Tuesday, August 18, 2009

Peta Zonasi Gempa Indonesia Perlu Direvisi

Peta zonasi gempa Indonesia dari Standar Nasional Indonesia (SNI) tahun 2002 yang menjadi acuan nasional untuk bangunan dan infrastruktur perlu dilakukan revisi berdasarkan data dan metodologi analisis terkini.

"Banyak kekurangan dan kelemahan peta SNI sehingga perlu adanya updating untuk mengembangkan peta bahaya nasional," ungkap Prof.Widiadnyana Merati, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Permasyarakatan Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi saat diskusi "Peta Zonasi Gempa Indonesia Terpadu Untuk Membangun Kesiapsiagaan Masyarakat" di kantor BPPT Jakarta, Selasa (21/7).

Prof. Widiadnyana memaparkan, diperlukan identifikasi terhadap sumber-sumber gempa, pemetaan patahan, tinjauan sejarah serta analisis memadai untuk rekomendasi besarnya getaran gempa dalam bentuk peta zonasi gempa yang baru di Indonesia. "Untuk dijadikan acuan pengamanan bangunan dan infrastruktur serta pengurangan jumlah korban jiwa akibat gempa," ucapnya.

Peta SNI tersebut, lanjut Widiadnyana, perlu dikembangkan dengan melihat kondisi terbaru dari tektonik, seismisitas, dan pergerakan lempeng dan patahan yang lebih akurat.

"Peta zonasi gempa terdahulu di dasarkan pada input dari data historis gempa, geologi gempa, tektonik, geodesi, dan seismologi gempa yang tidak sama dan belum dilengkapi dokumentasi yang memadai," ungkapnya.

Penyempurnaan peta tersebut, tambahnya, dapat dilakukan mengingat adanya perkembangan ilmu pengetahuan serta adanya peningkatan jumlah data baru dalam bidang seismologi seperti patahan-patahan baru serta gerakan lempengan-lempengan bumi.

Selain itu, kata dia, para seismolog telah mengembangkan model-model patahan serta skenario mekanisme pergerakan lempengan. "Penyempurnaan dalam bidang analisis probalistik diharapkan dapat memberikan prediksi besaran gempa yang akurat," ujarnya.

Selasa, 21 Juli 2009 | 12:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/21/12175945/peta.zonasi.gempa.indonesia.perlu.direvisi

Enam Burung Sumatera Terancam Punah untuk Prangko

Enam jenis burung terancam punah, yang habitatnya di hutan tropis Sumatera, dijadikan gambar prangko baru. Prangko senilai Rp 2.500 yang diterbitkan masing-masing 300.000 lembar tersebut akan diluncurkan pada Rabu (15/7) oleh Menteri Kehutanan MS Kaban berkaitan kegiatan Perayaan Keragaman Burung di Indonesia.

”Kita turut prihatin, pembukaan hutan terus berlangsung dan mengancam kepunahan burung-burung,” kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Darori pada konferensi pers, Selasa di Jakarta.

Darori didampingi Direktur Pos pada Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informatika Ingrid R Pandjaitan serta Ketua Dewan Burung Indonesia Ani Mardiastuti.

Dari keenam jenis burung tersebut, menurut Lembaga Konservasi Dunia atau International Union for Conservation of Nature (IUCN), dinyatakan mendekati terancam punah, meliputi luntur kasumba (Harpactes kasumba), julang jambul hitam (Aceros corrugatus), cekakak hutan melayu (Actenoides concretus), dan kuau raja (Argusianus argus).

Dua jenis burung berikutnya, mentok rimba (Cairina scutulata) dan bangau storm (Ciconia storm), dinyatakan IUCN dalam status genting.

”Jenis burung mentok rimba itu dulu ada di Jawa, tetapi sekarang sulit ditemui lagi. Begitu pula untuk bangau storm,” kata Ani Mardiastuti.

Ingrid Pandjaitan mengungkapkan, penerbitan prangko dengan gambar enam burung terancam punah yang saat ini masih bisa ditemui di Sumatera itu, selain menjadi alat tukar bayar, juga menjadi wahana edukasi.

Darori mengatakan, penyelamatan jenis burung yang terancam punah dapat dilakukan dengan mencontoh perlakuan pada burung jalak bali (Leucopsar rothschildi) yang ditangkap, kemudian ditangkarkan.

Sekitar 10 tahun yang lalu, sulit sekali ditemukan jalak bali ini. Namun, dengan bantuan berbagai lembaga swadaya masyarakat, burung tersebut sekarang dapat dikembangbiakkan. ”Baru-baru ini data di Yokohama, Jepang, saja ada 300 jalak bali,” kata Darori.

Darori mengatakan, kepunahan satwa, seperti harimau jawa, akibat larangan penangkapan untuk ditangkarkan. Kebijakan seperti ini semestinya dihindarkan.

