnya e-money yang dikirim tersebut dapat diambil secara tunai oleh penerima di kasir Indomaret di seluruh Indonesia hanya dengan menunjukkan SMS notifikasi yang diterima pada saat proses pengambilan tersebut.
Pelanggan bisa mengirimkan uang berkali-kali dalam satu hari dengan nominal pengiriman Rp 1.000 hingga Rp 1 juta untuk sekali pengiriman. Jumlah nominal uang yang dikirimkan melalui layanan T-Cash Kirim Uang maksimal Rp 1 juta setiap harinya dan Rp 20 juta setiap bulannya. Pelanggan dikenakan biaya Rp 1.000 untuk sekali pengiriman uang.
“Pengiriman uang hanya dapat dilakukan pelanggan yang sudah mengaktifkan layanan T-Cash Full Service, yang secara otomatis sudah langsung bisa dinikmati pelanggan kartuHALO. Pelanggan simPATI dan Kartu As harus terlebih dahulu mengaktifkan layanan full service dengan melakukan registrasi di GraPARI atau GeraiHALO,” ujarnya.
T-Cash (singkatan dari Telkomsel Cash) merupakan inovasi layanan mobile wallet yang memungkinkan ponsel pelanggan berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang (digital cash atau e-money) yang siap digunakan untuk bertransaksi dengan nominal hingga Rp 5 juta secara mudah, cepat, dan aman.
Dengan menggunakan T-Cash, pelanggan dapat melakukan pembelian barang (pulsa isi ulang, token PLN prabayar, produk di merchant T-Cash), pembayaran tagihan (kartuHALO, TelkomVision, PLN, PDAM), pengiriman uang, serta pengambilan tunai. Seluruh aktivitas ini dapat dilakukan dengan mengakses *828# yang merupakan single menu browser untuk semua layanan T-Cash.
Dalam menghadirkan layanan T-Cash, Telkomsel menjadi integrator sekaligus service provider yang didukung sepenuhnya oleh Bank Indonesia sebagai regulator. Bekerja sama dengan lebih dari 260 merchant penjual barang dan jasa (Indomaret, Tokobagus.com, Fuji Image Plaza, Perguruan Tinggi penyedia konten akademis, dan lain-lain), Telkomsel menggelar lebih dari 7.000 titik layanan T-Cash yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Saat ini layanan T-Cash telah digunakan lebih dari 3 juta pelanggan.(*)
12 Nov 2010
Source:http://riaubisnis.com/index.php/tech-mainmenu-30/telekomunikasi-mainmenu-50/29-telekomunikasi/2071-telkomsel-luncurkan-tranfer-e-money-berbasis-sms-mobile
Menurut VP T-Cash Management Telkomsel, Bambang Supriogo, dalam rilisnya kepada riaubisnis.com, Jumat (11/11/2010), dengan wilayah geografis Indonesia yang sangat luas, T-Cash Kirim Uang merupakan solusi yang sangat tepat yang membutuhkan layanan transfer uang dengan cara yang mudah, sekalipun tidak memiliki rekening di bank.
“Dengan menggunakan layanan T-Cash di ponselnya, pelanggan bisa mengirim uang secara cepat, aman, dan murah, kapan saja dan di mana saja. Inilah salah satu wujud komitmen kami dalam menyediakan solusi layanan mobile lifestyle terbaik dan terdepan,” katanya.
Pelanggan kartuHALO, simPATI, atau Kartu As yang ingin memanfaatkan layanan Kirim Uang harus terlebih dahulu mengaktifkan layanan T-Cash di ponselnya dengan menghubungi *828*1#. Selanjutnya pelanggan mengisi saldo T-Cash di GraPARI atau outlet Indomaret terdekat. Untuk melakukan pengiriman uang, hubungi *828#, kemudian pilih menu “Kirim Uang”.
Setelah memasukkan nomor ponsel penerima uang dan jumlah nominal uang yang dikirim, pelanggan akan memperoleh SMS berisi notifikasi pengiriman uang. Selanjutnya e-money yang dikirim tersebut dapat diambil secara tunai oleh penerima di kasir Indomaret di seluruh Indonesia hanya dengan menunjukkan SMS notifikasi yang diterima pada saat proses pengambilan tersebut.
Pelanggan bisa mengirimkan uang berkali-kali dalam satu hari dengan nominal pengiriman Rp 1.000 hingga Rp 1 juta untuk sekali pengiriman. Jumlah nominal uang yang dikirimkan melalui layanan T-Cash Kirim Uang maksimal Rp 1 juta setiap harinya dan Rp 20 juta setiap bulannya. Pelanggan dikenakan biaya Rp 1.000 untuk sekali pengiriman uang.
“Pengiriman uang hanya dapat dilakukan pelanggan yang sudah mengaktifkan layanan T-Cash Full Service, yang secara otomatis sudah langsung bisa dinikmati pelanggan kartuHALO. Pelanggan simPATI dan Kartu As harus terlebih dahulu mengaktifkan layanan full service dengan melakukan registrasi di GraPARI atau GeraiHALO,” ujarnya.
T-Cash (singkatan dari Telkomsel Cash) merupakan inovasi layanan mobile wallet yang memungkinkan ponsel pelanggan berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang (digital cash atau e-money) yang siap digunakan untuk bertransaksi dengan nominal hingga Rp 5 juta secara mudah, cepat, dan aman.
Dengan menggunakan T-Cash, pelanggan dapat melakukan pembelian barang (pulsa isi ulang, token PLN prabayar, produk di merchant T-Cash), pembayaran tagihan (kartuHALO, TelkomVision, PLN, PDAM), pengiriman uang, serta pengambilan tunai. Seluruh aktivitas ini dapat dilakukan dengan mengakses *828# yang merupakan single menu browser untuk semua layanan T-Cash.
Dalam menghadirkan layanan T-Cash, Telkomsel menjadi integrator sekaligus service provider yang didukung sepenuhnya oleh Bank Indonesia sebagai regulator. Bekerja sama dengan lebih dari 260 merchant penjual barang dan jasa (Indomaret, Tokobagus.com, Fuji Image Plaza, Perguruan Tinggi penyedia konten akademis, dan lain-lain), Telkomsel menggelar lebih dari 7.000 titik layanan T-Cash yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Saat ini layanan T-Cash telah digunakan lebih dari 3 juta pelanggan.(*)
12 Nov 2010
Source:http://riaubisnis.com/index.php/tech-mainmenu-30/telekomunikasi-mainmenu-50/29-telekomunikasi/2071-telkomsel-luncurkan-tranfer-e-money-berbasis-sms-mobile
Survey IDM terhadap churn rate di Indonesia
Kartu hangus di Indonesia bisa mencapai 26% dalam setahun, sementara yang terjadi di ASEAN rata-ratanya mencapai 15%. Tingginya churn rate, dipacu oleh murahnya harga pulsa kartu perdana bila dibandingkan dengan pulsa isi ulang. Angka ini bisa ditekan bila operator mau menjual kartu perdana dengan harga lebih tinggi dari isi pulsanya atau menjual kartu perdana tanpa pulsa ke toko.
Berikut adalah kutipan hasil survey IDM terhadap churn rate yang terjadi di dunia telekomunikasi Indonesia dari indemon.bloghi.com.
Tingkat Kepuasan Berdasarkan Tariff dan Performance
Pada awal bulan Juli 2007 ini, Indonesia Development Monitoring Research telah melakukan penelitian Kepuasan Pelanggan pengguna telepon selular. Survei dilakukan di 33 provinsi dengan melibatkan 1227 responden yang terbagi dalam dua kategori, pelanggan pra-bayar dan pasca-bayar.
Dalam survey ini ada dua dimensi pengukuran yang dinilai yaitu Performance dan Tariff. Masing-masing dimensi terbagi lagi dalam beberapa atribut. Pada dimensi performance ada 4 atribut yang dinilai, atribut itu adalah No Service, Dropped Call, Static, dan Circuit Full
Sedangkan pada dimensi Tariff ada 3 atribut yang dinilai yaitu SMS tariff, voice call tariff, dan Starter-pack tariff.
Metodologi
Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia di propinsi sebagai penguna jasa telekomunikasi seluler yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Dalam survei ini jumlah sampel ditetapkan sebanyak 1227 orang. Dengan metode multistage random sampling, dan memiliki toleransi kesalahan (margin of error) sebesar +/- 3.7% pada tingkat kepercayaan 97 persen. Sampel berasal dari 60 Kota yang dilayani oleh operator seluler yang terdistribusi secara proporsional.
Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Satu pewawancara bertugas untuk satu kota (20 responden).
Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 17% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti.
Judul Penelitian
Mengukur tingkat kepuasan pengguna telepon seluler terhadap tingkat tariff operator seluler dalam persaingan di sektor telekomunikasi seluler di Indonesia
Keterangan:
Tsel : Telkomsel
Isat : Indosat
Xlcom : Excelcomindo Pratama
Hcp 3 : Hutchison CP Telecommunications
Pendapat Responden mengenai tingkat kepuasan terhadap tariff SMS dari setiap operator seluler jenis Kartu Pra bayar
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kepuasan atas tarif SMS jenis kartu pra bayar saat ini.