Rabu, 15 Juli 2009 | 07:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.comhttp://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/15/07445936/enam.burung.sumatera.terancam.punah.untuk.prangko

Monday, August 17, 2009

Perdagangan Karbon, Menjual Kelestarian Hutan

Pelbagai kengerian tentang masa depan umat manusia, terutama bencana yang diakibatkan kerusakan lingkungan semakin menyebar. Salah satu yang membuat gencar penghembuskan wacana tersebut tentu saja film-film produksi Hollywood, Amerika Serikat (AS). Melalui film-film fiksi ilmiah maupun dokumenternya.

Bagi saya, kengerian yang disebarkan secara menghibur tersebut merupakan sebuah bentuk pelajaran mengenai lingkungan yang mudah dicerna banyak orang. Bukan tanpa alasan, salah satu prediksi ilmiah memperkirakan bahwa di tahun 2100 akan terjadi peningkatan suhu global antara 1,0 hingga 4,5 derajat Celsius, gunungan es di kutub semakin mencair dan mengakibatkan tinggi muka air laut bertambah 60 sentimeter.

Apa jadinya bila prediksi tersebut benar-benar terjadi? Kota-kota besar di dunia yang kebanyakan terletak di dataran rendah tentu saja tergenang air, sementara penduduknya tersiksa dengan panasnya suhu luar ruang. Risiko lainnya bagi Indonesia, kemungkinan hilangnya ribuan pulau saat permukaan laut meninggi.

Perubahan iklim secara global tentu saja akan mempengaruhi tanaman juga. Produktivitas dan perkembangan hama serta penyakit tanaman akan mempengarui ketersediaan air dan distribusi vektor penyakit manusia. Dalam jangka panjang ketahanan pangan dan air yang dibutuhkan makhluk hidup akan terganggu. Manusia kehilangan sumber kehidupannya.

Perubahan iklim dan peningkatan suhu secara global tersebut dikarenakan banyaknya pelepasan karbon ke udara. Karbon tersebut salah satunya berasal dari sisa pembakaran yang dihasilkan industri maupun rumah tangga. Karbon yang terdapat di udara akan menipiskan dan menggangu kemampuan atmosfir untuk memantulkan sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari. Hal ini biasa dikenal juga dengan efek gas rumah kaca.

Dalam sebuah lokakarya yang digelar Wetlands International, dipaparkan antara tahun 1850 hingga 1998 diperkirakan 270 gigaton (Gt) karbon telah dilepaskan ke atmosfer. Bagian terbesar disumbangkan aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan industri, yaitu sebesar 67 persen.

Pembukaan lahan secara global dalam waktu 20 tahun terakhir telah mengakibatkan terlepasnya 1,65 Gt karbon per tahun. Lebih dari 80 persen berasal dari negara berkembang dan Indonesia sendiri menyumbangkan sembilan persen (0,155 Gt karbon) dengan kemampuan penyerapan 0,110 Gt karbon. Hutan memang memiliki fungsi sebagai penyerap (sink) dan penyimpan (reservoir) karbon, istilahnya carbon sink.

Dunia pun tidak tinggal diam, hal itu harus diatasi dengan cara mengurangi emisi dari sumbernya dan juga meningkatkan kemampuan penyerapan. Dalam Konvensi Perubahan Iklim Dunia (The United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) yang diperdengarkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi 1992 di Rio de Janeiro, komitmen penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) itu telah disepakati sekitar 150 negara, termasuk Indonesia.

Komitmen itu dimatangkan dalam Konferensi Negara Pihak (COP) III UNFCCC tahun 1997 yang melahirkan Protokol Kyoto. Negara-negara maju bersepakat menekan emisi mereka ke tingkat lima persen di bawah tingkat emisi 1990. Target itu dicapai dalam periode komitmen pertama, antara 2008-2012. Gas-gas penting yang disebutkan dalam Protokol Kyoto adalah karbondioksida (CO), metana (CH), nitrogen oksida (NO), hidrofluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (PFCs), dan sulfur hexafluorida (SF6).

Sejak saat itu pulalah, berkembang tren baru, perdagangan karbon (carbon trade). Perdagangan karbon merupakan istilah untuk aktivitas penyaluran dana dari negara-negara penghasil emisi karbon kepada negara-negara yang memiliki potensi sumberdaya alam untuk mampu menyerap emisi karbon secara alami. Konservasi dimotivasi dengan imbalan dana segar melalui skema pembangunan bersih (clean mechanism development/CDM).

Hal ini merupakan peluang yang sangat baik untuk memanfaatkan potensi alam. Tentunya dengan cara lain selain menebang pohon. Karena yang dihitung dalam perdagangan karbon adalah hutan yang ada dijaga kelestariannya dan penanaman pada kawasan bukan hutan. Serta melakukan perbaikan kawasan hutan yang rusak dengan cara reboisasi.