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kepuasan atas tarif SMS jenis kartu pasca bayar saat ini.
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kerugian atas tarif SMS dan voice call saat ini.
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kewajaran atas tarif starterpack saat ini.
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab perbandingan tingkat tarif terhadap performance
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kepuasan atas performance jenis kartu pasca bayar saat ini.
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kepuasan atas performance jenis kartu pra bayar saat ini.
Kesimpulan
1. Pasar selular Indomesia sangatlah atraktif. Dalam 5 tahun ke depan bisnis telepon selular di Indonesia masih akan terus berjaya. Menurut prediksi Indonesia Development Monitoring Research , jumlah pelanggan telepon diperkirakan akan mencapai 80,7 juta. Puncak pertumbuhan terjadi pada 2006 ke 2007, yakni dari 67,2 juta ke 72,7 juta pelanggan. Pada tahun 2008, jumlah pelanggan selular diperkirakan bakal menjadi 80 ,7juta. Fakta ini menunjukan atraktifnya bisnis selular di Indonesia, potensi pasarnya masih sangat besar.
2. Berdasarkan hasil survey diatas, responden yang secara umum dapat disimpulkan bahwa responden yng merupakan konsumen dari 4 perusahaan telekomunikasi Indonesia yaitu Telkomsel, Indosat, Excelcomindo Pratama, Hutchison CP Telecommunications (3) merasa puas atas layanan dan tarif yang dirasakan selama ini masih dalam kewajaran dan cenderung tariff yang disajikan para operator tidak mahal dan dari pendapat responden ,responden tidak ada yang merasa dirugikan dengan tariff yang dikenakan para operator, ini dapat dibuktikan terutama pada penguna jasa telekomunikasi seluler prabayar.
3. Churn Rate dan Tingkat Kepuasan Pelanggan
Persaingan bisnis telekomunikasi sangatlah ketat. Para operator berlomba-lomba untuk menambah jumlah customer basenya. Dalam enam bulan terakhir perang penjualan Kartu Perdana Murah yang dilakukan para operator cukup marak. Kondisi ini mendorong peningkatan churn rate (kartu hangus), akibatnya kartu perdana kini menjadi semacam Calling Card, hanya digunakan ketika pulsa masih ada dan bila sudah tidak ada pulsanya, kartu akan dibuang kemudian beralih ke kartu lain. Churn rate di Indonesia bisa mencapai 26% dalam setahun, sementara yang terjadi di Asean rata-ratanya mencapai 15%.Tingginya churn rate, dipacu oleh murahnya harga pulsa kartu perdana bila dibandingkan dengan pulsa isi ulang. Angka ini sebetulnya bisa ditekan bila operator mau menjual kartu perdana dengan harga lebih tinggi dari isi pulsanya atau menjual kartu perdana tanpa pulsa ke toko. Akan tetapi tuntutan persaingan menyebabkan mereka terpaksa tidak melakukan hal semacam itu.
14 Agt 2008
Source:http://persaingantelekomunikasi.wordpress.com/2009/04/27/survey-idm-terhadap-churn-rate-di-indonesia/
Berikut adalah kutipan hasil survey IDM terhadap churn rate yang terjadi di dunia telekomunikasi Indonesia dari indemon.bloghi.com.
Tingkat Kepuasan Berdasarkan Tariff dan Performance
Pada awal bulan Juli 2007 ini, Indonesia Development Monitoring Research telah melakukan penelitian Kepuasan Pelanggan pengguna telepon selular. Survei dilakukan di 33 provinsi dengan melibatkan 1227 responden yang terbagi dalam dua kategori, pelanggan pra-bayar dan pasca-bayar.
Dalam survey ini ada dua dimensi pengukuran yang dinilai yaitu Performance dan Tariff. Masing-masing dimensi terbagi lagi dalam beberapa atribut. Pada dimensi performance ada 4 atribut yang dinilai, atribut itu adalah No Service, Dropped Call, Static, dan Circuit Full
Sedangkan pada dimensi Tariff ada 3 atribut yang dinilai yaitu SMS tariff, voice call tariff, dan Starter-pack tariff.
Metodologi
Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia di propinsi sebagai penguna jasa telekomunikasi seluler yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Dalam survei ini jumlah sampel ditetapkan sebanyak 1227 orang. Dengan metode multistage random sampling, dan memiliki toleransi kesalahan (margin of error) sebesar +/- 3.7% pada tingkat kepercayaan 97 persen. Sampel berasal dari 60 Kota yang dilayani oleh operator seluler yang terdistribusi secara proporsional.
Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Satu pewawancara bertugas untuk satu kota (20 responden).
Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 17% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti.
Judul Penelitian
Mengukur tingkat kepuasan pengguna telepon seluler terhadap tingkat tariff operator seluler dalam persaingan di sektor telekomunikasi seluler di Indonesia
Keterangan:
Tsel : Telkomsel
Isat : Indosat
Xlcom : Excelcomindo Pratama
Hcp 3 : Hutchison CP Telecommunications
Pendapat Responden mengenai tingkat kepuasan terhadap tariff SMS dari setiap operator seluler jenis Kartu Pra bayar
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kepuasan atas tarif SMS jenis kartu pra bayar saat ini.
- Reponden pengguna produk Telkomsel yaitu 71% puas
- Reponden pengguna produk Indosat yaitu 64% puas
- Reponden pengguna produk XL yaitu 54% puas
- Reponden pengguna produk 3 yaitu 38% puas
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kepuasan atas tarif SMS jenis kartu pasca bayar saat ini.
- Reponden pengguna produk Telkomsel yaitu 78% puas
- Reponden pengguna produk Indosat yaitu 75% puas
- Reponden pengguna produk XL yaitu 69% puas
- Reponden pengguna produk 3 yaitu 11,5% puas
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kerugian atas tarif SMS dan voice call saat ini.
- Reponden pengguna produk Telkomsel yaitu 91% merasa tidak dirugikan
- Reponden pengguna produk Telkomsel yaitu 9% merasa dirugikan
- Reponden pengguna produk Indosat yaitu 82% merasa tidak dirugikan
- Reponden pengguna produk Indosat yaitu 18% merasa dirugikan
- Reponden pengguna produk XL yaitu 80% merasa tidak dirugikan
- Reponden pengguna produk XL yaitu 20% merasa dirugikan
- Reponden pengguna produk 3yaitu 73% merasa tidak dirugikan
- Reponden pengguna produk 3 yaitu 27% merasa dirugikan
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kewajaran atas tarif starterpack saat ini.
- Reponden pengguna produk Telkomsel yaitu 77% merasa wajar
- Reponden pengguna produk Telkomsel yaitu 23% merasa tidak wajar
- Reponden pengguna produk Indosat yaitu 81% merasa wajar
- Reponden pengguna produk Indosat yaitu 19% merasa tidak wajar
- Reponden pengguna produk XL yaitu 71% merasa wajar
- Reponden pengguna produk XL yaitu 15% merasa tidak wajar
- Reponden pengguna produk 3yaitu 90% merasa wajar
- Reponden pengguna produk 3 yaitu 10% merasa tidak wajar
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab perbandingan tingkat tarif terhadap performance
- Reponden pengguna produk Telkomsel yaitu 75% merasa tidak mahal
- Reponden pengguna produk Telkomsel yaitu 20% merasa mahal
- Reponden pengguna produk Indosat yaitu 80% merasa tidak mahal
- Reponden pengguna produk Indosat yaitu 18% merasa mahal
- Reponden pengguna produk XL yaitu 70% merasa tidak mahal
- Reponden pengguna produk XL yaitu 14% merasa mahal
- Reponden pengguna produk 3yaitu 90% merasa tidak mahal
- Reponden pengguna produk 3 yaitu 10% merasa mahal
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kepuasan atas performance jenis kartu pasca bayar saat ini.
- Reponden pengguna produk Telkomsel yaitu 79% puas
- Reponden pengguna produk Indosat yaitu 78% puas
- Reponden pengguna produk XL yaitu 51% puas
- Reponden pengguna produk 3 yaitu 12% puas
Berdasarkan hasil survey, Reponden masing-masing produk yang telah menjawab kepuasan atas performance jenis kartu pra bayar saat ini.
- Reponden pengguna produk Telkomsel yaitu 71% puas
- Reponden pengguna produk Indosat yaitu 63% puas
- Reponden pengguna produk XL yaitu 52% puas
- Reponden pengguna produk 3 yaitu 39% puas
Kesimpulan
1. Pasar selular Indomesia sangatlah atraktif. Dalam 5 tahun ke depan bisnis telepon selular di Indonesia masih akan terus berjaya. Menurut prediksi Indonesia Development Monitoring Research , jumlah pelanggan telepon diperkirakan akan mencapai 80,7 juta. Puncak pertumbuhan terjadi pada 2006 ke 2007, yakni dari 67,2 juta ke 72,7 juta pelanggan. Pada tahun 2008, jumlah pelanggan selular diperkirakan bakal menjadi 80 ,7juta. Fakta ini menunjukan atraktifnya bisnis selular di Indonesia, potensi pasarnya masih sangat besar.