Indonesia dengan luas hutannya, berpotensi untuk memasuki era perdagangan karbon tersebut. Berdasarkan data ADB - GEF - UNDP menunjukkan Indonesia memiliki kapasitas reduksi karbon lebih dari 686 juta ton yang berasal dari pengelolaan hutan. Jika harga rata-rata per ton karbon sebesar US$ 5, maka Indonesia berpotensi menjual sertifikat surplus karbon senilai US$ 3,430 milyar atau sekitar Rp 34 triliun.

Perhitungan tersebut memang belum menyertakan karbon yang dilepaskan oleh Indonesia sendiri. Tetapi, semakin banyak hutan lindung, semakin banyak pohon yang ditanam di setiap lahan kosong, semakin luas lahan yang direhabilitasi dan direboisasi tentunya akan meningkatkan potensi penerimaan dana.

Hal ini menjadi insentif moral bagi semangat Departemen Kehutanan dalam melakukan konservasi sumber daya alam hutan dan rehabilitasi lahan. Seperti yang sudah dilakukan selama ini melalui berbagai gerakan dan kampanye. Di antaranya Gerakan Penananam Serentak Indonesia yang memiliki tema dan target tersendiri setiap tahunnya, serta Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL).

Bagi negara, mekanisme perdagangan karbon tentunya menguntungkan. Keberhasilan dalam upaya menjaga, meningkatkan, dan mengembalikan kelestarian hutan yang dalam operasionalnya menghabiskan biaya yang tidak sedikit ternyata malah menghasilkan keuntungan dalam bentuk finansial.

Tawaran Nyata Untuk Indonesia

Jika selama ini perdagagan karbon masih dianggap sebagai wacana, tawaran yang paling nyata untuk perdagangan karbon datang belum lama dari Australia. Medio November 2008, Carbon Strategic Global (CSG) Australia menawarkan pembelian oksigen yang dihasilkan hutan di Sumatera Barat.

Oksigen yang diusulkan itu diproduksi hutan lindung dalam wilayah 10 kabupaten dan satu kota di Sumatera Barat. Seluas 865.560 ha hutan lindung itu berada di Kabupaten Solok seluas 126.600 ha, di Solok Selatan 63.879 ha, Tanah Datar 31.120 ha, Pesisir Selatan 49.720 ha, Pasaman 232.660 ha, 50 Kota 151.713 ha dan Kabupaten Agam 34.460 ha. Lalu di Kabupaten Pasaman Barat 56.829 ha, Padang Pariaman 19.894 ha, Sijunjung 85.835 ha dan hutan lindung di Kota Padang yang luasnya 12.850 ha.

CSG telah menawarkan kompensasi Rp 900 miliar per tahun untuk oksigen yang diproduksi hutan-hutan lindung di Sumatera Barat tersebut. Jika perdagangan itu terealisasi, maka dana kompensasi akan diterima juga oleh pemerintah daerah yang memiliki kawasan hutan lindung dan menghasilkan oksigen.

Dana yang cukup besar itu, selain menjadi pendapatan baru bagi daerah juga bisa dimanfaatkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan dan masyarakat adat pemilik ulayat hutan lindung. Sehingga upaya untuk menuju pemanfaatan hutan yang lestari untuk kemakmuran rakyat segera terwujud. Segala permasalahan seperti kasus pencurian kayu, pembakaran hutan, perambahan hutan dapat ditekan semaksimal mugkin, dampaknya tentu positif secara ekonomi dan sosial.


Jakarta - 13 Agustus 2009,

Penulis: MS Kaban: Menteri Kehutanan

Kultur Konfrontasi di Antara Kita

HUBUNGAN RI-MALAYSIA

Hubungan Indonesia-Malaysia tegang hanya karena satu alasan, yakni kehadiran sekitar dua juta TKI di negeri jiran itu. Selama problem klasik ini tak diselesaikan secara serius, ketegangan ala konfrontasi itu menjadi bahaya laten yang mudah termanifestasi menjadi konflik serius.

Tesis ini saya sampaikan dalam pertemuan Eminent Persons Group (EPG) kedua negara yang berlangsung di Jakarta belum lama ini. EPG Indonesia diketuai mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, pihak Malaysia ketuanya Datuk Tun Musa Hitam. Tujuan EPG mempererat kembali tali persaudaraan kedua bangsa melalui lajur berbagai profesi, termasuk wartawan.


Sekitar setahun lalu saya berkunjung ke Kuala Lumpur, bertemu berbagai kalangan seperti pengusaha, wartawan, ilmuwan, dan pejabat. Dari hasil kunjungan muncul kesan, mereka risau sejak munculnya ketegangan di Ambalat karena lebih kurang mirip dengan apa yang terjadi sebelum Konfrontasi 1963.

Tanggal 12 April 1963 pemberontak di Brunei Darussalam terlibat kontak senjata melawan pasukan Inggris di Kalimantan Utara. ”Pemberontak” personel TNI, sukarelawan Indonesia, dan oposisi Brunei melancarkan subversi terhadap kesultanan yang dianggap boneka Inggris. Kontak senjata itu yang pertama kalinya terjadi sepanjang konfrontasi yang berlangsung sampai 1965, yang dipicu oleh rencana Inggris tetap bercokol di bekas jajahannya dengan membentuk Federasi Malaysia yang terdiri atas Malaysia, Borneo (Sabah dan Serawak), Brunei, dan Singapura.

Rencana itu ditentang Jakarta, dan Menlu Subandrio mengumumkan konfrontasi 20 Januari 1963. Presiden Soekarno curiga pembentukan federasi merupakan pintu masuk untuk menguasai Asia Tenggara. Apalagi, London telah menggelar sebuah brigade, dua batalion, dan unit- unit angkatan udara serta laut yang total terdiri atas 60.000 personel. Sudah ada pula pakta militer ANZUS (Australia, New Zealand, and United States). Namun, itu semua masih kurang: Inggris ingin mendirikan pangkalan militer di Singapura.

Isu pangkalan militer di Singapura yang membuat Presiden Soekarno berang. Ia enggan meluaskan konfrontasi jadi perang frontal melawan Inggris karena pasti kalah, lebih suka mengobarkan konflik terbatas sambil melancarkan berbagai tekanan diplomatis terhadap Malaysia, dan itulah sebabnya ia mendukung pemberontakan di Brunei.

Dengan atau tanpa konfrontasi, Malaysia menganggap kedua negara bagai dua saudara yang kadang kala bertengkar. Kakak berharap adiknya bersikap hormat, sebaliknya adik merasa kakak cepat naik pitam. Jika disimpulkan, separuh kalangan di Malaysia mungkin merasa Indonesia sebagai kiblat historis dan kultural yang layak dicontoh, separuhnya lagi tak begitu peduli dengan ketegangan-ketegangan yang terjadi.

Sebaliknya, tak sedikit kalangan di Indonesia yang mudah terprovokasi dengan isu-isu bilateral yang membuat kondisi bagaikan api di dalam sekam, seperti kasus Ambalat, batik, dan lagu Rasa Sayangé. Dan, salah satu kalangan yang menyulutkan api ke bensin adalah justru pers Indonesia. Dalam kurun waktu Mei-Oktober 2007 terdapat hampir 5.000 berita media cetak tentang ketegangan bilateral. Hanya lima persen yang bernada positif, selebihnya menjelek-jelekkan Malaysia.

Pemimpin redaksi sebuah harian nasional di Kuala Lumpur mengatakan, media Malaysia justru cenderung menyembunyikan berita-berita yang menyulut emosi. Sebagai negeri yang pernah diserbu pasukan Indonesia, mereka paham pemberitaan yang memanas-manasi sama sekali tidak menguntungkan.

”Wartawan kami sejak dulu terbiasa tutup mulut, enggan memberitakan hal-hal di Indonesia,” kata dia.

Kultur konfrontasi

Masih ingat kasus penganiayaan pelatih karate Donald Colopita? Banyak kalangan di dalam negeri yang marah. Namun, uniknya, jarang ada yang marah jika TKI tewas atau menjadi korban ketidakadilan di luar negeri, termasuk di Malaysia.

Grafik hubungan RI-Malaysia naik turun sejak konfrontasi awal 1960-an. Kedua bangsa memang serumpun, tetapi sejarah dan sistem politiknya bagai siang dan malam.

Malaysia dijajah Inggris yang sistem kolonialismenya ”bagus” dibandingkan Belanda yang ”kejam”. RI berjuang untuk merdeka, tanggal kemerdekaan Malaysia mesti dapat persetujuan dari Inggris dulu.

Malaysia sebuah monarki konstitusional, Yang Dipertuan Agung menjadi simbol dan pemerintah dipimpin perdana menteri. Indonesia sebuah republik yang merebut kemerdekaan melalui perjuangan dan diplomasi. Konstitusi Malaysia menyebut Islam sebagai agama resmi, tetapi judi diizinkan di Genting Highland meskipun hanya untuk warga Malaysia non-Islam dan warga asing. Sementara UUD 1945 secara implisit menyebut Indonesia sebagai negara sekuler.

Politik di Malaysia bergantung pada hubungan antarpuak yang hipersensitif karena perimbangan etnis nyaris setara antara Melayu, China, dan Tamil. Kerusuhan 1969 menewaskan ribuan puak China yang mendominasi ekonomi.

Sejak itu tak ada lagi kerusuhan berkat stabilitas yang dikendalikan ”kartel parpol” Barisan Nasional. Ekonomi Malaysia sukses karena, misalnya, praktis tak terlalu terganggu krisis moneter 1998.