2. Berdasarkan hasil survey diatas, responden yang secara umum dapat disimpulkan bahwa responden yng merupakan konsumen dari 4 perusahaan telekomunikasi Indonesia yaitu Telkomsel, Indosat, Excelcomindo Pratama, Hutchison CP Telecommunications (3) merasa puas atas layanan dan tarif yang dirasakan selama ini masih dalam kewajaran dan cenderung tariff yang disajikan para operator tidak mahal dan dari pendapat responden ,responden tidak ada yang merasa dirugikan dengan tariff yang dikenakan para operator, ini dapat dibuktikan terutama pada penguna jasa telekomunikasi seluler prabayar.
3. Churn Rate dan Tingkat Kepuasan Pelanggan
Persaingan bisnis telekomunikasi sangatlah ketat. Para operator berlomba-lomba untuk menambah jumlah customer basenya. Dalam enam bulan terakhir perang penjualan Kartu Perdana Murah yang dilakukan para operator cukup marak. Kondisi ini mendorong peningkatan churn rate (kartu hangus), akibatnya kartu perdana kini menjadi semacam Calling Card, hanya digunakan ketika pulsa masih ada dan bila sudah tidak ada pulsanya, kartu akan dibuang kemudian beralih ke kartu lain. Churn rate di Indonesia bisa mencapai 26% dalam setahun, sementara yang terjadi di Asean rata-ratanya mencapai 15%.Tingginya churn rate, dipacu oleh murahnya harga pulsa kartu perdana bila dibandingkan dengan pulsa isi ulang. Angka ini sebetulnya bisa ditekan bila operator mau menjual kartu perdana dengan harga lebih tinggi dari isi pulsanya atau menjual kartu perdana tanpa pulsa ke toko. Akan tetapi tuntutan persaingan menyebabkan mereka terpaksa tidak melakukan hal semacam itu.
14 Agt 2008
Source:http://persaingantelekomunikasi.wordpress.com/2009/04/27/survey-idm-terhadap-churn-rate-di-indonesia/
Hasnul, Memerdekakan Telekomunikasi
Perang belum usai. Inovasi, strategi, hingga aksi ”sikut menyikut” bergantian diluncurkan oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi. Tarif pun ditekan serendah-rendahnya; ditandai iklan-iklan yang merasuki. Namun tampaknya, soal ”perang” ini tak ada keberatan karena tarif semakin murah.
Empat tahun silam, tidak banyak orang berani menelepon interlokal misalnya dari Jakarta ke Padang. Tidak sampai satu menit, mungkin biayanya Rp 50.000. Bila sering ke wartel, terlihat jelas di layar monitor, ongkos pembayaran percakapan yang terkuras cepat seiring dengan bertambahnya waktu.
Kini, komunikasi lebih mudah sekaligus murah. Baik tarif telepon, pesan singkat, maupun data juga makin murah. Tanpa disadari, dibanding empat tahun silam, tagihan telepon tinggal 30-50 persennya. Penghematan biaya yang dapat dialihkan membeli keperluan lainnya.
Si penabuh genderang perang itu adalah Hasnul Suhaimi, yang sejak September 2006 menjabat Chief Executive Officer PT XL Axiata, Tbk. Sikap tak pernah berpuas diri serta strateginya untuk terus mereposisi organisasi telah memicu perang itu.
”Data percakapan di India tahun 2006 membuka mata saya. Saya terkejut sebab di sana tiap orang rata-rata berbicara 500 menit per bulan. Sementara di XL saat itu tiap orang hanya 43 menit per bulan. Jauh bedanya,” kenang Hasnul.
Tim dibentuk. Seorang perempuan yang bukan manajer memimpin tim beranggota 14 orang. ”Saya tunjuk dia sebagai ketua tim, mengepalai beberapa manajer karena dia menguasai materi yang didapatnya di lapangan. No problem, tak ada masalah dengan struktural perusahaan,” kata Hasnul yang ditemui akhir Agustus 2010.
Dua bulan tim bekerja, keluarlah angka tarif Rp 1 untuk percakapan satu detik.
Dunia telekomunikasi Indonesia gempar. XL terus melaju. Januari 2008, Excelcomindo malah melansir tarif Rp 0,1 per detik. Kini di XL, rata-rata percakapan per orang sudah 500 menit per bulan. Sementara operator pesaingnya 300 menit per orang per bulan.