Diplomat Orde Baru dididik menjadi jago drafting sidang-sidang internasional. Semuanya senang bicara politik luar negeri bebas aktif dan merasa bangga Indonesia menjadi ketua forum ini atau itu. Namun, mereka enggan mengurusi TKI. Telah terbukti di pengadilan, diplomat (dan juga petugas-petugas keimigrasian) mengorupsi upah yang diperoleh mati-matian oleh para TKI.

Kondisi obyektif memperlihatkan Malaysia mempunyai kapal-kapal selam modern, sementara Indonesia menjadi negeri bahari yang tak mampu menjaga lautannya sendiri. Kuala Lumpur mencampur skuadron jet tempurnya dari mancanegara, militer Indonesia langsung pincang jika Amerika Serikat memberlakukan embargo.

Tak pelak lagi, masalah sentral adalah TKI (baik legal maupun tidak) di Malaysia. Jumlah resmi lebih dari sejuta orang, jumlah tak resmi mungkin dua kali lipatnya.

Hampir separuhnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang diperlakukan sebagai saudara oleh keluarga Malaysia. Sisanya pekerja ladang kelapa sawit, buruh industri dan infrastruktur, atau karyawan perusahaan barang serta jasa.

Total uang yang dikirim jutaan TKI di mancanegara kepada keluarga mereka di sini mencapai sekitar Rp 13 triliun per tahun. Bisa dibayangkan krisis yang terjadi andai Malaysia memulangkan mereka. Tak bisa dimungkiri di masa depan masih akan banyak peristiwa pro dan kontra yang melibatkan TKI di Malaysia yang meluber ke ranah politik dan dimanfaatkan oleh elite politik untuk pengalihan perhatian dari berbagai kesulitan ekonomi di dalam negeri. Kultur konfrontasi masih ada di antara kita.

Oleh BUDIARTO SHAMBAZY, Jumat, 17 April 2009 | 02:39 WIB

Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/17/02395044/kultur.konfrontasi.di.antara.kita

Dalam Kepungan Kapitalisme Global

HUBUNGAN RI-MALAYSIA
Etnomusikolog Rizaldi Siagian agak masygul, kaget, sekaligus geram. Ketika membuka laman sebuah situs yang memuat berbagai video musik, ternyata sejumlah senandung lagu dalam tradisi ronggeng Melayu kini hak ciptanya sudah dikuasai salah satu raksasa industri rekaman ternama: Warner!

Dalam industri rekaman, kita tahu bahwa Warner itu perusahaan kapitalis global. Pertanyaannya sekarang adalah siapa yang menjual dan siapa yang dijual?” kata Rizaldi tentang senandung lagu-lagu Melayu yang begitu akrab di telinga masa kecilnya saat masih di Medan tersebut.


Lewat ilustrasi ini, Rizaldi yang tampil sebagai salah satu narasumber dalam dialog kesejarahan Indonesia-Malaysia di Jakarta, beberapa waktu lalu, sesungguhnya ingin mengungkap bahwa ada persoalan lain yang jauh lebih serius dalam hubungan budaya antarbangsa serumpun ini. Sebuah persoalan yang tidak lagi sekadar bersifat lintas budaya antarnegara bertetangga.

Persoalan yang kini dihadapi bahkan sudah jauh melampaui isu seputar saling klaim produk budaya (baca: ekspresi seni), yang beberapa waktu lalu sempat mengganggu hubungan antarkedua bangsa. Taruhlah seperti tudingan Indonesia bahwa pihak Malaysia yang dinilai sudah mengklaim lagu Rasa Sayang Sayange, kesenian angklung yang diakui sebagai bamboo malay, hingga reog ponorogo dengan nama kesenian barong sebagai produk budaya mereka.

Temuan yang didedahkan Rizaldi jauh lebih dahsyat. Dalam kasus penguasaan hak cipta oleh salah satu raksasa industri rekaman milik perusahaan kapitalis global atas produk budaya masyarakat Melayu yang sudah tergolong public domain, yang mestinya tak ada satu institusi—bahkan negara sekalipun—berhak mengklaimnya, jelas bukan lagi sekadar masalah antarbangsa serumpun. Juga bukan masalah antar-individu Melayu sama Melayu.

”Ini masalah global. Yang diperjualbelikan adalah budaya kita (baca: Indonesia-Malaysia), kemudian kita diadu domba. Aspek ini yang ingin saya ingatkan dan seharusnya menjadi kepedulian kita bersama,” kata Rizaldi.

Dengan contoh kasus yang berbeda, Des Alwi—salah satu tokoh yang ikut berperan dalam proses ”normalisasi” hubungan Indonesia-Malaysia pascakonfrontasi antarkedua negara tahun 1960-an—juga mengingatkan adanya ”politik adu domba” gaya baru dari pihak ketiga, yang kini melibatkan kekuatan kapitalisme global. Oleh karena itu, kata dia, kekuatan-kekuatan modal asing—lewat tangan-tangan pemegang kekuasaan—yang ingin mengeruk kekayaan yang tersimpan di kawasan ini harus selalu diwaspadai.

Dalam kasus blok Ambalat, misalnya, kekuatan kapitalisme global jelas terlibat. Sebab, kata Des Alwi, sengketa perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di kawasan kaya potensi minyak dan terumbu karang tersebut, yang nyaris menimbulkan ”konfrontasi jilid II” antarakedua negara, sesungguhnya tak lain akibat ulah Inggris.

Demi keinginan sebuah perusahaan raksasa perminyakan yang berniat mendapatkan konsesi di sana, Inggris semula mendekati Indonesia. Pihak Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup menentang keras keinginan tersebut. Keberatan itu terutama mengingat daerah di sekitar blok Ambalat memiliki kekayaan sumber daya hayati yang tak ternilai dengan ragam terumbu karang dan ekosistemnya yang luar biasa.

Gagal bernegosiasi dengan Indonesia, Malaysia pun di-kilik-kilik. Entah bagaimana prosesnya, sampai pada satu ketika diketahui adanya aktivitas ”pencarian” sumur minyak lepas pantai oleh Shell di kawasan blok Ambalat.

Indonesia tentu tidak bisa tinggal diam ketika wilayah kedaulatannya diganggu. Drama ketegangan antarkedua negara—yang akar permasalahannya sebetulnya dipicu ulah perusahaan kapitalisme global—pun kembali bergulir. Ironisnya, kemarahan masyarakat Indonesia hanya tertuju kepada Malaysia yang dinilai lancang, sementara perusahaan multinasional yang menjadi biang dari segala persoalan tersebut justru terkesan hanya jadi korban.

Sejarah berulang

Membolak-balik catatan sejarah sebetulnya kekuatan kapitalisme global jualah yang secara geografis-politis telah mencencang batas sempadan Indonesia dan Malaysia—juga Singapura—menjadi negara yang berdaulat sendiri-sendiri seperti sekarang. Semangat kapitalisme di balik kekuatan kolonial itu pula yang membuat keserumpunan suku bangsa di kawasan ini akhirnya tercerai-berai.

Para penguasa Kesultanan Melayu diadu domba oleh Inggris dan Belanda. Garis demarkasi kekuasaan pun ditarik, memisahkan wilayah budaya serumpun yang hidup di Tanah Semenanjung—termasuk Tumasik (baca: Singapura)—dan masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan.

Perjanjian sepihak antara Inggris dan Belanda—lewat apa yang dikenal dengan sebutan Traktat London, 21 Juni 1824—menandai awal keterpecahan itu. Wilayah kekuasaan Kesultanan Melayu dipreteli. Kawasan Tanah Semenanjung dan Tumasik dikangkangi Inggris, sementara wilayah kepulauan dicaplok Belanda. Sejak itu, pengalaman kesejarahan di kedua wilayah dalam satu kawasan di Nusantara ini berjalan mengikuti alurnya sendiri.

Tak berlebihan bila sejarawan Taufik Abdullah, dalam satu kesempatan dialog budaya Indonesia-Malaysia, sampai berucap dengan nada geram. Kalau ’nasib’ yang menimpa kisah sejarah Indonesia-Malaysia dalam ingatan sejarah kita dibicarakan lagi, kata Taufik Abdullah, ”Maka, hanya satu komentar yang bisa diberikan: terkutuklah Inggris dan Belanda karena mengadakan perjanjian 1824 yang telah membagi-bagi sebuah wilayah kesejarahan!”

Menyimak sejumlah catatan dan analisis para ahli sejarah, dalam konteks kolonisasi atas wilayah Nusantara, sesungguhnya Inggris dan Belanda sebagai representasi dari negara-bangsa tak ubahnya hanya tempat bersembunyi kekuatan kapitalisme untuk mengeruk kekayaan sumber daya alam di kawasan ini. Di balik payung kebesaran negara masing-masing, para saudagar mereka seperti berlomba menumpuk modal, memeras tenaga dan air mata penduduk pribumi, dan menguras habis hasil bumi negeri ini.

Ironisnya, ketika wilayah-wilayah yang ”dicencang” kolonialis itu kini sudah menjadi negara-bangsa sendiri, dengan orientasi dan nasionalisme yang relatif berbeda, kekuatan kapitalisme global ternyata masih terus menguntit. Wujud dan model penguasaannya saja yang bergeser, yakni tidak lagi ditopang kekuatan senjata dan pendudukan wilayah.

Dua contoh kasus di atas, yakni peristiwa perebutan blok Ambalat dan nasib senandung lagu dalam tradisi ronggeng Melayu, adalah sedikit dari banyak potensi konflik yang sesungguhnya ”didalangi” kekuatan kapitalisme global. Atau, haruskah semua ini dibaca sebagai takdir sejarah?