Jejak keberhasilan strategi XL yakni adanya lonjakan pelanggan. Tahun 2006, hanya 9,5 juta pelanggan yang tertarik bergabung. Pada akhir tahun 2007 menjadi 10,2 juta pelanggan. Sementara hingga semester I tahun 2010, jumlah pelanggan XL telah 35,2 juta orang.
Reorganisasi
Diakui Hasnul, saat dia mulai berkarya di XL, organisasi sudah rapi bahkan terlalu rapi. Masalahnya, dalam dunia yang berubah cepat, organisasi yang terlalu rapi malah menyusahkan.
”Marketing misalnya, tak boleh tertata rapi. Harus dinamis. Masak pernah ada marketing saya yang tidak tahu tarif Telkomsel dan Indosat. Ya saya minta dia ke lapangan lagi,” kata Hasnul. ”Bagaimana XL meningkatkan diri bila tak tahu posisinya,” ujar Hasnul.
Namun dia meluruskan, dalam sebuah perusahaan tetap harus ada organisasi yang ”rapi”, seperti divisi pembangunan dan operasional.
XL bertransformasi di zaman Hasnul. Dimulai dari hal sederhana, seperti diubahnya tata letak (lay-out) kantor. Lantas, mutasi karyawan dari bagian sumber daya manusia ke jaringan (network). Kerja tim juga ditanamkan dalam keseharian kerja karyawan sebagai strategi utama melawan kompetitor.
Struktur yang boleh dibuat lentur langsung diobrak-abrik. Birokrasi dipangkas. Direktur keuangan dibolehkan mendatangi marketing, untuk menanyakan langsung penyebab berkurangnya penjualan. ”Nah, orang marketing juga bisa protes langsung. Marketing misalnya bisa bilang tak cukup ada budget sehingga pemasaran kurang. Budget ditambah, dan penjualan naik,” ujar Hasnul.
Alasan serupa mendasari mutasi orang jaringan pada divisi sales. ”Ini supaya orang jaringan mengerti, bila pekerjaan mereka buruk, bila jaringan lemah, maka bagian sales akan susah jualan produk,” kata Hasnul.
Rotasi akhirnya menjadi prasyarat pemimpin di XL. Untuk menjadi seorang manajer umum, seorang pegawai diharuskan telah bekerja di dua direktorat. Bila terlalu lama di posisinya, pegawai itu sangat hebat di bidangnya, tetapi tak mengerti hal lain. Atau, dapat kehilangan daya dobraknya lagi.
Terobosan
Hasnul juga memimpin XL dalam merancang dan melontarkan terobosan-terobosan. Kebijakan pemerintah per Maret 2008, tentang penggunaan menara bersama, telah didahului Excelcomindo dengan menyewakan menaranya untuk pelanggan Axis di Sumatera sejak Desember 2007.
Langkah XL untuk menyewakan menara pada masa itu sempat dianggap gila. ”Di sebuah ruang diskusi, saya juga pernah menantang. Apa Pertamina berani di tiap SPBU mereka, selain menjual bensin Pertamina, juga menjual Shell, Total, atau Petronas. Analogi itu kan sama langkah kami menyewakan menara XL untuk operator lain,” kata Hasnul sembari terkekeh.
Tujuh puluh persen manajer Excelcomindo, yang dimintai pendapatnya oleh Hasnul, ketika ide itu digulirkan, menolak rencana awal penyewaan menara. Para manajer itu mengkhawatirkan munculnya ”perang terbuka”. Bagaimana mungkin, memberi amunisi pesaing?
Menara, base transfer tranceiver-ringkasnya jaringan telekomunikasi, merupakan senjata pamungkas bagi sebuah perusahaan telekomunikasi untuk memenangi persaingan. Barang siapa memiliki jaringan yang luas, akan mampu memenangi hati calon pelanggan.
”Tetapi saya tantang bagian penjualan, berani tidak bersaing meski menara juga dipakai Axis? Mereka bilang siap, tetapi sebenarnya mau tak mau mereka pasti bilang siap ke saya,” kata Hasnul sambil tertawa. Sejurus kemudian, dia menekankan motivasi tinggi pun diberikan ke bagian penjualan.
Tenaga pemasaran Excelcomindo memang harus bekerja ekstra keras setelah salah satu keunggulan mereka dilepas ke pesaing. Di lapangan, kerja divisi pemasaran memang sudah ekstra keras. Tak sedikit terjadi perusakan spanduk antaroperator hanya untuk sedikit lebih unggul dari pesaing.