Beralihnya aset-aset ”yang menguasai hajat hidup orang banyak”—seperti di sektor perbankan dan telekomunikasi—ke tangan pengusaha dari salah satu pihak, kini tak lagi relevan dilihat sebagai bentuk dominasi negara atas negara. Begitu pun kehadiran perusahaan besar Malaysia yang berinvestasi di bidang perkebunan kelapa sawit di Indonesia, khususnya di Sumatera dan Kalimantan, juga tak seharusnya memupuk kebencian masyarakat negeri ini terhadap Malaysia sebagai negara-bangsa. Di balik itu semua, sekali lagi, tangan-tangan kapitalisme global ikut bermain.

Lewat penguasa dan/atau mantan penguasa yang masih punya jaringan di masing-masing negara, yang entah mereka sadari atau tidak—atau malah menikmatinya sebagai berkah—telah dimanfaatkan sebagai ’kacung’ oleh kekuatan kapitalisme global, kehadiran perusahaan-perusahaan besar itu masih jauh dari apa yang disebut sebagai upaya menyejahterakan rakyat. Kesan kuat dari keberadaan mereka justru melanjutkan peran kapitalisme di era kolonialis: mengisap darah dan air mata penduduk pribumi!

Pengalaman masyarakat Riau setelah jutaan hektar lahan mereka dieksploitasi untuk perkebunan kelapa sawit oleh perusahaan besar dari negeri jiran, sebagaimana diungkapkan Al azhar dari Lembaga Penelitian Universitas Riau, memperlihatkan bahwa tali rasa keserumpunan itu sudah tidak ada dalam konteks kapitalisme global.

Sejak perusahaan yang konon sebagian besar sahamnya dimiliki rakyat Malaysia ini hadir di Riau, sudah lebih dari 15 kali konflik terjadi dengan masyarakat lokal yang merasa dirugikan. Seperti halnya sifat dasar perusahaan kapitalis yang lebih berorientasi semangat materialisme yang tinggi, pendekatan sosial budaya tak pernah menemukan muara dalam setiap konflik yang muncul.

Upaya sejumlah lembaga swadaya masyarakat di Riau yang ingin meredakan ketegangan dengan membentuk semacam protokol resolusi konflik bahkan tidak ditanggapi. Dialog intensif yang ingin dibangun antara masyarakat dan perusahaan besar yang ada di Riau, dengan penekanan pada dasar-dasar pendekatan sosial, ekonomi, dan budaya, itu tidak pernah bisa berjalan bila sudah melibatkan perusahaan kapitalis dari negeri tetangga tersebut.

Ternyata, di tangan kapitalis yang zalim dan arogan, semangat persaudaraan dan romantisme budaya serumpun yang didengung-dengungkan selama ini tidak bermakna sedikit pun. ”Ini pengalaman saya bertahun-tahun berada di Riau, negeri yang—bersama Kalimantan—barangkali paling menderita selama 50 tahun terakhir sejak kebangkitan kapitalisme Indonesia dan di Asia Tenggara ini,” tutur Al azhar, yang juga Kepala Bandar Seni Raja Ali Haji.

Jika sudah demikian, hubungan yang dilandasi semangat keserumpunan hanya romantisme di ruang hampa. Dan, ketika segala sesuatu diletakkan dalam bingkai semangat kapitalisme global yang meterialistik, peradaban pun tengah dipertaruhkan. Tak terkecuali nilai-nilai keserumpunan yang kini semakin sayup terlihat dalam keseharian kita.... (ken)

Jumat, 17 April 2009 | 02:51 WIB

Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/17/02512393/dalam.kepungan.kapitalisme.global.

Manusia Hanya Pakai 1 Persen Kemampuan Otak

Sebagian besar penduduk dunia ternyata hanya memanfaatkan 3 kemampuan otaknya kurang dari 1 persen. Kemampuan itu adalah mengingat, belajar dan berkreativitas.

"Untuk sampai 1 persen orang mesti bisa mengingat 13 deret angka," kata Tony Buzan, pencipta Mind Map, Teknik Pengembangan Potansi Otak dalam acara Educator Sharing Network (ESN) yang diselenggarakan Sampoerna Foundation Teacher Institute di Jakarta, Sabtu (18/4).


Guna membuktikan pernyataannya itu, ia mengajak para peserta yang terdiri dari para guru untuk mengingat 13 deret angka. "Bagaimana? Sulit? Itulah mengapa saya tadi katakan kita masih menggunakan otak kita kurang dari 1 persen," kata pria berkebangsaan Inggris ini.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa proses perkembangan kreativitas otak manusia semakin meningkat seiring dengan pertambahan umur. Namun yang terjadi, sebaliknya.

"Pada usia balita anak belajar kreativitas 95 persen, SD 75 persen, SMP-SMA 50 persen, Mahasiswa 25 persen, dan seterusnya sampai nol. Ini normal tetapi tidak natural," ungkap Tony.