Terlepas dari segala hambatan, alhasil, tantangan yang disodorkan Hasnul ke internal perusahaan membuahkan hasil. Pelanggan baru tetap diraih Excelcomindo karena penjualan yang makin tangguh. Di sisi lain, kantong XL makin bertambah berkat penyewaan 7.000-8.000 unit menara tahun 2010.
Kini operator-operator besar telah menjangkau lebih dari 90 persen populasi disertai tarif murah. Maka, kini era kualitas layanan harus menjadi fokus utama. Hal ini pula yang sedang dicoba XL untuk menyiapkan diri di masa mendatang, tentu dengan tetap memanfaatkan optimalisasi kerja tim.
Saat duduk di tampuk pimpinan Excelcomindo, mungkin Hasnul Suhaimi bertindak luas dan simpel seturut nalurinya untuk mereorganisasi struktur manajemen. Namun, tak disadarinya, reorganisasi itu telah memerdekakan telekomunikasi Indonesia dengan tarifnya yang murah.
08 Okt 2010
Source:http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/10/08/09100020/Hasnul..Memerdekakan.Telekomunikasi
Empat tahun silam, tidak banyak orang berani menelepon interlokal misalnya dari Jakarta ke Padang. Tidak sampai satu menit, mungkin biayanya Rp 50.000. Bila sering ke wartel, terlihat jelas di layar monitor, ongkos pembayaran percakapan yang terkuras cepat seiring dengan bertambahnya waktu.
Kini, komunikasi lebih mudah sekaligus murah. Baik tarif telepon, pesan singkat, maupun data juga makin murah. Tanpa disadari, dibanding empat tahun silam, tagihan telepon tinggal 30-50 persennya. Penghematan biaya yang dapat dialihkan membeli keperluan lainnya.
Si penabuh genderang perang itu adalah Hasnul Suhaimi, yang sejak September 2006 menjabat Chief Executive Officer PT XL Axiata, Tbk. Sikap tak pernah berpuas diri serta strateginya untuk terus mereposisi organisasi telah memicu perang itu.
”Data percakapan di India tahun 2006 membuka mata saya. Saya terkejut sebab di sana tiap orang rata-rata berbicara 500 menit per bulan. Sementara di XL saat itu tiap orang hanya 43 menit per bulan. Jauh bedanya,” kenang Hasnul.
Tim dibentuk. Seorang perempuan yang bukan manajer memimpin tim beranggota 14 orang. ”Saya tunjuk dia sebagai ketua tim, mengepalai beberapa manajer karena dia menguasai materi yang didapatnya di lapangan. No problem, tak ada masalah dengan struktural perusahaan,” kata Hasnul yang ditemui akhir Agustus 2010.
Dua bulan tim bekerja, keluarlah angka tarif Rp 1 untuk percakapan satu detik.
Dunia telekomunikasi Indonesia gempar. XL terus melaju. Januari 2008, Excelcomindo malah melansir tarif Rp 0,1 per detik. Kini di XL, rata-rata percakapan per orang sudah 500 menit per bulan. Sementara operator pesaingnya 300 menit per orang per bulan.
Jejak keberhasilan strategi XL yakni adanya lonjakan pelanggan. Tahun 2006, hanya 9,5 juta pelanggan yang tertarik bergabung. Pada akhir tahun 2007 menjadi 10,2 juta pelanggan. Sementara hingga semester I tahun 2010, jumlah pelanggan XL telah 35,2 juta orang.
Reorganisasi
Diakui Hasnul, saat dia mulai berkarya di XL, organisasi sudah rapi bahkan terlalu rapi. Masalahnya, dalam dunia yang berubah cepat, organisasi yang terlalu rapi malah menyusahkan.
”Marketing misalnya, tak boleh tertata rapi. Harus dinamis. Masak pernah ada marketing saya yang tidak tahu tarif Telkomsel dan Indosat. Ya saya minta dia ke lapangan lagi,” kata Hasnul. ”Bagaimana XL meningkatkan diri bila tak tahu posisinya,” ujar Hasnul.
Namun dia meluruskan, dalam sebuah perusahaan tetap harus ada organisasi yang ”rapi”, seperti divisi pembangunan dan operasional.
XL bertransformasi di zaman Hasnul. Dimulai dari hal sederhana, seperti diubahnya tata letak (lay-out) kantor. Lantas, mutasi karyawan dari bagian sumber daya manusia ke jaringan (network). Kerja tim juga ditanamkan dalam keseharian kerja karyawan sebagai strategi utama melawan kompetitor.
Struktur yang boleh dibuat lentur langsung diobrak-abrik. Birokrasi dipangkas. Direktur keuangan dibolehkan mendatangi marketing, untuk menanyakan langsung penyebab berkurangnya penjualan. ”Nah, orang marketing juga bisa protes langsung. Marketing misalnya bisa bilang tak cukup ada budget sehingga pemasaran kurang. Budget ditambah, dan penjualan naik,” ujar Hasnul.
Alasan serupa mendasari mutasi orang jaringan pada divisi sales. ”Ini supaya orang jaringan mengerti, bila pekerjaan mereka buruk, bila jaringan lemah, maka bagian sales akan susah jualan produk,” kata Hasnul.
Rotasi akhirnya menjadi prasyarat pemimpin di XL. Untuk menjadi seorang manajer umum, seorang pegawai diharuskan telah bekerja di dua direktorat. Bila terlalu lama di posisinya, pegawai itu sangat hebat di bidangnya, tetapi tak mengerti hal lain. Atau, dapat kehilangan daya dobraknya lagi.
Terobosan
Hasnul juga memimpin XL dalam merancang dan melontarkan terobosan-terobosan. Kebijakan pemerintah per Maret 2008, tentang penggunaan menara bersama, telah didahului Excelcomindo dengan menyewakan menaranya untuk pelanggan Axis di Sumatera sejak Desember 2007.
Langkah XL untuk menyewakan menara pada masa itu sempat dianggap gila. ”Di sebuah ruang diskusi, saya juga pernah menantang. Apa Pertamina berani di tiap SPBU mereka, selain menjual bensin Pertamina, juga menjual Shell, Total, atau Petronas. Analogi itu kan sama langkah kami menyewakan menara XL untuk operator lain,” kata Hasnul sembari terkekeh.
Tujuh puluh persen manajer Excelcomindo, yang dimintai pendapatnya oleh Hasnul, ketika ide itu digulirkan, menolak rencana awal penyewaan menara. Para manajer itu mengkhawatirkan munculnya ”perang terbuka”. Bagaimana mungkin, memberi amunisi pesaing?
Menara, base transfer tranceiver-ringkasnya jaringan telekomunikasi, merupakan senjata pamungkas bagi sebuah perusahaan telekomunikasi untuk memenangi persaingan. Barang siapa memiliki jaringan yang luas, akan mampu memenangi hati calon pelanggan.
”Tetapi saya tantang bagian penjualan, berani tidak bersaing meski menara juga dipakai Axis? Mereka bilang siap, tetapi sebenarnya mau tak mau mereka pasti bilang siap ke saya,” kata Hasnul sambil tertawa. Sejurus kemudian, dia menekankan motivasi tinggi pun diberikan ke bagian penjualan.
Tenaga pemasaran Excelcomindo memang harus bekerja ekstra keras setelah salah satu keunggulan mereka dilepas ke pesaing. Di lapangan, kerja divisi pemasaran memang sudah ekstra keras. Tak sedikit terjadi perusakan spanduk antaroperator hanya untuk sedikit lebih unggul dari pesaing.
Terlepas dari segala hambatan, alhasil, tantangan yang disodorkan Hasnul ke internal perusahaan membuahkan hasil. Pelanggan baru tetap diraih Excelcomindo karena penjualan yang makin tangguh. Di sisi lain, kantong XL makin bertambah berkat penyewaan 7.000-8.000 unit menara tahun 2010.
Kini operator-operator besar telah menjangkau lebih dari 90 persen populasi disertai tarif murah. Maka, kini era kualitas layanan harus menjadi fokus utama. Hal ini pula yang sedang dicoba XL untuk menyiapkan diri di masa mendatang, tentu dengan tetap memanfaatkan optimalisasi kerja tim.
Saat duduk di tampuk pimpinan Excelcomindo, mungkin Hasnul Suhaimi bertindak luas dan simpel seturut nalurinya untuk mereorganisasi struktur manajemen. Namun, tak disadarinya, reorganisasi itu telah memerdekakan telekomunikasi Indonesia dengan tarifnya yang murah.
08 Okt 2010
Source:http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/10/08/09100020/Hasnul..Memerdekakan.Telekomunikasi
Subscribe to:
Posts (Atom)
Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia
Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...
-
Peta Jalan Interaktif: Peningkatan E-Learning Produktivitas BLK Dashboard ini merupakan elaborasi materi pelatihan Green...
-
Jurnal pendampingan masyarakat ini ditulis oleh: Leonard Tiopan Panjaitan, (Konsultan di Trisakti Sustainability Center - TSC) , Ajen Kur...
-
Jurnal pendampingan masyarakat ini ditulis oleh: Leonard Tiopan Panjaitan (Konsultan di Trisakti Sustainability Center - TSC) , Ajen Kurniaw...