Untuk itu, lanjutnya, peran guru sangat penting untuk menyelamatkan daya kreatif anak didiknya supaya terus berkembang. "Guru mempunyai tanggung jawab dan posisi strategis untuk membantu mengembangkan kemampuan berpikir dan berkreasi yang merupakan tambang emas dalam diri anak didiknya," kata Tony.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa di dalam diri anak didiknya terdapat banyak kecerdasan. "Guru harus membantu merawat macam-macam kecerdasan anak didik seperti kecerdasan sosial, daya kreatif, etika, dan juga kecerdasan spiritual," ungkapnya.

Caranya, lanjut Tony, yakni dengan metode mind map. Dengan itu kita dapat mengetahui cara kerja otak kita dalam berpikir dan belajar, berguna untuk membuat catatan, meringkas dan berpikir kreatif. "Mind mapadalah bahasa otak kita," pungkas Tony.

JAKARTA, KOMPAS.Com - Sabtu, 18 April 2009 | 13:29 WIB

Source:http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/04/18/13291538/Manusia.Hanya.Pakai.1.Persen.Kemampuan.Otak

Brain Drain Rugikan Bangsa

Eksodus anak-anak berprestasi ke luar negeri, atau ada yang menyebutnya brain drain, merugikan bangsa. Indonesia kehilangan sumber daya manusia berkualitas yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan.

Sebelumnya diberitakan, ratusan siswa Indonesia berprestasi diincar universitas publik di Singapura yang agresif mempromosikan diri dan mencari anak- anak brilian di Indonesia. Para siswa itu diberikan kemudahan pembiayaan mulai dari subsidi Pemerintah Singapura (tuition grant) dengan ikatan kerja tiga tahun, beasiswa (biaya hidup, buku, komputer dan uang saku), serta pinjaman bank yang dibayarkan setelah lulus.


Pakar pendidikan, Prof Soedijarto, mengatakan, Selasa (21/4), migrasi anak cerdas tersebut berarti potensi mereka tidak dimanfaatkan di Indonesia. Permasalahan itu tidak selesai dengan upaya mempertahankan mereka di Tanah Air di tengah kondisi yang serba tidak menjanjikan.

”Anak-anak itu tidak dapat disalahkan. Permasalahannya lebih kompleks, belum terbangun iklim, tantangan, dan peluang. Salah satunya ialah suasana riset dan lapangan pekerja sesuai kelak. Iklim itu seharusnya dapat dibangun melalui pengembangan sistem pendidikan, riset, dan industri yang terarah serta visioner,” ujarnya.

Dunia riset di Indonesia sendiri belum diperhatikan. Di negara maju, seperti Amerika, anggaran riset 2,3 persen produk domestik bruto (PDB), sementara di Indonesia baru 0,05 persen tahun 2004. Pada tahun yang sama, anggaran riset Malaysia sudah 0,7 persen PDB. Kalaupun terjadi kenaikan tidak besar dan negara lain sudah jauh lebih besar lagi alokasi anggarannya. Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan menjadi contoh negara yang maju dengan memperkuat infrastruktur teknologi.

Penghargaan minim

Menurut Soedijarto, penghargaan terhadap kaum intelektual masih minim. Soedijarto saat masih menjadi guru besar Universitas Negeri Jakarta dengan golongan tertinggi 4E enam bulan lalu menerima gaji sekitar Rp 4,2 juta per bulan. Dia sempat merasakan kenaikan kesejahteraan yakni tambahan sekitar Rp 3 juta per bulan selama enam bulan terakhir. Namun, itu pun masih relatif kecil dibandingkan dengan gaji guru besar di luar negeri, seperti di Malaysia yang besarnya Rp 42 juta per bulan. Penghargaan terhadap pekerja bidang pendidikan dan penelitian masih lebih kecil dibandingkan dengan politikus di DPR yang pendapatannya bisa mencapai Rp 42 juta per bulan.

Aktivis Koalisi Pendidikan, Lodi Paat, menambahkan, pembangunan pendidikan harus berbarengan dengan riset dan perekonomian, dalam hal ini industri. Mereka yang belajar di luar negeri dan pulang, tetapi tidak mendapatkan lapangan pekerjaan sesuai di Indonesia akan putus asa. Lodi mencontohkan, pada era Habibie banyak anak cerdas belajar di luar negeri untuk kedirgantaraan dan kemudian disiapkan suatu sistem berupa industri. Kini industri tidak digarap serius. (INE)

Kompas, Jakarta, Rabu, 22 April 2009 | 03:48 WIB

Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/22/03485826/brain.drain.rugikan.bangsa

Gig Economy’s Contribution to National Economy, Green Jobs, and Productivity in Indonesia

Read full paper here: Gig Economy in Indonesia Written by Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, GPS, CPS Consultant at Trisakti Sustainability...